Montessori di Rumah – Bagian Tiga – Konsep Kebebasan

Bagian pertama dan kedua bisa dilihat di sini dan di sini. Nah, setelah kemarin-kemarin bahas gimana caranya menyiapkan lingkungan rumah yang sesuai dengan kaidah Montessori (prepared environment), di bagian terakhir ini kita mulai bahas perlakuan seperti apa yang bisa kita terapkan kepada anak-anak kita. Ibarat PC, menyiapkan lingkungan rumah itu bagaikan menyiapkan hardware, sedangkan perlakuan pada anak ini adalah software-nya. Pertama, tentang konsep kebebasan (concept of freedom) dalam Montessori. Konsep kebebasan ini muncul dari sebuah gagasan bahwa sesungguhnya, anak-anak terlahir sebagai penjelajah yang mampu belajar dan melakukan banyak hal sendiri. Kalau kata Ustadz Harry Santosa, fitrahnya memang sudah begitu.
Kebebasan untuk Bergerak (Freedom to Move)
Ada enam jenis kebebasan dalam Montessori, dan ini yang pertama. Dalam Montessori, anak diberi kebebasan untuk bergerak di dalam ruangan, itulah kenapa decluttering sangat penting untuk dilakukan. Jadi, bagaimanapun aktifnya anak bergerak mengeksplor ruangan, mereka bisa tetap aman, atau paling tidak, minim risiko.
Kebebasan Waktu (Freedom of Time)
Nah, ini nih yang paling sering kita lupa kalo lagi main sama anak-anak. Dalam metode Montessori (dan aku percaya nggak cuma di Montessori aja), anak diperbolehkan buat menggunakan material yang mereka suka selama yang mereka mau. Kebebasan waktu juga bisa diartikan sebagai: dalam mempelajari satu hal yang baru, setiap anak memiliki pace-nya masing-masing. Ada yang cepat menguasai di satu topik belajar dan lebih lambat di topik yang lain, dan sebaliknya.
Just because you need more time to do something, it does not mean that you cannot do it.
Santai aja. Namanya manusia, pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Even a superhero has a weak point. Semua akan berjalan baik-baik saja selama kita punya kuncinya: SABAR.
Kebebasan untuk Memilih (Freedom of Choice)
Yang ini juga penting banget: anak diperbolehkan untuk memilih kegiatan mereka sendiri sesuai dengan urutan yang mereka sukai. Bayangin kita aja deh nih, yang orang dewasa. Ambil contoh aku sendiri. Lagi semangat-semangatnya belajar parenting, tau-tau disuruh belajar otomotif. Oh, dang. Ya bisa sih ya baca, tapi kan nggak dari hati. Belajar jadi kurang meaningful. Berasanya kayak, “What am I doing here reading nonsense??” 😂 Sebaliknya, mau disodorin belasan artikel parenting dalam sehari pun aku pasti hepi-hepi aja bacanya, ilmu jadi lebih gampang nempel di kepala karena aku suka.
Kebebasan untuk Mengulangi (Freedom to Repeat)
Ini udah pernah dibahas sepintas ya di bagian kedua. Daaan, lagi-lagi kata ini muncul: SABAR. Kalo anak lagi suka banget sama topik/kegiatan tertentu, anak pasti pengennya ngulang-ngulang terus sampe yang liat bosen. You know what, you might be bored looking at him doing the same thing over and over again, but he is obviously not. Just mind your own business, Parents! Let your child do what he likes as long as he’s learning something. Bahkan buat bayi, aktivitas sesederhana membuka tutup botol itu termasuk ‘belajar’ loh. Melatih motorik halus, daya konsentrasi dan sebagainya. For children, playing is learning~~ Dengan memberikan mereka waktu sebanyak yang mereka butuhkan, ada banyak manfaat yang bisa mereka terima. Tanpa diburu-buru, anak merasa dihargai dan biasanya, anak jadi lebih mudah menyerap ilmu. Anak juga jadi belajar memahami diri: anak jadi tahu kalau dia lebih mudah belajar lewat video, misalnya. Selain itu, anak juga bisa belajar untuk memecahkan masalah (problem solving).
Kebebasan untuk Membuat Kesalahan (Freedom to Make Mistakes)
Pada dasarnya, Montessori itu memfasilitasi anak untuk bisa self-correcting: memperbaiki sendiri kesalahan yang anak lakukan. Nah, gimana mau memperbaiki kesalahan kalau kesalahannya aja nggak ada? Dengan kata lain, anak nggak dibolehin membuat kesalahan? Definisi ‘tidak memperbolehkan anak untuk membuat kesalahan’ itu banyak, btw. Salah satunya: kita mudah marah setiap kali anak melakukan kesalahan. Misalnya nih, kita marah-marah setelah anak tanpa sengaja memecahkan piring. Padahal kita tahu kalo dia nggak sengaja, tapi kita tetep aja memutuskan buat marah-marah. Dampaknya ada dua: anak jadi takut gagal setiap akan melakukan sesuatu atau sebaliknya, jadi memberontak dengan beragam cara (dari yang awalnya nggak sengaja, jadi suka sengaja memecahkan barang-barang, misalnya). Efek jangka panjangnya: anak jadi minder atau sebaliknya, jadi rebellious. Naudzubillah, jangan sampe yaaa ini terjadi ke anak-anak kita. Saat anak melakukan kesalahan pun jangan buru-buru dibenerin. Misalnya anak lagi belajar penjumlahan. Anak salah menjumlahkan beberapa kali. Nah, jangan terburu-buru buat ngasih jawaban yang bener. Lebih baik, ajak anak mengulang lagi materi di esok hari sampai dia paham di mana letak kesalahannya. Kalau sudah begitu, insyaAllah anak bisa membetulkan kesalahannya sendiri. We call it discovery!
He who never made a mistake, never made a discovery. – Samuel Smiles
Kebebasan untuk Berkomunikasi (Freedom to Communicate)
Kalo kata Undang-Undang sih, kebebasan berekspresi. 😆 Intinya, jangan pernah mengalihkan pertanyaan anak, seremeh dan seaneh apapun pertanyaannya. Apresiasi juga saat anak memberikan tanggapan atas sesuatu. Jadi inget salah satu postingan viral. Ada ibu dan anak  (muslim) lagi nonton pertandingan Asian Games di TV di mana para atletnya pakai baju renang yang terbuka. Si Anak tanya, kenapa kok bajunya begitu? Alih-alih menjawab, ibunya malah buru-buru mengganti channel. Well. This can turn out really bad. Naudzubillah, anaknya jadi tanya ke orang lain dan malah disalahgunakan alias di-abuse. Amit-amit kan. Banyak lho kasus kaya gini di sekitar kita. Seremmm. 😭 Kalaupun ternyata kita nggak punya jawaban yang pas saat anak bertanya pun nggapapa loh, jujur aja. Bilang kalo Ayah/Ibu coba cari jawabannya dulu, nanti malam/besok pagi/dua jam lagi Adik/Kakak diberitahu. Even better, anak diajak sama-sama mencari tahu jawabannya kalau sekiranya memungkinkan. OK that’s all. Kalau mau lanjut ke bagian empat alias bagian terakhir, silakan klik di sini ya. See you there!  

