NHW #1: Ilmu Apa yang Ingin Saya Pelajari?

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini dibuat sebagai jawaban atas Nice Homework (NHW) pertama saya di Kelas Matrikulasi IIP Tangsel 1.

Namun, saya sangat berharap bahwa tulisan ini bukan semata-mata dibuat satu kali untuk kemudian ditinggalkan dan terlupakan. Boleh dibilang, tulisan ini adalah semacam acuan, pengingat, bahwa ada yang harus saya realisasikan.

Nama saya Yossie Dewi Arisandy. Umur saya 26 tahun. Saya adalah ibu dari seorang putri lucu dan cerdas bernama Alma Khaira Faizunnisa. Umurnya kini sudah 2 tahun. Selain menjadi ibu, saya juga istri dari seorang laki-laki luar biasa bernama Reza Darmawan.

Fiuh…… Setelah membaca lagi paragraf di atas, mata saya terasa berkaca-kaca. Saya merasa… kecil. Saya masih tidak percaya bahwa Allah sebegitu baiknya kepada saya. Bagaimana seorang perempuan seperti saya bisa dikaruniai suami yang shalih dan anak perempuan yang juga shalihah seperti mereka berdua?

Apalah saya ini. Ilmu agama yang saya miliki masih sangat pas-pasan. Bukan, saya sama sekali bukan sedang merendah. Ilmu agama saya memang pas-pasan. Shalat pun kadang masih suka menunda. Kalau kebetulan sedang ikut pengajian/seminar dan orang-orang di sekitar saya mulai mengobrol menggunakan istilah-istilah yang tidak saya mengerti, rasanya langsung ciut. Berkali-kali saya harus bertanya ke suami. Itu artinya apa? Ini artinya apa? Maksudnya bagaimana?

Saya tahu, suami saya akan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘receh’ saya. Tapi tetap saja, kadang saya malu sendiri.

Terlebih lagi, saya seorang ibu. Bulan depan suami saya akan kembali ke kantor (kebetulan selama dua tahun terakhir suami saya mendapat amanah Tugas Belajar). Kami bertiga tidak akan bisa lagi berkumpul seharian, tujuh hari dalam seminggu, seperti sekarang. Di hari kerja, saya akan berdua saja dengan Alma.

Saat ini, Alma sedang berada dalam rentang usia emas. Periode usia emas seorang anak adalah di lima tahun pertamanya. Alma hanya punya tiga tahun lagi tersisa. Padahal di rentang usia emas inilah kepribadian anak terbentuk. Apapun yang diterima anak akan menjadi penentu masa depannya. Saya sama sekali tidak ingin usia emasnya nanti berlalu dengan sia-sia.

Sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk mengeluarkan potensi terbaik Alma sekaligus membuat Alma terkagum-kagum dengan indahnya Islam.

Tapi saya ini punya apa? Saya tidak punya bekal yang mumpuni untuk melakukan itu. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Saya rasa ilmu juga seperti itu. Bagaimana saya bisa membimbing Alma dalam menjalani hari-harinya bila ilmu yang saya punya pun masih begini-begini saja?

Oleh sebab alasan-alasan itulah saya ingin sekali belajar lebih dalam tentang Islam. Namun seringkali saya masih bingung harus mulai dari mana.

Mungkin karena saya belum pernah sekalipun meluangkan waktu untuk benar-benar memikirkan jalan keluarnya.

Dan akhirnya, sekarang juga saya harus ‘memaksa diri’ untuk mulai menuliskan beberapa rencana agar saya bisa menjadi ibu pendidik yang lebih baik. Poin-poinnya saya tuliskan dalam bentuk paragraf-paragraf di bawah ini.

Pertama. Tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya bergabung ke dalam komunitas Ibu Profesional. Tanpa direncanakan? Bagaimana bisa? Karena sebetulnya yang mendorong saya untuk mendaftar adalah suami. Baru kemudian saya sadari (setelah browsing sana-sini tentang IIP) bahwa IIP sesungguhnya bisa menjadi titik awal dalam usaha saya dalam membekali diri dengan ilmu agama dan pengasuhan anak. Dan memang benar, 45 teman sekelas dengan satu fasilitator kami adalah para ibu yang memiliki latar belakang berbeda-beda tapi tetap bisa saling menginspirasi satu sama lain. InsyaAllah kami siap belajar bersama-sama.

Kedua. Yang ini sangat spesifik. Saya terinspirasi oleh salah satu teman yang juga adalah member IIP, tapi lebih senior dari saya (halo, Mba Lulu!). Beberapa waktu lalu, beliau mengikuti Pelatihan Mengajarkan Balita Membaca Alquran. Setelah mengikuti pelatihan itu, beliau langsung mempraktikkan ilmu yang sudah didapatnya. Ternyata prosesnya menyenangkan sekali! Sama sekali tidak ada unsur memaksa, anak tidak harus membaca Alquran begini atau begitu. Metode yang dipakai sangat sederhana dan toddler-friendly, membuat saya teringat dengan metode Montessori (metode belajar favorit saya dan (saya yakin) banyak ibu lainnya). Saya malah berpikir bahwa cara ini bisa membuat saya ikut belajar juga. Jadi, jika pelatihan ini nanti dibuka lagi, saya wajib ikut (insyaAllah)!

Ketiga. Saya harus mulai rutin membaca Sirah Nabawiyyah. Sirah Nabi ini yang saya tahu adalah semacam biografi Rasulullah SAW, jadi saya pasti akan suka membacanya. Sirah Nabi ini saya anggap sebagai pintu gerbang bagi saya untuk mengetahui lebih banyak tentang Rasulullah SAW. Tak kenal, maka tak sayang. Bagaimana bisa cinta Rasul bila detail tentang kehidupannya saja saya tidak tahu? Beberapa fakta yang saya tahu tentang Sirah Nabi: sumber syariat Islam ada dua, yaitu Alquran dan Sunnah. Jadi kita tahu bahwa kedudukan Sunnah ini tinggi sekali, ya. Nah, Sunnah ini dapat kita pahami dengan baik ketika kita telah mempelajari Sirah Nabi.

Keempat. Saya harus memperbaiki keseharian saya. Shalat harus tepat waktu, harus mulai rutin tilawah, mempertebal hafalan surah-surah, dan ikut pengajian rutin. Terlihat sepele, tapi sangat berat dijalani.

Satu lagi, setelah mendapatkan materi tentang adab menuntut ilmu, saya juga harus memperbaiki beberapa sikap  saya yang bisa menghambat proses menuntut ilmu.

Untuk saya pribadi, saya harus berhenti menunda-nunda pekerjaan, mengedepankan konsistensi dan menghindari sikap menyepelekan sesuatu. Ini kelemahan terbesar saya. Ah, tidak apa shalat terlambat sedikit. Ah, tidak apa skip tilawah sehari. Ah, besok pagi saja menyiapkan kegiatan untuk Alma, dan seterusnya.

Demikianlah. Semoga apa yang saya tuliskan ini dapat terealisasi dengan baik. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Doakan saya, ya! 😊🙏