Task 5 Chukyuu – Konmari Habits – Kitchen Komono

Kategori kali ini masih masuk ke kategori Komono, tapi difokuskan ke printilan dan perkakas dapur aja. Untuk kebiasaan-kebiasaan di area dapur emang aku cukup strict ya, wajib dilakukan, soalnya aku selalu masak setiap hari (kecuali hari libur).

So without any more chit chat, berikut kebiasaan-kebiasaan di dapur yang sesuai dengan prinsip KonMari yang biasa aku lakukan  di rumah.

  1. Mengelap sisa minyak dan cairan lain di area kompor gas dan meja dapur setiap selesai memasak dan/atau bila diperlukan
  2. Mengumpulkan sampah sisa bahan masakan segera setelah selesai memasak dan/atau bila diperlukan
  3. Mencuci peralatan makan dan masak segera setelah selesai digunakan
  4. Memindahkan piring, gelas, dan lain-lain dari drainer ke rak dapur di siang atau sore hari
  5. Mengembalikan peralatan dan bahan dapur ke rumahnya masing-masing setelah selesai digunakan (kalau perlu dicuci terlebih dulu, maka kembali ke habit nomor tiga)
  6. Membersihkan kulkas sebulan sekali

Montessori di Rumah – Bagian Satu – Salah Kaprah dan Persiapan

Akhir bulan Juli kemarin, aku gabung di grup Facebook Montessori for Mommies yang dibuat oleh Sony Vasandani dari Sunshine Teachers Training. Kata Sony, ini grup terbuka, jadi feel free yaa kalo mau gabung.

Nah, tanggal 1 Agustus, Sony ngadain Facebook Live yang temanya Specific Montessori Activities to Implement at Home. Durasinya lumayan panjang, hampir satu setengah jam. Biar nggak bosen, isi dari live session ini aku buat jadi tiga bagian, dan postingan ini adalah bagian yang pertama.

First thing first, aku mau bahas motifku dulu, kenapa aku pengen ikut live session-nya. Alasan pertama: ya why not? Kenapa enggak? Ilmu itu investasi yang jangka waktunya limitless, bisa untuk selamanya. Apalagi ini free kann. 😝

Alasan kedua: ya karena aku suka banget sama metode Montessori. Tapiii aku selalu merasa overwhelmed tiap kali liat postingan para ibu hebat di Instagram (internet, generally) yang menampilkan kegiatan-kegiatan Montessori anaknya. Gelagapan di tengah banjir informasi.

For a beginner like me, seeing many of those posts was like looking at scattered puzzle pieces. Aktivitas X menarik banget, tapi tujuannya apa sih? Adakah hubungan antara aktivitas X dan Y? Adakah urutan-urutan tertentu? Apakah aktivitas/aturan XYZ ini wajib, atau boleh di-skip? Apa sih tujuan dasar kita ngelakuin aktivitas-aktivitas ini?

Kayak misalnya nih, akhir-akhir ini aku sering banget lihat temen-temen yang bikin Pojok Montessori alias area khusus untuk anak buat berkegiatan Montessori. Mainan-mainan dan material yang digunakan anak diletakkan di area ini. Jadi kalau mau belajar/beraktivitas Montessorial ya harus di situ, nggak boleh pindah-pindah. Tujuannya agar anak bisa mengenal konsep teritori dan belajar buat konsisten (CMIIW).

Ini bagus banget, but I couldn’t help thinking: kalau rumahnya kecil dan bener-bener nggak ada ruang lebih buat bikin Pojok Montessori gimana? Berarti nggak bisa aplikasiin Montessori di rumah?

Aku nggak kunjung dapet jawaban yang pasti… sampai akhirnya aku dengerin penjelasan Sony. Berikut kutipan lengkapnya.

When we’re implementing Montessori, it doesn’t have to be a place where you are setting up the shelves and everything, it’s the whole home environment.
Montessori at home means we’re taking the whole house. We are not using a corner of the house: this is your area, this is were you have to work, no. It cannot be like that. It has to be the whole house for the child.

Kemudian Sony mulai jelasin satu persatu kondisi ideal seperti apa yang bisa kita usahakan untuk tiap-tiap ruangan di dalam rumah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Montessori, mulai dari teras depan sampai ke toilet. And it all started to make more sense to me.

Aku juga mulai browsing lagi soal Pojok Montessori ini. Kira-kira apa ya yang bikin dua info ini bisa saling kontradiktif? Satunya bilang Pojok Montessori itu penting, satunya lagi bilang enggak.

Ternyata, nama lain dari Pojok Montessori ini adalah The Montessori Work Mat (selanjutnya disebut TMWM). TMWM ini memiliki ukuran ideal tertentu dan dari yang aku baca, TMWM ini biasanya disediakan oleh guru untuk murid-murid di dalam kelas. Kalo di kelas, pasti ada lebih dari tiga anak ya paling nggak. Nah, biar anak-anak nggak saling ‘ngerecokin’ satu sama lain, maka dibuatlah TMWM ini, biar anak tahu batas teritori masing-masing. Make sense  banget yaa.

Nah, I guess, peraturan semacam itu ternyata nggak saklek-saklek amat, nggak harus dilakuin, tergantung konteks. Kalau konteksnya Montessori di rumah, bukan di kelas, berarti udah beda lagi dong ya (again, CMIIW).

