Montessori di Rumah – Bagian Empat – Konsekuensi Alami

Kalau belum baca, silakan ngintip tulisan bagian 1, 2 dan 3 di sini, di sini dan di sini.

Habis baca tentang konsep kebebasan, pasti pada bertanya-tanya deh, nggak apa-apa nih begini? Kalo nanti kebablasan gimana? Anak jadi nggak tahu aturan dong?

Dalam Montessori, kebebasan ini ternyata punya batasan (freedom within limits). Kalo kata Sony,

the freedom has to make sense.

Apapun yang dilakukan anak, anak harus bertanggung jawab atas diri sendiri (respect for oneself), orang lain (respect for others) dan lingkungan (respect for the environment). Jadi kalau aktivitas anak membahayakan diri sendiri, orang lain dan/atau lingkungan misalnya, ya harus dibatasi.

Jadi inget postingan viral lagi (oh well, ini gara-gara aku balik main Twitter lagi nih 😂). Udah pada tahu juga sih pasti. Itu lho, yang ibu bawa tiga anaknya naik KRL dan sayangnya perilaku anak-anaknya ini mengganggu penumpang KRL yang lain. Yang satu naik jendela, yang dua lainnya ngedeprok main di lantai kereta. Yang naik jendela kayanya masih balita, 4-5 tahunan; yang dua lainnya mungkin udah masuk SD (badannya lebih bongsor dari yang pertama soalnya).

Nah, udah keliatan ya kalo anak-anak ini melanggar kenyamanan penumpang lain. It’s an undeniable fact. Anak-anaknya nggak ada yang duduk, padahal di sebelah ibunya ada ruang kosong yang cukup lebar yang harusnya bisa diduduki penumpang lain. Ada dua anak yang main di lantai, ini juga jadi mengambil space penumpang lain, terutama penumpang berdiri. Orang jadi nggak bisa berdiri di situ.

Hey, don’t judge! Hmmm, bukannya nge-judge ya. Ini penting dibahas karena ada pelajaran yang bisa dipetik di sini. That’s why parents must learn parenting. Kalimat ‘namanya juga anak-anak’ nggak berlaku di sini. 

Di sisi lain, ada satu hal yang aku nggak setuju: yang posting foto viral itu nggak menyamarkan wajah si ibu dan anak-anaknya. IMHO, it was a good idea to post the photo so that people can learn, but we also need to mind others’ privacy. Ada loh kasus seorang ibu yang wajahnya muncul di foto yang kemudian viral dan ternyata Si Ibu ini lagi hamil. Entah karena stres/kepikiran/gimana, ibu ini akhirnya meninggal dunia. Sedih banget. 😭

Wait, kok jadi bahas yang viral-viral sih. 😂

Beklah. Tadi bahas apa? Oh, konsekuensi alami ya? Aku kutip definisinya dari sini ya.

Natural consequences simply means that outcomes will happen as a result of behavior that are not controlled.

Dan dari sini.

Montessori schools and homes use natural consequences because we don’t want children to behave well out of fear of punishment, we want them to do the right thing because they understand the impact of their actions.

Terakhir, aku mau bagiin tips dari Sony saat kita ingin menerapkan konsekuensi alami pada anak.

Misal, anak diberi sebuah kursi untuk duduk. Alih-alih duduk, anak malah memanjat kursi dan berdiri di atasnya. Apa yang bisa kita lakukan?

1. Kita bilang ke anak, “Turun, yukkk. Kalau Kakak/Adik berdiri begitu bisa jatuh.”

2. Kalau nggak mempan, kita tawarkan beberapa pilihan ke anak, mau turun sendiri atau dibantuin turun Ayah/Ibu?

3. Masih nggak mempan juga, jangan marah jangan gundah: langsung bantu anak turun, ambil kursinya, kasih tau kalau Ayah/Ibu ambil kursinya sekarang, besok Ayah/Ibu kembalikan lagi. Intinya, enyahkan kursi itu dari pandangan Si Anak. 😁

Kemudian anak pasti akan menurut.

