Berkunjung ke Pepsodent Dental Expert Centre di Gandaria City

Jeng jeng jeeeng!

Tiga minggu yang lalu akhirnya Alma perdana ikut playdate bareng temen-temen HS. Alma hepi, aku pun juga nggak kalah hepi karena:

1. kebetulan yang ikutan playdate kali ini nggak terlalu banyak, jadi Alma nggak ngerasa overwhelmed, masih masuk zona nyamannya dia (secara dia nggak suka keramaian yes).

2. Playdate kali ini sangat bermanfaat buat Alma. Sebagai seorang toddler yang belum pernah sekalipun berkunjung ke dokter gigi, it was a great chance for her to get a good (first) impression of a dentist.

 

Lanjutin poin kedua, kenapa bisa gitu? Karena kemarin anak-anak periksa giginya di Pepsodent Dental Expert Center. Alma jadi ketemu sama banyak Om dan Tante Dokter Gigi yang seeeemuanya berwajah lively dan engaging. ❀️ Jauuuuuuuh dari kesan horor yang selama ini terlanjur nempel di dokter gigi. πŸ‘

Oiya, di sini anak-anak nggak cuma periksa gigi aja dong. Di sesi pertama, ada storytelling yang dibawakan oleh salah satu Tante Dokgi. Fix emaknya Alma heran, ini beneran dokter gigi nih? Kok pinter banget mendongengnya?

YA TERUS KENAPA, KAN MALAH BAGUS HAHAHA. Mohon saya jangan ditimpuk. πŸ˜‚

Di sesi kedua, anak-anak diajak sikat gigi bareng-bareng. The more the merrier… and easier. 😌 Karena banyak temennya, Alma jadi gampang diajakin sikat gigi. 😎

Terus di sesi ketiga anak-anak dipakein jas dokter cilik terus mereka foto bareng. Ya Allah gemes bangettt. They were all adorable! 😍😍😍

Next, sesi keempat, baru deh anak-anak gantian masuk ke ruangan buat diperiksa giginya. Alhamdulillah Alma mau mangap dari awal sampe akhir, meskipun maunya diperiksa sambil dipangku. No big deal, she still did great~ 😘

Terakhir, anak-anak diajak nonton film pendek gitu. Sayangnya Alma nggak mau gabung nonton lesehan sama temen-temen yang lain, soalnya dia maunya duduk di stool sofa yang teramat dia sukai itu. Yha.

Overall, it was really nice. Yang nggak kalah nice lagi, giginya Alma udah banyak yang harus ditambal: empat gigi seri atas dan satu gigi geraham. CRAY. 😭

Efek positifnya, Alma sekarang jadi suka syeeekali gosok gigi. Sikat giginya dibawa dan DIPAKAI di mana pun dan kapan pun. Luar biasa bukan?

Bahkan waktu di KRL kemarin dia duduk sambil gosok gigi…. yang mana jatohnya malah jadi jorok. πŸ™„ Ya udahlah ya, yang penting kan spirit-nya. Okesip!

Oiya satu lagi, sebelum pulang nggak afdol kayaknya kalo nggak foto bareng. Ini fotonya.

Alma entah kenapa pose setengah membungkuk (ngempet pipis?). Dzak kayak mau berubah jadi Ranger Merah. Makki lumayan, until I saw his face (melow banget, Nak). Dega terheran-heran melihat itu semua (sambil merem). Mikka sebagai yang paling dewasa, cuma bisa ngelirik sambil mesam-mesem. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 

Anakku Pemalu Sekali, Wajarkah?

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini pasti punya karakter unik, berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya, ada yang sejak kecil mudah berbaur dengan orang lain, ada pula yang pemalu.

Ups. Tunggu sebentar. Fun fact: tahu nggak sih kalo sebetulnya tidak ada orang yang dilahirkan pemalu di dunia ini? Well, you might not believe me, tapi ilmu psikologi punya penjelasannya lho.

Alexander Thomas dan Stella Chess (1977) mengklasifikasi temperamen pada anak menjadi tiga kelompok.

Easy: 40% bayi memiliki temperamen ini; mudah menyesuaikan diri dengan situasi baru, mampu menerapkan rutinitas dengan cepat, terlihat ceria dan mudah tenang.

Difficult: 10% bayi memiliki temperamen ini; lambat menyesuaikan diri dengan pengalaman baru, cenderung bereaksi secara negatif dan intens terhadap stimulus dan lingkungan.

Slow-to-warm-up: 15% bayi memiliki temperamen ini; agak sulit berbaur di awal, tetapi lambat laun menjadi lebih mudah.

Apa hubungan antara klasifikasi di atas dengan anak pemalu? Another fun fact: anak-anak yang dilabeli ‘pemalu’ ini sebetulnya adalah anak-anak dengan tipe temperamen slow-to-warm-up.

Yep. It’s all about the speed. Setiap anak mempunyai kecepatannya sendiri-sendiri ketika harus berinteraksi dengan lingkungan baru.

