NHW #9 (The Last Homework): Being An Agent of Change

Finally. The last homework. It’s kind of bittersweet, really. 😅

Sebelumnya, saya mau menampilkan isi sekilas NHW #9 ini, ya.

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar Anda, maka belajarlah untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Rumus yang kita pakai adalah sebagai berikut.

PASSION + EMPATHY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social entrepreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneurship.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Bagaimana caranya? Kami dipandu dengan cara diberikan beberapa poin pertanyaan berikut ini: 1) apa minat/hobi saya?, 2) apa saja hard skill dan soft skill yang saya miliki?, 3) apa isu sosial yang membuat saya ingin ‘melakukan sesuatu’?, 4) siapa saja yang akan menjadi sasarannya?, 5) untuk itu, seperti apa social venture yang akan saya buat?

Saya akan menjawab pertanyaan di atas satu persatu.

Minat

  • Mengamati isu dan belajar tentang pengasuhan anak, pemberdayaan perempuan dan keluarga.
  • Berbagi pengetahuan dan pengalaman via media sosial.

Hard skill

  • Menulis
  • Mengoperasikan media sosial (Instagram dan WordPress)
  • Mengoperasikan aplikasi berbasis Android

Soft skill (diambil dari hasil ST-30)

  • Mampu menangkap intisari suatu permasalahan
  • Mudah menyesuaikan diri
  • Mampu menjelaskan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa
  • Senang mempelajari sesuatu yang baru
  • Memiliki kemampuan analitis dan berpikir strategis
  • Intuitif

Isu sosial

Saya sangat tertarik dengan topik bahasan seputar pengasuhan anak dan pemberdayaan keluarga karena sangking seringnya saya menemui penyimpangan-penyimpangan di lingkungan sekitar saya. Banyak sekali pola pikir yang sudah kuno dan perlu diubah.

Misalnya, pola pikir bahwa menjadi ibu hanyalah semata sebuah kodrat yang harus dijalani. Bahwa menjadi seorang ibu itu tidak memerlukan persiapan apapun. Tinggal mengikuti cara pengasuhan orangtua terdahulu, beres.

Sesungguhnya, dengan menjadi seorang ibu (dan ayah) itu berarti kita harus siap menjadi pembelajar sejati. Kita harus banyak mencari tahu mana perlakuan yang hanya didasarkan pada tradisi dan tekanan sosial, dan mana perlakuan yang didasarkan pada bukti dan data ilmiah.

Banyak juga yang berpikir bahwa dengan mencukupi nafkah keluarga, maka seorang lelaki sudah selesai memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Padahal, keterlibatan suami dalam mendidik anggota keluarga, membersamai anak, menciptakan pola komunikasi yang efektif dan positif antaranggota keluarga, bahkan membantu meringankan beban istri dalam melakukan pekerjaan rumah tangga juga sangat penting dilakukan oleh para suami.

Belum lagi cara para orangtua dalam mendidik anak. Satu contoh kecil saja: para orangtua banyak sekali yang merasa risih dan gerah ketika anak menangis, hingga rela melakukan apapun agar anak bisa berhenti menangis. Salah satu cara yang paling jamak dilakukan adalah dengan mengalihkan sambil, terkadang, membohongi anak.

“Iya, setelah ini kita pergi ke XXX ya, sekarang XXX masih tutup karena blablabla”.

Padahal XXX tidak sedang tutup dan pada akhirnya anak tidak diajak ke XXX. Hal yang terlihat remeh ini bila rutin dilakukan bisa memberikan efek psikologis jangka panjang: anak jadi tidak mudah percaya kepada orangtuanya sendiri. Belum lagi kalau orangtua jadi sering membentak anak, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik (mencubit, memukul, dan seterusnya).

Padahal sebetulnya, menangis adalah suatu mekanisme alami yang dilakukan manusia. Bahkan untuk bayi, menangis adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk mengomunikasikan ketidaknyamanan. Bayi belum bisa bicara, dan kamu jengkel kalau mendengar si bayi menangis? So what do you expect? It’s not like he can talk and ask politely for some milk? Terdengar ridiculous, bukan?

Di usia balita pun, anak masih belajar untuk mengenali emosi. Terutama anak usia 2-3 tahun di mana mereka semakin sering throwing tantrum. Di usia-usia inilah orangtua semakin rawan untuk melukai kesehatan psikologis anak. Alih-alih dimarahi (karena percayalah, memarahi anak yang sedang tantrum itu sesungguhnya pekerjaan yang sia-sia), akan lebih baik jika kita ajak anak ke tempat yang lebih private dan berkata seperti ini, “Adik marah ya Mama nggak ngebolehin Adik beli mainan? Mama tunggu sampai Adik tenang dulu ya. Adik boleh menangis, karena Mama tahu Adik sedih dan marah sekali dan rasanya mau meledak. Mama tahu. Mama nggak akan ke mana-mana. Mama tungguin Adik di sini sampai Adik tenang.” Lalu baru kemudian ajak anak berkomunikasi dan bernegosiasi ketika anak sudah lebih tenang/selesai meluapkan emosi negatifnya.

Itu baru satu contoh.

Seperti yang pernah saya bilang di kelas MIIPB5: our society has too many broken-hearted children, and there are too many adults with inner-child syndrome. I do wanna help to change it all.

Sasaran

Para suami, istri, ayah, dan ibu.

Ide sosial

Saya bukan tipe orang yang memiliki ketahanan dan kemampuan dalam berwirausaha dan memulai sesuatu dari nol. Oleh karena itu, alih-alih menciptakan sebuah social venture, saya lebih suka bergabung ke salah satu social ventures yang sudah ada.

Lalu apa yang akan saya lakukan? Saya akan menyumbangkan pikiran dan tenaga saya melalui dua komunitas favorit saya: Ibu Profesional dan Konmari Indonesia. Hanya ini yang sejauh ini saya anggap realistis. Pun, sudah saya tuliskan berkali-kali di NHW-NHW sebelumnya.

One step at a time. Sebagai peserta MIIPB5, sedikit-sedikit saya sudah mulai take action untuk merealisasikan cita-cita saya ini dengan berkomitmen untuk mengerjakan seluruh tugas mingguan baik di Kelas MIIPB5 maupun di Kelas Shokyuu dan konsisten memposting jawaban tugas-tugas ini di Blog dan Instagram dengan tampilan semenarik mungkin.

Tujuannya, agar banyak teman-teman saya atau bahkan orang yang tidak saya kenal tertarik untuk bergabung di dua komunitas ini.

Kenapa begitu? Tentu bukan untuk keuntungan material (karena kedua komunitas ini bersifat nonprofit). Sebagai salah satu peserta yang sudah beberapa minggu (bahkan bulan) bergabung, saya percaya bahwa dua komunitas ini bisa membantu para keluarga Indonesia untuk menjadi lebih baik. These two communities can heal us from within. And therefore, I want to take part in it.

Untuk saat ini, doakan agar saya bisa lulus kelas Matrikulasi dan kelas Shokyuu dengan predikat baik, ya, hehehe.

Selamat tinggal, Kelas Matrikulasi! Selamat datang, Kelas Bunda Sayang! 😢😘

NHW #8: Produktif, Yuk!

NHW #8 kali ini mengingatkan saya kepada NHW #4 yang lalu. Kalau di NHW #4 kami ditantang untuk menemukan misi hidup, maka di NHW #8 ini kami harus membuat target-target berkaitan dengan misi hidup tersebut.

Berdasarkan Kuadran Aktivitas di NHW sebelumnya, ada beberapa aktivitas di kuadran SUKA-BISA yang perlu saya garis bawahi karena dari sinilah misi hidup saya akhirnya muncul.