Kalau di rumah ada lebih dari satu anak gimana? Berarti bisa nih TMWM dipake? This question suddenly popped inside my head, hahaha. Beklah, kayanya aku harus tanya ke Sony dulu nih. 😆


Mulai dari sini, bahasannya fokus ke Montessori di Rumah yaa.

Ada dua hal yang harus dilakukan sebelum kita, para orangtua, mulai mengaplikasikan Montessori di rumah.

1. Declutter

Siapa yang tahu seni berbenah KonMari? Ini persisss kaya gitu. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan rumah (setting up the environment). Rumah seperti apa yang ideal untuk anak? Jawabannya kira-kira: rumah yang aman di mana anak bisa bebas bergerak dan menjelajah rumah serta bebas mengakses benda-benda yang mereka perlukan secara mandiri, plus, yang tidak mendistraksi anak.

Sebagai orangtua, apalagi orangtua newbie, bawaannya pasti pengen beliin banyak hal buat anak. Baju, mainan, perlengkapan gears, boneka dan lain sebagainya. Sayangnya, anak di bawah 6 tahun nggak memerlukan benda sebanyak itu. Buku? Dua aja cukup, maksimal tiga. Boneka? Palingan yang suka emaknya aja ini sih. Mainan? Ehm, anak biasanya lebih tertarik sama kardus pembungkusnya sih, haha.

Nah, kalo barang-barang itu udah numpuk, yang ada malah tercipta distraksi-distraksi yang tidak perlu bagi Si Anak. Menstimulasi perkembangan anak enggak, bikin anak nggak konsen iya.

Ini juga berlaku buat apparatus Montessori ya. Percuma beli apparatus mahal-mahal kalo nggak tahu gimana cara pengaplikasian yang bener, apalagi kalo ujung-ujungnya cuma dipajang di rak.

Detil tentang bagaimana menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori aku tulis di postingan selanjutnya ya.

Why declutter? Too much things can be very distracting. The less things you have in the house, the better it is for you and your child.

We love our children so much we want to give them everything. The best thing we can do is that we are learning how to do better and to give them our time: without any technology. – Sony Vasandani

2. Observe

Sebagai orangtua, kita harus mulai belajar mengamati anak. Anak kita lagi tertarik sama apa? Kebiasaannya terkait ini dan ini kaya gimana? Materi/aktivitas yang dia udah dan belum bisa apa aja?

Gunanya buat apa? Agar kita tahu apa yang dibutuhkan dan disukai anak (nggak cuma asal nyodorin aktivitas pilihan kita, orangtuanya, padahal anak belum tentu tertarik/suka) dan biar kita tahu cara-cara seperti apa yang bisa membuat anak belajar dengan nyaman dan optimal.

Misalnya, Si Bocil lagi suka coba-coba pake sepatu sendiri. Kita amatin, oh, ternyata dia udah bisa pake sepatu model slip on sendiri. Berarti kita bisa mulai kenalin ke sepatu yang pake velcro. Gimana biar Si Bocil ngerti cara pakenya? Oh, dicontohin. Gimana caranya biar anak cepet nangkep? Oh, waktu ngasih contoh, anaknya dipangku, biar anak bisa ngeliat dari sudut yang sebenarnya kaya waktu dia lagi make sepatu. Udah bisa lepas-pasang velcro? Coba dikasih sepatu bertali. Dan seterusnya.


That’s it. Di dua postingan selanjutnya, aku bakal nulis detil tentang proses menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori dan juga tentang natural consequences and freedom in Montessori ya (berdasarkan materi yang disampaikan Sony).

See you all! Hopefully very soon~

Task 4 Chukyuu – Konmari Habits – General Komono

Berikut adalah benda-benda subkategori general komono beserta penjelasannya.

CD/DVD

Di rumah, kami tidak menyimpan CD ataupun DVD. Jadi ini saya skip ya.

Persediaan ATK

Sebagian besar ATK disimpan di nakas di dalam kamar. Kami konsisten mengembalikan alat tulis ke ‘rumah’-nya setelah digunakan, jadi sejauh ini aman.

Electrical komono

Laptop, hard disk, dan salah satu dari dua handsfree selalu dibawa suami ke mana-mana. Laptop saya sedang error jadi masih disimpan di dalam lemari. Sisanya: power bank, flash diskhandsfree, dan lain-lain selalu berada di dalam kotak di nakas.

Skin care, alat kosmetik dan grooming

Saya sempat mencoba-coba berbagai produk skin care (dengan banyak step itu) dan kosmetik. Hasilnya, sebagai manusia antiribet, ternyata saya hanya rajin menggunakan produk-produk ini: St. Ives Fresh Skin Apricot Scrub, SilkyGirl BB Cushion, Colourpop Lippie Stix Brink-Lumiere-Bichette, Bourjois Rouge Edition Velvet Beau Brun dan Nature Republic Aloe Vera Soothing Gel. Produk yang paling pertama disebut selalu diletakkan di kamar mandi, produk yang paling terakhir disebut selalu disimpan di nakas (bersama parfum, deodoran, sisir dan teman-temannya), sedangkan sisanya selalu saya bawa ke mana-mana (jadi saya letakkan di dalam cosmetic pouch).