JUST KIDDING! 👻 Kemungkinan besar anak bakal protes dooong, bahkan nangis guling-guling. 🙈 Ya nggak papa. Kalo kata Sony,

Don’t budge, its OK. Even if he’s taking the house down, you’re not going to listen to him. Tell him, “I understand you are very angry, it’s okay, you can cry. If you finish, you can come to mommy.”

Sometimes it can be real bad, but if they see that it doesn’t affect you, the tantrum will slowly go away.

Alhamdulillahh, selesai juga summary Specific Montessori Activities to Implemet at Home oleh Sunshine Teachers Training ini.

Cukup di sini dulu, sampai ketemu. Urusan domestik sudah menunggu. 😘

Bye!

Montessori di Rumah – Bagian Tiga – Konsep Kebebasan

Bagian pertama dan kedua bisa dilihat di sini dan di sini. Nah, setelah kemarin-kemarin bahas gimana caranya menyiapkan lingkungan rumah yang sesuai dengan kaidah Montessori (prepared environment), di bagian terakhir ini kita mulai bahas perlakuan seperti apa yang bisa kita terapkan kepada anak-anak kita. Ibarat PC, menyiapkan lingkungan rumah itu bagaikan menyiapkan hardware, sedangkan perlakuan pada anak ini adalah software-nya. Pertama, tentang konsep kebebasan (concept of freedom) dalam Montessori. Konsep kebebasan ini muncul dari sebuah gagasan bahwa sesungguhnya, anak-anak terlahir sebagai penjelajah yang mampu belajar dan melakukan banyak hal sendiri. Kalau kata Ustadz Harry Santosa, fitrahnya memang sudah begitu.
Kebebasan untuk Bergerak (Freedom to Move)
Ada enam jenis kebebasan dalam Montessori, dan ini yang pertama. Dalam Montessori, anak diberi kebebasan untuk bergerak di dalam ruangan, itulah kenapa decluttering sangat penting untuk dilakukan. Jadi, bagaimanapun aktifnya anak bergerak mengeksplor ruangan, mereka bisa tetap aman, atau paling tidak, minim risiko.
Kebebasan Waktu (Freedom of Time)
Nah, ini nih yang paling sering kita lupa kalo lagi main sama anak-anak. Dalam metode Montessori (dan aku percaya nggak cuma di Montessori aja), anak diperbolehkan buat menggunakan material yang mereka suka selama yang mereka mau. Kebebasan waktu juga bisa diartikan sebagai: dalam mempelajari satu hal yang baru, setiap anak memiliki pace-nya masing-masing. Ada yang cepat menguasai di satu topik belajar dan lebih lambat di topik yang lain, dan sebaliknya.
Just because you need more time to do something, it does not mean that you cannot do it.
Santai aja. Namanya manusia, pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Even a superhero has a weak point. Semua akan berjalan baik-baik saja selama kita punya kuncinya: SABAR.
Kebebasan untuk Memilih (Freedom of Choice)
Yang ini juga penting banget: anak diperbolehkan untuk memilih kegiatan mereka sendiri sesuai dengan urutan yang mereka sukai. Bayangin kita aja deh nih, yang orang dewasa. Ambil contoh aku sendiri. Lagi semangat-semangatnya belajar parenting, tau-tau disuruh belajar otomotif. Oh, dang. Ya bisa sih ya baca, tapi kan nggak dari hati. Belajar jadi kurang meaningful. Berasanya kayak, “What am I doing here reading nonsense??” 😂 Sebaliknya, mau disodorin belasan artikel parenting dalam sehari pun aku pasti hepi-hepi aja bacanya, ilmu jadi lebih gampang nempel di kepala karena aku suka.
Kebebasan untuk Mengulangi (Freedom to Repeat)