Planning, berjejaring, berbagi pengetahuan dan pengalaman, assisting others.

Oleh karenanya, saya mantap ingin menjadi seorang Fasilitator, baik di ranah domestik maupun ranah publik. Insya Allah.

Nah, sekarang mari berkenalan dengan Zig Ziglar.

Yep. Prinsip Be-Do-Have milik Zig Ziglar inilah yang akan menjadi acuan saya (dan teman-teman sekelas saya) dalam menuntaskan tugas kali ini.

Sebelum memulai penjabaran Be-Do-Have, saya ingin terlebih dahulu memberitahukan beberapa hal yang memperkuat motivasi saya untuk menjadi seorang Fasilitator.

Ini adalah saat saya ‘berkonsultasi’ dengan Mba Irma Febriana, our beloved Facilitator. Terima kasih, Mak. Love you full!

Dua kutipan ini milik Mba Adit Marwa, our beloved Observer di Kelas Matrikulasi Tangerang Selatan.

Saya sangat menikmati proses-proses dalam ber-Konmari. Begitu saya mengetahui fakta di atas, saya langsung merasa bahwa, “This was definitely written for ME!“.


BE

Saya ingin menjadi Fasilitator di Komunitas Ibu Profesional dan/atau Komunitas Konmari Indonesia.

DO

Saat ini saya hampir menyelesaikan Kelas Matrikulasi Ibu Profesional (minggu ini saya menjabat sebagai Koordinator Mingguan) dan sedang menjalani Kelas Shokyuu Konmari Indonesia (dimana saya menjabat sebagai Ketua Kelas).

Setelah lulus Program Matrikulasi (semoga dengan predikat baik) dan memasuki tahapan Kelas Bunda Sayang, saya akan mendaftar untuk menjadi pengurus IIP.

Setelah lulus dari Kelas Jyoukyuu, saya akan mengomunikasikan ketertarikan saya untuk menjadi Fasilitator pada Tim Konmari Indonesia. Tentu saja, sebelumnya saya juga harus bisa lulus dengan predikat memuaskan dari ketiga tahapan Kelas Intensif (yaitu Kelas Shokyuu, Chukyuu, dan Jyoukyuu).

Saya juga akan berusaha aktif mengikuti workshop, seminar, dan kegiatan-kegiatan dalam komunitas yang berkaitan dengan pengasuhan anak, pengembangan diri, dan sejenisnya.

HAVE

Kutipan di bawah ini cukup menjelaskan tentang apa yang akan saya lakukan bila saya berhasil menjadi seorang Fasilitator.

Seorang fasilitator adalah seseorang yang terlibat dalam kegiatan fasilitasi. Mereka membantu sekelompok orang untuk memahami tujuan bersama mereka sekaligus membantu mereka untuk melakukan perencanaan demi mencapai tujuan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya ini, fasilitator tetap “netral”, yang berarti dia tidak mengambil posisi tertentu di dalam diskusi (Bens, 2012).

Catatan: tujuan bersama yang dimaksud dalam kutipan di atas disesuaikan dengan visi dan misi komunitas, dalam hal ini IIP dan Konmari Indonesia.

LIFETIME PURPOSE

Saya ingin menjadi manusia yang mampu memberikan kebermanfaatan untuk sekitar. Paling tidak, kepada sesama perempuan yang akan atau sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu. Selama ini, ketika seorang perempuan menjadi seorang ibu, seringkali ini hanya dilihat sebagai semata sebuah kodrat yang mau tidak mau harus dijalani, tanpa menyadari bahwa peran seorang ibu itu sebenarnya jauh lebih dari sekedar ‘menjalankan kodrat’.

Bahkan, kita sebetulnya sangat berpotensi untuk menjadi arsitektur peradaban dan juga agen perubahan. Setiap perempuan butuh persiapan untuk menyadari ini untuk kemudian mulai bisa bergerak maju.

Untuk itu, saya ingin hadir di tengah-tengah para perempuan ini sebagai seorang fasilitator dan inspirator, baik di dalam ataupun di luar forum, agar kami mampu dengan maksimal menjalankan peran kami dalam membangun peradaban.

The journey of a thousand miles begins with one step. – Lao Tzu

STRATEGIC PLANNING

Paling lambat dua tahun lagi, saya akan menjabat sebagai seorang Fasilitator, paling tidak dalam salah satu komunitas yang saya sebutkan di atas.

NEW YEAR RESOLUTION

Menjadi pengurus IIP – Mengikuti Training Fasilitator IIP – Lulus Kelas Chukyuu dengan predikat memuaskan – Sedikitnya satu minggu sekali berbagi ilmu dan pengetahuan di media sosial.


Wow. Luar biasa sekali rasanya setelah selesai menuliskan ini semua. Mohon doanya ya agar cita-cita saya ini bisa tercapai. 🙏

NHW #7: Talent Mapping dan Kuadran Aktivitas (Awal dari Bunda Produktif)

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di materi Tahapan Menuju Bunda Produktif.

Di NHW-NHW sebelumnya, saya dan teman-teman sekelas seolah dituntun untuk menemukan ‘jati diri’ kami masing-masing. Kalau saat kuliah banyak dari kami yang ternyata salah jurusan, maka di Kelas Matrikulasi ini kami mencoba mengulang dan mengingat-ingat kembali apa yang sebenarnya kami suka dan kami butuhkan dalam hidup, sambil mencari tahu apa sebenarnya maksud Allah menghadirkan kami di tengah-tengah lingkungan keluarga dan masyarakat di sekitar kami.

Semua yang sudah kami cari tahu dan temukan akan kami konfirmasi ulang di NHW kali ini.

Benarkah kali ini kami tidak salah dalam memilih ‘jurusan’? Jawabannya kurang lebih bisa dijawab melalui Talent Mapping alias pemetaan bakat. Salah satu alat untuk melakukan pemetaan bakat ini bisa dilihat di http://temubakat.com/id/. Kali ini kami mencoba mengisi kuesioner Strength Typology (ST) 30, yaitu salah satu bagian dari Talent Mapping secara keseluruhan.

Dulu, saya sudah pernah mencoba mengisi kuesioner ST-30 ini. Ternyata, beberapa kali mencoba, hasilnya juga berbeda-beda. Saya sudah tanyakan tentang ini dan memang itu bisa saja terjadi. Hasil dari pemetaan bakat bisa berbeda-beda, sesuai dengan paparan aktivitas yang sedang sering kita dapatkan saat itu.

Boleh dibilang, the result will try to tell us about our current self.

Berikut hasil pemetaan bakat saya.

Cara membaca diagram di atas:


Strength Cluster Saya

 

Personal Branding Saya

 

Potensi Kekuatan Dominan

 

Potensi Kekuatan Sedang

 

Potensi Kelemahan Dominan

 

Potensi Kelemahan Sedang

Beberapa tipologi yang saya anggap menarik adalah yang tercakup di dalam kategori Potensi Kelemahan.

Quality Controller dideskripsikan sebagai ‘memegang teguh aturan’. Pantas saja saya termasuk lemah di sini karena saya memang tidak suka dengan aturan-aturan yang mengikat, terlebih lagi dengan aturan-aturan yang latar belakangnya kurang jelas, kurang masuk akal, atau kurang berfaedah.

Treasury, Safekeeper dan Quality Controller memiliki salah satu deskripsi ini: teliti. Saya akui saya ini tipe orang yang cukup clumsy, jadi memang kurang teliti. Saya harus beberapa kali mengecek sampai pekerjaan yang saya lakukan bisa saya akhiri dengan tenang.