Bila anak bertipe easy dan slow-to-warm-up memasuki sebuah taman bermain yang ramai, misalnya, pasti akan terlihat perbedaan perilaku yang mencolok. Anak bertipe easy akan langsung berbaur di dalam kerumunan dan memilih permainan yang dia sukai tanpa ada rasa canggung. Sebaliknya, anak bertipe slow-to-warm-up akan lebih memilih untuk berdiri agak jauh dari kerumunan sambil mengamati keadaan. Kalaupun ada permainan yang dia sukai, dia akan menunggu terlebih dahulu sampai situasi terasa aman baginya (tidak ada anak lain yang memakai permainan yang dimaksud, misalnya). Bahkan, kalau dia merasa bahwa tempatnya terlalu gaduh dan ramai, besar kemungkinan dia akan menolak untuk bermain di situ.

Klasifikasi temperamen anak ini sama sekali bukan tentang ‘mana tipe temperamen yang lebih baik dari yang lain’. Sama sekali bukan. Anak bertemperamen easy bukan berarti lebih baik dari anak bertemperamen slow-to-warm-up, pun sebaliknya. Sayangnya, seringkali anak bertipe slow-to-warm-up dianggap ‘lebih negatif’ dari anak bertipe easy hingga muncullah label-label negatif yang ditujukan kepada anak (penakut, pemalu, susah bergaul, dll). Ini fenomena yang umum saya temui, mungkin karena jumlah anak bertemperamen easy mendominasi (di data di atas sampai 40%) sehingga karakteristik temperamen ini dianggap sebagai tolok ukur pencapaian keterampilan sosial seorang anak. While we clearly know that it does not work that way.

Label-label inilah yang sesungguhnya berbahaya jika dipaparkan pada anak secara berulang-ulang (sadar atau tanpa sadar). Bagaikan mantra. Anak akan benar-benar menjadi apa yang setiap hari kita katakan pada mereka. Tidak ada anak yang terlahir menjadi seorang ‘penakut’. Namun jika kita berulang kali memberitahunya bahwa dia anak penakut, well, your wish will mostly be granted then. Dia betul-betul akan tumbuh menjadi anak yang penakut. Ngeri, ya? Itulah mengapa sebaiknya kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik saja pada anak-anak. Siapa yang tahu kan ucapan mana yang nantinya dijabah oleh Yang Maha Kuasa?

Tipe temperamen yang dimiliki seorang anak juga tidak ada hubungannya dengan gaya pengasuhanΒ orangtua. They are born with it. Sebaliknya, gaya pengasuhan orangtualah yang harus menyesuaikan temperamen anak.

Kuncinya ada dua: nature (sifat dasar, bawaan) dan nurture (pengasuhan). Alma, misalnya. Alma terlahir sebagai anak slow-to-warm-up. Ini adalah anugerah dari Allah yang saya, ibunya (atau siapapun), tidak akan bisa ubah (nature). Yang bisa saya ubah (atau lebih tepatnya: sesuaikan) adalah pola pengasuhan saya (nurture). Pola asuh untuk anak easy jelas akan berbeda dengan pola asuh untuk anak slow-to-warm-up, meskipun tujuan akhirnya sama: agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal, plus, potensi terbaiknya bisa tergali dengan baik.

Saya sendiri adalah seorang yang bertemperamen slow-to-warm-up. Jadi saya sama sekali tidak terkejut ketika Alma memiliki temperamen yang sama. Justru saya merasa bersyukur karena dengan begini saya jadi paham betul perlakuan seperti apa yang harus saya berikan kepada Alma. Berikut beberapa contohnya.

Saat bertemu dengan orang yang tidak dikenal/lama tidak bertemu, saya berusaha untuk tidak memaksa Alma untuk melakukan kontak fisik saat itu juga, bahkan untuk bersalaman sekalipun. Kalaupun orang yang bersangkutan mengajak bersalaman, saya akan tanyakan terlebih dahulu pada Alma apakah dia mau atau tidak. Oiya, jika pertemuannya sudah direncanakan sebelumnya, saya akan sounding sejak jauh hari dengan siapa Alma akan bertemu sambil menceritakan hal-hal baik tentang orang tersebut agar Alma memiliki ekspektasi terhadap apa yang akan dia hadapi nantinya.

Saya membiarkan Alma menempel pada saya (secara harfiah) pada saat dia berada di tempat/situasi yang asing. Saya akan berusaha agar situasi bisa menjadi aman dan nyaman baginya hingga akhirnya dia bisa berbaur atas inisiatifnya sendiri. Kalaupun pada akhirnya dia tidak mau berbaur tanpa saya, ya tidak apa-apa. Saya akan dengan senang hati mendampingi. Setiap orang punya kriteria keamanannya masing-masing kan?

Saya selalu berusaha untuk menghargai pilihannya atas segala sesuatu, asalkan pilihannya itu tidak merugikan dirinya atau orang lain.

