Mengobati Inner Child dengan Self-healing (yang Ternyata Tidak Semudah Itu)

Aku nggak nyangka kalau ternyata Inner Child dan Self-healing jadi salah satu materi Pra-Bunsay. Di pertemuan kedua kemarin, ada cukup banyak teman yang berani speak-up mengenai inner child masing-masing.

Aku enggak. Aku takut setengah mati.

Yang membuatku serba salah adalah karena ternyata, materi ini ada tugasnya. Salah satunya adalah kami diminta untuk melakukan kilas balik ke masa anak-anak dan membuat list kejadian-kejadian negatif dan/atau positif yang masih membekas kuat sampai sekarang.

Seketika aku ngerasa kalo aku nggak bakal bisa ngerjain ini. Untungnya, tugas yang ini nggak perlu dipublikasikan. Kalau sampai bener-bener harus bikin list, mungkin aku bisa nulis sampai satu buku tulis penuh. Memori masa kecil dan remajaku juga didominasi kenangan buruk. Kenangan baik yang aku alami kebanyakan udah tergerus, yang aku ingat cuma tinggal sedikit.

Sebetulnya, melakukan kilas balik adalah sebuah langkah awal untuk self-healing. Tapi aku belum siap. Lagipula, aku pasti butuh pendamping buat ngelakuin ini, nggak bisa sendirian.

Untungnya, dua langkah self-healing selanjutnya masih doable: membuat jurnal syukur dan afirmasi positif atas diri sendiri. And here they are.

Jurnal Syukur

Aku bersyukur memiliki suami yang sabar dan pengertian. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak banyak menuntut. Aku bersyukur memiliki suami yang berpikiran terbuka. Aku bersyukur karena telah menikahi seorang family man. Aku bersyukur kami diciptakan sebagai dua potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain.

Aku bersyukur telah dikaruniai seorang anak perempuan yang mendamaikan hati dan jiwa. Aku bersyukur memiliki anak perempuan penyejuk mata. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang peka dan pandai bercerita. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang mencintaiku tanpa syarat. Aku bertekad untuk terus menemani dan membesarkannya sebaik yang aku bisa.

Afirmasi Positif

Aku adalah seorang perempuan yang tangguh. Aku adalah istri dan ibu terbaik untuk suami dan anakku. Mereka berdua selalu bisa mengandalkanku dan aku pun selalu bisa mengandalkan mereka.

Seburuk apapun hariku, aku telah mengusahakan semampu yang aku bisa. Aku bisa membuat kesalahan dan itu tidak apa-apa. Aku adalah pembelajar sejati dan kesalahan adalah guru yang terbaik.

Aku sangat menyayangi keluarga kecilku. Keluarga kecilku juga sangat menyayangiku.

I will never be alone.

We will always have each other’s back and that’s the one that really matters.

Ibu Rumah Tangga Punya Kartu Nama? Why Not!

Judulnya langsung gitu banget ya, hahaha. Pasti pada bingung deh, emang kalo IRT bikin kartu nama, mau diisi apa? Emang ada gitu yang bisa dibanggain buat dicantumin di kartu nama?

Phew. Pertanyaan ini sesungguhnya butuh proses perenungan mendalam (tsahh) bagi sebagian wanita yang berstatus ‘ibu rumah tangga’ untuk membuat satu atau dua baris jawaban.

Aku pun pernah berada di situasi yang sama.

Sebelum menikah, aku sempat bekerja selama dua tahun di Pinnacle Learning Centre dari 2013-2015 sebagai Tutor. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini. Especially for a fresh graduate, my salary was more than enough, haha.

Aku menikah bulan Desember tahun 2014. Alma lahir bulan September tahun 2015. Saat Alma lahir, aku udah lebih dulu resign sebagai Tutor. Untuk sebagian orang, mungkin ini terlihat seperti keputusan yang tidak mudah. Aduh, sayang ya, padahal baru juga meniti karier, udah resign aja.

(((Meniti karier))) 😂

Well, believe it or not, it was a very easy decision for me. Kalau disuruh milih antara kerjaan atau anak, nggak pake mikir panjang juga aku pasti pilih anak dan ini ada alasannya.

