Tidying Festival – Sentimental Items

The very last task has finally come!

Yep. Sentimental items alias barang-barang yang menyimpan kenangan bagi pemiliknya. Kenapa sentimental items ditaruh paling akhir? Karena sesungguhnya kategori ini sangat berpotensi untuk menghambat proses berbenah.

Let me explain.

Waktu kita memegang benda kenangan yang masih berguna sih pasti no problemo ya, tanpa pikir panjang pasti tetap disimpan. Tapi bagaimanakah ceritanya kalau ternyata selama bertahun-tahun bendanya cuma nyempil aja di pojokan? Mau buang nggak tega. Mau nggak buang, tapi nggak pernah dipakai juga.

In the end, kegiatan berbenah jadi terhambat dan tertunda karena seharian malah galau di pojokan kamar. Finally see the point, right? 😆

Pertanyaan selanjutnya… ehm, barang kenangan kita jadinya ada apa aja nih?

Well,  sejujurnya nggak terlalu susah sih buat menyortir barang di kategori ini. Aku juga nggak terlalu inget barang kenangan apa aja yang udah kita discard (eh, tetiba inget satu: baju bayinya Alma! 😆). Jadi ya seperti biasa, langsung tunjukin aja lah ya fotonya.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aku kasih keterangan sesuai nomor foto ya.

1. I made this all by myself. The very first birthday present that I give to Reza Darmawan. Jangan tanya tulisan di frame sebelah kanan ya. Aku sama Abi selalu nggak abis pikir kenapa aku kita dulu bisa se-cheesy ini. 😂 Karena lucuk, kita shamelessly pajang ini di rak buku paling atas. 😂

2. Bendanya yang di sebelah kanan. Going Merry, the ship of the Straw Hat crew. It’s not just an accessory in a bookshelf. Ini dulu hadiah pernikahan dari salah satu sahabat terbaik Abi. It came with a letter, definitely a heart-warming one. Jadi kita putuskan buat ditaruh di rak buku paling atas juga.

3. Ini kumpulan tiket nonton di mana nontonnya bareng Si Abi. Entah kenapa mau buang kok susahnya luar biasa. Ya udah disimpen aja. 😛

4-5. Ini komik buatanku, gambarnya manual pake pensil, pen, dsb. Aku bikin ini sebagai tugas akhir/skripsi waktu kuliah dulu. Mana tau kan Alma nanti kalo udah gede mau baca ini, hahaha.

6. Ini map dapat waktu Abi ikut training Certified Ethical Hacker. Hampir nggak pernah dipakai dan sempat akan aku discard tapi dilarang Abi. Well, it’s just his thing. 😆

7. Persis seperti nomor enam, cuma bedanya ini map dari Training Manajemen Layanan TI.

8. Pin yang didapat dari dalam map nomor tujuh.

9. My birthday present from Abi last year. He made it all by himself. Beli bahannya diem-diem, tau-tau jadi. 😍 Detilnya ada di video di bawahnya ya.

I guess that’s all. Semoga aku bisa lulus Kelas Shokyuu biar bisa lanjut ke Kelas Chukyuu. Amin!

Tidying Festival – Papers

Postingan tentang papers (kertas dan dokumen) kali ini akan menjadi postingan terpendek yang pernah saya buat. Ini cukup aneh karena papers termasuk kategori urutan ketiga dalam seni berbenah ala Konmari, yang berarti menyortir dokumen seharusnya akan lebih ribet daripada menyortir komono alias barang printilan (yang bagi saya sudah cukup ribet ini).

Alasannya adalah karena kami sudah melakukan proses penyortiran sejak dari dua bulan yang lalu saat kami baru saja pindah rumah.

Yes, kami sudah berhasil melewati hari-hari yang gelap itu. 😂

Kalau diingat-ingat lagi, dokumen-dokumen yang belum disortir waktu itu ada sekitar dua kardus. Ada BANYAK sekali kertas dan dokumen yang bahkan kami pun heran bagaimana bisa kami tidak membuang itu semua. 😂

Lalu bagaimana sekarang? Alhamdulillah, dokumen yang sudah tersortir muat dimasukkan ke dalam satu folder saja.