Dalam pikiran saya, saya selalu percaya bahwa this too shall pass. Saya berusaha untuk tidak memikirkan apa yang mungkin orang pikirkan terhadap saya (sebagai orangtua), terlebih lagi komentar-komentar yang tidak berfaedah. Saya meyakini bahwa pola pengasuhan yang sesuai dengan temperamen anak yang sedang saya usahakan (dan penuh tantangan) ini nantinya akan berbuah manis.

Saya selalu berusaha untuk fokus pada kelebihan dan potensi Alma sambil mencari cara untuk mengoptimalkan potensi-potensi tersebut.

Khusus poin terakhir, saya jadi teringat kejadian yang saya dan Alma alami beberapa waktu yang lalu. Ketika itu saya dan Alma baru saja memasuki salah satu bilik toilet di sebuah mal. Tidak sampai tiga detik, Alma langsung menyadari bahwa ada sebuah ponsel (yang tertinggal) di pojok toilet. Dia langsung bertanya kepada saya dengan wajah polosnya, “Mik, hapenya siapa itu?” Saya merasa takjub, bagaimana bisa dia langsung tahu benda apa yang tidak semestinya ada di situ dengan begitu cepatnya? Terlebih lagi letak ponselnya saat itu cukup tersembunyi? Seandainya saya masuk ke bilik itu tanpa Alma, saya yakin saya tidak akan tahu kalau ada ponsel yang tertinggal di situ.

Saya selalu kagum dengan daya observasi Alma (yang seringkali dia pamerkan) ini. Saya yakin, anak-anak bertemperamen slow-to-warm-up lain juga memiliki karakter yang mirip: mereka adalah pengamat yang baik.

Begitulah. Setiap anak memiliki karakteristiknya masing-masing. Orangtua tidak perlu bersusah payah mengubah karakteristik itu (karena niscaya usaha itu akan berakhir sia-sia, atau bahkan lebih buruk dari ekspektasi kita, naudzubillah).

Let’s accept our children for who they are. Don’t take them for granted. Let’s just bring the best out of them instead, using the most appropriate ways. 😘

Weaning with Love: Completed!

Menyusui itu sesungguhnya bukan hanya perihal memberikan asupan kalsium (berupa ASI) kepada anak. Jauh lebih penting dari itu, dengan menyusui, anak merasa sepenuh-penuhnya dicintai.

Bukan berarti yang tidak menyusui tidak bisa membuat anak merasa dicintai, ya. 😊

Seiring anak bertumbuh besar, akan ada masanya ketika anak harus berpisah dengan aktivitas menyusui, alias disapih. Di usia berapakah anak harus mulai disapih? Menurut saya, ini pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Sang Ibu.

Bagaimana dengan Alma? Setelah sekian lama, pada awal bulan Mei saya memantapkan diri untuk mulai menyapih Alma hingga akhirnya sekarang Alma sudah benar-benar lepas dari ASI. Alhamdulillah.

Bagaimana prosesnya? Beberapa hari pertama, momen-momen tersulit adalah ketika jadwal tidur malam tiba. Untungnya, ini sudah sesuai dengan ekspektasi saya. Saya teramat maklum, dari sejak dia lahir ke dunia hingga di usianya yang menginjak 32 bulan, belum pernah sekalipun dia lepas dari ‘nenen’. Nenen sebelum tidur? Wajib hukumnya. Full setiap hari selama 32 bulan penuh. Ketika pada akhirnya Alma harus dihadapkan pada kenyataan bahwa dia tidak lagi bisa menyusu di malam hari, teramat wajar kalau akhirnya Alma menjadi tantrum. It wasn’t an easy goodbye at all.

Di saat Alma tantrum seperti ini, saya hanya menyiapkan tiga hal: makanan/minuman pengganti, stok sabar (tanpa batas) saat menunggu dia menangis sampai lega dan yang terakhir: tawaran untuk dipeluk. Ternyata, yang paling ampuh adalah yang terakhir.

Selama ini, ekpresi kasih sayang paling dominan saya kepada Alma tertumpahkan saat ia sedang menyusu. Saat disapih, pelukan inilah yang akhirnya mampu menjadi pengganti. Sekarang, kalau Alma sedang takut, marah, kesal atau kecewa, dia pasti minta dipeluk. Setelah itu tentu saja saya akan peluk dia seerat dan selama dia mau.

Sesungguhnya, selain Alma, saya pun membutuhkan pelukan ini. Melalui pelukan-pelukan (yang frekuensinya jadi semakin sering) ini, kami saling menenangkan dan menguatkan satu sama lain. Saya juga bisa (secara tidak langsung) memberitahunya bahwa meskipun ia tidak bisa menyusu lagi, bukan berarti kasih sayang yang saya curahkan kepadanya jadi berkurang. Justru, kini kami bisa saling menyayangi satu sama lain dengan seribu satu cara yang lain.

Perubahan apa lagi yang terjadi setelah Alma disapih (selain rutin minta peluk)? Yang paling terlihat adalah peningkatan nafsu makannya. Mungkin ini disebabkan karena Alma tidak terlalu bergantung pada susu. Sebagai pengganti ASI, Alma sekarang mulai mengonsumsi susu UHT. Itu pun saya berikan kalau Alma yang minta. Pasca-disapih, rupanya dia lebih suka beralih ke makanan padat. Saya tidak masalah dengan ini.