Mediator dan Seller, jelas saya lemah di sini karena memang saya sangat tidak suka jika harus membujuk orang lain, mengurusi masalah orang lain, atau bahkan sampai terlibat konflik. I really hate dramas. It will be too troublesome to get involved. Apalagi saya sangat paham bahwa isi kepala setiap orang itu berbeda-beda Kecuali kalau memang secara pribadi saya diminta tolong dan ada alasan yang bagus, bisa saja saya mau ikut terlibat.

Untuk Potensi Kekuatan, saya bisa mengafirmasi bahwa hasil-hasil di atas sudah sangat mewakili saya.

Terakhir, saya akan mencantumkan Kuadran Aktivitas milik saya. Tujuan dari Kuadran Aktivitas ini adalah agar saya bisa tahu aktivitas mana saja yang produktif bila dikerjakan.

Kuadran SUKA-TIDAK BISA berisi aktivitas yang berpotensi untuk menjadi produktif karena meskipun saya tidak bisa, saya menyukainya. Yang saya perlukan adalah wadah/komunitas yang sesuai agar saya bisa mempelajari aktivitas-aktivitas tersebut dengan nyaman.

Kuadran TIDAK SUKA-BISA sesungguhnya berpotensi untuk membuat hidup saya menjadi tidak produktif. Mungkin suatu saat nanti saya bisa mendelegasikan aktivitas-aktivitas ini pada orang lain.

Dua kuadran lain adalah kuadran-kuadran ekstrim berisi aktivitas yang pasti-produktif dan pasti-tidak-produktif. Jelas sekali, saya harus fokus pada yang pertama.

Demikian akhir dari NHW #7 kali ini. It was pretty fun! See you on the next homework!

NHW #6: Being A Momager (Mom as Manager)

Hello, again!

Setelah selesai berbenah seminggu penuh (FYI: saya baru saja pindah rumah), sekarang adalah saatnya untuk membuat NHW keenam.

Saya selalu saja kagum dengan rencana Allah.

Hari ini adalah hari pertama saya dan suami kembali ke rutinitas awal seperti dua tahun yang lalu sebelum kami pindah ke Solo. Di Solo, suami memiliki banyak sekali waktu luang. Bahkan bisa dibilang, status saya sebagai stay-at-home mom sampai tersaingi oleh suami saya (suami mendadak jadi stay-at-home daddy 😁). Otomatis, waktu sehari-hari kami menjadi sangat fleksibel dan saya juga sangat terbantu oleh kehadiran suami saya dalam menjalankan tugas-tugas domestik.

Hari ini semuanya resmi berubah. We’re forced to be back to those boring routines.

Jetlag pun tak terelakkan.

Saya masih meraba-raba, kira-kira pembagian waktunya nanti bagaimana, ya. Apalagi saya sekarang resmi sendirian saja dengan Alma. No more hubby’s helping hands.

Alhamdulillah, di tengah ke-jetlag-an saya itu, saya dihadapkan dengan NHW #6. Tujuan NHW kali ini adalah agar para ibu mampu menjadi manajer keluarga yang handal. Baik para ibu yang bekerja di ranah domestik (seperti saya) maupun yang bekerja di ranah publik.

Thus the title: being a momager.

Satu poin penting yang saya dapat di materi keenam ini, bahwa kita harus Put First Things First. Maksudnya apa? Dalam peran kita sebagai ibu, prioritas utama kita tetaplah keluarga, yaitu suami dan anak-anak.

Ada satu kutipan di dalam materi minggu ini yang sangat menohok.

Apapun ranah bekerja yang kita pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus SELESAI dengan manajemen rumah tangga kita. Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas di mana pun.

Sehingga Anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak.

Anda yang ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.


Untuk bisa menjadi momager yang baik, langkah pertama yang harus saya lakukan adalah menuliskan Tiga Aktivitas Paling Penting dan Tiga Aktivitas Paling Tidak Penting dalam keseharian saya.

Tiga Aktivitas Paling Penting: belajar ilmu agama dan self-management, blogging dan blogwalking, membersamai anak dalam berbagai kegiatan edukatif di dalam maupun di luar rumah.

Tiga Aktivitas Paling Tidak Penting: terlalu lama aktif di media sosial (terutama Instagram) dan bermalas-malasan sampai menunda pekerjaan (sepertinya hanya dua ini saja yang paling destruktif 😅).

Nah, dua tipe aktivitas ini bisa dijadikan acuan. Tipe aktivitas yang pertama bisa dijadikan sebagai aktivitas yang dinamis dalam keseharian (sebagai sarana pengembangan diri). Sedangkan tipe yang kedua sudah jelas: sebagai reminder agar aktivitas tersebut bisa dihindari.


Langkah kedua, saya harus mengumpulkan seluruh rutinitas saya untuk kemudian diberikan kandang waktu.

Apa itu kandang waktu? Bayangkan kita sedang memelihara Waktu. Waktu itu sangat berharga, sehingga harus dibuat ‘kandang’ agar Waktu tidak berlarian keluar jalur dan hilang entah ke mana. Istilah yang lebih familiar: jadwal kegiatan. Hehehe.

Berikut rutinitas saya beserta kandang waktunya.


03.00 – 04.30 👇

Bangun tidur, salat Tahajud bila memungkinkan, kemudian mulai memasak

04.30 – 05.00 👇

Menyiapkan bekal makan suami dan membantu persiapan berangkat ke kantor

05.00 – 06.00 👇

Bersih-bersih rumah

06.00 👇

Suami berangkat ke kantor

06.00 – 07.30 👇

Alma bangun pagi, mandi pagi, lalu ikut belanja ke tukang sayur (untuk bahan memasak keesokan harinya)

07.30 – 08.00 👇

Salat Dhuha dan membaca Al-Quran bersama

08.00 – 09.00 👇

Sarapan bersama

09.00 – 11.00 👇

Membaca buku bersama, melakukan aktivitas Montessori/Craft, dan bermain bersama

11.00 – 13.00 👇

Tidur siang

13.30 – 14.30 👇

Makan siang bersama

15.30 – 16.00 👇

Salat Ashar bersama sekaligus membaca Al-Ma’tsurat

16.00 – 17.00 👇

Jalan-jalan sore

18.00 – 19.00 👇

Makan malam bersama

20.00 👇

Alma tidur


Terkait rutinitas di atas, ada tiga poin penting yang harus saya lakukan.

Poin pertama, sebisa mungkin saya harus mematuhi cut-off time tiap-tiap aktivitas. Misal, di situ tertulis bahwa pukul 04.30 saya sudah selesai memasak, berarti saya harus berusaha untuk mematuhi itu.

Poin kedua, bagaimana dengan rutinitas yang berada di luar kendali saya? Misal, Alma pasti tidak selalu bangun pukul 06.00 pagi. Kalau begini, jadwal aktivitas selanjutnya jadi kacau dong?

Pencerahan dari Bu Fasil: aplikasikan prinsip Lingkaran Karet.

Lingkaran karet itu fleksibel. Perhatikan track lingkaran karet yang melingkar dengan diameter tertentu. Ketika kita regangkan, ia bisa melebihi diameter di luar track, tetapi sesudahnya bisa kembali lagi ke track semula. Nah, jadwal yang sudah kita buat adalah dalam rangka melihat track kita hari itu.

Ketika anak adalah prioritas, usahakan jadwal kita yang menyesuaikan mereka, bukan sebaliknya.

Kemudian di sela waktu longgar, kita kembali ke jadwal yang sudah kita susun.