Obat-obatan

Sudah ada rumahnya, di nakas juga, dan jarang ditengok. Kami jarang sekali memakai obat-obatan. Untuk kegiatan mengecek tanggal kedaluwarsa, biasanya ini kami lakukan saat mengonsumsi si obat. Kalau sudah ‘jatuh tempo’, langsung discard.

Peralatan hobi

Kami tidak punya hobi khusus yang memerlukan peralatan tertentu.

Peralatan jahit

Saya kurang bisa menjahit, tapi punya beberapa benang dan jarum (yang jarang disentuh). Sudah ada rumahnya juga di nakas.

Koleksi (tanaman, pernak-pernik)

Untuk pernak-pernik, semua kami letakkan di bagian tengah rak buku, sehingga otomatis ikut dibersihkan hampir setiap pagi saat rak buku dibersihkan. Untuk tanaman, kami hanya punya satu tanaman dalam pot, yang kami letakkan di area wastafel tempat mencuci piring, sisanya kami tanam di taman. Kami rutin menyiram taman 1-2 kali sehari.

Handuk, selimut, bed cover, sprei

Benda-benda ini selalu tersimpan rapi di dalam lemari. Untungnya, selama ini kami mengganti sprei sudah sesuai anjuran: maksimal dua minggu sekali. Yang masih PR adalah handuk. Selama ini saya lebih sering menjemur daripada mencuci handuk, padahal ternyata semakin sering handuk dicuci, semakin baik. We’ll surely go the extra mile for this habit.

Mainan anak

Ah, ini yang paling membuat saya pusing kepala dan saya sedang menjalani proses untuk memperbaiki ini. Alma memiliki belasan boneka dan dua kotak mainan yang mana boneka dan mainan-mainan ini sesungguhnya jarang dimainkan. Alma lebih suka bermain outdoor (berlari-lari sambil memunguti daun kering, bebatuan dan sebagainya) atau memainkan benda-benda betulan yang bukan mainan (gelas betulan, sendok betulan, dan lain lain). Yang paling sering dipakai cuma satu: spidol berwarna, ini pun saya masih dalam proses membiasakan Alma untuk merapikan kembali spidol dan benda-benda yang dia mainkan setiap selesai dia gunakan. Ingin rasanya men-discard sebagian besar kategori ini, hanya saja banyak sekali boneka dan mainan ini hasil pemberian dari nenek dan kakeknya. Aku kudu piye iki, peeps. 😭

Well anywayyy, berikut daftar kebiasaan (list of habit) yang saya lakukan terkait kategori general komono.

Task 3 Chukyuu – Konmari Habits – Papers

Sejauh ini, keluarga kami tidak terlalu banyak menggunakan kertas. Dokumen-dokumen penting sudah kami kumpulkan jadi satu di dalam map. Saya sering sekali menulis dan mencatat, semuanya paperless. Beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan: Evernote, Google Docs, blog, dll.

Beberapa kali suami mendapat buku agenda dari kantor. Karena saya dan suami jarang pakai, buku-buku agenda itu akhirnya dipakai Alma untuk doodling, salah satu kegiatan favoritnya. Setelah buku agenda sudah penuh dengan coretan Alma, saya akan mengabadikan beberapa hasil coretan yang paling mengesankan dan memorable dalam bentuk foto. Setelah selesai, buku agenda kemudian saya discard.

Yang paling banyak dan konstan kami ‘hasilkan’ adalah kertas bills dan receipts. Setiap ada kesempatan, saya pasti segera membuang kertas bills dan receipts. Jika ingat dan memungkinkan, saat di meja kasir saya biasanya meminta agar kertas receipt tidak usah digandakan.

Sebagai rangkuman, berikut kebiasaan-kebiasaan terkait kategori kertas yang biasa saya lakukan.

  1. Mengabadikan hasil doodling milik Alma
  2. Men-discard buku agenda yang halamannya sudah penuh terisi
  3. Membuang kertas bills dan receipts
  4. Meminta kasir untuk tidak menggandakan kertas receipts

Ketika Anak Minum Terlalu Banyak Susu

Akyu mau curhat lagi nih. Kali ini perihal kebiasaan minum susu Si Alma.

Flash back, setelah disapih, Alma itu sebenernya jadi ogah minum susu. Waktu itu (setelah melalui banyak pertimbangan) aku kasih Alma susu UHT sebagai pengganti ASI. Kenapa susu UHT? Jawabannya bisa diliat di tabel di bawah ini.

Dicomot dari vetindonesia.com

Karena Alma nggak doyan susu, akhirnya aku memaksakan kehendak dengan selalu menyediakan susu UHT setiap hari buat Alma sambil selalu menyemangati dia buat minum susu. Seperti kata pepatah, bisa karena terbiasa, beberapa minggu kemudian Alma pun jadi suka minum susu UHT. Kenapa aku ngelakuin ini padahal aku udah paham betul bahwa susu itu nggak wajib buat anak usia di atas dua tahun? Karena aku takut di-judge. JENG JENG JENG.