Sebagai seorang ibu, satu milestone telah berhasil saya lewati. Masih ada banyak milestones lain yang akan saya dan suami hadapi ke depannya. Saya yakin, setiap ibu yang ada di dunia ini juga pasti telah, sedang dan akan melalui hal yang sama. The fact that I am not alone in this, it gives me strength somehow. I can do this, we all can do this! YOSSHHH!

Tidying Festival – Sentimental Items

The very last task has finally come!

Yep. Sentimental items alias barang-barang yang menyimpan kenangan bagi pemiliknya. Kenapa sentimental items ditaruh paling akhir? Karena sesungguhnya kategori ini sangat berpotensi untuk menghambat proses berbenah.

Let me explain.

Waktu kita memegang benda kenangan yang masih berguna sih pasti no problemo ya, tanpa pikir panjang pasti tetap disimpan. Tapi bagaimanakah ceritanya kalau ternyata selama bertahun-tahun bendanya cuma nyempil aja di pojokan? Mau buang nggak tega. Mau nggak buang, tapi nggak pernah dipakai juga.

In the end, kegiatan berbenah jadi terhambat dan tertunda karena seharian malah galau di pojokan kamar. Finally see the point, right? πŸ˜†

Pertanyaan selanjutnya… ehm,Β barang kenangan kita jadinya ada apa aja nih?

Well,Β  sejujurnya nggak terlalu susah sih buat menyortir barang di kategori ini. Aku juga nggak terlalu inget barang kenangan apa aja yang udah kitaΒ discard (eh, tetiba inget satu: baju bayinya Alma! πŸ˜†). Jadi ya seperti biasa, langsung tunjukin aja lah ya fotonya.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aku kasih keterangan sesuai nomor foto ya.

1. I made this all by myself. The very first birthday present that I give to Reza Darmawan. Jangan tanya tulisan di frame sebelah kanan ya. Aku sama Abi selalu nggak abis pikir kenapa aku kita dulu bisa se-cheesy ini. πŸ˜‚ Karena lucuk, kita shamelesslyΒ pajang ini di rak buku paling atas. πŸ˜‚

2. Bendanya yang di sebelah kanan. Going Merry, the ship of the Straw Hat crew. It’s not just an accessory in a bookshelf. Ini dulu hadiah pernikahan dari salah satu sahabat terbaik Abi. It came with a letter, definitely a heart-warming one. Jadi kita putuskan buat ditaruh di rak buku paling atas juga.

3. Ini kumpulan tiket nonton di mana nontonnya bareng Si Abi. Entah kenapa mau buang kok susahnya luar biasa. Ya udah disimpen aja. πŸ˜›

4-5. Ini komik buatanku, gambarnya manual pake pensil, pen, dsb. Aku bikin ini sebagai tugas akhir/skripsi waktu kuliah dulu. Mana tau kan Alma nanti kalo udah gede mau baca ini, hahaha.

6. Ini map dapat waktu Abi ikut training Certified Ethical Hacker. Hampir nggak pernah dipakai dan sempat akan aku discard tapi dilarang Abi. Well, it’s just his thing. πŸ˜†

7. Persis seperti nomor enam, cuma bedanya ini map dari Training Manajemen Layanan TI.

8. Pin yang didapat dari dalam map nomor tujuh.

9. My birthday present from Abi last year. He made it all by himself. Beli bahannya diem-diem, tau-tau jadi. 😍 Detilnya ada di video di bawahnya ya.

I guess that’s all. Semoga aku bisa lulus Kelas Shokyuu biar bisa lanjut ke Kelas Chukyuu. Amin!

Tidying Festival – Papers

Postingan tentang papers (kertas dan dokumen) kali ini akan menjadi postingan terpendek yang pernah saya buat. Ini cukup aneh karena papers termasuk kategori urutan ketiga dalam seni berbenah ala Konmari, yang berarti menyortir dokumen seharusnya akan lebih ribet daripada menyortirΒ komono alias barang printilan (yang bagi saya sudah cukup ribet ini).

Alasannya adalah karena kami sudah melakukan proses penyortiran sejak dari dua bulan yang lalu saat kami baru saja pindah rumah.

Yes, kami sudah berhasil melewati hari-hari yang gelap itu. πŸ˜‚

Kalau diingat-ingat lagi, dokumen-dokumen yang belum disortir waktu itu ada sekitar dua kardus. Ada BANYAK sekali kertas dan dokumen yang bahkan kami pun heran bagaimana bisa kami tidak membuang itu semua.Β πŸ˜‚

Lalu bagaimana sekarang? Alhamdulillah, dokumen yang sudah tersortir muat dimasukkan ke dalam satu folder saja.

Mohon abaikan tulisan yang jauh dari istilah ‘spark joy‘ di atas. Suami saya memang nekat, padahal dia tahu betul kalo tulisan tangannya jarang-jarang bisa kebaca. 😬

Tidying Festival – Komono (Miscellaneous Items)

Huhuhu, task kali ini ngerjainnya telat nih. I feel so baaad.