Mantap ya solusinya. Masya Allah. 👏👏👏

Poin terakhir, kalau dilihat-lihat lagi, urutan jam dalam jadwal yang saya buat di atas tidak selalu persis bersinggungan satu sama lain.  Misalnya, ada gap alias waktu senggang di antara jam bangun tidur siang ke jam makan siang. Begitu juga dari jam makan siang ke salat Ashar. Waktu-waktu senggang ini bisa saya manfaatkan untuk me-time sejenak. Biasanya dengan membuka Instagram atau mengintip blog sudah cukup bisa membuat jenuh menghilang, hehe (asal tetap patuhi cut-off time, ya!)

Untuk aktivitas-aktivitas yang dinamis, otomatis saya lakukan di jam 20.00 ke atas saat Alma sudah tidur. Aktivitas dinamis ini, sekali lagi, adalah aktivitas-aktivitas yang ada di dalam desain pembelajaran saya (NHW #5) atau yang ada di dalam daftar Tiga Aktivitas Paling Penting di bagian awal tulisan ini. Tidak harus langsung semua topik belajar dipelajari, cukup satu topik saja tapi bergantian. Misal, malam ini membaca Sirah Nabi, malam selanjutnya membuat postingan blog, besoknya lagi membaca materi Webinar Homeschooling, dan seterusnya.

Masya Allah. Kalau semua ini bisa saya lakukan, sungguh luar biasa~

Semangat, semangat! Let each of us be a reliable and smart momager! 💪💪💪

NHW #5: Learning How to Learn (Membuat Desain Pembelajaran )

Untuk NHW kelima kali ini, Bu Fasil cukup sukses membuat kami sekelas bertanya-tanya karena tumben beliau tidak terlalu banyak memberikan instruksi. Begini isi NHW-nya.

Setelah malam ini kita mempelajari tentang Learning How to Learn, maka kali ini kita akan praktik membuat Desain Pembelajaran ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktikkan learning how to learn dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu Bunda semua tentang apa itu desain pembelajaran.

Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan proses Anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda bagikan ke teman-teman yang lain.

Selamat berpikir dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar Anda di NHW #5 ini.

Jadi, kita harus membuat desain pembelajaran. Desain pembelajaran siapa? Boleh untuk diri sendiri, anak, atau keluarga secara keseluruhan. Karena saya sedang tidak punya waktu luang yang memadai, jadilah saya memutuskan untuk membuat satu desain pembelajaran saja, yaitu untuk diri sendiri.

Saya cukup bersyukur karena seluruh NHW saya terdahulu sangat berkaitan satu sama lain (dan saya baru menyadari bahwa memang harusnya seperti ini, kalau isi antar-NHW berkaitan, pasti NHW selanjutnya akan terasa lebih mudah dikerjakan). Di NHW #1, saya menuliskan bahwa saya ingin mempelajari ilmu agama. Saya juga menjabarkan dengan cukup detil apa saja yang akan saya lakukan untuk mempelajari ilmu agama ini. Di NHW #2, saya membuat tiga buah checklist mingguan di mana isinya adalah aktivitas spesifik saya sehari-hari yang bila saya lakukan dengan konsisten, akan meningkatkan kualitas saya sebagai individu, istri dan juga ibu. Di NHW #3, saya menuliskan secara detil apa saja potensi yang saya dan Alma miliki (plus satu surat cinta untuk suami, hahaha). Di NHW #4, saya menuliskan tujuan/misi hidup saya. Saya juga menuliskan tahapan-tahapan belajar apa saja yang harus dilakukan agar misi hidup saya bisa tercapai dalam kurun waktu tertentu.

Lalu, apa hubungannya dengan NHW #5? Begini. Untuk membuat desain pembelajaran milik saya, ada beberapa hal yang saya butuhkan secara umum, yaitu tujuan, materi, kegiatan dan evaluasi pembelajaran. Nah, ternyata empat komponen ini secara tidak langsung sudah saya buat sebelumnya (yay!). Tujuan pembelajaran secara umum saya dapatkan dari NHW #2 (yaitu menjadi perempuan yang profesional) dan secara khusus bisa saya dapatkan dari NHW #4 (yaitu menjadi pengurus IIP dan PHI). Materi pembelajaran saya ekstrak dari NHW #1, #2, dan #4. Sama dengan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran juga saya dapatkan dari NHW #1, #2, dan #4. Terakhir, evaluasi pembelajaran langsung saya ambil dari NHW #2 karena di situ sudah tersedia checklist mingguan yang bisa saya review setiap bulan. Selain checklist, saya juga membuat deadline untuk beberapa kegiatan pembelajaran (karena beberapa kegiatan bukan termasuk kegiatan rutin). Lalu, NHW #3 untuk apa? Salah satu isi NHW #3 adalah penjabaran tentang potensi diri saya, di mana hal ini cukup membantu saya dalam memilih model desain pembelajaran seperti apa yang paling cocok untuk saya (dan akhirnya saya memilih untuk membuat desain pembelajaran dalam bentuk mind map).

Jadi, seperti apa desain pembelajarannya? See below, please.


DESAIN PEMBELAJARAN

Tujuan Umum

Menjadi perempuan profesional yang mampu melakukan peran sebagai individu, istri dan ibu dengan baik

Tujuan Khusus

Bergabung menjadi pengurus organisasi (IIP dan PHI)

Materi Pembelajaran

 

Kegiatan Pembelajaran

 

Evaluasi Pembelajaran


Alhamdulillah, akhirnya selesai jugaaa! Sebelumnya saya sempat ragu antara mau dibuat dalam bentuk tabel atau mind map. Akhirnya saya memilih mind map, and I don’t regret it at all! Kelihatan rapi tapi tetap ada sisi estetikanya, hehehe.

FYI, saya membuat mind map ini via ponsel (Android), lho. Lebih tepatnya pakai aplikasi Mindly. Silakan coba cek di Google Play, ya!

NHW #4: Throwing Back and Moving Far Ahead

Berbeda dari NHW-NHW sebelumnya, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan NHW yang keempat ini.

Apa isi NHW #4? Cukup panjang, jadi saya tidak akan menuliskannya lagi di sini. Intinya, saya harus me-review kembali apakah NHW #1, #2, dan #3 sudah sesuai dengan misi hidup saya atau tidak.

Misi hidup? Yes. Itulah kenapa postingan kali ini saya beri judul Throwing Back and Moving Far Ahead. Throwing Back, karena saya harus menoleh lagi ke belakang untuk memeriksa kembali jawaban NHW-NHW saya yang terdahulu. Moving Far Ahead, karena kali ini saya harus menetapkan sebuah misi hidup yang dituangkan menjadi sebuah target jangka panjang. Tidak hanya sebagai istri dan ibu, tapi juga sebagai individu yang bisa memberikan manfaat untuk orang di sekitar saya.

Saya dulu berpikir: dengan menjadi istri dan ibu penuh-waktu yang baik, saya sudah menjalankan peran saya seutuhnya sebagai seorang wanita. Tapi ternyata tidak.

Saat sesi tanya-jawab di kelas, saya sempat bertanya, apakah boleh bila misi hidup saya berkisar di lingkup keluarga saja? Jawaban Bu Fasil berikut ini sangat menohok saya.

Salah satu misi hidup, paling tidak… ada untuk membawa kebermanfaatan diri untuk orang-orang sekitar.

I was enlightened. Wah, ternyata selama ini saya egois sekali. Saya hanya berkonsentrasi penuh pada keluarga kecil saya sendiri tanpa pernah serius berpikir bagaimana caranya untuk membuat diri saya menjadi individu yang mampu memberikan manfaat untuk sekitar.

Berbicara tentang memberikan manfaat untuk orang lain, mungkin ada yang berpikir: membuat postingan yang berisi kebaikan di media sosial itu juga termasuk salah satu contohnya kan? Tidak perlu susah-susah membuat misi hidup, apalagi target jangka panjang segala.