Aku tipe orang yang perfeksionis parah, termasuk untuk urusan menjadi orangtua. Sejak dulu aku udah bertekad: kalo misal aku punya anak, aku bakal urus anakku sendiri. Cita-citaku cuma satu, aku pengen jadi stay-at-home mama. Kenapa? Kok bisa? Ada beberapa alasan pribadi yang aku nggak mau sebutin di sini karena cukup sensitif dan personal (aku nulis ini bukan buat dipake jadi bahan Moms War 😝). Yang jelas, keputusanku udah nggak bisa digoyahkan lagi. Aku sangat beruntung karena punya suami yang sangat mendukung cita-citaku ini.

Yang sebenarnya cukup mengganggu adalah justru, kalau dilihat dari kacamata sebagian orang, keputusan ini seolah-olah aku ambil dengan terpaksa. Seolah-olah yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk pengorbanan.

Seolah-olah menjadi ibu rumah tangga itu tidak sama terhormatnya dengan ibu yang bekerja.

Tapi fase itu udah terlewati sih. Sekarang aku udah nggak pernah lagi ambil pusing. Apalagi abis gabung ke komunitas Ibu Profesional (IP), perasaan sedih karena disalahpahami itu berangsur hilang. Aku bangga karena aku bisa berada di tengah-tengah para ibu yang memiliki pola pikir jauh di depan. Cuma di sini nih ibu bekerja dan ibu rumah tangga bisa berbaur jadi satu saling menguatkan alih-alih saling membandingkan satu sama lain. 🤗

Yang aku tangkap dari serangkaian materi/bacaan yang udah aku dapat selama ini, manusia itu, baik pria ataupun wanita, pada hakikatnya memiliki sebuah kebutuhan dasar yang sama: aktualisasi diri.

A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be ultimately happy. What a man can be, he must be. This need we may call: self-actualization. – Abraham Maslow

Disclaimer: man di sini dimaksudkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang gender.

Nah, berarti para ibu juga punya kebutuhan untuk berkarya alias beraktualisasi diri dong ya. Agar bisa mencapai ini, kita harus mulai berusaha mengenali diri sendiri: mulai dari kelebihan, kekurangan, keahlian, bakat, minat and finally do something about it. Aktualisasi diri nggak bakal tercapai kalau kita hanya duduk diam dan hanya berfokus pada rutinitas domestik.

Karena sesungguhnya, berkarya-menjaga amanah mendidik anak dapat berjalan seiringan, tidak ada yang perlu dikorbankan. – Ibu Septi Wulandani

Yang perlu digarisbawahi adalah kata ‘seiringan’ dan ‘tidak ada yang dikorbankan’. 😉 Yang IRT, urusan domestik bukan alasan untuk kita berhenti berkarya. Yang ibu bekerja di ranah publik juga sama, jangan mengambinghitamkan pekerjaan sehingga anak jadi dinomorduakan.

Aku sendiri gimana? Oh, aku bangga sekali bisa menjadi ibu rumah tangga karena aku sangat menikmati momen-momen saat aku belajar ilmu parenting. Aku juga sangat suka menulis. Melalui tulisan, aku jadi bisa membagikan pengetahuan dan pengalamanku sebagai ibu kepada dunia. Salah satu tempat menulis favoritku adalah blog dan aku berkomitmen untuk bisa rutin mem-posting tulisan-tulisan berkualitas di sini.

Oleh karena itu, kalau diminta untuk membuat kartu nama, aku bakal bikin kayak gini.

Selain itu, kalau ada orang yang minta aku buat memperkenalkan diri, aku bakal kasih narasi kayak gini.

Nah, kalo kamu gimana? Bikin juga yuk ah~

Show off your name cards and make yourself proud, Mothers! 😉

Alasan Mengikuti Program Bunda Sayang

Kalau ditanya, apa sih alasan terkuatku buat gabung di program Bunda Sayang? Maka dengan yakin aku akan sodorin foto di atas.

Iya, aku kepengen bisa liat pemandangan semacam itu, bahkan sampai aku tua nanti. Suami yang sabar dan pengertian, anak yang senantiasa menjadi penyejuk hati dan mewarnai hari-hari. Meskipun kami tidak sempurna dan tidak semua hal berjalan seperti yang diharapkan, kami tetap bahagia karena kami memiliki satu sama lain.

