Rekrutmen Kepengurusan IP Tangsel: Interview

Hari Minggu pagi kemarin, tahapan keempat rekrutmen pengurus IP Tangsel diadain di Taman Bintaro Jaya Xchange Mall. Tahapan keempat ini dalam bentuk interview alias wawancara.

Dari wawancara ini, aku nangkepnya, para calon pengurus diharapkan memiliki ketahanan diri yang kuat dan bisa mengatur waktu dengan baik. Aku nanya, memangnya sebelum-sebelumnya ada pengurus yang berhenti di tengah jalan? Ternyata ada.

Yang awalnya aku mulai agak santai, sekarang jadi dag-dig-dug lagi. Aku bakal beneran bisa nggak ya?

Terutama perihal time management. Aku bener-bener masih yang learning by doing. Siap-siap jam tidur bakal berkurang. Expecting less.

Kalo udah kaya gini, aku musti inget-inget lagi motivasiku gabung jadi pengurus itu apa. Apalagi jadi pengurus itu nggak dibayar, it’s a volunteer work. Meskipun nggak dibayar, aku yakin aku bakal menerima ‘bayaran-bayaran’ lain yang nggak kalah berharga yang nggak bisa aku dapetin di tempat lain.

Berkumpul bersama para wanita hebat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, saling memberi dan menerima ilmu, belajar bersama, bertumbuh bersama, berjejaring dan memperluas lingkar pertemanan. This is the best (social) environment I could ever have. ❤️

I have received so many good things from IP Tangsel, so I guess, this is my way of paying back to this community. 😘

Ketika Kami Jatuh Cinta dengan Homeschooling

Sejak menikah, bahkan mungkin sejak sebelum kami menikah, saya dan suami sering mendiskusikan banyak hal, membandingkan banyak hal. Salah satunya, kami pernah membandingkan pendidikan formal di Indonesia dengan pendidikan formal di Finlandia, misalnya.

Lalu kami cuma bisa tersenyum kecut.

Anak-anak itu, di gedung sekolah yang sama, dengan orang-orang yang sama, ditemani oleh buku-buku yang sama, belajar lima, bahkan enam hari berturut-turut dalam periode waktu yang sama.

Padahal kita tahu betul, anak-anak yang berangkat ke sekolah itu, mereka berbeda satu sama lain. Setiap anak berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, memiliki kepribadian yang berbeda, memiliki minat belajar yang berbeda, memiliki model belajar yang berbeda, memiliki kecepatan belajar yang berbeda, dan seterusnya.

Di dalam diri setiap anak sesungguhnya terdapat potensi-potensi luar biasa, PASTI, dan potensi ini hanya bisa ‘dimunculkan’ dengan cara-cara yang tepat, yang dapat berbeda untuk setiap anak.

Lalu apa jadinya jika mereka diperlakukan dengan sama, hampir setiap hari?

Itu, ditambah lagi dengan stigma dan tuntutan yang menambah beban berat di pundak mereka.

‘Kamu harus naik kelas’
‘Kamu harus bisa mempertahankan ranking kamu’
‘Jurusan IPA lebih baik daripada jurusan IPS, jadi berusahalah masuk IPA’
‘Kalau tidak mengerjakan tugas, nanti ada hukumannya ya’
‘Anak yang nilainya bagus di semua mata pelajaran itu keren sekali ya’
‘Kenapa kamu susah sekali sih belajar matematika?’
‘Kalau mau masuk SD ini, anak wajib bisa calistung ya’

Dan seterusnya.

Fenomena-fenomena anak salah jurusan, lulusan-lulusan universitas yang bingung harus ke mana, anak-anak yang berperilaku menyimpang, itu semua adalah cerminan nyata bahwa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita.

Kami membayangkan sekolah itu harusnya membuat anak bahagia, bukan hanya bahagia karena bertemu teman-teman tapi juga bahagia karena ia telah mempelajari banyak hal di kelas.

Kami ingin Alma tumbuh seperti itu. Kami jadi tidak tega kalau sampai dia harus masuk ke sekolah formal dengan berbagai macam gejolaknya. 😢 Sampai akhirnya, kami memutuskan bahwa homeschooling adalah pilihan yang terbaik.

Niat kami ini bukan sekadar niat, kami akhirnya mencari tahu lebih jauh tentang homeschooling (HS). Kami mengikuti seminar online tentang homeschooling (masih berjalan sampai sekarang), masuk ke komunitas praktisi HS, juga komunitas orang-orang yang berminat dan berniat mengaplikasikan homeschooling di rumah, jadi kami bisa belajar bersama.

Awalnya memang ada sedikit ragu, mampukah kami?

