Anakku Pemalu Sekali, Wajarkah?

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini pasti punya karakter unik, berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya, ada yang sejak kecil mudah berbaur dengan orang lain, ada pula yang pemalu.

Ups. Tunggu sebentar. Fun fact: tahu nggak sih kalo sebetulnya tidak ada orang yang dilahirkan pemalu di dunia ini? Well, you might not believe me, tapi ilmu psikologi punya penjelasannya lho.

Alexander Thomas dan Stella Chess (1977) mengklasifikasi temperamen pada anak menjadi tiga kelompok.

Easy: 40% bayi memiliki temperamen ini; mudah menyesuaikan diri dengan situasi baru, mampu menerapkan rutinitas dengan cepat, terlihat ceria dan mudah tenang.

Difficult: 10% bayi memiliki temperamen ini; lambat menyesuaikan diri dengan pengalaman baru, cenderung bereaksi secara negatif dan intens terhadap stimulus dan lingkungan.

Slow-to-warm-up: 15% bayi memiliki temperamen ini; agak sulit berbaur di awal, tetapi lambat laun menjadi lebih mudah.

Apa hubungan antara klasifikasi di atas dengan anak pemalu? Another fun fact: anak-anak yang dilabeli ‘pemalu’ ini sebetulnya adalah anak-anak dengan tipe temperamen slow-to-warm-up.

Yep. It’s all about the speed. Setiap anak mempunyai kecepatannya sendiri-sendiri ketika harus berinteraksi dengan lingkungan baru.

Bila anak bertipe easy dan slow-to-warm-up memasuki sebuah taman bermain yang ramai, misalnya, pasti akan terlihat perbedaan perilaku yang mencolok. Anak bertipe easy akan langsung berbaur di dalam kerumunan dan memilih permainan yang dia sukai tanpa ada rasa canggung. Sebaliknya, anak bertipe slow-to-warm-up akan lebih memilih untuk berdiri agak jauh dari kerumunan sambil mengamati keadaan. Kalaupun ada permainan yang dia sukai, dia akan menunggu terlebih dahulu sampai situasi terasa aman baginya (tidak ada anak lain yang memakai permainan yang dimaksud, misalnya). Bahkan, kalau dia merasa bahwa tempatnya terlalu gaduh dan ramai, besar kemungkinan dia akan menolak untuk bermain di situ.

Klasifikasi temperamen anak ini sama sekali bukan tentang ‘mana tipe temperamen yang lebih baik dari yang lain’. Sama sekali bukan. Anak bertemperamen easy bukan berarti lebih baik dari anak bertemperamen slow-to-warm-up, pun sebaliknya. Sayangnya, seringkali anak bertipe slow-to-warm-up dianggap ‘lebih negatif’ dari anak bertipe easy hingga muncullah label-label negatif yang ditujukan kepada anak (penakut, pemalu, susah bergaul, dll). Ini fenomena yang umum saya temui, mungkin karena jumlah anak bertemperamen easy mendominasi (di data di atas sampai 40%) sehingga karakteristik temperamen ini dianggap sebagai tolok ukur pencapaian keterampilan sosial seorang anak. While we clearly know that it does not work that way.

Label-label inilah yang sesungguhnya berbahaya jika dipaparkan pada anak secara berulang-ulang (sadar atau tanpa sadar). Bagaikan mantra. Anak akan benar-benar menjadi apa yang setiap hari kita katakan pada mereka. Tidak ada anak yang terlahir menjadi seorang ‘penakut’. Namun jika kita berulang kali memberitahunya bahwa dia anak penakut, well, your wish will mostly be granted then. Dia betul-betul akan tumbuh menjadi anak yang penakut. Ngeri, ya? Itulah mengapa sebaiknya kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik saja pada anak-anak. Siapa yang tahu kan ucapan mana yang nantinya dijabah oleh Yang Maha Kuasa?