Uhm, iya. Tapi setelah saya renungkan lagi, I know that THIS is so much more than that. Dengan menetapkan misi hidup, sebenarnya kita tidak hanya melakukannya untuk orang lain, tapi juga untuk diri kita sendiri.

Apa maksudnya? Begini. Apa yang akan terjadi bila kita sudah punya misi hidup yang jelas dan terukur? Kalau saya, saya pasti akan terpacu untuk mencapai misi tersebut. Kalau sudah begitu, saya pasti akan mencari cara bagaimana agar target/misi itu bisa terealisasi dengan baik. Tanpa disadari, saya sebenarnya sedang berusaha meng-upgrade diri sendiri: to bring out the best in me, to challenge my limits.

Dus, akhirnya saya mencoba untuk merancang sebuah misi hidup. Misi hidup saya ini akan membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa tercapai (atau mungkin juga sebentar, wallahualam). Selain itu, saya tentu saja tidak mau jika misi hidup saya ini nantinya malah berpotensi untuk ‘merusak’ peran utama saya sebagai istri dan ibu. Jadi saya memutar otak, hal apa yang bisa saya lakukan yang sekiranya sesuai dengan tujuan awal dibuatnya misi ini, tapi juga bisa memberikan fleksibilitas kepada saya agar saya bisa tetap menjadi stay-at-home mother (jawaban detailnya ada di bagian akhir tulisan ini).

Throwing Back

Pertama-tama, saya harus memeriksa kembali NHW-NHW terdahulu.

Di NHW pertama, “belajar ilmu agama” sudah terpilih sebagai jurusan pilihan saya di Universitas Kehidupan. Alhamdulillah, saya tidak perlu mengubah apapun karena jurusan yang saya pilih ini masih sangat relevan dengan misi hidup yang telah saya buat.

Di NHW kedua, saya membuat tiga buah checklist. Sayangnya, tidak semua poin dalam checklist bisa saya praktikkan secara langsung karena keluarga saya sedang berada dalam masa transisi. Kami sedang dalam proses pindah rumah sehingga situasi sama sekali belum kondusif. Untuk isinya, saya rasa saya belum perlu melakukan perubahan.

Di NHW ketiga, saya menuliskan bahwa peran saya yang paling krusial adalah sebagai fasilitator dan coach anak yang notabene adalah seorang homeschooler (di mana saya dan suami bertanggung jawab langsung terhadap pendidikan anak kami). Untuk yang satu ini juga saya tidak perlu mengubah apapun, tapi saya akan menambahkan satu poin lagi sehingga nantinya terbentuklah misi hidup saya secara keseluruhan.

Moving Far Ahead

Jadi, apa misi hidup saya? Misi hidup saya (berkisar di bidang pendidikan dan pengasuhan anak) adalah sebagai berikut.

1) Menyumbangkan segenap pikiran (dan bila perlu tenaga) saya agar para ibu dan calon ibu lain bisa ikut tercerahkan sebagaimana saya tercerahkan saat mengikuti Kelas Matrikulasi IIP

2) Menyumbangkan segenap pikiran (dan bila perlu tenaga) saya untuk mengedukasi publik mengenai Homeschooling (selanjutnya disingkat HS) agar kami, para praktisi HS, bisa menikmati proses pendidikan tanpa adanya diskriminasi

Dengan begitu, peran yang ingin saya mainkan ada dua: menjadi pengurus Institut Ibu Profesional dan menjadi anggota Perserikatan Homeschooler Indonesia.

Untuk bisa mencapai dua peran itu, ada beberapa tahap ilmu yang harus saya kuasai.

– Bunda Sayang: ilmu seputar pengasuhan anak
– Bunda Cekatan: ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
– Bunda Produktif: ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial, dan lain-lain
– Bunda Shaleha: ilmu tentang berbagi manfaat pada banyak orang
– Ilmu tentang bagaimana menjadi Fasilitator yang baik di kelas-kelas yang diselenggarakan oleh IIP
– Ilmu tentang seluk-beluk HS, kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan HS, dan seterusnya

Agar saya bisa terarah dalam menjalankan misi hidup ini, saya juga perlu menetapkan beberapa milestone.

Tahun pertama:
– menyelesaikan Kelas Matrikulasi
– mendaftarkan diri sebagai anggota PHI
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di PHI bila saya merasa mampu

Tahun kedua:
– menyelesaikan Kelas Bunda Sayang
– bergabung dalam Rumah Belajar IIP Tangsel, terutama RumBel Menulis agar bisa ikut menyumbang ide supaya RumBel Menulis Tangsel bisa berkembang menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Tahun ketiga:
– menyelesaikan Kelas Bunda Cekatan
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Tahun keempat:
– menyelesaikan Kelas Bunda Produktif
– mencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Tahun Kelima:
– menyelesaikan Kelas Bunda Shaleha
– mengikuti program pelatihan untuk Trainer dan Fasilitator
– nencoba untuk mengisi posisi jabatan yang kosong/tersedia di IIP/PHI bila saya merasa mampu

Demikian. Kenapa saya memilih untuk menjadi pengurus IIP dan PHI? Karena saya tahu betul bahwa IIP dan PHI ini adalah organisasi yang ramah ibu dan anak. InsyaAllah, jika saya bergabung ke kedua organisasi ini, ‘urusan domestik’ di rumah tidak akan terbengkalai. Justru, saya yakin bahwa saya akan semakin banyak mendapatkan ilmu-ilmu baru seputar agama Islam, pengasuhan anak, dan sekolahrumah. Ain’t that perfect?

I can feel the fun already. 💃

 

NHW #3: Mulai dari Analisa Diri sampai Surat Cinta buat Si Abi

Tema NHW kali ini adalah “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”. Apa isi tugasnya? Nihhh, dijamin seru parah.

1. Jatuh cintalah kembali kepada suami Anda, buatlah surat cinta yang menjadikan Anda memiliki alasan kuat bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak Anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respons dari suami.

2. Lihatlah anak-anak Anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

3. Lihatlah diri Anda, silakan cari kekuatan potensi diri Anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa Anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang Anda miliki?

4. Lihat lingkungan dimana Anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan Anda? Adakah Anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga Anda dihadirkan disini?

And here are my answers!

POTENSI ANAK

Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences Theory) yang dikembangkan oleh Howard Gardner menjelaskan bahwa seseorang memiliki (setidaknya) delapan cara dalam memahami dunia. Kedelapan cara tersebut dituangkan dalam bentuk delapan kecerdasan: linguistik, matematis-logis, visual-spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

Kami cukup banyak memaparkan Alma dengan berbagai macam aktivitas. Oleh karena itu, dia menunjukkan beberapa perilaku yang menjurus ke beberapa kecerdasan di atas. Namanya juga masih balita, ya. Nah, berikut hasil pengamatan kami sebagai orangtua.

Linguistik

Kecerdasan linguistik ini adalah aspek yang kami lihat paling dominan dalam diri Alma. Mengapa? Karena Alma suka sekali berbicara dan bercerita. Ketika dibacakan buku, seringkali dia memotong di tengah-tengah cerita karena ingin ambil bagian dalam menceritakan alur berikutnya. Apapun yang dia anggap menarik, pasti diceritakan kepada saya/Abinya. Beberapa kali dia mengarang cerita (untungnya tidak menjurus negatif, masih dalam batas aman, murni hasil imajinasi balita semata). Selain cerita, dia juga suka mengarang lagu. Alma justru jarang menyanyikan lagu anak-anak pada umumnya. Dia lebih suka menyanyikan beberapa rentet kata-kata yang sedang dia ucapkan secara spontan. Kalau saya respons, kami jadi terlihat seperti sedang berperan dalam drama musikal, hahaha. Oiya, jenis permainan yang Alma sukai adalah pretend play dan juga role play. Setiap hari pasti ada waktu ketika Alma mengajak boneka-bonekanya berkumpul dan mengajak mereka berbicara. Apa yang mereka obrolkan? Tergantung apa yang sedang dia minati saat itu. Misalnya, kalau hari itu kami membawa dia untuk vaksin, pasti seharian dia akan membahas itu dengan boneka-bonekanya (bonekanya disuntik dan dia akan berusaha menenangkan si boneka bahwa disuntik itu tidak apa-apa, sakitnya cuma sebentar, dan seterusnya).