Mohon abaikan tulisan yang jauh dari istilah ‘spark joy‘ di atas. Suami saya memang nekat, padahal dia tahu betul kalo tulisan tangannya jarang-jarang bisa kebaca. 😬

Tidying Festival – Komono (Miscellaneous Items)

Huhuhu, task kali ini ngerjainnya telat nih. I feel so baaad.

Well, kategori yang telah saya benahi kali ini adalah Komono.

Wait, komono? Kimono kali nih maksudnya? Hahaha bukaaan. Komono itu kalau mau diartikan pakai bahasa sehari-hari adalah barang printilan. 😆 Atau kalau dalam bahasa Inggris: miscellaneous items. Yang jelas, komono itu semua benda yang tidak termasuk ke dalam kategori pakaian, buku, kertas ataupun barang kenangan.

Di rumah, sebagian besar benda-benda ini kami letakkan di tiga tempat: rak di kamar tidur, satu kolom terbawah rak buku, dan dua kotak mainan besar. Langsung saja ya saya display di sini. 💜

 

 

Wadah mainan warna kuning dan oranye itu kami beli di IKEA. Karena Alma lebih suka bermain bebas, akhirnya mainan hanya kami bagi jadi dua subkategori: mainan kecil dan mainan besar.

Wadah-wadah yang ada di rak kamar tidur asalnya bermacam-macam. Ada kotak Calista, laci lemari yang tidak dipakai, sampai kotak bekas mahar juga ada. 😂

Demikian penataan komono di rumah kami. Sejauh ini, saya dan suami hanya menemui satu kendala dalam mempertahankan kerapian rak, yaitu ketika Alma mulai mengeksplor area yang terlihat di foto-foto di atas. Entah kenapa, dia suka sekali memindah-mindahkan barang dan menyimpannya di tempat yang tidak lazim. Misalnya, Alma suka sekali menyimpan remote TV di lemari baju atau kulkas.

But I guess that’s another story. Hopefully we will have the problem solved soon. 😅

 

Task 5: Tidying Festival – Clothes

Ini adalah bagian kedua (sekaligus terakhir) dari Festival Berbenah dalam kategori Clothes alias Pakaian.

Kalau di postingan pertama saya banyak memperlihatkan hasil lipatan baju ala KonMari, maka di postingan kedua ini saya akan membahas mengenai storage alias tempat penyimpanannya.

Sesungguhnya, tempat penyimpanan baju ala KonMari yang paling ideal adalah yang berupa drawer/laci, seperti yang ditunjukkan ilustrasi di bawah ini.

Tempat penyimpanan ideal kedua adalah dengan menggunakan kabinet dimana baju disimpan dengan cara digantung. Agar kabinet bisa lebih spark joy, maka selain diurutkan berdasarkan warna (seperti saat disimpan dalam laci), baju juga bisa diurutkan dari yang paling panjang ke yang paling pendek.

Tapi laci memang lebih preferable karena bisa memuat jauh lebih banyak baju.

Lalu, bagaimana kalau kita terlanjur membeli lemari model konvensional?

Masalah yang umumnya timbul dari lemari konvensional adalah jarak antarsekat yang terlalu tinggi. Opsi solusi yang pertama adalah dengan mengganti lemari konvensional dengan kabinet/laci.

Masalahnya, belum tentu kita memiliki budget yang memadai dalam waktu dekat untuk melakukan ini. Seperti saya contohnya. 😆

Untungnya, kita punya opsi yang kedua, yaitu dengan menambahkan sekat-sekat tambahan yang disisipkan di antara dua sekat yang terlalu tinggi tadi, seperti ini.

Setelah mengecek di Tokopedia, ternyata harga tiap sekat lumayan juga. Terlebih lagi, saya tidak hanya membutuhkan 1-2 buah sekat saja, melainkan sedikitnya 10 buah sekat seperti ini (lemari di rumah ada dua dan tiap lemari memiliki 5 buah kolom yang bisa disisipi sekat tambahan).