Tipe temperamen yang dimiliki seorang anak juga tidak ada hubungannya dengan gaya pengasuhan orangtua. They are born with it. Sebaliknya, gaya pengasuhan orangtualah yang harus menyesuaikan temperamen anak.

Kuncinya ada dua: nature (sifat dasar, bawaan) dan nurture (pengasuhan). Alma, misalnya. Alma terlahir sebagai anak slow-to-warm-up. Ini adalah anugerah dari Allah yang saya, ibunya (atau siapapun), tidak akan bisa ubah (nature). Yang bisa saya ubah (atau lebih tepatnya: sesuaikan) adalah pola pengasuhan saya (nurture). Pola asuh untuk anak easy jelas akan berbeda dengan pola asuh untuk anak slow-to-warm-up, meskipun tujuan akhirnya sama: agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal, plus, potensi terbaiknya bisa tergali dengan baik.

Saya sendiri adalah seorang yang bertemperamen slow-to-warm-up. Jadi saya sama sekali tidak terkejut ketika Alma memiliki temperamen yang sama. Justru saya merasa bersyukur karena dengan begini saya jadi paham betul perlakuan seperti apa yang harus saya berikan kepada Alma. Berikut beberapa contohnya.

Saat bertemu dengan orang yang tidak dikenal/lama tidak bertemu, saya berusaha untuk tidak memaksa Alma untuk melakukan kontak fisik saat itu juga, bahkan untuk bersalaman sekalipun. Kalaupun orang yang bersangkutan mengajak bersalaman, saya akan tanyakan terlebih dahulu pada Alma apakah dia mau atau tidak. Oiya, jika pertemuannya sudah direncanakan sebelumnya, saya akan sounding sejak jauh hari dengan siapa Alma akan bertemu sambil menceritakan hal-hal baik tentang orang tersebut agar Alma memiliki ekspektasi terhadap apa yang akan dia hadapi nantinya.

Saya membiarkan Alma menempel pada saya (secara harfiah) pada saat dia berada di tempat/situasi yang asing. Saya akan berusaha agar situasi bisa menjadi aman dan nyaman baginya hingga akhirnya dia bisa berbaur atas inisiatifnya sendiri. Kalaupun pada akhirnya dia tidak mau berbaur tanpa saya, ya tidak apa-apa. Saya akan dengan senang hati mendampingi. Setiap orang punya kriteria keamanannya masing-masing kan?

Saya selalu berusaha untuk menghargai pilihannya atas segala sesuatu, asalkan pilihannya itu tidak merugikan dirinya atau orang lain.

Dalam pikiran saya, saya selalu percaya bahwa this too shall pass. Saya berusaha untuk tidak memikirkan apa yang mungkin orang pikirkan terhadap saya (sebagai orangtua), terlebih lagi komentar-komentar yang tidak berfaedah. Saya meyakini bahwa pola pengasuhan yang sesuai dengan temperamen anak yang sedang saya usahakan (dan penuh tantangan) ini nantinya akan berbuah manis.

Saya selalu berusaha untuk fokus pada kelebihan dan potensi Alma sambil mencari cara untuk mengoptimalkan potensi-potensi tersebut.

Khusus poin terakhir, saya jadi teringat kejadian yang saya dan Alma alami beberapa waktu yang lalu. Ketika itu saya dan Alma baru saja memasuki salah satu bilik toilet di sebuah mal. Tidak sampai tiga detik, Alma langsung menyadari bahwa ada sebuah ponsel (yang tertinggal) di pojok toilet. Dia langsung bertanya kepada saya dengan wajah polosnya, “Mik, hapenya siapa itu?” Saya merasa takjub, bagaimana bisa dia langsung tahu benda apa yang tidak semestinya ada di situ dengan begitu cepatnya? Terlebih lagi letak ponselnya saat itu cukup tersembunyi? Seandainya saya masuk ke bilik itu tanpa Alma, saya yakin saya tidak akan tahu kalau ada ponsel yang tertinggal di situ.