Aku inget banget, Alma berhasil disapih beberapa minggu sebelum libur lebaran. Aku bersyukur karena aku jadi bisa pencitraan di depan keluarga besar: Yossie ibu teladan, berhasil menyapih anaknya walaupun anaknya nenen-addict (silakan kalo mau kentut). Tapi di sisi lain, muncul kegalauan baru: kalo sampe Alma ogah minum susu, pasti nanti Alma disuruh minum sufor.

Disclaimer: aku bukan antisufor. Cumaaa, aku nih anaknya nggak mau ribet. Kalo Alma minum sufor, berarti ke mana-mana aku harus bawa-bawa termos dll. Aku bayanginnya aja udah nggak kuat. Apalagi kalo nanti Alma minum sufor, pasti minumnya (umumnya) pake dot.

Nyapih nenen aja prosesnya nggak instan bin menguras energi, masa mau bikin PR baru lagi, nyapih dot. Alma nenen doang aja gigi depannya udah karies, apa kabar kalo nanti minum susu pake dot.

Nah, daripada ntar Alma didorong buat ngedot, lebih baik Alma minum susu UHT aja. Selain karena paparan di tabel di atas, susu UHT juga antiribet. Ini poin plus banget. Waktu itu Alma masih nggak terlalu suka, jadi kalo sehari bisa ngabisin satu kotak (125 ml) aja udah alhamdulillah. Si Emak pun hepi, tas diapernya masih bisa seenteng dulu waktu sebelum disapih.

Tapi itu dulu~~~ Sekarang? Dari ogah jadi doyan. Iyaaa Alma jadi doyan susu UHT. Bangun tidur minta susu, laper dikit minta susu, mau tidur harus minum susu.

Sounds like no big deal, right? Tapi sesungguhnya ini sumber masalah baru bagiku. Ibarat senjata makan tuan.

Tau sendiri lah ya kalo susu sapi itu rendah zat besi, sama kaya ASI. Itulah kenapa kalo frekuensi nenen/minum susu lebih banyak daripada frekuensi makan, bisa bahaya. Anak pasti jadi defisiensi alias kekurangan zat besi. Salah satu efek dari kekurangan zat besi ini, anak jadi males makan. Kalo males makan, hampir bisa dipastikan bahwa anak pasti maunya minum susu doang. Makin nggak mau makan, makin kekurangan zat besi. Persis lingkaran setan. Dampak negatif yang paling keliatan: berat badan anak jadi susah naik, bahkan turun.

Kembali ke Alma. Udah bisa ditebak, Alma jadi males makan. Ujung-ujungnya aku tetep harus nyapih dua kali. Keluar energi lagi emaknya. 😭

Plot twist-nya adalah… mengeliminasi susu UHT dari daftar most wanted object-nya Alma ternyata cukup mudah. Dan ini nggak disengaja. 😆

Selama ini, Alma cuma mau minum Ultra Mimi rasa Coklat, Vanila dan Stroberi. Dodolnya, beberapa minggu yang lalu aku baru tau dong kalo ternyata Ultra Mimi Full Cream itu punya nama lain, yaitu Ultra Mimi Plain, karena di antara ketiga rasa yang lain dia satu-satunya yang zero sugar. Aku langsung pengen ganti dong yah. Aku tawarin lah ke Alma yang plain.

Too bad. Dia udah terbiasa sama yang rasa coklat, vanila dan stroberi. Dia nggak mau minum yang plain. Di situ aku merasa sedih.

Nah, empat hari yang lalu, aku pesen Ultra Mimi Vanilla satu dus ke tetangga (mayan, harganya miring soalnya). Malemnya susunya dateng. Pas Alma mau tidur, aku buka dong dusnya.

Aku baru ngeh kalo ternyata yang kuterima tadi Ultra Mimi yang plain, bukan vanila.

Awalnya aku sedih. Tapi abis diskusi sama Si Abi, akhirnya kita nggak minta ganti. Justru, mungkin ini bisa jadi momen yang bagus buat switch ke susu plain. Alma tadi liat waktu susunya dianter ke rumah. Dia tau kalo aku beli di Tante tetangga. Jadilah waktu Alma protes minta susu yang pink gambar singa, aku bilang gini sambil pasang wajah sedih,

Maaf ya, Dek. Umik tadi beli susunya di Tante yang tadi. Eh, sama Tante, Umik dikasih yang biru, yang gambar sapi. Ngga papa ya Dek? Jadi, kalo Alma sekarang mau minum susu, Alma minum yang ini ya. Umik udah beli banyak banget nih, kasian kalo susu birunya ngga diminum.

Eh dia nggak protes lagi dong. Alhamdulillahhhh hepi banget akutuuuuh. 🤣

Tapi bisa ditebak, Alma nggak suka, jadi susunya diminum cuma dikiiiit banget. Sebelum tidur pun Alma minum air putih doang.

Besokannya, bangun tidur Alma masih nyariin susu. Aku sodorin susu yang plain. Alih-alih diminum dikit kaya semalem, kali ini dia bener-bener nolak. Sampe seharian pun dia nggak minta susu. Sebagai gantinya, porsi makan Alma jadi lebih banyak dari biasanya.

