Review: Aplikasi Lingokids

Sejak beberapa hari yang lalu, aku udah mulai strict lagi buat batasin screen time Alma. Aku udah yang super duper kepikiran karena dia udah bener-bener yang nggak terkontrol banget nonton YouTube-nya. Dia nonton YouTube lewat TV, jadi ya sussssssahnya luar biasa kalo mau berentiin. Misal aku ganti channel nih, ganti ke NatGeoWild misalnya, belom lima menit pasti dia udah minta pindah channel ke YouTube.

And all of this was always very exhausting to me.

Aku udah coba batasin pake metode timer. Aku pasang timer, 15 menit misalnya. Aku bilang ke Alma, kalo timer-nya bunyi, berarti TV-nya harus dimatiin. Well, it didn’t work for us. Abis timer nyala, Alma malah merengek-rengek minta ditambah waktunya.

Sebenernya bisa aja sih kalo aku mau konsisten bilang ‘nggak’ setiap kali dia begitu. Tapi aku nggak kuat. Dia bisa kaya gitu lebih dari 10 kali dalam sehari. Aku lebih pilih buat stay waras aja.

Oleh karena itu, aku lebih memilih buat menyetop YouTube sama sekali. Kalo mau nonton TV, ya nontonnya NatGeoWild dan kawan-kawannya. Selain itu nggak aku kasih. Ini udah aku sounding sejak H-2.

Alhamdulillah, Alma galaunya waktu pagi-siang di hari pertama aja. Abis itu udah mulai biasa lagi. Dan karena udah nggak ada kerjaan, Alma jadi sibuk ngajakin aku main, which is good. Biasanya, duh boro-boro. Anteng depan TV terus nggak peduli aku lagi ngapain juga.

Aku ajakin dia nge-craft ala-ala, main sama kucing, dll. Aku juga jadi tahu kalo Alma ternyata suka doodling.

Hahaha. Gemes banget nggak sih? 😆

Selain itu, aku juga punya misi buat mulai ngenalin Alma sama bahasa Inggris dengan lebih serius. Nah, aku anggap ini adalah momen yang pas. Buat ngajarin anak bahasa baru, aku jelas butuh bantuan. Abinya Alma? Nggak mungkin. Masa belajar bahasa Inggrisnya cuma weekend aja? Jadilah aku cari-cari tuh apps di Google Play yang bisa bantuin aku ngajarin bahasa Inggris ke Alma.

Ada kali aku instal sepuluh aplikasi. Yang cocok cuma satu dong: Lingokids. This app is genius, very well-made. Lingokids ini spesifikasinya buat anak-anak usia 2-8 tahun, ain’t that great? Karena ini adalah hal yang bener-bener baru buat Alma, meskipun dia bentar lagi udah 3 tahun, aku tetep atur setting-nya buat anak usia 2 tahun.

Oiya, semua yang ada di dalam aplikasi ini nggak asal dibikin lho. Semua dibuat berdasarkan materi pengajaran di Oxford University Press. Jadi kontennya pasti terjamin ya.

Hasilnya? Alma and I love this app sooo very much! Serius deh, kalo anak pake app ini, mereka nggak bakal nyadar kalo ini tuh sebenernya aplikasi buat belajar bahasa Inggris. Ya abis ini isinya games, lagu-lagu, audio book, dan sejenisnya. Dan Lingokids ini materinya tematik. Bagus banget lah pokoknya.

Aku sempat rekam waktu Alma lagi pake ini aplikasi. Karena nggak ada yang bantuin rekam, jadi aku screen recording aja. Suaraku sama suaranya Alma tetep kedengeran sih (kalo bisa pake handsfree aja yak dengerinnya). Itu bulet-bulet kecil warna putih yang sering muncul nunjukin lokasi di mana layar disentuh (she did most of the tapping FYI, makanya kadang suka random 😆).