Ini udah pernah dibahas sepintas ya di bagian kedua. Daaan, lagi-lagi kata ini muncul: SABAR. Kalo anak lagi suka banget sama topik/kegiatan tertentu, anak pasti pengennya ngulang-ngulang terus sampe yang liat bosen. You know what, you might be bored looking at him doing the same thing over and over again, but he is obviously not. Just mind your own business, Parents! Let your child do what he likes as long as he’s learning something. Bahkan buat bayi, aktivitas sesederhana membuka tutup botol itu termasuk ‘belajar’ loh. Melatih motorik halus, daya konsentrasi dan sebagainya. For children, playing is learning~~ Dengan memberikan mereka waktu sebanyak yang mereka butuhkan, ada banyak manfaat yang bisa mereka terima. Tanpa diburu-buru, anak merasa dihargai dan biasanya, anak jadi lebih mudah menyerap ilmu. Anak juga jadi belajar memahami diri: anak jadi tahu kalau dia lebih mudah belajar lewat video, misalnya. Selain itu, anak juga bisa belajar untuk memecahkan masalah (problem solving).
Kebebasan untuk Membuat Kesalahan (Freedom to Make Mistakes)
Pada dasarnya, Montessori itu memfasilitasi anak untuk bisa self-correcting: memperbaiki sendiri kesalahan yang anak lakukan. Nah, gimana mau memperbaiki kesalahan kalau kesalahannya aja nggak ada? Dengan kata lain, anak nggak dibolehin membuat kesalahan? Definisi ‘tidak memperbolehkan anak untuk membuat kesalahan’ itu banyak, btw. Salah satunya: kita mudah marah setiap kali anak melakukan kesalahan. Misalnya nih, kita marah-marah setelah anak tanpa sengaja memecahkan piring. Padahal kita tahu kalo dia nggak sengaja, tapi kita tetep aja memutuskan buat marah-marah. Dampaknya ada dua: anak jadi takut gagal setiap akan melakukan sesuatu atau sebaliknya, jadi memberontak dengan beragam cara (dari yang awalnya nggak sengaja, jadi suka sengaja memecahkan barang-barang, misalnya). Efek jangka panjangnya: anak jadi minder atau sebaliknya, jadi rebellious. Naudzubillah, jangan sampe yaaa ini terjadi ke anak-anak kita. Saat anak melakukan kesalahan pun jangan buru-buru dibenerin. Misalnya anak lagi belajar penjumlahan. Anak salah menjumlahkan beberapa kali. Nah, jangan terburu-buru buat ngasih jawaban yang bener. Lebih baik, ajak anak mengulang lagi materi di esok hari sampai dia paham di mana letak kesalahannya. Kalau sudah begitu, insyaAllah anak bisa membetulkan kesalahannya sendiri. We call it discovery!
He who never made a mistake, never made a discovery. – Samuel Smiles
Kebebasan untuk Berkomunikasi (Freedom to Communicate)
Kalo kata Undang-Undang sih, kebebasan berekspresi. 😆 Intinya, jangan pernah mengalihkan pertanyaan anak, seremeh dan seaneh apapun pertanyaannya. Apresiasi juga saat anak memberikan tanggapan atas sesuatu. Jadi inget salah satu postingan viral. Ada ibu dan anak  (muslim) lagi nonton pertandingan Asian Games di TV di mana para atletnya pakai baju renang yang terbuka. Si Anak tanya, kenapa kok bajunya begitu? Alih-alih menjawab, ibunya malah buru-buru mengganti channel. Well. This can turn out really bad. Naudzubillah, anaknya jadi tanya ke orang lain dan malah disalahgunakan alias di-abuse. Amit-amit kan. Banyak lho kasus kaya gini di sekitar kita. Seremmm. 😭 Kalaupun ternyata kita nggak punya jawaban yang pas saat anak bertanya pun nggapapa loh, jujur aja. Bilang kalo Ayah/Ibu coba cari jawabannya dulu, nanti malam/besok pagi/dua jam lagi Adik/Kakak diberitahu. Even better, anak diajak sama-sama mencari tahu jawabannya kalau sekiranya memungkinkan. OK that’s all. Kalau mau lanjut ke bagian empat alias bagian terakhir, silakan klik di sini ya. See you there!  

Montessori di Rumah – Bagian Dua – Aktivitas di Setiap Ruangan

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya.

Setelah selesai men-declutter seisi rumah, sekarang kita berlanjut ke detail aktivitas yang bisa kita persiapkan untuk anak di tiap-tiap ruangan di dalam rumah.