Saudara sekalian, inilah definisi kebahagiaan yang HQQ. So much win! Hahahahaha. #kemudianistighfar

Masya Allah yaa, kenapa coba nggak dari kemarin-kemarin aku kepikiran pake cara ini. 😪 Sekarang aku tinggal berusaha buat menyediakan makanan sehat yang bervariasi buat Alma.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, nggak papa tuh Alma jadi nggak minum susu? Jawabannya: nggak papa. Malah menurutku, lebih baik begitu, asalkan asupan makanan padatnya cukup dan seimbang.

Buat yang belum tahu, prinsip 4 sehat 5 sempurna itu sudah usang ya, Bapak dan Ibu sekalian. Yang berlaku sekarang adalah PGS, alias pedoman gizi seimbang. Apa, kenapa dan bagaimananya silakan baca di sini, di sini, di sini dan di sini biar lebih jelas. Aku nggak punya kapasitas buat menjelaskan secara detil.

Yak. Ini udah panjang banget tulisannya. See you next post, yaa. Masih ada PR satu tulisan lagi nih. Please wait! 😘

Rekrutmen Kepengurusan IP Tangsel: Interview

Hari Minggu pagi kemarin, tahapan keempat rekrutmen pengurus IP Tangsel diadain di Taman Bintaro Jaya Xchange Mall. Tahapan keempat ini dalam bentuk interview alias wawancara.

Dari wawancara ini, aku nangkepnya, para calon pengurus diharapkan memiliki ketahanan diri yang kuat dan bisa mengatur waktu dengan baik. Aku nanya, memangnya sebelum-sebelumnya ada pengurus yang berhenti di tengah jalan? Ternyata ada.

Yang awalnya aku mulai agak santai, sekarang jadi dag-dig-dug lagi. Aku bakal beneran bisa nggak ya?

Terutama perihal time management. Aku bener-bener masih yang learning by doing. Siap-siap jam tidur bakal berkurang. Expecting less.

Kalo udah kaya gini, aku musti inget-inget lagi motivasiku gabung jadi pengurus itu apa. Apalagi jadi pengurus itu nggak dibayar, it’s a volunteer work. Meskipun nggak dibayar, aku yakin aku bakal menerima ‘bayaran-bayaran’ lain yang nggak kalah berharga yang nggak bisa aku dapetin di tempat lain.

Berkumpul bersama para wanita hebat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, saling memberi dan menerima ilmu, belajar bersama, bertumbuh bersama, berjejaring dan memperluas lingkar pertemanan. This is the best (social) environment I could ever have. ❤️

I have received so many good things from IP Tangsel, so I guess, this is my way of paying back to this community. 😘

Task 2 Chukyuu – Konmari Habits – Books

Untuk task kali ini, saya membuat list kebiasaan apa saja terkait kategori Buku yang harus konsisten saya lakukan dalam rentang waktu tujuh hari berturut-turut, untuk kemudian dilakukan seterusnya. Berikut list kebiasaan yang saya buat.

  1. Membersihkan rak buku setiap pagi
  2. Tiap selesai membaca buku, buku dikembalikan ke lokasi semula
  3. Membaca buku setiap hari (minimal 10 lembar)
  4. Langsung merapikan rak buku saat rak buku terlihat kurang rapi
  5. Mengajak anak untuk bersama-sama melakukan keempat list di atas

 

Tentang Hobi Menulis

Halo, halo, halooo! I’m back again!

Cih. Gayanya kayak ada yang nungguin aja. #kemudiancengengesan 🤣

Ehm. Jadi, di postingan kali ini aku mau nulis tentang salah satu kulwap (kuliah Whatsapp) yang beberapa hari yang lalu diadakan oleh Kejar (Kelas Belajar) Menulis Tangsel.

Mau OOT dikit ya. Jadi aku kan (alhamdulillah) udah jadi salah satu peserta di Kelas Bunda Sayang IIP Batch 4 nih. Kalau Kelas Bunsay di IIP itu diibaratkan sebagai KBM di sekolah, maka Kelas Belajar ini bisa diibaratkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Di IP Tangsel, maksimal peserta bisa ambil dua Kejar sekaligus. Setelah timbang sana timbang sini, akhirnya aku mutusin buat ikut Kejar IT dan Kejar Menulis.

Back to topic. Kulwapnya kemarin, obviously, bahasannya nggak jauh-jauh dari aktivitas menulis.

Nah, langsung keliatan deh ya narasumbernya siapa.

Apa? Kalian nggak tahu siapa itu Indari Mastuti?

Ehm. Sama. 😭

Teh Indariiiii maafkanlah fans barumu yang masih cemen, cupu dan kurang gaul ini. 😭 Padahal Teh Indari ini masya Allahhh keren banget, inspiratif banget. Beliau berkecimpung di dunia tulis-menulis itu sama sekali nggak sebentar lho, udah 20 tahun! Iya, beliau udah senior banget.

Satu hal yang bikin aku bengong. Di tengah kesibukan yang luar biasa, beliau yang sudah ‘berbuntut dua’ ini masih sempet tidur siang dua jam dan kalo malem tidurnya jam 19.30. Dan itu hukumnya wajib. Karena agenda beliau padat, manajemen waktu beliau pun jadi sangat ketat.