Aku juga udah berkomitmen bahwa setiap Alma lagi buka Lingokids, berarti sebisa mungkin aku juga ikut ngomong pake bahasa Inggris dari awal sampe akhir. Alih-alih jelasin pake bahasa Indonesia, aku akan lebih memilih buat bantu jelasin pake gerakan tangan atau permainan intonasi kata. Misal, waktu jelasin tentang monkey bars, aku kasih penekanan di kata monkey karena dia tahu kalo monkey itu monyet, dan monyet sukanya gelantungan. Alhamdulillahnya, dia cepet ngerti jadi emaknya nggak perlu mikir cara yang lain lagi. 😆

Contoh lain lagi, waktu Alma disuruh pilih salah satu dari tiga kendaraan: bike, car atau truck. Misal perintahnya adalah dia harus tap the car. Karena bakal susah kalo musti deskripsiin mobil pake bahasa Inggris sederhana, aku sebutin aja warna mobilnya. “There, the car is the yellow one. YELLOW one.” Pasti dia ngerti kan tuh. Dalam waktu bersamaan, dia juga jadi tahu bahwa, oh, car itu mobil toh.

Pokoknya, kalo nggak kepepet banget, aku nggak pake bahasa Indonesia.

Sejauh ini sih ok ya. Tiap aku nyebutin kata dalam bahasa Inggris, dia suka langsung ikutin. Emang jauh dari sempurna sih pengucapannya, tapi ya wajar lah ya. Namanya juga masih cadel. 😅 Yang menurutku paling penting adalah: anaknya suka dan enjoy. Yang lain-lain insyaAllah bakal ngikut sendiri.

Yak. Sekian dulu curhatan dari emaknya Alma. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Happy parenting, all!

Everything About Senses (and of course, Sensory Play!)

Beberapa hari yang lalu, mak Alma berhasil join salah satu Kulwapp (Kuliah WhatsApp) yang diadakan oleh @sensoryzone. Tema Kulwapp-nya: Pentingnya Sensory Play untuk Anak Usia Dini dengan narasumber Ms. Zahra Zahira, founder Indonesia Islamic Montessori Community.

Kulwapp ini terdiri atas dua sesi. Di sesi pertama, peserta mendapatkan materi tentang tema terkait. Peserta kemudian diberi waktu untuk mempelajari materi. Sesi kedua dimulai pada malam harinya, yaitu sesi tanya-jawab. Pertanyaan hanya dibatasin sampe lima aja. Alhamdulillah pertanyaanku berhasil masuk ke urutan lima, jadi bisa dijawab langsung oleh Miss Zahra. Yay!

Nah, sayangnya, materinya nggak boleh disebarluaskan, nih. Jadi memang confidential, ya. Untungnya, untuk list Q&A masih boleh buat di-share.

Sebelum aku tuliskan daftar pertanyaannya di sini, rasanya kok nggak enak banget ya kalo belum ada paparan sedikit tentang Senses dan Sensory Play. I tried to find more information about this sensory thing. Luckily, aku ketemu salah satu page di https://www.goodstart.org.au/ yang ngebahas tentang manfaat Sensory Play dengan bahasa yang mudah dipahami. Aku coba ceritakan kembali di sini ya.

Tujuh Indera Manusia

Sensory Play: sebelum bahas tentang ‘Play’-nya, kita cari tahu tentang ‘Sensory’-nya terlebih dulu, ya.

‘Sensory’ adalah kata sifat dari ‘Sense’, alias ‘Indera’. Biasanya, kata ‘Indera’ ini lekat sekali dengan kata ‘Panca’, alias lima. Jadi, sejak jaman dahulu kala yang kita tahu, yang namanya indera itu ya pasti ada lima:

Rasa – stimulasi yang datang saat reseptor rasa kita bereaksi terhadap bahan kimia di mulut kita.

Sentuhan – stimulasi yang berasal dari reseptor sentuhan di kulit kita yang bereaksi terhadap tekanan, panas/dingin, atau getaran.

Bau – stimulasi reseptor kimia di bagian atas saluran udara (hidung).

Melihat – stimulasi reseptor cahaya di mata kita, yang ditafsirkan otak menjadi gambar visual.

Mendengar – penerimaan suara, melalui mekanik di telinga bagian dalam kita.

Itu ya yang lima. Tapi tahu nggak, sebenernya kita semua punya sixth sense, lho. Nggak cukup enam, ada seventh sense juga! (langsung berasa jadi Superman nggak, hahaha). Ini nih yang dua lagi:

Kesadaran tubuh (proprioception) – memungkinkan kita untuk memiliki kesadaran atas posisi tubuh kita di dalam ruang.