Well, kategori yang telah saya benahi kali ini adalah Komono.

Wait, komono? Kimono kali nih maksudnya? Hahaha bukaaan. Komono itu kalau mau diartikan pakai bahasa sehari-hari adalah barang printilan. πŸ˜† Atau kalau dalam bahasa Inggris: miscellaneous items. Yang jelas, komono itu semua benda yang tidak termasuk ke dalam kategori pakaian, buku, kertas ataupun barang kenangan.

Di rumah, sebagian besar benda-benda ini kami letakkan di tiga tempat: rak di kamar tidur, satu kolom terbawah rak buku, dan dua kotak mainan besar. Langsung saja ya saya display di sini. πŸ’œ

 

 

Wadah mainan warna kuning dan oranye itu kami beli di IKEA. Karena Alma lebih suka bermain bebas, akhirnya mainan hanya kami bagi jadi dua subkategori: mainan kecil dan mainan besar.

Wadah-wadah yang ada di rak kamar tidur asalnya bermacam-macam. Ada kotak Calista, laci lemari yang tidak dipakai, sampai kotak bekas mahar juga ada. πŸ˜‚

Demikian penataan komono di rumah kami. Sejauh ini, saya dan suami hanya menemui satu kendala dalam mempertahankan kerapian rak, yaitu ketika Alma mulai mengeksplor area yang terlihat di foto-foto di atas. Entah kenapa, dia suka sekali memindah-mindahkan barang dan menyimpannya di tempat yang tidak lazim. Misalnya, Alma suka sekali menyimpan remote TV di lemari baju atau kulkas.

But I guess that’s another story. Hopefully we will have the problem solved soon. πŸ˜…

 

Pengalaman Ikut Class Meeting Student Exchange (CMSE) Matrikulasi Batch 5

Hola, hola! It’s been awhile!

Beberapa hari ini rasanya mati gaya gara-gara Kelas Matrikulasi udah selesai (tinggal dag-dig-dug nunggu pengumuman kelulusan), hahaha. Untungnya, Tim Matrikulasi IIP Batch 5 ternyata udah nyiapin beberapa aktivitas baru buat kita. Salah satunya, kita diberi program di mana para peserta Matrikulasi bisa gabung dan berkesempatan buat menginspirasi teman-teman antarkelas. Namanya: Class Meeting Student Exchange (CMSE). Begitu tahu info ini, aku langsung super-excited dong.

Too bad, I had a problem.

Salah satu peraturan biar bisa ikut CMSE adalah aku harus punya gambaran social ventureΒ (SV) sendiri. FYI, di NHW kesembilan di mana SVΒ dibahas, aku clearly tulis di situ bahwa untuk saat ini aku belum punya ide terkait SV apa yang bisa aku buat. Lagipula aku anaknya nggak berjiwa wirausaha, jadi ya jujur agak susah buat bikin komitmen di sini.

Kelas Matrikulasi di IIP ini ada di hampir seluruh penjuru Indonesia, online dan offline. Di tiap-tiap kelas, hanya ada lima orang yang bisa berkesempatan buat ikut CMSE sekaligus menjadi perwakilan kelas.

Deep down inside, I didn’tΒ  want to miss this opportunity. Terlebih lagi, ada beberapa teman sekelas yang nyemangatin buat ikut. So hey, let’s just do it!Β 

Aku pun ngajuin diri. Qadarullah, aku dapat slot padahal sebelumnya udah ada lengkap lima kandidat (salah satu temen ada yang baru ngeh kalo namanya tercantum di list padahal sebelumnya ngga ngerasa ngajuin diri πŸ˜…).Β Fortune favors the bold, indeed!

Aku pun mulai banyak merenung. What am I capable of? What am I good at? What are my passions? What can I share?Β Where can I ask for help if I do need one? Dan pertanyaan-pertanyaan 5W-1H lainnya.

Sampai kemudian aku inget momen ketika aku dan Abi ngobrolin ide buat bikin English Day di rumah. Obrolan ringan ini lumayan merembet ke mana-mana. Kita jadi bahas banyak hal, salah satunya tentang beberapa English course yang kita tahu beserta program-programnya.

Pop! A light bulb came on over my head.Β Kenapa aku nggak bikin English Club aja? I’ve got quite enough experience for this. Okelah. Bismillah, cus eksekusi. 😈

Proses bikin profil SV ini terbilang lancar. Yang bikin riweuh malah waktu milih-milih template flyer di Canva. πŸ˜‚

Yak. Pendahuluannya udah cukup. Langsung aku display aja ya semua flyer yang aku udah bikin.

Aku memberanikan diri buat bercita-cita mendirikan satu Rumah Belajar baru di IIP Tangerang Selatan, yaitu sebuah English Club.

Kenapa harus dalam bentuk Rumbel? Karena aku merasa bakal butuh banyak bantuan. Satu-satunya tempat di mana aku punya banyak teman yang tinggal di dekat sini dan tentu saja yang bisa ‘nyambung’ ya di IIP ini. IIP juga sangat ramah ibu dan anak, ini yang paling penting buat aku.