Catatan: apapun yang kita persiapkan dan lakukan (mulai dari aktivitas decluttering sampai dengan men-setting setiap ruangan di dalam rumah) harus diingat bahwa semua itu sejatinya meruncing pada satu tujuan pokok: to bring in a sense of independence for the child (agar anak bisa mandiri) and also to boost self-confidence (meningkatkan rasa percaya diri). Jadi kalau mau melakukan sesuatu untuk anak, ingat dua pedoman itu aja.

OK. Langsung cekidot ya.


Ruang Tidur

Untuk ruang tidur, yang paling perlu untuk ditekankan adalah bahwa sesuai fungsinya, ruang tidur dipergunakan hanya untuk tidur dan beristirahat. Oleh karena itu, sebisa mungkin ruangan ini bersih dari benda-benda yang bisa merusak fungsi ruang tidur dan yang bisa mendistraksi anak dari tujuan awal saat ia masuk ke ruangan ini, yaitu untuk tidur. Out of sight, out of mind.

Contoh benda yang bisa mendistraksi adalah mainan. Jangan pernah menaruh mainan di dalam kamar tidur. Saat ayah/ibu mengajak anak tidur dan anak melihat ada mainan di dekatnya, kemungkinan besar perhatiannya akan terpecah. Anak akan berpikir, kalau ayah/ibu menaruh mainan di sini, berarti aku boleh memakainya kapanpun aku berada di sini. Akibatnya, akan menjadi lebih sulit bagi orangtua untuk mengondisikan anak untuk bersiap-siap tidur. Kalau begini, yang lelah juga ujung-ujungnya orangtua kan?

Terkecuali bendanya diperlukan untuk bedtime routine (buku misalnya), itu boleh ya.

Oiya, untuk tempat tidurnya, akan lebih baik jika anak tidak memakai ranjang, cukup kasur/matrasnya saja. Tujuannya agar sejak bayi (terutama saat bayi mulai bisa merangkak), anak bisa dengan mandiri naik-turun tempat tidur dengan aman tanpa bantuan orang dewasa.

Selain itu, biasanya ruang tidur juga merangkap menjadi tempat anak berhias dan berganti baju. Terkait ini, sebaiknya anak disediakan cermin dan lemari rendah yang bisa dicapai anak. Di sini, kita bisa membiarkan anak memilih baju sendiri, mengajari anak cara memakai baju, menyisir rambut, dan lain sebagainya.

Overall, benda-benda yang ada di dalam ruang tidur sejatinya cukup tiga ini: kasur, lemari/rak baju dan cermin.

Kamar Mandi

Biarkan anak mandi dan buang air sendiri, kalaupun perlu bantuan, berikan seperlunya saja. Ini akan mudah dilakukan, asalkan orangtua membekali diri dengan stok sabar yang berlimpah.

Kalau anak dimandikan ayah/ibu, waktu yang diperlukan kira-kira 10 menit. Kalau anak mandi sendiri, sadarilah bahwa anak akan membutuhkan waktu lebih lama, bisa sampai 30 menit sendiri, dan ini tidak apa-apa. Once they enjoy the activity, they will surely master it sooner or later. Jika akhirnya anak bisa melakukannya sendiri, self-esteem anak nantinya akan terbangun dengan baik.

Patience, this has always been the hardest part, but it’s also the key to everything. Sabar adalah koentji. Yuk, tantang diri kita biar bisa senantiasa bersabar saat membersamai Si Kecil! 😉

Dapur dan Ruang Makan

Di ruangan ini, sebisa mungkin buatlah agar anak bisa mengakses sendiri peralatan dan bahan makanan yang mereka butuhkan (piring, gelas, sendok, dispenser air, masakan, roti, saos, kecap, dll) dan letakkan benda-benda berbahaya (kompor, pisau, dll) jauh dari jangkauan anak. Ini untuk meminimalisasi ucapan-ucapan berbentuk larangan, “Aduh, jangan pegang pisaunya! Kompornya jangan diputar-putar”, dan sejenisnya. Lagi-lagi, out of sight, out of mind. Kalau ada meja makan, pikirkan cara agar anak bisa naik ke kursinya sendiri, dan seterusnya.