Keseimbangan – stimulasi sistem vestibular telinga bagian dalam untuk memberi tahu kita mengenai posisi tubuh yang terkait dengan gravitasi.

Pertanyaan yang mungkin muncul: OK, ada tujuh indera. Terus kenapa? Kenapa sih harus dilatih segala? Kan nanti bisa sendiri? Hmm, seandainya kita tahu seberapa besarnya pengaruh sensori terhadap banyak aspek hidup manusia saat dewasa nanti, pasti nggak bakal deh bilang begitu, hehe.

Jadi begini, ada nggak sih bayi yang baru lahir langsung lancar dan suka makan? Langsung bisa ngomong? Yang langsung bisa nulis? Jawabannya sudah jelas: nggak ada. Alasannya adalah karena kemampuan semacam itu teramat kompleks bagi bayi yang baru lahir. Bayi perlu melalui tahapan-tahapan (milestones) untuk bisa menguasai keterampilan hidup yang mereka perlukan.

Dan tahapan yang puuuuaaaaling awal, ya mengoptimalkan potensi yang pertama kali mereka punya, yaitu ketujuh indera mereka. Ketujuh indera inilah yang akan membantu mereka memahami dunia di sekitar mereka.

Analoginya seperti ini: jika kita ingin menulis dengan pensil, hal pertama yang kita perlukan adalah pensilnya terlebih dulu. Pensil diraut pakai rautan/silet sampai runcing agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus.

Pensil = ketujuh indera anak
Silet/rautan = permainan sensori (sensory play)
Tulisan = pertumbuhan kognitif, perkembangan bahasa, keterampilan motorik kasar, interaksi sosial dan keterampilan memecahkan masalah, dll.

Sensory Play

Jadi bayi itu susah banget, lho. Habis enak-enak hidup di dalem rahim ibu, tau-tau dipaksa keluar ke dunia yang begitu besar dan asing. Mereka butuh didampingi untuk belajar. Belajarnya bagaimana? Ya dengan banyak-banyak menyentuh (ini yang paling sensitif, makanya kontak skin-to-skin dengan ibu itu luar biasa penting), mencicipi, mencium, melihat, bergerak dan mendengar. Sering-sering beri kesempatan kepada bayi untuk secara aktif menggunakan indera mereka untuk mengeksplor sekitarnya.

Inilah asal-muasal istilah ‘Sensory Play’. Meskipun dinamai dengan kata ‘play’ alias ‘permainan’, tapi sebenarnya ini aktivitas yang sarat dengan proses belajar.

Bagi anak-anak, bermain dan belajar itu sama. Oleh karena itu, salah satu indikator utama kesuksesan belajar anak adalah ketika mereka bahagia melakukannya. Kalau suatu kegiatan belajar/bermain membuat mereka muram, ya.. lebih baik hentikan dulu saja.

Apa yang terjadi ketika anak melakukan Sensory Play?

Sensory Play memiliki peran krusial dalam perkembangan otak anak. Aktivitas ini membantu membangun koneksi saraf di jalur otak. Jika koneksi saraf banyak terbentuk, maka kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas yang lebih kompleks akan makin terasah. Sensory Play juga sangat berperan dalam pertumbuhan kognitif, perkembangan bahasa, keterampilan motorik kasar, interaksi sosial dan keterampilan memecahkan masalah.

Dan semakin sering diulang, akan semakin bagus. Penjelasannya ada di gambar berikut ini:

Efek yang ditimbulkan Sensory Play ini nyata sekali, lho. Satu contoh aja ya: ada anak yang nggak suka makanan dengan tekstur basah seperti buah-buahan, spaghetti, dll. Anak kemudian diajak bermain sensori: anak sedikit demi sedikit dipaparkan dengan benda/makanan bertekstur basah. Anak dibiarkan menyentuh, mencium dan bermain dengan benda/makanan itu tanpa diberi ekspektasi apa-apa (kalau awalnya betul-betul tidak mau, bisa disiasati dengan menaruh makanannya di dalam zipper bag untuk kemudian dipegang-pegang anak, jadi bendanya tidak bersentuhan langsung dengan tangan). Kalau sudah mau dan terbiasa, baru ditingkatkan lagi dengan mengambil sedikit-sedikit makanannya, dan seterusnya sampai anak berani mengeksplor secara keseluruhan (dan biasanya ini bukan proses yang instan, butuh kesabaran orangtua).