Alhamdulilah, ide tentang Rumbel English Club ini disambut baik sama yang punya IP Tangsel: Mba Adit Marwa. Pengennya sih nanti aku mau ngobrol-ngobrol lebih banyak tentang ini. Tapi masih nanti, tunggu pengumuman dulu, lulus Matrikulasi apa enggak. πŸ˜‚

Ehm. Back to topic. Akhirnyaaa, setelah semuanya udah siap, aku dan empat teman lainnya pun dapat jadwal buat ‘manggung’. Kita dikirim ke salah satu kelas Matrikulasi lain dan di sana kita harus jawab pertanyaan dari para matrikan selama 30 menit penuh. Sukses nggaknya presentasi ini bisa dibilang bergantung sama dua hal: antusiasme para matrikan di kelas tujuan dan pemahaman kita terhadap SV kita sendiri. Kalo yang pertama tercapai, pasti nantinya seru karena kelasnya jadi ‘hidup’. Kalo yang kedua tercapai, kita jadi lebih maksimal dalam jawabin pertanyaan. Lebih all out, begitu.

Awalnya aku kebagian berkunjung (secara online) ke Kelas MIIP Bandung. Tapi karena ada beberapa perubahan teknis, aku jadi pindah ke MIIP Sulawesi 2. FYI, aku mewakili MIIP Tangsel 1.

Akhirnya, hari Selasa tanggal 3 April kemarin aku presentasi. Alhamdulillah, nggak nyangka kalo antusiasme para matrikan di sana besar sekali. Ini pertama kalinya lho aku ngetik nonstop selama 30 menit penuh jawabin pertanyaan satu-satu. That was definitely the fastest 30 minutes in my life!Β πŸ˜‚ Ada yang punya ide mirip-mirip SV-ku dan minta tips-tips terkait idenya itu, ada yang nanya gimana cara cepat belajar bahasa Inggris, ada yang curhat suka malu kalo bikin status berbahasa Inggris di medsos, dan lain sebagainya.

Overall, I was really happy. Hopefully, kalau nanti ada peserta Program Matrikulasi Batch 6 yang baca postingan ini dan ragu-ragu mau ikut CMSE apa nggak, please don’t be! Ikut aja! Grab the chance while it lasts. As long as you stay confident, I guess the rest will follow.

Palingan PR-nya ini sih, merealisasikan SV yang udah dibuat. The most challenging part indeed. πŸ’ͺ

P.S.: Pulang dari Kelas Sulawesi 2, aku dapat sertifikat juga loh. Syenenggg~

P.P.S.: Aku cantumin transkrip chat waktu aku ke Kelas Sulawesi 2 yah.


[4/3, 8:06 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Baiklah bunda sekalian jika ada yang ingin ditanyakan kepada beliau silahkan πŸ™‹β€β™€

[4/3, 8:08 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: ❓saya bund
Bagaimana memulai english fun club..?ini salah satu cita-cita suami saya

[4/3, 8:09 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Mungkin bunda bisa berbagi tips, krn kami sdh memiliki konsep hanya sj mengeksekusinya masih bingung

[4/3, 8:11 PM] Yossie Arisandy: Halo Bun Eva. Suaminya dulu majornya Bahasa Inggris juga kah? Saya pun sebetulnya masih butuh banyak belajar. Hanya saja saya dulu sejak SMP beberapa kali ikut Club di sekolah dan bahkan di tempat kerja. Kalau memulai, yang jelas dibutuhkan adalah peserta. Nah, kalau sudah kelihatan ini pesertanya tipenya kaya gimana ya, lebih suka gaya belajar seperti apa ya, baru nanti saya yang menyesuaikan metodenya yang cocok seperti apa.

[4/3, 8:12 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: ❓kedua saya
Untuk social venture point berfikir sistematis..terkait isu sosial I haven’t got the point bund πŸ˜ŠπŸ™πŸΌ..could u explain to me?

[4/3, 8:14 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Hallo bunda sayang..suami saya bagroundnya sastra arab..tp beliau lebih tertarik dgn bhs inggris..jd nya skrng alhamdulillah dah hampir 10 thun ngajar bhs inggris di sebuah institusi swasta. Thanks jawabannya bund..berarti dlm menetapkan kelompok peserta disesuaikan dgn gaya belajarnya ya bund

[4/3, 8:15 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): πŸ™‹β€β™€bagaimana cara yang paling efektif untuk lulus tes ielts atau toefl bunda?

[4/3, 8:16 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Up bund πŸ˜…..sy tes ketiga kalinya baru lulus itupun krn di genjot sm pak suami.😁😁😁

[4/3, 8:17 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Masya Allah 😍😍😍 Mendingan bun, daripada saya belum lulus lulus πŸ™ˆ

[4/3, 8:17 PM] Yossie Arisandy: Nah, untuk isu sosial saya ada dua.Β Pertama, kurangnya wadah dan lingkungan bagi para ibu untuk belajar Bahasa Inggris, padahal di era seperti sekarang saya rasa kemampuan ini cukup penting.Β Siapa di sini yang kalo ada temennya ngomong bahasa Inggris agak panjang malah diledekin? Hehehe.