Naturalis

Di rumah, kami sekeluarga tidak menonton TV. Kami baru mengenalkan screen-time pada Alma setelah dia mulai bisa berbicara dengan lancar, itu pun melalui YouTube (karena kontennya bisa kami atur/pilih). Kami sering mengajak Alma menonton video tentang kehidupan hewan di alam liar ataupun di penangkaran. Hasilnya, Alma jadi hafal cukup banyak jenis binatang dan bagaimana mereka hidup. Di rumah, kami juga selalu mengajak Alma mengamati hewan dan tumbuhan apapun yang kami temukan. Anjing, kucing, cacing, lintah, pohon jagung, ulat, burung, putri malu, serangga, cicak, rerumputan, katak, kecebong, bunga, tokek, ayam, dan banyak lagi lainnya. Oiya, Alma suka sekali bermain air dan keluar mengeksplor alam. Dia suka sekali mengamati hujan, bulan, dan awan di jendela kamarnya. Mungkin ini kenapa sebabnya Alma tidak bisa tahan jika harus berada di dalam rumah seharian.

Visual-Spasial

Perilaku Alma yang paling menonjol terkait kecerdasan spasial: Alma sangat eksploratif secara fisik. Kalau diberi mainan baru, dia akan langsung mencoba satu persatu fitur-fitur yang ada pada mainan tersebut. Semua akan dipencet, diputar, digeser berulang-ulang sampai dia hafal keseluruhan fungsinya. Kalau sudah, dia pasti akan berlanjut membalik mainannya untuk mencari kotak penyimpan baterai dan dia akan meminta saya untuk membukanya. Yang paling membuat saya ketar-ketir adalah Alma sekarang sangat menyukai keyboard dan tombol-tombol berwarna-warni yang ada di layar ponsel. Sudah sering sekali dia mengirimkan gambar, audio dan teks di akun media sosial dan messenger saya (she really knows how to do it, she knows several functions of the buttons). Selain itu, Alma juga suka sekali melompat dan memanjat. Yang paling terakhir dan membuat saya kewalahan adalah ketika dia menyadari bahwa dirinya bisa naik (memanjat) ke atas stroller sendiri tanpa bantuan. Walhasil dia jadi naik-turun stroller berulang-ulang selama beberapa menit tanpa henti.

Musikal

Ini berkaitan dengan kesukaan Alma dalam ‘mengarang’ lagu (seperti yang sudah saya jelaskan di atas). Alma biasanya otomatis mengayunkan kepala atau menggoyangkan badan jika ada musik atau lagu diputar. Itu sebabnya kenapa Alma jadi suka sekali mendengarkan suara adzan. Bagian favoritnya adalah di tiap suku kata terakhir ketika muadzin meliukkan suaranya. Alma jadi suka menirukan suara adzan (bagian Allahu Akbar-nya saja), dan dari situ secara tak langsung Alma jadi bisa menaikturunkan suaranya membentuk nada-nada, berurutan dari tinggi ke rendah dan juga sebaliknya.

 

POTENSI SAYA

Wah, di sini saya harus menganalisa diri sendiri, ya. Baiklah, saya akan coba sebutkan beberapa potensi saya (yang saya sadari) di sini ya.

Saya sangat suka belajar bahasa Inggris dan mempraktikkannya. Berawal dari kegemaran mendengarkan dan menyanyikan lagu berbahasa Inggris, lambat laun saya jadi lumayan mahir menirukan gaya bicara penutur asli (native speaker), hehe. Oleh karenanya, dulu pun saya cukup sering mengikuti lomba-lomba pidato dan debat berbahasa Inggris. Dari segi tata bahasa juga saya tidak buruk. Saat kuliah, saya sempat menjadi grammar nazi di sosial media (dan sekarang saya menyesal, hahaha).

Saya sangat perfeksionis. Saya seringkali tidak tahan kalau melihat seseorang, sesuatu, atau keadaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Ini sangat bisa berujung negatif (dan beberapa kali seperti itu), tapi ternyata kadang bermanfaat juga. Terlebih karena pekerjaan saya adalah seorang pendidik (saya dulu sempat jadi Tutor di salah satu Learning Centre). Jika waktunya mencukupi, saya tidak akan berhenti menjelaskan kalau murid saya belum mengerti betul tentang apa yang saya ajarkan (ini memungkinkan, karena saya mengajar dalam kelompok-kelompok kecil). Pemikiran saya juga cukup sistematis. Kalau siswa tidak mengerti dengan cara A, maka saya tidak akan membuang waktu untuk lanjut menjelaskan dengan cara A. Saya akan otomatis mencari cara B, C, dan seterusnya sampai siswa bisa memahami materi dengan baik.

Saya juga suka sekali membaca, menulis, dan menggambar.

Nah, dengan potensi-potensi yang saya miliki tersebut, saya jadi menyadari peran yang sudah direncanakan Allah kepada saya. Saya menikah dengan pria yang berkarakter tenang, tidak berapi-api seperti saya. Suami saya irit bicara, tidak cerewet seperti saya. Saya mudah larut dalam stres jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, sebaliknya, suami saya masih bisa berpikir jernih di saat-saat seperti itu. Saya ini mudah mengoreksi orang terdekat saya sehingga bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan (khusus orang terdekat, kalau orang lain saya tidak terlalu mau ikut campur). Saya beruntung karena suami saya masih bisa maklum menerima koreksian saya itu (walaupun saya tahu dia jengkel sekali, namanya laki-laki, sesuai fitrah mereka pasti punya harga diri yang tinggi, terutama di depan wanitanya). Terkadang saya malah dibecandai sampai saya hanya bisa terkekeh sebal. Intinya, dia memahami betul kenapa saya bisa seperti itu.

Dari segi latar belakang pendidikan, saya adalah ‘orang Science’ sedangkan suami adalah ‘orang Akuntansi yang hobi Koding’. Kami jadi saling melengkapi. Misalnya, dalam hal memilih buku anak bertema Science untuk Alma, biasanya saya yang lebih sering memilihkan. Kalau urusan memilih bank, metode KPR, dan seterusnya pasti saya serahkan ke suami karena saya kurang begitu paham. Ketika saya mulai menekuni dunia blogging, suami sayalah yang membantu membuatkan domain blog dan memberikan saran-saran kepada saya.

Suami saya bekerja di kantor pemerintahan. Di hari kerja, suami hanya bisa beberapa jam saja berada di rumah. Oleh karena keperfeksionisan saya, saya jadi tidak rela jika harus bekerja di luar rumah meninggalkan Alma sendirian dengan orang lain. Alhamdulillah, suami pun satu suara. Saya percaya bahwa sayalah pendamping bermain belajar terbaik Alma karena saya yang paling tahu kelebihan dan kelemahannya. Terlebih lagi, Alma memiliki temperamen yang mirip seperti saya, jadi saya sangat memahami beberapa sifat Alma yang seringkali membuat orang lain ‘gagal paham’.

Sampai pada suatu hari, kami mengambil sebuah keputusan besar: kami berencana untuk tidak menyekolahkan Alma di sekolah formal. Kami akan mengambil jalur informal untuk pendidikannya, yaitu sekolahrumah alias homeschooling.