Ketika bermain dengan makanan basah, yang terjadi sebenarnya adalah anak sedang mengembangkan kepercayaan dan pemahaman akan tekstur ini, di mana sedikit demi sedikit akan terbangun jalur positif di otak untuk mengatakan aman untuk terlibat dengan makanan ini.

Itulah kenapa, kalo ada balita yang berpotensi memiliki masalah tumbuh kembang (telat bicara/speech delay misalnya), terapi sensori integrasi biasanya menjadi solusi pertama.

Lalu, permainan sensori apa saja yang bisa dilakukan anak? Jawabannya: BANYAK. Di era digital yang banjir informasi seperti sekarang, masalahnya bukan di kesulitan mencari informasi, melainkan kesulitan dalam merealisasikan SEDIKIT dari begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Mantranya: just do it!

Refleksi Mak Alma

Kalo Alma sendiri gimana? Jujur, aku sendiri masih kurang maksimal dalam melibatkan Alma buat main sensori. Kendalanya berasal dari perasaan, “Aduh bentar lagi mau pindahan, ntar aja sekalian di rumah biar nggak repot bungkusin printilan”. Lagipula waktu Alma bayi masih jarang pengetahuan tentang pentingnya aktivitas sensori di sosial media. Jadi aku pun tak tahu.

Ahhh bisa aja Yosss ngelesnya. 🙄

Kalo mau di-review lagi, kegiatan Alma sehari-hari lebih banyak bermain bebas (di dalam maupun di luar ruangan) dan membaca buku. Dan kalo diinget-inget lagi, tanpa sengaja Alma udah cukup banyak melakukan permainan sensori sih (tapi ya itu, tidak pada jam tertentu dengan tema tertentu, seketemunya aja apa yang diminati Alma) yang melibatkan semua indera kecuali indera perasa dan penciuman. Aku yakin ini penyebab utama kenapa Alma termasuk picky-eater (sayur-buah lancar, lauk milih-milih, karbo apalagi).

Sebetulnya indera perasa dan penciuman ini bisa banget diasah melalui BLW (Baby Led Weaning). Walaupun BLW ini judulnya salah satu metode pemberian MPASI, kalo aku bilang, BLW ini juga termasuk aktivitas sensori karena sangat melibatkan keempat indera anak (penglihatan, perasa, penciuman, dan peraba). Aku nyesel banget kenapa dulu nggak BLW-in Alma aja (bukan karena ikut-ikutan Andien ya, PLIS! BLW itu udah banyak yang pake jaaaauuuuh sebelum Andien punya bayi). Kekurangannya BLW ini kan biasanya karena ditakutkan asupan makanan yang masuk ke anak nanti tidak mencukupi kebutuhan gizi anak.

That is a very weak argumentation. Kalau BLW waktu bayi masih di bawah 12 bulan, pasti sama sekali nggak masalah. Lha asupan gizi bayi di bawah 12 bulan itu kan utamanya masih dari ASI. Makanya namanya ‘Makanan Pendamping ASI’, bukan ‘Makanan Pengganti ASI’. Justru dengan BLW kemungkinannya akan kecil sekali anak tumbuh jadi picky-eater. Malah jadi lancar bukan makannya? PLUS, melatih kemandirian anak juga. Anak dilatih makan sendiri tanpa dipaksa. Super sekali lah pokoknya.

Beda kaya Alma yang udahlah disuapin melulu, makannya kalo nggak bubur ya nasi tim. Alasannya biar tambah gendut (DUH! Gendutnya padahal dari ASI-ku 😳 I was really stupid, indeed). Jarang dikasih makanan utuh dengan bentuk, bau dan rasa yang berbeda-beda. Waktu itu kena baby blues pula, jadi sering maksain Alma makan sampe sering dia muntah kekenyangan. Sungguh suram. Kalo inget aku jadi pengen jeduk-jedukin kepala ke bantal rasanya. 😢😠

Nggak heran lepas setahun Alma langsung GTM parah, nggak mau makan, walhasil emaknya makin stres. Bisa lho waktu itu dia nggak makan seharian. Jadi harus purging dulu: aku pasrah Alma nggak makan apa-apa. Toh, kalo laper pasti minta makan. Aku cukup sediain makanan sehat beraneka macam rupa digeletakin di mana-mana. Sampe beberapa minggu kaya gitu, baru deh normal lagi.