Di dapur, anak juga bisa diajak memasak bersama. Cobakan dan berikan aktivitas yang sekiranya paling disukai anak. Alma misalnya, dia paling suka mengupas bawang putih. Berapapun bawang putih yang dia terima, dia pasti dengan semangat mengupas satu persatu.

Kalau anak belum pernah melakukan aktivitas tertentu, bagaimana caranya agar anak mau dilibatkan? Begini kata Sony.

This is the trick: you start it, the child will finish it. And at a point, they will be able to do it all by themselves since they’ve seen it for so many times.

Misalnya kita ingin agar anak bisa mengupas pisang sendiri. Beri contoh saat menarik kulit pisang dari atas ke bawah sekali atau dua kali, lalu biarkan anak mencoba sendiri sambil terus dimotivasi. Jangan cuma sekali, ajak anak mengupas pisang setiap ada kesempatan yang pas, insyaAllah hasilnya nanti bisa terlihat. Ini juga berlaku untuk aktivitas-aktivitas lain di dalam rumah: mandi, memakai sepatu, mengelap tumpahan air, memakai baju, meletakkan piring kotor ke wastafel, dan seterusnya.

Teras Rumah

Di sini, kita bisa mengajari anak untuk melepaskan kaos kaki dan sepatu sendiri. Biarkan anak mencoba meskipun memerlukan waktu lama. Jangan pernah memburu-buru atau menyuruh anak menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Let them take their time.

Anak juga suka sekali mengulang-ulang kegiatan yang mereka sukai. Asal tidak merugikan, biarkan saja. Itu salah satu cara mereka belajar. 😉

Ruang tengah

Di ruangan inilah biasanya anak-anak bermain. Kuncinya: gunakan apa yang ada. Kalau tidak memungkinkan, tidak perlu menambah rak baru untuk meletakkan buku, mainan dan material Montessori, apalagi kalau anak masih balita. FYI, di bawah satu tahun, 4-5 mainan/material dan 2-3 buku saja sudah lebih dari cukup kok.

Fokuslah hanya pada benda yang penting dan diperlukan. Semakin sedikit benda di dalam rumah, semakin mudah hidup kita. Kalau kita menyimpan terlalu banyak barang, rumah jadi gampang berantakan. Ujung-ujungnya, kita jadi sibuk beberes, jadi banyak waktu terbuang. Belum lagi kalau benda yang harus dibereskan ada banyak, kita cenderung lebih suka beberes sendiri agar cepat selesai, anak jadi tidak diikutsertakan, anak jadi tidak bisa belajar mandiri.


Done! Lumayan banyak juga yaa PR-nya. Yang penting harus tetep semangat dong~ Kalo kata Sony begini nih.

When you are setting up the environment, always remember that YOU are the mother. YOU are in charge. This is YOUR child. YOU have the AUTHORITY to do what your child likes and wants (as long as it’s positive). And please realize that even as a mother, you can go wrong, you make mistakes, because you love your child, you are learning and trying.

Jadi inget satu quote: the only true failure is when you stop trying. Bukan kesempurnaan yang membuat kita menjadi ayah/ibu yang baik, melainkan kegigihan kita untuk terus belajar.

That’s it for today! Masih ada satu postingan lanjutan lagi ya, abis itu selesai. Next, bahasannya tentang freedoms dalam Montessori dan natural consequences.

See you!

Montessori di Rumah – Bagian Satu – Salah Kaprah dan Persiapan

Akhir bulan Juli kemarin, aku gabung di grup Facebook Montessori for Mommies yang dibuat oleh Sony Vasandani dari Sunshine Teachers Training. Kata Sony, ini grup terbuka, jadi feel free yaa kalo mau gabung.

Nah, tanggal 1 Agustus, Sony ngadain Facebook Live yang temanya Specific Montessori Activities to Implement at Home. Durasinya lumayan panjang, hampir satu setengah jam. Biar nggak bosen, isi dari live session ini aku buat jadi tiga bagian, dan postingan ini adalah bagian yang pertama.