Akhirnya, saya pun menggunakan opsi ketiga, yaitu menambahkan beberapa kontainer di tiap-tiap kolom lemari. Begini penampakan lemari pakaian saya saat ini.

Abaikan tulisan di tiap kotak yang masih acakadut, hahaha. Dan kenapa pakai bahasa Inggris? Pertama, biar lebih pendek (coba tulis Socks & Panties vs Kaos Kaki & Celana Dalam, pilih mana? 😂). Kedua, karena bagi saya, tulisan berbahasa Inggris itu sangat spark joy. 😎

Back to topic, kekurangan dari model penyimpanan seperti ini adalah kontainer jadi saling ditumpuk satu sama lain. Kontainer yang berada di tumpukan paling bawah jadi agak sulit untuk diakses (kontainer yang ada di atasnya harus diambil terlebih dulu).

Kekurangan ini sebetulnya bisa diakali dengan cara mengisi kontainer paling bawah dengan pakaian yang paling jarang digunakan. Kalau saya, kontainer paling bawah saya isi dengan kumpulan mukena dan sajadah cadangan dan baju-baju atasan yang saya pakai di waktu-waktu tertentu saja.

FYI, saat saya mengirimkan foto lemari saya ini di grup kelas, ada yang mengira kalau kotak-kotak yang saya pakai adalah kotak SKUBB dari IKEA.

Padahal bukan.

Awalnya memang saya sempat browsing katalog IKEA (karena biasanya barang-barang basic di IKEA harganya bisa murah sekali). Saya pun menemukan box set SKUBB ini. Harganya 99.000 berisi 6 kotak dengan ukuran yang berbeda-beda.

Cukup menggiurkan, but this box set does not solve my problem. Kenapa?

Pertama, bisa dilihat di foto lemari saya di atas, dalam satu lemari saja saya membutuhkan 24 kotak baju tambahan. Jadi saya akan membutuhkan paling tidak 6 buah box set SKUBB untuk satu lemari. Lemari di rumah kami ada dua. Hmm, not so cheap anymore, eh?

Kedua, ini alasan yang membuat saya mencoret kotak SKUBB dari daftar, karena ukuran kotaknya yang tidak seragam. Kalau ukuran kotak tidak seragam, bila dijajarkan side-by-side pasti kurang enak dilihat. It’s really a big no-no for me.

Setelah saya mengukur panjang, lebar, dan tinggi tiap-tiap kolom lemari, saya menyimpulkan bahwa kontainer seukuran kotak sepatulah yang paling pas ditaruh di dalam situ. Akhirnya saya mencoba browsing di Tokopedia dan menemukan banyak sekali pilihan kotak sepatu.

Akhirnya, saya memilih kotak sepatu yang berbahan Duplex 250 GSM dan berwarna putih ini. Yay! Bahagia sekali rasanya saat saya menemukan kotak ini. Harga perhelainya pun hanya 4000 rupiah saja. Meskipun sebetulnya bahannya kurang tebal ya, jadi rasanya kurang kokoh (sebetulnya ada kotak lain yang lebih kokoh, tapi bahannya kardus berwarna coklat, saya tidak terlalu suka). Kalau ditumpuk vertikal, pasti cepat penyok. Kekurangan ini saya siasati dengan cara menyelipkan tutup kotak sepatu di antara dua kotak yang ditumpuk, seperti ini.

Fungsinya adalah untuk meminimalisasi tekanan pada kardus yang ada di tumpukan bawah. Tiap helai tutup kotak berfungsi memperlebar luas permukaan sisi atas kotak yang ada di bawah (kotak yang di bawah jadi memiliki ‘atap’), sehingga beban yang berasal dari kotak di atasnya bisa terdistribusi dengan lebih merata.

Manfaat lain yang saya temukan adalah kotak-kotak yang di bawah jadi bisa ditarik menyerupai laci. Jadi saya tidak perlu mengambil kotak yang paling atas jika ingin mengambil kotak baju yang berada di bawah.