Back to topic (curcol mulu yak aing). But to my surprise, I discovered that Alma really excelled the proprioception and the vestibular ones, terutama proprioception. Kalo misal lagi jalan di lantai atau halaman yang banyak rintangannya (misalnya batu, mainan yang berserakan, lubang, dll), dia tetep bisa jalan lancar tanpa kejeblos atau jatuh atau nginjek rintangannya. Padahal dia jalan nggak pake liat bawah, lho. Nyeludur aja gitu. Aku kadang sampe terheran-heran sendiri.

Mungkin karena aku nggak pernah dikit-dikit ngelarang Alma buat eksplor apapun yang dia suka. Ehm. Manjat-manjat? Silakan. Naik turun tangga sendiri? Cus. Jalan nggak pake sendal? Boleh.

Semuanya boleh asalkan aman, nggak ngerugiin orang lain, dan/atau Alma masih di bawah pantauanku atau Abi. Tapi namanya manusia, pasti ada aja salahnya. Beberapa kali Alma jatuh, tapi alhamdulillah masih aman terkendali. Paling nangis bentar trus lanjut main lagi. Justru, pengalaman jatuh/kepentok in akan bikin anak makin aware sama dirinya sendiri. Anak akan otomatis makin hati-hati next time dia melakukan hal yang serupa. Kalo anak sedikit-sedikit dilarang, dia malah jadi minim pengalaman buat mengeksplor diri sendiri dan ruang di sekitarnya. And for me, that is actually much worse than just kepentok.

OK. Jadi sekarang PR-ku ada dua nih:

1. Perbanyak aktivitas sensori, khususnya yang melibatkan indera perasa dan penciuman.

2. Buat kegiatan rutin terencana setiap hari, nggak perlu lama-lama, yang penting rutin (karena aku pernah baca bahwa rutinitas itu penting sekali buat balita, kalo mau dibahas udah beda topik lagi ini, haha).

*TARIK NAPAS DALAM-DALAM… HEMPASKAN*

Ya Allah kenapa bisa jadi panjang giniiiii. Parah emang. Kalo gini sih jadinya list Q&A Kulwapp kemarin dilanjut di postingan selanjutnya aja, ya. So sorryyyy.

See you very soon!


RALAT

Di salah satu paragraf di atas, aku bilang bahwa pernyataan ‘anak yang BLW punya risiko kekurangan asupan gizi’ sebagai argumentasi yang lemah.

Now I have to take back what I have said. I wasn’t completely right. Aku lupa ada satu zat yang penting banget buat bayi dan balita yang kalo didapetin dari ASI aja, nggak bakal cukup.

Zat itu adalah iron alias zat besi.

Pasti udah pada tahu ya (terutama para mamak-mamak yang anaknya pernah GTM nih) segimana pentingnya zat besi ini buat anak kita (yang paling populer: kekurangan zat besi bikin anak nggak nafsu makan). Sayangnya memang ASI itu rendah zat besi, sama kaya susu sapi. Makanya kebutuhan akan zat besi ini mau nggak mau harus dipenuhi dari makanan padat.

Abis tanya ke salah satu temenku yang adalah seorang dietisien/ahli gizi, yang paling baik itu ya di-mix aja antara BLW dan direct feeding (disuapin langsung). Jadi bisa dapet dua-duanya: pengalaman anak terhadap berbagai tekstur dan rasa makanan oke, asupan gizi yang cukup dan seimbang juga oke. Win-win!

Wah, lega deh udah ngeralat. I definitely learned my lesson! Aku bisa aja sih keukeuh gak mau ralat apa yang aku bilang, but that isn’t gonna be fair for everyone else, and even for myself.

Karena mengakui kesalahan itu adalah bentuk tanggung jawab.

Karena mengakui kesalahan itu jauh lebih baik daripada menyembunyikan keburukan.

Dan memang harus mengakui kesalahan kalau masih mau dipercaya orang.