Montessori di Rumah – Bagian Satu – Salah Kaprah dan Persiapan

Akhir bulan Juli kemarin, aku gabung di grup Facebook Montessori for Mommies yang dibuat oleh Sony Vasandani dari Sunshine Teachers Training. Kata Sony, ini grup terbuka, jadi feel free yaa kalo mau gabung.

Nah, tanggal 1 Agustus, Sony ngadain Facebook Live yang temanya Specific Montessori Activities to Implement at Home. Durasinya lumayan panjang, hampir satu setengah jam. Biar nggak bosen, isi dari live session ini aku buat jadi tiga bagian, dan postingan ini adalah bagian yang pertama.

First thing first, aku mau bahas motifku dulu, kenapa aku pengen ikut live session-nya. Alasan pertama: ya why not? Kenapa enggak? Ilmu itu investasi yang jangka waktunya limitless, bisa untuk selamanya. Apalagi ini free kann. 😝

Alasan kedua: ya karena aku suka banget sama metode Montessori. Tapiii aku selalu merasa overwhelmed tiap kali liat postingan para ibu hebat di Instagram (internet, generally) yang menampilkan kegiatan-kegiatan Montessori anaknya. Gelagapan di tengah banjir informasi.

For a beginner like me, seeing many of those posts was like looking at scattered puzzle pieces. Aktivitas X menarik banget, tapi tujuannya apa sih? Adakah hubungan antara aktivitas X dan Y? Adakah urutan-urutan tertentu? Apakah aktivitas/aturan XYZ ini wajib, atau boleh di-skip? Apa sih tujuan dasar kita ngelakuin aktivitas-aktivitas ini?

Kayak misalnya nih, akhir-akhir ini aku sering banget lihat temen-temen yang bikin Pojok Montessori alias area khusus untuk anak buat berkegiatan Montessori. Mainan-mainan dan material yang digunakan anak diletakkan di area ini. Jadi kalau mau belajar/beraktivitas Montessorial ya harus di situ, nggak boleh pindah-pindah. Tujuannya agar anak bisa mengenal konsep teritori dan belajar buat konsisten (CMIIW).

Ini bagus banget, but I couldn’t help thinking: kalau rumahnya kecil dan bener-bener nggak ada ruang lebih buat bikin Pojok Montessori gimana? Berarti nggak bisa aplikasiin Montessori di rumah?

Aku nggak kunjung dapet jawaban yang pasti… sampai akhirnya aku dengerin penjelasan Sony. Berikut kutipan lengkapnya.

When we’re implementing Montessori, it doesn’t have to be a place where you are setting up the shelves and everything, it’s the whole home environment.
Montessori at home means we’re taking the whole house. We are not using a corner of the house: this is your area, this is were you have to work, no. It cannot be like that. It has to be the whole house for the child.