Now that’s what I call happiness. 😛

Bagaimana rasanya setelah mengatur lemari menjadi seperti ini? Surprisingly, lemari saya jadi lebih tahan rapi dalam waktu yang sangat lama. Padahal saya termasuk orang yang cukup berantakan. Pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, tiap selesai merapikan tumpukan baju di lemari, dalam waktu beberapa hari pasti akan berubah berantakan lagi. Tapi kali ini tidak. Padahal sudah lebih dari seminggu yang lalu sejak saya menata ulang lemari. This is pretty much an achievement for a messy person like me. 😍

Sebetulnya ada alasannya sih kenapa bisa begitu. Kalau baju dilipat dan ditumpuk secara vertikal, bila kita mengambil/menarik baju yang ada di bawah, pasti sangat berpotensi untuk membuat tumpukan baju menjadi berantakan karena baju yang berada di atas/di bawahnya ikut tertarik.

Namun, jika baju dilipat sampai bisa berdiri sendiri untuk kemudian dijajarkan secara horizontal (seperti metode KonMari), risiko tersebut jadi bisa diminimalisasi, seperti baju saya dan anak saya setelah ditata ulang ini.

Awww, I really can’t take my eyes off of them. So much spark! So much joy!

I cannot wait to do the next category! 💜

 

Task 4: Tidying Festival – Clothes

Let the Tidying Festival begin!

Minggu ini adalah minggu pertama kami mulai melakukan praktik berbenah. Sesuai metode KonMari, kami akan berbenah sesuai kategori. Kategori pertama adalah clothes alias pakaian.

FYI, kategori pakaian ini bukan hanya berisi pakaian secara literal saja, melainkan juga sprei, handuk, selimut, tas, sepatu,dan sejenisnya.

Di Task 4 ini saya dan teman-teman sekelas diminta untuk memperlihatkan: foto lemari pakaian saat ini (before), foto semua pakaian yang sudah terkumpul (step 1), foto pakaian yang sudah lulus uji spark joy sebelum dilipat (step 2), dan terakhir foto pakaian yang sudah dilipat ala KonMari.

Sayangnya, tugas yang ini baru muncul setelah saya dan suami selesai declutter seisi rumah. Suasana saat itu benar-benar hectic sekali, apalagi kami juga berkejaran dengan waktu. Jadilah kami tidak sempat mengabadikan pakaian-pakaian kami yang belum tersortir.

Namun percayalah, baju-baju kami sebelum disortir jumlahnya banyak sekali. Fiuh!

Kardus-kardus di atas berisi baju-sepatu-tas yang tidak lolos sortir dan telah kami donasikan. Kardus baju yang terlihat di foto hanya ada tiga, padahal sedikitnya total ada delapan kardus.

Selanjutnya, foto pakaian saya saat ini (yang lulus sortir alias spark joy ❤).

Kemudian setelah dilipat.

Full of joy, indeed.

Yang baru dibenahi baru baju-baju saya dan Alma saja. Baju milik suami insya Allah akan saya selesaikan secepatnya.

Maklum lah ya, imagine tidying up with a toddler running around the house. Peribahasa gali lubang tutup lubang sepertinya cukup bisa mendeskripsikan. 😆

Ganbarimaaaaaaasu! 

Task 3: Persiapan Menyambut Festival Berbenah

Tugas ketiga kali ini adalah tugas terakhir sebelum kami betul-betul melakukan Festival Berbenah minggu depan. Jadi, saya akan menuliskan tentang persiapan apa saja yang sudah kami lakukan dalam menyambut Festival Berbenah ini.

Uhm…. to be honest, we have done almost everything. 😂

Jadi begini ceritanya. Hari Selasa pagi saya, suami, dan Alma akhirnya tiba di rumah tercinta kami (setelah dibiarkan kosong selama dua tahun penuh). Judulnya rumah tercinta, padahal secara fisik lebih mirip rumah hantu. Sarang laba-laba dan debu tidak perlu ditanya lagi, tebalnya luar biasa. Banyak sekali barang-barang kami (sebagian besar baju, tas, dan sepatu lama) yang masih menumpuk di dalam tas dan kardus-kardus besar. Peralatan makan dan peralatan masak pun masih disimpan random di dalam tempat penyimpanan.