Tapi ternyata, semakin kami tahu tentang homeschooling, kami malah makin jatuh cinta dan makin yakin kalau kami pasti bisa.

Homeschooling mengembalikan fitrah rumah (dalam hal ini keluarga) sebagai tempat belajar anak yang paling ideal. Homeschooling mengembalikan fitrah orangtua sebagai pendidik terbaik untuk anak.

Siapa sih yang paling mengerti anak-anak kita? Jawabannya pasti kita, orangtuanya!

Bayangkan, anak bisa memilih sendiri hari ini mau belajar apa, mau belajar yang mana dulu, mau belajar di mana, dsb. Kalau sudah bosan, silakan berhenti. Nanti/besok dilanjutkan lagi. Tidak ada paksaan/hukuman.

Terlebih lagi, model-model homeschooling ini sangat beragam.

Ada yang benar-benar menerapkan kurikulum. Kurikulumnya pun bisa pilih sendiri, mau pakai kurikulum nasional? Atau internasional seperti IGCSE, A Level dan teman-temannya? Bebas! Yang penting konsisten dan paham implikasinya.

Untuk orangtua yang merasa tidak telaten menemani belajar secara akademis, bisa pakai jasa bimbel, atau memanggil tutor. It’s really okay!

Semuanya bebas, mau pilih yang mana. Tinggal buat kesepakatan bersama antara orangtua dan anak saja.

Belajar materinya cukup beberapa jam saja. Sisanya anak bebas mengeksplorasi bakat dan minatnya.

Suka berenang? Yuk masuk klub berenang.
Suka main gitar? Yuk ikut kursus musik.

Bahkan ada salah satu praktisi HS yang anaknya punya minat yang besar sekali terhadap serangga. Dia ikut komunitas ‘peneliti’ serangga (iya ada 😆), rajin eksplor ke hutan bersama mentornya, sampai saat usia SD dia sering diundang ke TK-TK untuk menjelaskan tentang serangga (tidak lupa semua koleksi serangganya dibawa semua), bahkan dia pernah mengisi event di UI juga bersama para mahasiswa!

Isn’t that like a dream come true?

Anak belajar bukan karena disuruh, tapi karena memang dia suka. ❤

Beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan kalau mendengar anak yang homeschooling:

Anak HS kalau mau masuk perguruan tinggi bagaimana? Kan tidak ada ijasah?

Sebetulnya, homeschooling ini diakui secara hukum lho. Ada di dalam undang-undang. Hanya saja jumlah praktisi HS di sini belum sebanyak praktisi HS di luar Indonesia (di luar negeri ada jutaan keluarga praktisi HS, di Indonesia ‘masih’ ribuan).

Itulah kenapa ada ujian penyetaraan. Anak-anak bisa ikut ujian paket A (setara SD), B (setara SMP), dan C (setara SMA) untuk kemudian menggunakannya sebagai persyaratan masuk perguruan tinggi, baik negeri/swasta, dalam/luar negeri.

Dan ini bukan sekadar teori. Saya sudah menyaksikan anak-anak HS yang berhasil masuk universitas. Ada yang masuk UI, IKJ, bahkan universitas-universitas di luar negeri.

Lalu, sosialisasi anak HS bagaimana?

Justru, keuntungan HS adalah anak jadi bisa bergaul lintas-umur, tidak melulu dengan teman sebaya.

Mengutip paragraf di salah satu ebook Rumah Inspirasi:

“Dalam pandangan keluarga homeschooling, model sosialisasi vertikal (lintas-umur) adalah model yang paling alami di masyarakat. Sebab, masyarakat sesungguhnya tak pernah dikelompokkan berdasar umur. Keluarga, lingkungan, kantor, organisasi, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya semuanya terdiri atas orang-orang yg berbeda umur.”

“Dengan model sosialisasi lintas umur yang dijalani sehari-hari, keuntungan bagi anak-anak HS adalah mereka tak membutuhkan penyesuaian ketika bersosialisasi dan terjun ke masyarakat. Anak-anak HS relatif tak mengalami kesulitan dan tak membutuhkan proses penyesuaian untuk aktif di organisasi, lingkungan, atau tempat kerja karena lingkungan pergaulannya selama ini selalu lintas-umur.”

Ini bukan berarti anak-anak HS tidak bersosialisasi dengan teman sebaya. Sosialisasi dengan teman sebaya bisa dilakukan ketika anak mengikuti kursus-kursus, bimbel, klub, komunitas-komunitas yang diminati, dsb.

And yes.. insya Allah kami sudah mantap. Kami hanya perlu menguatkan mental, karena PASTI nanti kami akan mendapatkan banyak sekali tekanan, terutama dari keluarga besar.

But we believe that we will make it, just like many other homeschoolers did! 💪