Cara Saya dalam Membatasi Pemakaian Gadget dan Paparan Screen Time pada Alma

Hola, hola! It’s been awhile!

Duh, sebenernya aku punya banyak banget cerita buat ditulis di sini, tapi apa daya aku lagi sering banget mager, huhuhu.

But I certainly won’t be this time! Soalnya bisa dibilang, cerita yang akan aku tuliskan kali ini merupakan sebuah milestone yang akhirnya berhasil aku lewati setelah sekian lama. Apa itu?

Yaaa, keliatan lah yaaa dari judul. Pake sok suruh netijen nebak-nebak segala, ah. 🙄🤣

Jadi, buat yang belum tahu, sejak menikah sampai Alma umur dua setengah tahun, aku dan suami sama sekali nggak pasang TV demi biar perkembangan Alma bisa berlangsung secara optimal. Nah, sejak balik ke rumah di Cisauk ini, muncullah sebuah masalah: sinyal di rumah jelek banget! Biar aku dan suami bisa tetap waras, kita pun bergegas untuk pasang WiFi. Di kompleks perumahan kami, provider yang proses pemasangannya paling cepet adalah IndiHome. Jadilah kita pakai itu.

Nah, waktu liat-liat paket-paketnya, kita jadi pengen sekalian pasang TV kabel. Kebetulan waktu nikah dulu kita dapet kado TV dari temen-temen kantor suami, yaudah kan daripada mubazir. Lagipula, Alma juga udah lancar ngomongnya (MOLAIKKK MEMBELA DIRI 😂). Jebret, keesokan harinya, TV beserta WiFi pun sudah terpasang rapi di ruang tengah.

Di sinilah cobaan-cobaan (yang sebelumnya belum pernah terjadi) dimulai.

Sejak TV dipasang; aku, suami dan Alma punya tontonan favorit masing-masing. Yang jelas, entah kenapa kita nggak doyan nonton channel TV lokal. Bukannya sok iyes, tapi kita beneran udah pernah nyoba nonton salah satu acara TV di channel lokal dan kemudian kita langsung kapok, ogah nonton di situ lagi. Hartaku yang paling berharga, Alma, nggak akan aku biarkan nonton acara-acara tv yang mayoritas nggak berfaedah itu. 🙅

Terus? Kita nontonnya apa? Aku pribadi, cuma dua channel ini: NatGeo dan NatGeoWild. Kalo marathon nonton TV on demand NatGeo selesai, lanjut ke NatGeoWild. Gituuu terus persis orang main pingpong. Selain itu, kadang-kadang aku juga nonton film dan drama di iFlix kalo pas ada yang bagus (maklum, iFlix kan nggak sekeren Netflix, hiks).

Kalo suami, karena dia kerja berangkat pagi pulang malem, otomatis jadi jarang pake TV. Jadi ya kalo ada waktu pun, dia akan nonton apa yang aku tonton.

Nahhh, yang paling penting dibahas akhirnya datang juga. Kalo Alma nonton apa? Jawabannya ada tiga: Go Diego Go, Dora the Explorer dan channel nursery rhymes di YouTube (macem Cocomelon, Dave and Ava, LooLoo Kids, gitu-gitu deh). Iya, kita bisa nonton YouTube di TV.

Kebayang dong, apa yang akan terjadi kalo ada anak yang sebelumnya nggak pernah nonton TV tau-tau disodorin TV dengan konten yang super menarik? Yes, dia bakal nonton terus tanpa tau jeda waktu. Kalo nggak di-stop, ya nggak bakal berenti.

Dampak buruk apa yang paling aku rasa berat selama Alma aku izinin nonton TV? Alma jadi susah fokus dan gampang stres. Pas dibacain buku, Alma jadi nggak seantusias dulu (ini yang bikin aku paling sedih sih). Mau makan, minta sambil nonton (yang mana ini bikin sesi makan jadi super-duper lamaaaaa banget). Mau mandi, minta nego selesaiin satu episode Dora dulu. Kalo dilarang baik-baik, dia nangis bagai orang patah hati. Umiknya pun jadi sering kesel sendiri.

