Ibu Rumah Tangga Punya Kartu Nama? Why Not!

Judulnya langsung gitu banget ya, hahaha. Pasti pada bingung deh, emang kalo IRT bikin kartu nama, mau diisi apa? Emang ada gitu yang bisa dibanggain buat dicantumin di kartu nama?

Phew. Pertanyaan ini sesungguhnya butuh proses perenungan mendalam (tsahh) bagi sebagian wanita yang berstatus ‘ibu rumah tangga’ untuk membuat satu atau dua baris jawaban.

Aku pun pernah berada di situasi yang sama.

Sebelum menikah, aku sempat bekerja selama dua tahun di Pinnacle Learning Centre dari 2013-2015 sebagai Tutor. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini. Especially for a fresh graduate, my salary was more than enough, haha.

Aku menikah bulan Desember tahun 2014. Alma lahir bulan September tahun 2015. Saat Alma lahir, aku udah lebih dulu resign sebagai Tutor. Untuk sebagian orang, mungkin ini terlihat seperti keputusan yang tidak mudah. Aduh, sayang ya, padahal baru juga meniti karier, udah resign aja.

(((Meniti karier))) 😂

Well, believe it or not, it was a very easy decision for me. Kalau disuruh milih antara kerjaan atau anak, nggak pake mikir panjang juga aku pasti pilih anak dan ini ada alasannya.

Aku tipe orang yang perfeksionis parah, termasuk untuk urusan menjadi orangtua. Sejak dulu aku udah bertekad: kalo misal aku punya anak, aku bakal urus anakku sendiri. Cita-citaku cuma satu, aku pengen jadi stay-at-home mama. Kenapa? Kok bisa? Ada beberapa alasan pribadi yang aku nggak mau sebutin di sini karena cukup sensitif dan personal (aku nulis ini bukan buat dipake jadi bahan Moms War 😝). Yang jelas, keputusanku udah nggak bisa digoyahkan lagi. Aku sangat beruntung karena punya suami yang sangat mendukung cita-citaku ini.

Yang sebenarnya cukup mengganggu adalah justru, kalau dilihat dari kacamata sebagian orang, keputusan ini seolah-olah aku ambil dengan terpaksa. Seolah-olah yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk pengorbanan.

Seolah-olah menjadi ibu rumah tangga itu tidak sama terhormatnya dengan ibu yang bekerja.

Tapi fase itu udah terlewati sih. Sekarang aku udah nggak pernah lagi ambil pusing. Apalagi abis gabung ke komunitas Ibu Profesional (IP), perasaan sedih karena disalahpahami itu berangsur hilang. Aku bangga karena aku bisa berada di tengah-tengah para ibu yang memiliki pola pikir jauh di depan. Cuma di sini nih ibu bekerja dan ibu rumah tangga bisa berbaur jadi satu saling menguatkan alih-alih saling membandingkan satu sama lain. 🤗

Yang aku tangkap dari serangkaian materi/bacaan yang udah aku dapat selama ini, manusia itu, baik pria ataupun wanita, pada hakikatnya memiliki sebuah kebutuhan dasar yang sama: aktualisasi diri.

A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be ultimately happy. What a man can be, he must be. This need we may call: self-actualization. – Abraham Maslow

Disclaimer: man di sini dimaksudkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang gender.

Nah, berarti para ibu juga punya kebutuhan untuk berkarya alias beraktualisasi diri dong ya. Agar bisa mencapai ini, kita harus mulai berusaha mengenali diri sendiri: mulai dari kelebihan, kekurangan, keahlian, bakat, minat and finally do something about it. Aktualisasi diri nggak bakal tercapai kalau kita hanya duduk diam dan hanya berfokus pada rutinitas domestik.

Karena sesungguhnya, berkarya-menjaga amanah mendidik anak dapat berjalan seiringan, tidak ada yang perlu dikorbankan. – Ibu Septi Wulandani

Yang perlu digarisbawahi adalah kata ‘seiringan’ dan ‘tidak ada yang dikorbankan’. 😉 Yang IRT, urusan domestik bukan alasan untuk kita berhenti berkarya. Yang ibu bekerja di ranah publik juga sama, jangan mengambinghitamkan pekerjaan sehingga anak jadi dinomorduakan.

Aku sendiri gimana? Oh, aku bangga sekali bisa menjadi ibu rumah tangga karena aku sangat menikmati momen-momen saat aku belajar ilmu parenting. Aku juga sangat suka menulis. Melalui tulisan, aku jadi bisa membagikan pengetahuan dan pengalamanku sebagai ibu kepada dunia. Salah satu tempat menulis favoritku adalah blog dan aku berkomitmen untuk bisa rutin mem-posting tulisan-tulisan berkualitas di sini.

Oleh karena itu, kalau diminta untuk membuat kartu nama, aku bakal bikin kayak gini.

Selain itu, kalau ada orang yang minta aku buat memperkenalkan diri, aku bakal kasih narasi kayak gini.

Nah, kalo kamu gimana? Bikin juga yuk ah~

Show off your name cards and make yourself proud, Mothers! 😉

Rekrutmen Kepengurusan IP Tangsel: Interview

Hari Minggu pagi kemarin, tahapan keempat rekrutmen pengurus IP Tangsel diadain di Taman Bintaro Jaya Xchange Mall. Tahapan keempat ini dalam bentuk interview alias wawancara.

Dari wawancara ini, aku nangkepnya, para calon pengurus diharapkan memiliki ketahanan diri yang kuat dan bisa mengatur waktu dengan baik. Aku nanya, memangnya sebelum-sebelumnya ada pengurus yang berhenti di tengah jalan? Ternyata ada.

Yang awalnya aku mulai agak santai, sekarang jadi dag-dig-dug lagi. Aku bakal beneran bisa nggak ya?

Terutama perihal time management. Aku bener-bener masih yang learning by doing. Siap-siap jam tidur bakal berkurang. Expecting less.

Kalo udah kaya gini, aku musti inget-inget lagi motivasiku gabung jadi pengurus itu apa. Apalagi jadi pengurus itu nggak dibayar, it’s a volunteer work. Meskipun nggak dibayar, aku yakin aku bakal menerima ‘bayaran-bayaran’ lain yang nggak kalah berharga yang nggak bisa aku dapetin di tempat lain.

Berkumpul bersama para wanita hebat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, saling memberi dan menerima ilmu, belajar bersama, bertumbuh bersama, berjejaring dan memperluas lingkar pertemanan. This is the best (social) environment I could ever have. ❤️

I have received so many good things from IP Tangsel, so I guess, this is my way of paying back to this community. 😘