Kami pun langsung bertekad untuk melakukan decluttering sesegera mungkin sebelum barang-barang dari Solo tiba (barang-barang kami kirim melalui ekspedisi).

Rasanya tak terbayang bagaimana kalau misal nanti barang-barang lama bercampur dengan barang-barang dari Solo. Pasti kacau sekali.

But reality hit us really hard. Barang ekspedisi ternyata sampai lebih cepat, yaitu keesokan harinya. Yang tadinya tak terbayangkan, sekarang dihamparkan dengan sangat jelas di depan mata kami.

Saya sampai membatin, “So if the word CLUTTER were to be visualised, I guess it would be something like this.” Karena memang kondisinya kacau sekali. Melihatnya saja, kami sudah stres duluan. Rasanya kami seperti dihimpit oleh barang-barang.

Saya jadi berpikir, mungkin di hari di mana manusia dihisab, rasanya akan seperti ini (atau malah jauh lebih buruk). Semakin banyak harta benda yang kita tumpuk, semakin sesak badan kita dihimpit.

Aduh, jadi OOT. OK. Back to topic. 😅

Mau tidak mau, kami harus secepatnya menyortir agar rumah bisa terasa lebih lega. Agar barang bisa cepat keluar, kami memutuskan untuk mendonasikan barang-barang yang tidak lulus sortir.

Proses decluttering ini adalah proses yang paling menguras tenaga, hati, dan pikiran. Terutama pada saat declutter baju. Wah. Saya jadi sangat paham kenapa Marie Kondo menempatkan BAJU sebagai kategori pertama dalam proses berbenah. Ternyata diam-diam, baju ini jumlahnya luar biasa banyak. Terlebih lagi kalau baju seluruh anggota keluarga dikumpulkan dalam satu tempat, pasti siapapun akan terkaget-kaget.

Padahal sudah lebih dari sehari (bahkan dua hari) kami menyortir, tapi rasanya tidak kunjung selesai juga.

Agar proses decluttering selesai lebih cepat, seperti yang sudah saya catat di Task 2, kami langsung menyediakan beberapa kotak kardus sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang tidak lulus seleksi. Kami langsung pack ulang kardus yang berisi barang layak pakai. Kardus yang berisi sampah dan barang tidak layak pakai langsung kami taruh di depan rumah agar bisa segera diangkut truk sampah atau para pengumpul barang rongsokan.

Total kami membutuhkan waktu tiga hari untuk declutter seluruh barang. Bersyukur sekali ada Infaq Dakwah Center (IDC) karena barang yang kami donasikan bisa langsung diambil oleh Laskar Sedekah Barang IDC keesokan harinya (penjemputan barang tersedia di area Jabotabek dan Solo). Jadi kami sama sekali tidak perlu keluar rumah untuk mengirimkan barang-barang (yang sangat banyak itu) ke kantor IDC.

 

Akhirnya yang tersisa tinggal proses memasukkan kembali barang-barang yang lulus seleksi ke dalam tempat penyimpanan masing-masing. Setelah itu kami mengatur kembali posisi barang dan furnitur. Terakhir, kami pun mulai bersih-bersih: menyapu, mengepel, dan seterusnya.

Believe us or not, kami sukses mengeluarkan (kurang lebih) SETENGAH dari isi rumah, lho. Rumah kami langsung terasa jaaauuuh lebih lapang dan lega. Woohoo! What an achievement!

Tapi kami masih punya PR sih. Metode penyimpanan barang masih belum dilakukan dengan sempurna. Alasannya adalah karena kami masih menunggu materi-materi di Kelas Shokyuu selanjutnya. Biar sekali kerja tapi langsung sempurna, begitu. Hehehe.