Udah tau ada masalah, aku nggak mungkin berdiam diri dong. Aku pun mencoba beberapa jalan keluar. Biar lebih singkat, aku ceritain tiga solusi yang paling sering aku pakai (tapi kemudian gagal), ya.

Pertama, batasin waktu nonton Alma pakai timer. Aku bilang ke Alma, “Dek, kalo hapenya Umik bunyi, berarti Alma nonton TV-nya selesai, ya.” Ta-daaa, fail. Setelah bunyi timer pecah, Alma merengek-rengek minta nonton lagi. Aku sebenernya bisa aja tetep tegas menolak, tapi aku merasa kalo aku melakukan itu, berarti aku ibu yang munafik. Aku aja masih suka nonton marathon TV series di NatGeo, masa Alma nggak boleh? Karena itulah, metode yang ini selalu berakhir gagal.

Kedua, aku coba lebih banyak ajakin Alma baca buku. Ini juga banyakan gagalnya. Kenapa? Pertama, karena selama buku masih bersaing sama TV, jelas TV-lah yang bakal menang. Mau segigih apapun aku ajak dia baca buku, ini nggak akan bisa membuat Alma lebih bertanggung jawab dengan durasi screen-time-nya. Ya gimana, masa benda yang dipakai sebagai pengganti nggak lebih menarik dari benda yang ingin diganti? Kedua, karena aku manusia biasa yang bisa lelah. Ngajakin anak yang lagi nggak fokus buat baca buku itu sama sekali nggak gampang, Sodara-Sodara! Butuh energi luar biasa besar biar aku bisa tetap stay calm tapi tetap tegas waktu mendampingi Alma di saat-saat seperti itu.

Ketiga, selain baca buku, aku mulai sering ajakin Alma main di luar. Nggak perlu jauh-jauh, cukup di sekitaran rumah aja. Dan seriusan, di antara dua cara sebelumnya, cara inilah yang menurutku agak terasa efeknya. Mungkin karena balita itu energinya besar ya, jadi butuh rutin disalurkan melalui aktivitas-aktivitas fisik. Cumaaa, tetep aja, cara ini juga belum bisa 100% menyelesaikan masalah.

Di tengah kegundahan ini, hari Sabtu tanggal 24 November kemarin, aku ikut workshop pendidikan karakter “Habit of Obedience and the Way of Will” yang dipimpin langsung oleh Mba Ellen Kristi, pendiri Charlotte Mason Indonesia. Iya, aku lagi serius mendalami filosofi pendidikan Charlotte Mason (CM). Sejak baca buku Cinta yang Berpikir, aku langsung jatuh cinta sama CM. 😍 Beneran jadi aha-moment-ku, “THIS is what I have been looking for!

Ada banyak banget pencerahan-pencerahan baru yang aku dapetin dari workshop, salah satunya yang paling lekat menempel di kepalaku adalah bahwa orang tua yang selama ini berperan sebagai pemegang otoritas di rumah, ternyata ‘hanyalah’ perpanjangan tangan dari otoritas-otoritas yang jauh lebih tinggi. (Si)apa saja otoritas-otoritas yang lebih tinggi itu? Diantaranya Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma.

Dengan prinsip ini, batasan-batasan orang tua dalam mengasuh anak menjadi jelas: orang tua tidak akan menjadi permisif, tidak juga otoriter, karena kita sudah punya acuan yang ajeg (berupa aturan-aturan dari Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma itu tadi). Jika apa yang dilakukan anak sudah sesuai dengan acuan, ya alhamdulillah. Sebaliknya, jika anak berperilaku tidak sesuai acuan, ya kita wajib meluruskan (dengan cara-cara yang sesuai, tentunya).

Sekarang kita udah tahu (si)apa aja otoritas-otoritas yang lebih tinggi dari kita yang patut kita jadikan sebagai acuan dalam membuat aturan-aturan di rumah. Nah, tugas kita (sebagai orang tua) adalah merumuskan aturan-aturan dan menegakkan aturan-aturan yang sudah dirumuskan tersebut. Kuncinya, orang tua harus mampu membedakan mana saja hal-hal prinsip dan tidak prinsip yang biasa terjadi di rumah, dan ini bisa beda-beda untuk setiap keluarga.