CRYYYYYYYYYY. I don’t even dare to dream about such miracle. How can she do that? 😭

Terlebih lagi, kata beliau di kulwap kemarin (yang aku inget banget), dua hal yang harus kita lakukan agar mimpi jadi penulis bisa terwujud adalah:

PERCAYA DIRI DAN KONSISTEN MENULIS SETIAP HARI.

Ah, omdo kali nih Teh Indari. Masa iya beliau bisa tiap hari nulis?

The answer is… BIG YES! Nggak tanggung-tanggung, target beliau setiap hari minimal menulis satu ebook di luar deadline tulisan yang lain.

Ebook, loh. Bukan caption Instagram, bukan pula artikel. Ebook.

Sempat juga ada temen yang nanya, yang mana aku yakin pertanyaannya mewakili pertanyaan banyak sekali orang. Pertanyaannya kira-kira begini: bagaimana kalau dalam sehari, seringkali kita kehabisan waktu untuk menulis?

Namanya juga emak-emak, ya. Adaaa aja yang harus dikerjain dan diselesaiin.

Berikut ini jawaban yang ditulis Teh Indari.

Tidak ada yang namanya kehabisan waktu selain TIDAK MENGALOKASIKAN WAKTU untuk melakukan PRIORITAS mana yang harus DITULIS. Seperti halnya (kita disibukkan dengan) pekerjaan IRT  dan tak punya waktu (untuk) menulis. (Sebenarnya) bukan tak ada, tapi (kita yang) tak bisa mengalokasikan waktu.

Mak jleb yaaa. Kalo emang serius pengen jadi penulis, harusnya bisa serius juga menyisihkan waktu (secara sadar) untuk menulis.

Aku bayanginnya gini. Misal, kita bercita-cita punya rumah yang rapi. Tapi kita sibuk banget sampe nggak sempat buat beberes rumah. Akhirnya rumahnya nggak kunjung rapi. Ujung-ujungnya kepikiran, karena rumah selalu aja nggak pernah rapi. Kalo dipikir-pikir lagi, kepikirannya ini lumayan ‘aneh’ yaa. Kita sebenernya udah tau alasan kenapa rumah nggak pernah rapi, tapi kita berlindung di balik rutinitas dan kesibukan sehari-hari.

We just keep making excuses again and again, each and every day.

Jadi inget satu kutipan yang aku baca tepat sebelum aku bikin postingan ini.

Don’t make excuses. Make things happen. Make changes. Then make history. – Doug Hall

Yum yum! Aku sendiri sejauh ini masih nyaman nulis nonfiksi, itu pun di blog. Nonfiksinya pun biasanya berdasarkan apa yang aku alami dalam kehidupan sehari-hari. Tapi paling nggak, aku ngerasa enjoy. Aku merasa lebih baik setelah aku menulis. Untuk sementara, buatku itu sih yang terpenting.

Trus? Mau coba bikin target kayak Teh Indari nggak? Oh, ya tentu. Cumaaa, karena aku anaknya gampang labil plus anak masih balita juga, jadi aku bikin targetnya yang realistis dulu.

Dalam seminggu, minimal aku harus bisa dua kali bikin postingan baru di blog. Kemungkinan besar aku bakal nulis di malam hari, waktu Alma udah tidur.

WAHHHH. This is no joke. Targetnya aku tulis di sini, bisa dibaca orang banyak, jadi kalo aku mangkir pasti rasanya nggak enak banget yaaa. 🤣

Bismillah aja deh. Berusaha buat jadi pengamat yang lebih baik, berusaha biar bisa lebih curious lagi, biar bisa bikin postingan baru tiap tiga hari sekali. 😂

See you all very soon, hopefully!

P.S.: Profil Teh Indari bisa dilihat di sini, di sini dan di sini.

Review: Aplikasi Lingokids

Sejak beberapa hari yang lalu, aku udah mulai strict lagi buat batasin screen time Alma. Aku udah yang super duper kepikiran karena dia udah bener-bener yang nggak terkontrol banget nonton YouTube-nya. Dia nonton YouTube lewat TV, jadi ya sussssssahnya luar biasa kalo mau berentiin. Misal aku ganti channel nih, ganti ke NatGeoWild misalnya, belom lima menit pasti dia udah minta pindah channel ke YouTube.

And all of this was always very exhausting to me.

Aku udah coba batasin pake metode timer. Aku pasang timer, 15 menit misalnya. Aku bilang ke Alma, kalo timer-nya bunyi, berarti TV-nya harus dimatiin. Well, it didn’t work for us. Abis timer nyala, Alma malah merengek-rengek minta ditambah waktunya.

Sebenernya bisa aja sih kalo aku mau konsisten bilang ‘nggak’ setiap kali dia begitu. Tapi aku nggak kuat. Dia bisa kaya gitu lebih dari 10 kali dalam sehari. Aku lebih pilih buat stay waras aja.

Oleh karena itu, aku lebih memilih buat menyetop YouTube sama sekali. Kalo mau nonton TV, ya nontonnya NatGeoWild dan kawan-kawannya. Selain itu nggak aku kasih. Ini udah aku sounding sejak H-2.