Dalam menyelenggarakan homeschooling, peran orangtua teramat besar. Orangtua harus mau secara konsisten belajar untuk menjadi fasilitator dan coach yang baik untuk anak. Jadi bukan hanya sekedar menjadi guru yang mengajarkan mata pelajaran di rumah.

Saya pun lega. Dengan berbekal potensi-potensi yang saya miliki (mulai dari sifat sampai latar belakang pendidikan), akhirnya saya tahu kenapa Allah menghadirkan saya di tengah-tengah keluarga kecil saya ini. Kalau menyadari peran saya yang sangat krusial dalam keluarga saya ini, kadang terbersit rasa deg-degan juga. Tapi bismillah, semoga jalan kami senantiasa di-ridhai dan dimudahkan Allah SWT.

 

TANTANGAN DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DAN APA YANG BISA KAMI LAKUKAN

Akhir bulan ini, saya sekeluarga akan kembali menetap di rumah kami yang mungil di Tangerang. Rumah kami berada di dalam kompleks yang nyaman dan asri. Hanya saja, kompleks perumahan kami belum memiliki fasilitas umum berupa masjid. Di luar kompleks pun belum ada masjid yang nyaman yang bisa dijangkau dalam waktu singkat. Tentu saja, Abi dan saya cukup concern mengenai hal ini.

Membangun masjid tentu saja tidak semudah memberikan sedekah pada orang yang membutuhkan. Ada banyak sekali pihak yang harus dilibatkan dan dana yang harus dikumpulkan. Kami sadar bahwa kami adalah warga baru yang belum banyak tahu. Oleh karena itu, yang bisa kami lakukan adalah mencoba menyampaikan aspirasi kami kepada pengurus Paguyuban di kompleks kami. Tentu tidak secara frontal, melainkan dengan menyelipkan bahasan-bahasan mengenai betapa nikmatnya kalau kami memiliki masjid di dalam kompleks ke dalam obrolan sehari-hari, apakah memungkinkan bila nanti dibangun masjid, dan seterusnya.

Selain masjid, di sekitar kompleks perumahan kami juga belum banyak penjual makanan. Padahal demand-nya besar sekali. Beberapa ibu sudah berinisiatif untuk menjual berbagai macam produk makanan di rumah. Tentu saja, saya juga jadi merasa tertantang untuk melakukan hal yang sama.

 

A LOVE LETTER FOR YOU, HUBBY

Bi, dulu, sebelum aku ketemu kamu, aku sering banget ngerasa desperate. Rasanya, aku nggak punya satu manusia pun yang bisa aku percaya di dunia ini. Padahal, banyak banget masalah-masalah kompleks yang aku pendam bertahun-tahun, tapi aku nggak bisa keluarin itu semua.

Aku dulu sering lho Bi mikir: aku pasti nanti hidup sendirian selamanya. Mana ada laki-laki yang tahan hidup selamanya sama orang gila kaya aku?

Tapi untungnya, aku masih ingat Allah, Bi. Waktu hampir lulus kuliah dulu, aku pasrah sepasrah-pasrahnya. Aku cuma punya satu bekal doa yang pertama kali aku baca artinya, aku langsung tau kalo doa inilah yang selama ini aku cari.

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.”

Bagus banget ya Bi doanya? Sampai sekarang, kalau aku baca doa ini di tengah keheningan malam, aku pasti nangis lho, Bi.

Kaya sekarang.

Tau nggak, Bi. Allah tuh sayaaaaaang banget sama aku. Aku juga heran. Padahal aku ini siapa sih. Dosa juga nggak tanggung-tanggung banyaknya. Tapi Allah selalu sayang sama aku (I love You, too, Allah!).

Buktinya, setelah aku baca doa itu teruuus-menerus, Allah akhirnya dengerin aku, Bi. Tiba-tiba, Allah ngirim kamu.

Aku inget banget pertama kali kita ketemu, di warung nasi Padang depan kampus! Hihihi, kamu tuh dulu lucu banget tau, Bi. Udah cungkring, pendiem banget lagi. Padahal kalo di Facebook demennya ngeledekin. 😆

Ah, jadi inget. Kita dulu lumayan ‘akrab’ ya di Facebook. Akrab saling ledekin maksudnya. Inget nggak Bi,  kamu dulu panggil aku ‘Medusa’, aku bales panggil kamu ‘Jenglot’.  Ngeselin. 😂

Mana aku tau kalo beberapa tahun kemudian ternyata Medusa malah jatuh cinta dan nikah sama Jenglot. 😂

Makasih ya, Bi, udah sabar sama aku. Udah mau jadi tempat luapan tangisku. Padahal aku sering banget ngomel-ngomel, bahkan nyalahin kamu waktu ada yang nggak beres dikit di rumah. Percayalah, Bi. Itu cuma kamuflase aja. Sebenernya aku lagi marah sama diriku sendiri. Jangan diambil hati ya, Bi.

How can I hurt a man like you?  Aku sama sekali nggak mau, Bi. Tapi otak dan alam bawah sadarku nggak bisa diajak kompromi.

Tapi aku ngerti kalo kamu ngerti bahkan tanpa aku nulis surat ini. Abisnya kita sering yah ngomongin ini. Tapi kan tetep, Bi. I have to say it properly. *peluk!*

Apa aku beraniin diri buat ke psikolog aja ya, Bi? Gimana Bi menurutmu? Alhamdulillah di IIP ini aku ketemu perempuan-perempuan keren, Bi. Beberapa ada yang ‘sakit mental’ kaya aku juga, dan kemarin ada yang ngajakin temen-temen buat ke Psikolog bareng (bagi yang ngerasa butuh). Aku takut deh, Bi. Tapi aku emang butuh sih, ya?

Tuh kan, bikin surat cinta, ujung-ujungnya aku malah curhat sama kamu Bi. Gimana sihhhh. Ke-bi-a-sa-an. 😑

Pokoknya aku sayang, cinta banget sama kamu, Bi. Titik! You are my true comfort zone. Stay with me and Alma forever and ever, ya Bi. We can do this TOGETHER! 😘

NHW #2: Indikator Profesionalisme Perempuan

Renungan

Untuk NHW kali ini, saya dan teman-teman sekelas harus membuat checklist.

Sebagai perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak, seringkali saya merasa dipaksa untuk menjadi seorang Wonder Woman. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dilakukan agar semua aspek kehidupan rumah tangga bisa berjalan sesuai keinginan.

Tapi nyatanya, saya bukan Wonder Woman. Saya manusia biasa. Seringkali saya lupa dan khilaf sehingga ada cukup banyak hal yang terjadi tidak sesuai harapan.

Lalu, apakah saya harus berhenti di situ? Pasrah saja dengan keadaan? Tentu tidak. Keadaan tidak akan bisa membaik sendiri kalau tidak saya perbaiki.

Berangkat dari renungan di atas, saya jadi menyadari tujuan dari tugas yang diberikan kali ini. Tugas ini sebetulnya bisa menolong saya dan para ibu lainnya agar kehidupan kami bisa berubah menjadi jauh lebih baik. Bukan dengan serangkaian kata-kata yang berisi angan-angan dan bisa hilang tanpa jejak, melainkan dengan serangkaian aksi yang meskipun terlihat kecil, pasti akan berdampak besar bila dilakukan dengan sepenuh hati.


Checklist Milik Saya

Checklist ini berisi hal-hal yang sangat detail tapi juga sederhana yang harus saya lakukan setiap hari atau setiap minggu (tergantung aktivitasnya). Hal-hal seperti apa? Jawabannya jelas: hal-hal yang bila dilakukan akan meningkatkan kualitas saya sebagai individu, istri dan juga ibu.