Saya selalu kagum dengan daya observasi Alma (yang seringkali dia pamerkan) ini. Saya yakin, anak-anak bertemperamen slow-to-warm-up lain juga memiliki karakter yang mirip: mereka adalah pengamat yang baik.

Begitulah. Setiap anak memiliki karakteristiknya masing-masing. Orangtua tidak perlu bersusah payah mengubah karakteristik itu (karena niscaya usaha itu akan berakhir sia-sia, atau bahkan lebih buruk dari ekspektasi kita, naudzubillah).

Let’s accept our children for who they are. Don’t take them for granted. Let’s just bring the best out of them instead, using the most appropriate ways. 😘

Time-Out? Time-In Aja Yuk

I am so against both authoritarian and permissive parenting. Therefore, I am so into authoritative/peaceful/positive parenting.

Ada yang pernah nonton Nanny 911 nggak sih? Dulu pernah diputer di Metro TV tahun 2008. Acara favorit banget ini pokoknya. 😂 Jadi ini reality show tentang sekumpulan ‘nanny‘ profesional yang dikirim buat bantu keluarga yang punya anak-anak dengan perilaku ‘menyimpang’ di mana orang tuanya udah hands-up nggak ngerti lagi mau gimanain anaknya biar anaknya bisa behaved seperti sedia kala. Rata-rata sih masalahnya adalah anak-anak berperilaku agresif. Ada juga anak-anak yang supermanja nggak mau disuruh, yang indifferent banget sama lingkungan sekitar dia.

Nah, satu metode yang paling stand-out yang paling sering dipake sama para nanny ini adalah: time-out.

Apaan tuh?

Time-out dikatakan sebagai alternatif terbaik untuk mendisplinkan anak. secara mukul, nyubit, teriak-teriak ke anak itu jelas nggak baik ya. Tapi kan ya nggak mungkin didiemin juga, bisa makin menjadi-jadi. Jadilah muncul metode time-out ini.

Step by step-nya adalah: kalo ada anak yang misbehave, anaknya disuruh berdiri di salah satu sudut ruangan selama beberapa menit dengan tujuan agar anaknya bisa merenungkan kesalahannya. Kalo masih teriak-teriak ngamuk dan kabur, harus dibalikin lagi ke spot semula. Gituuu terus sampe akhirnya anaknya bisa calm down dan bisa kasih tau salahnya tadi apa dan janji ngga ngulangin lagi sambil diminta kasih tau tadi tuh dia kenapa sih kok bisa ngamuk, dst dst.

Waktu nonton dulu bawaannya langsung amazed, metodenya keren gini ya bisa ampuh bikin anak kecil nggak agresif/manja lagi.

But deep down inside, I didn’t like the method. And now, after doing my research as a mother, I dislike it even more. I refuse to do that to Alma, mau segimanapun tantrumnya Alma.

Terus, kalo ngga pake time-out, pake apa dong?

 Do time-in! Ini istilah tandingan buat time-out gitu, hahaha. While doing time-in, we (mother & child) connect with each other. Sebagai orangtua, kita penuhi dulu kebutuhan emosi anaknya: diajak komunikasi dengan penuh sayang, kasih tau kalo kita ngerti kalo dia marah, sedih, pengen nangis kenceng-kenceng dan itu nggak papa. Kasih tau kalo ayah/ibu nggak bakal pergi kemana-mana, diajakin negosiasi, sama-sama numpahin unek-unek, sambil kasih ide solusi, gimana caranya biar ibu sama anaknya sama-sama happy.

We as parents are adults, so let’s act like one. We should be able to regulate our emotions better than our children. Children see, children do. Gimana caranya coba bikin anak bisa ngontrol emosi kalo kita orang tuanya ngga bisa kasih contoh? Kalo kita orangtuanya gampang nge-judge anak?

I know, it’s damn hard. But it’s also damn well worth the effort.