[4/3, 8:19 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Ini programnya sangat luar biasa bund…🌸🌸🌸 Untuk kriteria ibu yg di mksd dilihat dr segi usia atau minat sj bund..krn kalau dilingkungan sy ini merupakan momok bagi sebagian ibu ibu…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

[4/3, 8:19 PM] Yossie Arisandy: Kedua, saya ingin membantu mengubah mindset para ibu.Β Ada yang tau metode Konmari? Dengan mempelajari Konmari, kita todak hanya belajar ttg seni beberes. Secara tidak langsung kita juga belajar mengubah mindset tentang banyak hal dan bahkan menterapi gangguan psikologis.Β Mekanisme SV saya juga seperti itu. Berdasarkan pengalaman saya, dengan belajar bahasa Inggris aktif, saya merasa lebih percaya diri dan bisa berpikir dengan lebih logis dan runut.

[4/3, 8:19 PM] β€ͺ+62 852-5510-xxxx: Keren ide sosialnya bunda 😍😍

[4/3, 8:20 PM] Yossie Arisandy: Terutama di era sekarang yang sedikit-sedikit ‘sebarkan agar bermanfaat’ padahal seringkali kita tidak tahu betul sumber informasinya. *uhuk 🀭

[4/3, 8:20 PM] β€ͺ+62 852-5510-xxxx: Saya kalau mau diskusi rahasia dengan suami didepan anak2 suka ngomong pake bahasa inggris, biar tidak ketahuan lagi ngomongin apa bund 🀭

[4/3, 8:20 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Berbinar-binar😍😍😍

[4/3, 8:21 PM] Yossie Arisandy: Iya Bun. Gambaran saya seperti itu. Disesuaikan dengan audiensnya. πŸ˜„

[4/3, 8:22 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Ya bund..sy ikut seminar konmari pekan lalu 😊😊😊 Hebat loh bund..bisa mengaitkan metode konmari dgn belajar bhs inggris.. Mohon dijelaskan bund..benang merahnya seperti apa.. Krn mindset sy masih terperangkap bahwa konmari hanya seni beberes ..just it 😬

[4/3, 8:23 PM] Yossie Arisandy: Banyak-banyak praktik Bun. Grammar itu bisa menyusul.Β Saya dulu awalnya Grammar juga acakadut. Tapi saya suka ngomong. Suka nyanyi. Suka liat film (subtitle diset bahasa Inggris). Lama-lama grammar juga lancar sendiri, alhamdulillah.

[4/3, 8:23 PM] β€ͺ+62 852-5510-xxxx: Kadang kalau mau buat status pakai bahasa inggris diurungkan bund, takut salah sih #nyadar diri bund 😁

[4/3, 8:24 PM] Yossie Arisandy: Nah. Kebetulan karena keterbatasan saya, saya baru bisa menuangkan ini dalam bentuk Rumbel, itu pun di IIP Tangsel saja.Β Kalau jam terbang sudah tinggi, semoga nanti bisa juga bikin event untuk nonmember. Mohon doanya yaa.

[4/3, 8:24 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Sama bunda..πŸ˜…πŸ˜……bahkan sy request ke suami..kalau memang mau marahin sy atau lg kesel pakai bhs inggris aja..jd sambil belajar..πŸ˜†

[4/3, 8:25 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Betul pakai banget..ini juga tips dr suami..jd kalau nonton film katanya jgn subtitle INA but English..😁

[4/3, 8:26 PM] β€ͺ+62 853-9334-xxxx: Insyaallah bund..setiap niat baik akan dibukakan jalan oleh Allah..😊😊

[4/3, 8:26 PM] β€ͺ+62 852-5510-xxxx: Aamiin insyaAllah bunda impiannya terwujud 😍😍

[4/3, 8:27 PM] Yossie Arisandy: Leh uga nih bun. Hahaha. Anak saya baru 2 taun, sekarang mulai nyanyi2 bahasa random ngikutin mamaknya πŸ˜†

[4/3, 8:28 PM] Yossie Arisandy: Kebetulan saya ikut kelas Intensif Konmari Indonesia Bun. Di situ dibahas lebih mendalam. Misal: siapa yg suka laper mata liat barang dan ujung2nya beli tapi nggak dipake dan malah numpuk? Itu sebetulnya ada latar belakang psikologisnya lho Bun.

[4/3, 8:30 PM] Yossie Arisandy: Jangan takut salah Bun. Pede ajaaa. Ini makanya harus ada partner berbahasa Inggris nih. Tapi harus diimbangi dengan jangan takut diberi masukan juga yaa. πŸ˜‰

[4/3, 8:30 PM] Yossie Arisandy: Betuuul. Belajar listening plus grammar juga jadinya.