Saya yakin sekali, meskipun terlihat sederhana, setiap aktivitas yang tercantum di bawah ini kalau digabungkan dan bisa saya lakukan secara konsisten, pasti akan memberikan perubahan yang besar dalam kehidupan keluarga saya. Perubahan yang positif, tentunya.

Berikut tabel yang sudah saya buat bersama dengan suami.

Indikator sebagai Individu

Indikator sebagai Istri

Indikator sebagai Ibu

Demikian.

P.S.: Duh, baru NHW #2 aja udah kaya gini ya. Hahaha

NHW #1: Ilmu Apa yang Ingin Saya Pelajari?

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini dibuat sebagai jawaban atas Nice Homework (NHW) pertama saya di Kelas Matrikulasi IIP Tangsel 1.

Namun, saya sangat berharap bahwa tulisan ini bukan semata-mata dibuat satu kali untuk kemudian ditinggalkan dan terlupakan. Boleh dibilang, tulisan ini adalah semacam acuan, pengingat, bahwa ada yang harus saya realisasikan.

Nama saya Yossie Dewi Arisandy. Umur saya 26 tahun. Saya adalah ibu dari seorang putri lucu dan cerdas bernama Alma Khaira Faizunnisa. Umurnya kini sudah 2 tahun. Selain menjadi ibu, saya juga istri dari seorang laki-laki luar biasa bernama Reza Darmawan.

Fiuh…… Setelah membaca lagi paragraf di atas, mata saya terasa berkaca-kaca. Saya merasa… kecil. Saya masih tidak percaya bahwa Allah sebegitu baiknya kepada saya. Bagaimana seorang perempuan seperti saya bisa dikaruniai suami yang shalih dan anak perempuan yang juga shalihah seperti mereka berdua?

Apalah saya ini. Ilmu agama yang saya miliki masih sangat pas-pasan. Bukan, saya sama sekali bukan sedang merendah. Ilmu agama saya memang pas-pasan. Shalat pun kadang masih suka menunda. Kalau kebetulan sedang ikut pengajian/seminar dan orang-orang di sekitar saya mulai mengobrol menggunakan istilah-istilah yang tidak saya mengerti, rasanya langsung ciut. Berkali-kali saya harus bertanya ke suami. Itu artinya apa? Ini artinya apa? Maksudnya bagaimana?

Saya tahu, suami saya akan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘receh’ saya. Tapi tetap saja, kadang saya malu sendiri.

Terlebih lagi, saya seorang ibu. Bulan depan suami saya akan kembali ke kantor (kebetulan selama dua tahun terakhir suami saya mendapat amanah Tugas Belajar). Kami bertiga tidak akan bisa lagi berkumpul seharian, tujuh hari dalam seminggu, seperti sekarang. Di hari kerja, saya akan berdua saja dengan Alma.

Saat ini, Alma sedang berada dalam rentang usia emas. Periode usia emas seorang anak adalah di lima tahun pertamanya. Alma hanya punya tiga tahun lagi tersisa. Padahal di rentang usia emas inilah kepribadian anak terbentuk. Apapun yang diterima anak akan menjadi penentu masa depannya. Saya sama sekali tidak ingin usia emasnya nanti berlalu dengan sia-sia.

Sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk mengeluarkan potensi terbaik Alma sekaligus membuat Alma terkagum-kagum dengan indahnya Islam.

Tapi saya ini punya apa? Saya tidak punya bekal yang mumpuni untuk melakukan itu. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Saya rasa ilmu juga seperti itu. Bagaimana saya bisa membimbing Alma dalam menjalani hari-harinya bila ilmu yang saya punya pun masih begini-begini saja?

Oleh sebab alasan-alasan itulah saya ingin sekali belajar lebih dalam tentang Islam. Namun seringkali saya masih bingung harus mulai dari mana.

Mungkin karena saya belum pernah sekalipun meluangkan waktu untuk benar-benar memikirkan jalan keluarnya.

Dan akhirnya, sekarang juga saya harus ‘memaksa diri’ untuk mulai menuliskan beberapa rencana agar saya bisa menjadi ibu pendidik yang lebih baik. Poin-poinnya saya tuliskan dalam bentuk paragraf-paragraf di bawah ini.

Pertama. Tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya bergabung ke dalam komunitas Ibu Profesional. Tanpa direncanakan? Bagaimana bisa? Karena sebetulnya yang mendorong saya untuk mendaftar adalah suami. Baru kemudian saya sadari (setelah browsing sana-sini tentang IIP) bahwa IIP sesungguhnya bisa menjadi titik awal dalam usaha saya dalam membekali diri dengan ilmu agama dan pengasuhan anak. Dan memang benar, 45 teman sekelas dengan satu fasilitator kami adalah para ibu yang memiliki latar belakang berbeda-beda tapi tetap bisa saling menginspirasi satu sama lain. InsyaAllah kami siap belajar bersama-sama.

Kedua. Yang ini sangat spesifik. Saya terinspirasi oleh salah satu teman yang juga adalah member IIP, tapi lebih senior dari saya (halo, Mba Lulu!). Beberapa waktu lalu, beliau mengikuti Pelatihan Mengajarkan Balita Membaca Alquran. Setelah mengikuti pelatihan itu, beliau langsung mempraktikkan ilmu yang sudah didapatnya. Ternyata prosesnya menyenangkan sekali! Sama sekali tidak ada unsur memaksa, anak tidak harus membaca Alquran begini atau begitu. Metode yang dipakai sangat sederhana dan toddler-friendly, membuat saya teringat dengan metode Montessori (metode belajar favorit saya dan (saya yakin) banyak ibu lainnya). Saya malah berpikir bahwa cara ini bisa membuat saya ikut belajar juga. Jadi, jika pelatihan ini nanti dibuka lagi, saya wajib ikut (insyaAllah)!

Ketiga. Saya harus mulai rutin membaca Sirah Nabawiyyah. Sirah Nabi ini yang saya tahu adalah semacam biografi Rasulullah SAW, jadi saya pasti akan suka membacanya. Sirah Nabi ini saya anggap sebagai pintu gerbang bagi saya untuk mengetahui lebih banyak tentang Rasulullah SAW. Tak kenal, maka tak sayang. Bagaimana bisa cinta Rasul bila detail tentang kehidupannya saja saya tidak tahu? Beberapa fakta yang saya tahu tentang Sirah Nabi: sumber syariat Islam ada dua, yaitu Alquran dan Sunnah. Jadi kita tahu bahwa kedudukan Sunnah ini tinggi sekali, ya. Nah, Sunnah ini dapat kita pahami dengan baik ketika kita telah mempelajari Sirah Nabi.

Keempat. Saya harus memperbaiki keseharian saya. Shalat harus tepat waktu, harus mulai rutin tilawah, mempertebal hafalan surah-surah, dan ikut pengajian rutin. Terlihat sepele, tapi sangat berat dijalani.

Satu lagi, setelah mendapatkan materi tentang adab menuntut ilmu, saya juga harus memperbaiki beberapa sikap  saya yang bisa menghambat proses menuntut ilmu.

Untuk saya pribadi, saya harus berhenti menunda-nunda pekerjaan, mengedepankan konsistensi dan menghindari sikap menyepelekan sesuatu. Ini kelemahan terbesar saya. Ah, tidak apa shalat terlambat sedikit. Ah, tidak apa skip tilawah sehari. Ah, besok pagi saja menyiapkan kegiatan untuk Alma, dan seterusnya.

Demikianlah. Semoga apa yang saya tuliskan ini dapat terealisasi dengan baik. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Doakan saya, ya! 😊🙏