Sampai jumpa di tasks selanjutnya, ya! 😘

Task 2: Menjaga Mindset dan List Hambatan dalam ber-KonMari

Kali ini, saya akan menuliskan kembali mindset dalam metode KonMari yang paling menempel di otak saya dan bagaimana cara menjaga mindset tersebut. Selain itu, saya juga akan menjabarkan satu persatu apa saja hambatan yang sekiranya akan saya hadapi dalam berbenah beserta solusinya masing-masing.

Menjaga Mindset

“The question of what you want to own is actually the question of how you want to live your life.” – Marie Kondo

“Focusing solely on throwing things away can only bring unhappiness. Why? Because we should be choosing what we want to keep – not what we want to get rid of.” – Marie Kondo

Kutipan yang pertama mengingatkan saya pada mindset yang sudah cukup mengakar di lingkungan sosial kita: semakin banyak benda yang dipunyai seseorang, maka semakin sukses pula hidupnya. Sayangnya, mindset seperti itu akan membuat kita menjadi gemar mengumpulkan barang-barang hanya demi terlihat ‘sukses’ (dalam banyak artian), padahal sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut. Atau kalaupun butuh, kita hanya perlu dalam jumlah kecil saja.

Kutipan yang kedua juga sangat berkaitan dengan ini. Alih-alih berbelanja dan menyimpan banyak barang, akan lebih baik jika kita menyimpan sedikit, tapi kita tahu bahwa yang sedikit itulah yang paling bisa memberi kebahagiaan dan keberfungsian untuk kita.

Lalu untuk saya pribadi, bagaimana caranya agar mindset-mindset ini tetap terjaga?

Barang yang paling mudah membuat saya melakukan penimbunan (hoarding) adalah baju, sepatu, tas, dan sejenisnya. Barang-barang ini, bisa dibilang, adalah barang-barang yang paling berpotensi untuk menghancurkan kembali mindset yang sudah saya bangun. Akhirnya saya pun mengaplikasikan prinsip One In One Out. Awalnya saya sortir dulu, baju seperti apa sih yang saya paling suka? Jadi fokusnya ke baju-baju yang ingin disimpan, bukan yang harus dipensiunkan. Baju yang saya sudah bosan atau tidak saya sukai lagi kemudian saya discard.

Saya sudah melakukan ini sejak lebih dari setahun yang lalu. Hasilnya, hidup saya terasa lebih simpel dan bahagia. Kenapa? Karena sekarang saya tidak perlu lagi berdiri berlama-lama di depan lemari yang penuh sesak sambil kebingungan, “Saya mau pakai baju yang mana, ya?” Dengan meminimalisasi kuantitas baju, saya bisa langsung memutuskan akan memakai baju yang mana. Hasil pilihan saya pun pasti tidak akan mengecewakan karena baju-baju yang sudah tersimpan di lemari, pastilah baju-baju yang paling saya sukai.

Kalau sudah bosan bagaimana? Saya akan membeli yang baru. Baju yang lama akan saya jual kembali (menjadi barang preloved) atau kalau mau, bisa didonasikan. One in, one out.

Tidak usah sedih atau baper, karena sebetulnya those shoes and clothes (in this case) have served their purpose: barang-barang ini sudah memberikan kebahagiaan pada saya saat saya membeli mereka. They had brought me joy, but now it’s time to move on. Efek samping dari ini:  sekarang saya tidak mudah lapar mata. Kalau pun saya akhirnya memutuskan untuk membeli baju, saya hanya membeli baju-baju yang berkualitas saja dan kalau bisa, mudah dijual kembali with good price. Kalau dulu, saya suka lemah melihat baju-baju yang modelnya lucu-lucu dengan harga murah. Hasilnya, lemari saya pun jadi penuh sesak tidak terkendali. Dark times, indeed.