Kondisi seperti ini tentunya tidak ujug-ujug ada. Ada usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga agar kondisi ini bisa terwujud. Aku sendiri, sebagai istri dan ibu, masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Salah satu usaha yang aku lakukan adalah dengan mengikuti program Bunda Sayang ini.

Untuk yang belum tahu, program Bunda Sayang adalah salah satu dari lima program yang ada di Institut Ibu Profesional. Mengutip dari website Ibu Profesional, berikut deskripsinya.

Program Bunda Sayang adalah program pembelajaran yang  diikuti oleh para Ibu Profesional yang sudah lulus Matrikulasi. Kelas ini mengajak para ibu dan calon ibu untuk terus belajar bagaimana mendidik anak dengan mudah dan menyenangkan; disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai tantangan setiap bulannya.

Tidak seperti program Matrikulasi di mana materinya disampaikan setiap satu minggu sekali selama kurang lebih tiga bulan, program Bunda Sayang ini akan membutuhkan waktu hingga satu tahun ke depan. Jelas ya, dibutuhkan komitmen yang jauh lebih besar untuk menyelesaikan Kelas Bunda Sayang dibandingkan dengan Kelas Matrikulasi.

Tantangan di Kelas Bunda Sayang diberikan tiap satu bulan sekali, dipraktikkan minimal selama 10 hari, lebih dari itu lebih baik. Nah, biar nggak keteteran, aku akan berusaha untuk mengerjakan tantangan segera setelah mendapatkan materi. Procrastination is pure evil!

Waktu masih single suka seenak jidat nunda-nunda pekerjaan. But now, as a mother, I’ll be doomed if I keep doing so.

Moving on to the next point, kali ini aku mau bahas perihal adab dalam menuntut ilmu. Alhamdulillah, di IIP ini ada banyak sekali pencerahan. Salah satunya adalah fakta bahwa sesungguhnya, adab itu wajib didahulukan sebelum ilmu. Kalau mau menuntut ilmu, etika harus dikedepankan terlebih dulu.

COPAS DARI GRUP SEBELAH

Pasti udah banyak yang dapet yang model begini. Atau jangan-jangan malah pernah jadi pelaku? 😏 Ini adalah contoh ketika seseorang mengesampingkan adab saat menuntut ilmu. Terlalu fokus dengan isi dari ‘ilmu’ yang didapatkan dan ingin segera menyebarluaskan tanpa diinvestigasi dulu. Ini betulan atau cuma bualan? Apa yang akan terjadi kalau aku klik ‘share‘? Dan seterusnya.

Adab menuntut ilmu lainnya: sebelum menyebarluaskan, tidak ada ruginya meminta izin dulu ke orang yang menyampaikan ilmu kepada kita. Kalau diizinkan, baru tancap gas. Jangan lupa, saat menyebarluaskan, cantumkan juga sumber ilmunya.

It surely sounded easy, but reality can make us overlook things. It happened to me once and I learned my lesson, haha. Tapi itu juga karena salah paham sih. Intinya begini, hanya karena ada banyak orang lain yang menyebarkan hal yang ingin kamu sebarkan, sebagus apapun isinya, bukan berarti itu melegitimasi bahwa kamu berhak dan boleh ikut menyebarluaskan. Seribu orang yang melakukan sebuah kesalahan tidak akan membuat kesalahan itu menjadi benar.

Kamu boleh menyebarluaskan ilmu yang kamu dapatkan jika dan hanya jika si sumber ilmu mengizinkan kamu untuk menyebarluaskan.

Jangan ngeles: ‘tapi kan Si A nggak bilang kalo ini nggak boleh disebar’ atau‘aku nyebarin karena temen-temen sesama peserta banyak yang udah nyebarin duluan, jadi kirain emang boleh’.

Nope. Never ever do that. Justruuu, karena Si A nggak bilang itu, kita yang harus memastikan lagi tentang boleh/nggaknya. Sebagai penerima ilmu, kita harus bertanggung jawab atas hal terkecil sekalipun. Penting sekali buat berjaga-jaga.

Yak. Begitulah. Sepertinya ini udah cukup panjang yaa. Sebelum melebar ke mana-mana, aku akhiri aja sesi curhatku kali ini, muahaha. 🤐😆

First NHW, done! 💪