Alhamdulillah, Alma galaunya waktu pagi-siang di hari pertama aja. Abis itu udah mulai biasa lagi. Dan karena udah nggak ada kerjaan, Alma jadi sibuk ngajakin aku main, which is good. Biasanya, duh boro-boro. Anteng depan TV terus nggak peduli aku lagi ngapain juga.

Aku ajakin dia nge-craft ala-ala, main sama kucing, dll. Aku juga jadi tahu kalo Alma ternyata suka doodling.

Hahaha. Gemes banget nggak sih? 😆

Selain itu, aku juga punya misi buat mulai ngenalin Alma sama bahasa Inggris dengan lebih serius. Nah, aku anggap ini adalah momen yang pas. Buat ngajarin anak bahasa baru, aku jelas butuh bantuan. Abinya Alma? Nggak mungkin. Masa belajar bahasa Inggrisnya cuma weekend aja? Jadilah aku cari-cari tuh apps di Google Play yang bisa bantuin aku ngajarin bahasa Inggris ke Alma.

Ada kali aku instal sepuluh aplikasi. Yang cocok cuma satu dong: Lingokids. This app is genius, very well-made. Lingokids ini spesifikasinya buat anak-anak usia 2-8 tahun, ain’t that great? Karena ini adalah hal yang bener-bener baru buat Alma, meskipun dia bentar lagi udah 3 tahun, aku tetep atur setting-nya buat anak usia 2 tahun.

Oiya, semua yang ada di dalam aplikasi ini nggak asal dibikin lho. Semua dibuat berdasarkan materi pengajaran di Oxford University Press. Jadi kontennya pasti terjamin ya.

Hasilnya? Alma and I love this app sooo very much! Serius deh, kalo anak pake app ini, mereka nggak bakal nyadar kalo ini tuh sebenernya aplikasi buat belajar bahasa Inggris. Ya abis ini isinya games, lagu-lagu, audio book, dan sejenisnya. Dan Lingokids ini materinya tematik. Bagus banget lah pokoknya.

Aku sempat rekam waktu Alma lagi pake ini aplikasi. Karena nggak ada yang bantuin rekam, jadi aku screen recording aja. Suaraku sama suaranya Alma tetep kedengeran sih (kalo bisa pake handsfree aja yak dengerinnya). Itu bulet-bulet kecil warna putih yang sering muncul nunjukin lokasi di mana layar disentuh (she did most of the tapping FYI, makanya kadang suka random 😆).

Aku juga udah berkomitmen bahwa setiap Alma lagi buka Lingokids, berarti sebisa mungkin aku juga ikut ngomong pake bahasa Inggris dari awal sampe akhir. Alih-alih jelasin pake bahasa Indonesia, aku akan lebih memilih buat bantu jelasin pake gerakan tangan atau permainan intonasi kata. Misal, waktu jelasin tentang monkey bars, aku kasih penekanan di kata monkey karena dia tahu kalo monkey itu monyet, dan monyet sukanya gelantungan. Alhamdulillahnya, dia cepet ngerti jadi emaknya nggak perlu mikir cara yang lain lagi. 😆

Contoh lain lagi, waktu Alma disuruh pilih salah satu dari tiga kendaraan: bike, car atau truck. Misal perintahnya adalah dia harus tap the car. Karena bakal susah kalo musti deskripsiin mobil pake bahasa Inggris sederhana, aku sebutin aja warna mobilnya. “There, the car is the yellow one. YELLOW one.” Pasti dia ngerti kan tuh. Dalam waktu bersamaan, dia juga jadi tahu bahwa, oh, car itu mobil toh.

Pokoknya, kalo nggak kepepet banget, aku nggak pake bahasa Indonesia.

Sejauh ini sih ok ya. Tiap aku nyebutin kata dalam bahasa Inggris, dia suka langsung ikutin. Emang jauh dari sempurna sih pengucapannya, tapi ya wajar lah ya. Namanya juga masih cadel. 😅 Yang menurutku paling penting adalah: anaknya suka dan enjoy. Yang lain-lain insyaAllah bakal ngikut sendiri.

Yak. Sekian dulu curhatan dari emaknya Alma. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Happy parenting, all!

Review: Kartu Jenius BTPN

Sebelum masuk ke penjelasan tentang Kartu Jenius, aku mau cerita dulu tentang latar belakang dipilihnya Kartu Jenius sebagai solusi problema yang aku punya (cailah).

Jadi, aku dan Abi ‘cuma’ punya tiga buah kartu debit, masing-masing kartu debit BRI, BNI dan BCA. Selain tiga ini nggak ada lagi (kartu kredit? nggak ada juga). Nah, masalahnya, ATM yang paling deket dari rumah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki itu cuma ATM CIMB Niaga. Ada sih ATM BNI, tapi ke sana harus naik motor dulu. Kan mager.

Kebayang dong, tiap aku tarik tunai, 6500 rupiah otomatis melayang. Duit segini kalo dipake beli cilok pedas bisa bikin perut kenyang loh. Apalagi kalo tarik tunai berkali-kali, dalam sebulan aja, udah ilang berapa puluh ribu? 😢

Di tengah kegalauan yang tak kunjung ada solusinya ini, tiba-tiba aku dapat info tentang Jenius. Aku lupa detilnya, dari iklan di Instagram apa ya? Atau dapet app suggestion waktu buka Google Play? Yah pokoknya tau-tau aku udah instal aplikasi Jenius aja. 😆

And it turned out to be a holy grail for me. KENAPA NGGAK DARI DULU AKU PAKE SI JENIUS INI SIH? KZL.