First thing first, aku mau bahas motifku dulu, kenapa aku pengen ikut live session-nya. Alasan pertama: ya why not? Kenapa enggak? Ilmu itu investasi yang jangka waktunya limitless, bisa untuk selamanya. Apalagi ini free kann. 😝

Alasan kedua: ya karena aku suka banget sama metode Montessori. Tapiii aku selalu merasa overwhelmed tiap kali liat postingan para ibu hebat di Instagram (internet, generally) yang menampilkan kegiatan-kegiatan Montessori anaknya. Gelagapan di tengah banjir informasi.

For a beginner like me, seeing many of those posts was like looking at scattered puzzle pieces. Aktivitas X menarik banget, tapi tujuannya apa sih? Adakah hubungan antara aktivitas X dan Y? Adakah urutan-urutan tertentu? Apakah aktivitas/aturan XYZ ini wajib, atau boleh di-skip? Apa sih tujuan dasar kita ngelakuin aktivitas-aktivitas ini?

Kayak misalnya nih, akhir-akhir ini aku sering banget lihat temen-temen yang bikin Pojok Montessori alias area khusus untuk anak buat berkegiatan Montessori. Mainan-mainan dan material yang digunakan anak diletakkan di area ini. Jadi kalau mau belajar/beraktivitas Montessorial ya harus di situ, nggak boleh pindah-pindah. Tujuannya agar anak bisa mengenal konsep teritori dan belajar buat konsisten (CMIIW).

Ini bagus banget, but I couldn’t help thinking: kalau rumahnya kecil dan bener-bener nggak ada ruang lebih buat bikin Pojok Montessori gimana? Berarti nggak bisa aplikasiin Montessori di rumah?

Aku nggak kunjung dapet jawaban yang pasti… sampai akhirnya aku dengerin penjelasan Sony. Berikut kutipan lengkapnya.

When we’re implementing Montessori, it doesn’t have to be a place where you are setting up the shelves and everything, it’s the whole home environment.
Montessori at home means we’re taking the whole house. We are not using a corner of the house: this is your area, this is were you have to work, no. It cannot be like that. It has to be the whole house for the child.

Kemudian Sony mulai jelasin satu persatu kondisi ideal seperti apa yang bisa kita usahakan untuk tiap-tiap ruangan di dalam rumah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Montessori, mulai dari teras depan sampai ke toilet. And it all started to make more sense to me.

Aku juga mulai browsing lagi soal Pojok Montessori ini. Kira-kira apa ya yang bikin dua info ini bisa saling kontradiktif? Satunya bilang Pojok Montessori itu penting, satunya lagi bilang enggak.

Ternyata, nama lain dari Pojok Montessori ini adalah The Montessori Work Mat (selanjutnya disebut TMWM). TMWM ini memiliki ukuran ideal tertentu dan dari yang aku baca, TMWM ini biasanya disediakan oleh guru untuk murid-murid di dalam kelas. Kalo di kelas, pasti ada lebih dari tiga anak ya paling nggak. Nah, biar anak-anak nggak saling ‘ngerecokin’ satu sama lain, maka dibuatlah TMWM ini, biar anak tahu batas teritori masing-masing. Make sense  banget yaa.

Nah, I guess, peraturan semacam itu ternyata nggak saklek-saklek amat, nggak harus dilakuin, tergantung konteks. Kalau konteksnya Montessori di rumah, bukan di kelas, berarti udah beda lagi dong ya (again, CMIIW).

Kalau di rumah ada lebih dari satu anak gimana? Berarti bisa nih TMWM dipake? This question suddenly popped inside my head, hahaha. Beklah, kayanya aku harus tanya ke Sony dulu nih. 😆


Mulai dari sini, bahasannya fokus ke Montessori di Rumah yaa.

Ada dua hal yang harus dilakukan sebelum kita, para orangtua, mulai mengaplikasikan Montessori di rumah.

1. Declutter

Siapa yang tahu seni berbenah KonMari? Ini persisss kaya gitu. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan rumah (setting up the environment). Rumah seperti apa yang ideal untuk anak? Jawabannya kira-kira: rumah yang aman di mana anak bisa bebas bergerak dan menjelajah rumah serta bebas mengakses benda-benda yang mereka perlukan secara mandiri, plus, yang tidak mendistraksi anak.