[4/3, 8:31 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Daaaan waktulah yang membatasi kita malam ini

[4/3, 8:31 PM] Yossie Arisandy: Aammiiinnn… terima kasih doanya bunda-bundaa ❀❀❀

[4/3, 8:31 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Terimakasih bunda yossie, social venture super duper

[4/3, 8:32 PM] Yossie Arisandy: Wah 30 menit bisa secepat ini ya. πŸ˜†

[4/3, 8:32 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Berikut adalah tanda terimakasih kami, untuk bunda yossie πŸ™

[4/3, 8:34 PM] Yossie Arisandy: Terima kasih juga yaa atas antusiasme yang luar biasa dari Bunda-bunda semuanya. Semoga kita selalu bisa saling menginspirasi yaa. Maafkan kalau tadi ada salah ucap, eh, salah ketik. Hihihi.

[4/3, 8:35 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Alhamdulillah kami juga sangat berterima kasih atas kehadiran bunda

[4/3, 8:36 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Baiklah bunda sekalian, saya berkenaan mengantarkan bunda @Yossie Arisandy kembali ke tangsel😊

[4/3, 8:36 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Festival Berbenah: Buku!

Akhirnya sampai juga di kategori ini! Sejujurnya, menyortir buku ini jaaauuuh lebih susah daripada menyortir baju. Sebagai keluarga bookworm, kami merasa sangat attached dengan setiap buku yang kami punya di rumah.

Oleh karena itu, alih-alih menyortir buku habis-habisan seperti saat kami menyortir baju, saya dan suami lebih memilih untuk mencari cara agar seluruh buku mendapatkan kadar kasih sayang yang sama rata dari kami, hehehe.

Saat sudah memiliki anak, kami jadi tidak bisa sebebas dulu membaca buku. Jumlah buku yang bisa kami selesaikan pun jadi menurun drastis. Salah satu usaha suami agar untuk memperbaiki masalah ini adalah dengan membuat ini.

Total buku yang kami punya adalah 239 buku dengan 16 genre yang berbeda

 

Katalog Buku kami

Jadi nanti kami bisa meng-input banyak informasi mengenai perpustakaan kecil kami. Misalnya, buku apa saja yang sudah dibaca, buku mana saja yang sedang dipinjam, dan seterusnya.

Untuk penampakan rak buku kami, karena kami memutuskan untuk tidak men-discard satu buku pun, maka kami hanya menyusun dan menata ulang buku-buku sesuai kategori/genre masing-masing (sebelumnya semua genre campur aduk jadi satu, jadi cukup sulit menemukan buku yang kami inginkan).

SEBELUM
SESUDAH

Tips: Bila belum sempat membeli pembatas buku, agar buku tidak ambruk, posisikan buku terluar menyandar ke buku sebelahnya sampai membentuk segitiga. πŸ˜‰

Sekian untuk postingan kali ini. Sampai jumpa di kategori berikutnya!

Kenang-kenangan dari Fasil Kelas Matrikulasi Batch 5 Tangsel 1

Hari ini, keluarga besar Program Matrikulasi Batch 5 Tangsel akhirnya bisa saling bertatap muka untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu ‘hanya’ bercengkerama melalui platform WAG. Dengan kata lain, finally kita bisa kopdar! Yayayayyy~ 🀩

Alhamdulillah, acara tadi pagi berjalan lancar. Hujan yang ditakutkan akan turun, ternyata lebih memilih untuk tidak menampakkan diri. Dari seluruh rangkaian kegiatan kopdar, pengalaman yang paling mengena di hati justru saat sesi makan-makan. Bukan, saya tidak nambah pesanan makan seperti teman-teman lain yang terlihat kalap melihat makanan milik teman lain yang duduk di kanan-kiri. Ketika saya sedang khusyuk menikmati semangkuk soto, tiba-tiba Bu Fasil (dengan senyuman khasnya) muncul dari samping. Tanpa pendahuluan apapun, saya disodori sebuah ‘kado’ (yang dibungkus dengan rapi sekali) sebagai bentuk apresiasi karena kemarin saya sempat menjadi salah satu Koordinator Mingguan di KelasΒ  Matrikulasi.

I know, right? She’s just too kind.. and too sweet! I should have been the one who gave her some memorable present. Huhuhu.

Begitu sampai di rumah, saya pun langsung buru-buru membuka kadonya. Jeng jeng jeng! Ternyata isinya buku ini!

Definitely love at first sight! Jadi, ini adalah buku yang dilahirkan oleh Rumah Belajar Menulis IIP Banten. Buku ini berisi kumpulan beberapa cerita, bahkan Si Paksu pun langsung minta pinjam dan langsung dia baca saat itu juga. 🀣

Dear Mba Irma, I sincerely want toΒ thank you sooo very much for giving me this. Mba Irma ini tahu betul kalau saya suka menulis, dan buku ini adalah pemberian yang sempurna. Buku ini berhasil membuat saya terlecut untuk terus bisa bersemangat dan konsisten menulis, because yes, writing is indeed my best therapy.

Semoga suatu hari nanti saya juga bisa berkontribusi dalam pembuatan buku seperti ini juga, yaa. Aamiinn. *fingers crossed*