Ehm. Back to topic. Ada yang tahu Flip? Udah banyak yamg tahu pasti ya. Intinya, Flip ini aplikasi buat melakukan transfer antarbank dengan tanpa biaya.

Mekanismenya gini: misal aku mau transfer uang dari BNI ke BCA. Yaudah, aku tinggal transfer ke rekening BNI-nya Flip sesuai nominal yang diinginkan (karena sesama BNI, jadi nggak kena biaya admin dong). Kalo udah confirmed, baru nanti Flip yang mentransfer ke rekening BCA tujuan sesuai nominal yang kita transfer ke Flip tadi. Jadi rutenya: BNI-ku ➡️ BNI Flip ➡️ BCA Flip ➡️ BCA tujuan.

Sangat membantu, jelas. Tapi memang prosedurnya agak panjang ya. Terlebih lagi Flip ini ada jam kerjanya. Lewat dari jam 18.00, kita harus nunggu sampe jam 8.00 esok hari biar transaksi kita bisa diproses. Kalau hari Sabtu lebih awal lagi tuh, lewat dari jam 13.30 udah nggak bisa.

Nah, inilah kenapa aku bilang Kartu Jenius itu holy grail. It’s like a magic card.

Aku rangkum beberapa penjelasan FAQ dari sini ya.


Jenius adalah aplikasi perbankan revolusioner yang dilengkapi dengan kartu debit VISA. Semua aktivitas finansial dilakukan dari satu tempat, semua dari smartphone.

Jenius adalah Banking Reinvented, yang berarti walaupun memiliki fungsi sebuah bank, tapi Jenius mengembalikan semua akses kepada penggunanya, sehingga kamu memiliki kendali atas uang dan pengaturan keuangan kamu sendiri.

Jenius berbeda dari bank pada umumnya karena semua aktivitas perbankan dibuat lebih mudah tanpa harus pergi ke bank atau mengantre panjang dengan banyaknya birokrasi. Semua bisa kamu lihat, tata dan atur langsung dari dalam smartphone-mu.

Dengan Jenius, semua aktivitas finansial bisa kamu lakukan di dalam aplikasi, mulai dari membuka rekening, pembayaran tagihan, transfer uang, tabungan, deposito, pembuatan kartu debit, serta alokasi dana untuk pengaturan keuangan.

Jenius bebas biaya administrasi, biaya pembukaan dan penutupan rekening, saldo awal, saldo minimum, biaya transfer, dan biaya pembuatan kartu.

Jenius juga punya akses internasional. Praktis  transaksi online/offline dan tarik tunai di seluruh dunia dengan kartu debit Visa.


Semua aktivitas finansial yang disebutkan di atas (bahkan transaksi antarbank sekalipun) memang sama sekali tidak dikenai biaya admin, tapiii, ada batasannya. Setiap bulan gratis 25 kali transfer antar bank lewat aplikasi Jenius dan gratis 25 kali tarik tunai di jaringan ATM Bersama/Prima di seluruh Indonesia. Kalau lebih dari 25 kali, kembali dikenai biaya. Selengkapnya coba lihat di sini.

But still, 25 is still a very good number! At least for me. Apalagi kalo dipakenya buat transaksi-transaksi antarbank doang, 25 perbulan sih lebih dari cukup.

Wait… Tadi ada kata ‘tarik tunai’ disebut ya? YES! Kalo pake Jenius, kita bisa tarik tunai di ATM BANK MANAPUN (asal ada label ATM Prima/Bersama) SECARA GRATIS TANPA BIAYA ADMIN. Lah? Gimana bisa? Pake kartu apaan?

Pake kartu Jenius lah.

Yak. Kalau kita buka tabungan Jenius, kita bakal otomatis dapet dua kartu debit: e-Card dan m-Card. E-Card ini kartu debit virtual (kayak e-Money), tapi juga bisa berfungsi persis kaya VCC waktu verifikasi akun pembayaran online macam Paypal, dll. Nah, kalo m-Card ini kartu fisik yang nantinya bakal dikirimin ke alamat kita.

Jadi begitu yaa. Buka tabungan Jenius ini gampil banget kok. Asal punya aplikasi Jenius (unduh di Google Play atau App Store), KTP dan kartu NPWP.  Abis itu tinggal ikutin aja step-by-step di aplikasinya.

Oiya, kalo proses registrasi udah selesai, nanti nasabah bakal diminta buat verifikasi akun. Caranya ada dua: datang langsung ke Bank BTPN atau pakai fitur memanggil crew/petugas ke lokasi kita saat itu. Aku kemarin pake yang kedua dan nggak disangka ternyata mereka datengnya cepet banget loh. Rata-rata petugasnya sampe dalam waktu 30 menit sejak pengajuan verifikasi akun, mentok 1 jam lah kalo pas kebetulan lokasi kita jauh dari Bank BTPN.

Itu aja sih kayaknya. Semoga postingan ini bermanfaat yaa. See you soon!