Sebagai orangtua, apalagi orangtua newbie, bawaannya pasti pengen beliin banyak hal buat anak. Baju, mainan, perlengkapan gears, boneka dan lain sebagainya. Sayangnya, anak di bawah 6 tahun nggak memerlukan benda sebanyak itu. Buku? Dua aja cukup, maksimal tiga. Boneka? Palingan yang suka emaknya aja ini sih. Mainan? Ehm, anak biasanya lebih tertarik sama kardus pembungkusnya sih, haha.

Nah, kalo barang-barang itu udah numpuk, yang ada malah tercipta distraksi-distraksi yang tidak perlu bagi Si Anak. Menstimulasi perkembangan anak enggak, bikin anak nggak konsen iya.

Ini juga berlaku buat apparatus Montessori ya. Percuma beli apparatus mahal-mahal kalo nggak tahu gimana cara pengaplikasian yang bener, apalagi kalo ujung-ujungnya cuma dipajang di rak.

Detil tentang bagaimana menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori aku tulis di postingan selanjutnya ya.

Why declutter? Too much things can be very distracting. The less things you have in the house, the better it is for you and your child.

We love our children so much we want to give them everything. The best thing we can do is that we are learning how to do better and to give them our time: without any technology. – Sony Vasandani

2. Observe

Sebagai orangtua, kita harus mulai belajar mengamati anak. Anak kita lagi tertarik sama apa? Kebiasaannya terkait ini dan ini kaya gimana? Materi/aktivitas yang dia udah dan belum bisa apa aja?

Gunanya buat apa? Agar kita tahu apa yang dibutuhkan dan disukai anak (nggak cuma asal nyodorin aktivitas pilihan kita, orangtuanya, padahal anak belum tentu tertarik/suka) dan biar kita tahu cara-cara seperti apa yang bisa membuat anak belajar dengan nyaman dan optimal.

Misalnya, Si Bocil lagi suka coba-coba pake sepatu sendiri. Kita amatin, oh, ternyata dia udah bisa pake sepatu model slip on sendiri. Berarti kita bisa mulai kenalin ke sepatu yang pake velcro. Gimana biar Si Bocil ngerti cara pakenya? Oh, dicontohin. Gimana caranya biar anak cepet nangkep? Oh, waktu ngasih contoh, anaknya dipangku, biar anak bisa ngeliat dari sudut yang sebenarnya kaya waktu dia lagi make sepatu. Udah bisa lepas-pasang velcro? Coba dikasih sepatu bertali. Dan seterusnya.


That’s it. Di dua postingan selanjutnya, aku bakal nulis detil tentang proses menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori dan juga tentang natural consequences and freedom in Montessori ya (berdasarkan materi yang disampaikan Sony).

See you all! Hopefully very soon~

Review: Aplikasi Lingokids

Sejak beberapa hari yang lalu, aku udah mulai strict lagi buat batasin screen time Alma. Aku udah yang super duper kepikiran karena dia udah bener-bener yang nggak terkontrol banget nonton YouTube-nya. Dia nonton YouTube lewat TV, jadi ya sussssssahnya luar biasa kalo mau berentiin. Misal aku ganti channel nih, ganti ke NatGeoWild misalnya, belom lima menit pasti dia udah minta pindah channel ke YouTube.

And all of this was always very exhausting to me.

Aku udah coba batasin pake metode timer. Aku pasang timer, 15 menit misalnya. Aku bilang ke Alma, kalo timer-nya bunyi, berarti TV-nya harus dimatiin. Well, it didn’t work for us. Abis timer nyala, Alma malah merengek-rengek minta ditambah waktunya.

Sebenernya bisa aja sih kalo aku mau konsisten bilang ‘nggak’ setiap kali dia begitu. Tapi aku nggak kuat. Dia bisa kaya gitu lebih dari 10 kali dalam sehari. Aku lebih pilih buat stay waras aja.

Oleh karena itu, aku lebih memilih buat menyetop YouTube sama sekali. Kalo mau nonton TV, ya nontonnya NatGeoWild dan kawan-kawannya. Selain itu nggak aku kasih. Ini udah aku sounding sejak H-2.