Kemudian Sony mulai jelasin satu persatu kondisi ideal seperti apa yang bisa kita usahakan untuk tiap-tiap ruangan di dalam rumah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Montessori, mulai dari teras depan sampai ke toilet. And it all started to make more sense to me.

Aku juga mulai browsing lagi soal Pojok Montessori ini. Kira-kira apa ya yang bikin dua info ini bisa saling kontradiktif? Satunya bilang Pojok Montessori itu penting, satunya lagi bilang enggak.

Ternyata, nama lain dari Pojok Montessori ini adalah The Montessori Work Mat (selanjutnya disebut TMWM). TMWM ini memiliki ukuran ideal tertentu dan dari yang aku baca, TMWM ini biasanya disediakan oleh guru untuk murid-murid di dalam kelas. Kalo di kelas, pasti ada lebih dari tiga anak ya paling nggak. Nah, biar anak-anak nggak saling ‘ngerecokin’ satu sama lain, maka dibuatlah TMWM ini, biar anak tahu batas teritori masing-masing. Make sense  banget yaa.

Nah, I guess, peraturan semacam itu ternyata nggak saklek-saklek amat, nggak harus dilakuin, tergantung konteks. Kalau konteksnya Montessori di rumah, bukan di kelas, berarti udah beda lagi dong ya (again, CMIIW).

Kalau di rumah ada lebih dari satu anak gimana? Berarti bisa nih TMWM dipake? This question suddenly popped inside my head, hahaha. Beklah, kayanya aku harus tanya ke Sony dulu nih. 😆


Mulai dari sini, bahasannya fokus ke Montessori di Rumah yaa.

Ada dua hal yang harus dilakukan sebelum kita, para orangtua, mulai mengaplikasikan Montessori di rumah.

1. Declutter

Siapa yang tahu seni berbenah KonMari? Ini persisss kaya gitu. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan rumah (setting up the environment). Rumah seperti apa yang ideal untuk anak? Jawabannya kira-kira: rumah yang aman di mana anak bisa bebas bergerak dan menjelajah rumah serta bebas mengakses benda-benda yang mereka perlukan secara mandiri, plus, yang tidak mendistraksi anak.

Sebagai orangtua, apalagi orangtua newbie, bawaannya pasti pengen beliin banyak hal buat anak. Baju, mainan, perlengkapan gears, boneka dan lain sebagainya. Sayangnya, anak di bawah 6 tahun nggak memerlukan benda sebanyak itu. Buku? Dua aja cukup, maksimal tiga. Boneka? Palingan yang suka emaknya aja ini sih. Mainan? Ehm, anak biasanya lebih tertarik sama kardus pembungkusnya sih, haha.

Nah, kalo barang-barang itu udah numpuk, yang ada malah tercipta distraksi-distraksi yang tidak perlu bagi Si Anak. Menstimulasi perkembangan anak enggak, bikin anak nggak konsen iya.

Ini juga berlaku buat apparatus Montessori ya. Percuma beli apparatus mahal-mahal kalo nggak tahu gimana cara pengaplikasian yang bener, apalagi kalo ujung-ujungnya cuma dipajang di rak.

Detil tentang bagaimana menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori aku tulis di postingan selanjutnya ya.

Why declutter? Too much things can be very distracting. The less things you have in the house, the better it is for you and your child.

We love our children so much we want to give them everything. The best thing we can do is that we are learning how to do better and to give them our time: without any technology. – Sony Vasandani

2. Observe

Sebagai orangtua, kita harus mulai belajar mengamati anak. Anak kita lagi tertarik sama apa? Kebiasaannya terkait ini dan ini kaya gimana? Materi/aktivitas yang dia udah dan belum bisa apa aja?

Gunanya buat apa? Agar kita tahu apa yang dibutuhkan dan disukai anak (nggak cuma asal nyodorin aktivitas pilihan kita, orangtuanya, padahal anak belum tentu tertarik/suka) dan biar kita tahu cara-cara seperti apa yang bisa membuat anak belajar dengan nyaman dan optimal.

Misalnya, Si Bocil lagi suka coba-coba pake sepatu sendiri. Kita amatin, oh, ternyata dia udah bisa pake sepatu model slip on sendiri. Berarti kita bisa mulai kenalin ke sepatu yang pake velcro. Gimana biar Si Bocil ngerti cara pakenya? Oh, dicontohin. Gimana caranya biar anak cepet nangkep? Oh, waktu ngasih contoh, anaknya dipangku, biar anak bisa ngeliat dari sudut yang sebenarnya kaya waktu dia lagi make sepatu. Udah bisa lepas-pasang velcro? Coba dikasih sepatu bertali. Dan seterusnya.


That’s it. Di dua postingan selanjutnya, aku bakal nulis detil tentang proses menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori dan juga tentang natural consequences and freedom in Montessori ya (berdasarkan materi yang disampaikan Sony).

See you all! Hopefully very soon~