Hambatan dalam Berbenah

Hambatan pertama dan utama yang pasti akan saya hadapi adalah ‘keikutsertaan’ anak dalam proses berbenah. Ini saya alami juga ketika saya dan suami packing besar-besaran saat kami pindah rumah kemarin. Anak saya masih berumur 2 tahun, jadi masih agak susah jika harus dilibatkan dalam proses berbenah. Yang ada berbenah malah makin lama selesainya dan saya jadi stres karena pekerjaan tidak kunjung selesai. 😅

Solusi untuk ini ada dua. Pertama, saya dan suami berbenah ketika Alma tidur. Kedua, saya berbenah sendirian dan Alma diajak Abinya bermain berdua saja. Dua solusi ini pernah kami lakukan, and it worked.

Hambatan kedua berkaitan dengan komonos. Untuk kosmetik, alat tulis dan mainan anak, saya sangat susah membuat benda-benda ini rapi dalam jangka waktu yang lama. Ketika saya sudah selesai merapikan, pasti tidak lama nanti akan berubah berantakan lagi.

Solusi untuk kosmetik dan alat tulis, saya akan membuat storage divider seperti gambar di bawah ini.

Untuk mainan, alih-alih digabungkan dalam satu tempat, saya akan sortir seluruh mainan sesuai kategori untuk kemudian saya taruh di kotak-kotak tertutup, seperti ini.

Rencananya, saya nanti akan buat sesi bermain yang terjadwal untuk Alma. Lagipula, tidak semua mainan harus dimainkan pada hari itu. Jadi saya akan membuat tema harian atau mingguan. Peralatan/buku/mainan yang di-display hanya yang sesuai tema saja dan ditaruh di rak berbeda dengan mainan yang sudah disimpan di kotak tertutup. Berikut ilustrasinya.

Hambatan ketiga yaitu ketika saya sudah berhasil memisahkan barang-barang yang akan disimpan dengan barang-barang yang akan saya discard, pasti rumah jadi terlihat penuh dan berantakan (terutama oleh barang-barang yang akan di-discard).

Solusinya, sejak awal saya akan menyediakan kotak kardus besar yang terdiri atas dua kategori: kardus untuk barang yang didonasikan dan kardus untuk barang yang akan dibuang. Jadi barang-barang tidak berceceran di lantai karena saat selesai disortir, semuanya langsung dimasukkan ke kotak kardus.

Hambatan keempat lebih ke dalam hal mempertahankan kerapian. Setelah pakaian yang dijemur sudah kering, biasanya langsung ditumpuk di satu tempat. Tapi jika terlalu lama ditumpuk, walhasil muncullah timbunan baju kering yang belum disetrika. Sama halnya dengan baju kotor. Baju kotor juga sangat rentan terjadi penumpukan. Satu lagi: alat masak dan alat makan. Selesai memasak di pagi hari, bila alat masak tidak langsung dicuci pasti jadi menumpuk dengan piring-piring dan gelas di siang-sore harinya.

Solusinya sebenarnya saya tahu betul: cuci dan setrika baju setiap hari dan cuci alat masak-alat makan segera setelah selesai digunakan. Yang membuat sulit adalah mempertahankan kedisiplinan dalam melakukan hal tersebut di atas. Jujur, saya masih berproses untuk yang satu ini. Semangaaat!

Wah, tugas kali ini boleh juga, ya. Karena saya belum mulai berbenah, saya jadi bisa mempersiapkan dengan lebih baik lagi, hehehe. Kebetulan saya dan suami baru akan mulai berbenah minggu depan, saat kami sudah kembali ke rumah kami tercinta. Yes, we’ll start doing the KonMari Method from zero and I’m reaaaaally looking forward to it! 😍

 

Tentang Berbenah dan Kriteria Rumah Ideal Kami

Sekitar pertengahan tahun 2015, saya dan suami berhasil melalui salah satu milestone besar dalam hidup kami: kami berhasil membeli sebuah rumah mungil di dalam sebuah cluster yang nyaman. Setelah anak kami (Alma) lahir, akhirnya kami mulai menempati rumah baru kami… selama 3 bulan saja. Iya, karena kami bertiga harus segera pindah ke Solo mengikuti suami yang melanjutkan studi.