Alhamdulillah, Alma galaunya waktu pagi-siang di hari pertama aja. Abis itu udah mulai biasa lagi. Dan karena udah nggak ada kerjaan, Alma jadi sibuk ngajakin aku main, which is good. Biasanya, duh boro-boro. Anteng depan TV terus nggak peduli aku lagi ngapain juga.

Aku ajakin dia nge-craft ala-ala, main sama kucing, dll. Aku juga jadi tahu kalo Alma ternyata suka doodling.

Hahaha. Gemes banget nggak sih? 😆

Selain itu, aku juga punya misi buat mulai ngenalin Alma sama bahasa Inggris dengan lebih serius. Nah, aku anggap ini adalah momen yang pas. Buat ngajarin anak bahasa baru, aku jelas butuh bantuan. Abinya Alma? Nggak mungkin. Masa belajar bahasa Inggrisnya cuma weekend aja? Jadilah aku cari-cari tuh apps di Google Play yang bisa bantuin aku ngajarin bahasa Inggris ke Alma.

Ada kali aku instal sepuluh aplikasi. Yang cocok cuma satu dong: Lingokids. This app is genius, very well-made. Lingokids ini spesifikasinya buat anak-anak usia 2-8 tahun, ain’t that great? Karena ini adalah hal yang bener-bener baru buat Alma, meskipun dia bentar lagi udah 3 tahun, aku tetep atur setting-nya buat anak usia 2 tahun.

Oiya, semua yang ada di dalam aplikasi ini nggak asal dibikin lho. Semua dibuat berdasarkan materi pengajaran di Oxford University Press. Jadi kontennya pasti terjamin ya.

Hasilnya? Alma and I love this app sooo very much! Serius deh, kalo anak pake app ini, mereka nggak bakal nyadar kalo ini tuh sebenernya aplikasi buat belajar bahasa Inggris. Ya abis ini isinya games, lagu-lagu, audio book, dan sejenisnya. Dan Lingokids ini materinya tematik. Bagus banget lah pokoknya.

Aku sempat rekam waktu Alma lagi pake ini aplikasi. Karena nggak ada yang bantuin rekam, jadi aku screen recording aja. Suaraku sama suaranya Alma tetep kedengeran sih (kalo bisa pake handsfree aja yak dengerinnya). Itu bulet-bulet kecil warna putih yang sering muncul nunjukin lokasi di mana layar disentuh (she did most of the tapping FYI, makanya kadang suka random 😆).

Aku juga udah berkomitmen bahwa setiap Alma lagi buka Lingokids, berarti sebisa mungkin aku juga ikut ngomong pake bahasa Inggris dari awal sampe akhir. Alih-alih jelasin pake bahasa Indonesia, aku akan lebih memilih buat bantu jelasin pake gerakan tangan atau permainan intonasi kata. Misal, waktu jelasin tentang monkey bars, aku kasih penekanan di kata monkey karena dia tahu kalo monkey itu monyet, dan monyet sukanya gelantungan. Alhamdulillahnya, dia cepet ngerti jadi emaknya nggak perlu mikir cara yang lain lagi. 😆

Contoh lain lagi, waktu Alma disuruh pilih salah satu dari tiga kendaraan: bike, car atau truck. Misal perintahnya adalah dia harus tap the car. Karena bakal susah kalo musti deskripsiin mobil pake bahasa Inggris sederhana, aku sebutin aja warna mobilnya. “There, the car is the yellow one. YELLOW one.” Pasti dia ngerti kan tuh. Dalam waktu bersamaan, dia juga jadi tahu bahwa, oh, car itu mobil toh.

Pokoknya, kalo nggak kepepet banget, aku nggak pake bahasa Indonesia.

Sejauh ini sih ok ya. Tiap aku nyebutin kata dalam bahasa Inggris, dia suka langsung ikutin. Emang jauh dari sempurna sih pengucapannya, tapi ya wajar lah ya. Namanya juga masih cadel. 😅 Yang menurutku paling penting adalah: anaknya suka dan enjoy. Yang lain-lain insyaAllah bakal ngikut sendiri.

Yak. Sekian dulu curhatan dari emaknya Alma. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Happy parenting, all!