Saat itu rasanya campur aduk. Antara bahagia, tapi juga terasa ada yang mengganjal. Bahagia karena untuk bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalani Tugas Belajar itu bukan perkara mudah (dan alhamdulillah suami berhasil lulus). Terasa ada yang mengganjal karena sebetulnya saat itu kami belum selesai mengatur rumah sampai betul-betul rapi.

Kondisi rumah kami saat itu: masih banyak tumpukan tas-tas superbesar yang berisi barang-barang yang belum dikeluarkan, belum lagi beberapa tumpukan kardus yang ada di pojok ruangan yang juga belum tersentuh. Nakas yang ada di dalam kamar juga isinya masih belum teratur, jadinya kelihatan penuh sekali. Tidak ketinggalan juga dua lemari baju yang isinya masih asal ditumpuk begitu saja.

Iya, kami meninggalkan rumah dalam keadaan seperti itu. Ingin rasanya tinggal sedikit lebih lama untuk membereskan semuanya, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Terlebih lagi saat itu saya tidak memiliki helper dan Alma masih berumur 3 bulan jadi saya pun belum bisa bebas ‘bergerak’.

Ketika pindah ke Solo, kami menyewa sebuah rumah tinggal. Sayangnya, hasrat berbenah saya yang begitu besar itu kembali tidak bisa tersalurkan karena saya pikir, “Ah, ini bukan rumah sendiri, buat apa membuang tenaga untuk berbenah, menghias dan lain sebagainya. Toh dua tahun lagi kami sudah tidak lagi di sini”. Jadilah selama dua tahun terakhir ini kami menahan diri untuk tidak berbenah yang terlalu detil.

Akhir bulan ini kami akan kembali ke rumah karena masa Tugas Belajar suami sudah usai. FINALLY! Rasanya hasrat untuk berbenah ini sudah tidak terbendung lagi. 😂

Rumah seperti apa sih yang ingin kami tinggali? Sebenarnya tidak muluk-muluk, kami hanya ingin punya rumah yang bernuansa putih dan terlihat lapang tanpa adanya printilan-printilan yang merusak pemandangan. Dua area pertama yang ingin segera kami ‘eksekusi’ adalah ruang kamar dan ruang keluarga (yang merangkap sebagai ruang tamu juga).

Ruang kamar kami saat ini penuh sekali dengan tumpukan barang. Kalau mau divisualisasikan, inginnya kamar itu hanya terisi benda-benda berikut ini: dua buah lemari, satu buah kasur, dan satu buah nakas.

Untuk ruang keluarga, sebenarnya sudah cukup lumayan. Kami bertiga suka sekali membaca. Koleksi buku kami juga sudah cukup banyak. Sebagai tempat penyimpanan buku, kami menggunakan dua buah rak buku Billy yang kami atur menempel di dinding. Selain rak buku, di ruang keluarga juga terdapat sebuah sofabed yang juga ditaruh menempel di dinding (sisi yang berbeda dari sisi di mana rak buku ‘ditempelkan’). Dengan pengaturan seperti ini, ruang tengah sudah lumayan terlihat lapang.

Secara keseluruhan, kami ingin sekali punya rumah di mana 1) Alma bisa bebas bereksplorasi tanpa batasan, 2) saya bisa dengan nyaman dan leluasa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, 3) kami sekeluarga bisa berkumpul bersama dan beristirahat dengan nyaman tanpa beban, dan 4) kami sekeluarga bisa senantiasa hidup dengan lebih fokus dan positif.

Dalam rangka merayakan festival berbenah ini, saya harap kami bisa menyelesaikannya dalam kurun waktu tiga bulan (atau kurang dari itu, tidak boleh lebih!). Kenapa tiga bulan? Karena kelas intensif ini akan berjalan selama itu. Harapannya, saya jadi bisa mendapatkan ilmunya terlebih dahulu, baru kemudian saya praktikkan di rumah sehingga proses berbenah bisa menjadi efektif.

Salam Spark Joy! 💫