Misalnya, ada keluarga yang menganggap mandi itu sebagai hal prinsip, ada juga yang enggak. Karena perbedaan ini, perlakuan yang diberikan ke anak yang nggak mau mandi akan jadi berbeda di dua keluarga ini. Di keluarga yang pertama, karena mandi itu prinsip, ya anak harus mandi. Anak nangis-nangis bin tantrum? Ya kita validasi dulu emosinya, sambil tetap si anak kita angkat ke kamar mandi. Kalau yang menganggap mandi tidak prinsip? Yaudah, nggak ada masalah kalau anak nggak mau mandi.

Oiya, perlu diingat, aturan-aturan yang dibuat ini wajib dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga, tanpa kecuali. Pinter-pinter orang tua aja bikin aturan biar bisa tepat sasaran tanpa merugikan sebagian anggota keluarga.

Nah, dari sinilah aku mulai tersadar dan menemukan missing link yang selama ini aku cari-cari. Kenapa aku selalu gagal menerapkan solusi atas permasalahanku terkait screen-time Alma? Ya karena aku belum merumuskan aturan yang jelas dan kalaupun aturan sudah kubuat, aku hanya menerapkannya untuk Alma! I was too cowardly to willingly do the exact same thing as her!

Sepulang dari workshop, aku langsung tahu aturan seperti apa yang harus kami terapkan di rumah terkait screen-time ini. Aturannya pun sangat sederhana.

Dalam sehari, setiap orang di rumah ini hanya memiliki SATU sesi menonton TV, tidak lebih dan tidak kurang.

Udah. Itu aja.

Untuk Alma, satu sesi ini berarti satu episode Dora atau Diego. Kalau yang ditonton ada di YouTube, berarti durasinya hanya 30 menit, sama seperti durasi satu episode Dora dan Diego.

Untuk aku dan suami, satu sesi ini berarti satu episode acara TV di NatGeo atau NatGeoWild atau iFlix.

Asal dikomunikasikan dengan baik dan diterapkan dengan konsisten, besar kemungkinan aturan ini akan berjalan dengan sukses. Alhamdulillah, itulah yang terjadi selama tiga hari ini. Amazingly, Alma patuh tanpa ada penolakan yang berarti! No wonder, karena dia juga melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya juga konsisten mematuhi aturan ini.

Herannya, aku juga nggak sedikitpun merasakan kehilangan, lho! Biasa aja gitu. Kirain aku bakalan yang, “Yah, padahal aku pengen banget nih nonton Primal Survivor, tapi nggak bisa, huhuhu.” Ternyata enggak.

It was truly our victory together!

Ya mungkin tanpa kita sadari, otak kita juga merasa lebih nyaman begini ya. Lebih damai aja gitu rasanya. Apalagi sekarang kita rutin main outdoor, jadi sering kena sinar matahari pagi dan liat yang ijo-ijo (secara harfiah, yaa 🤣). Our mind has been much more peaceful ever since.

P.S.: Kalo hape gimana? Fortunately, we have sorted this out as well. Alma boleh pakai hape, tapi hanya untuk lihat bagian foto-foto dan video aja. Aku juga boleh pakai hape; tapi cuma buat pakai kamera dan ngetik aja. 😆

Weaning with Love: Completed!

Menyusui itu sesungguhnya bukan hanya perihal memberikan asupan kalsium (berupa ASI) kepada anak. Jauh lebih penting dari itu, dengan menyusui, anak merasa sepenuh-penuhnya dicintai.

Bukan berarti yang tidak menyusui tidak bisa membuat anak merasa dicintai, ya. 😊

Seiring anak bertumbuh besar, akan ada masanya ketika anak harus berpisah dengan aktivitas menyusui, alias disapih. Di usia berapakah anak harus mulai disapih? Menurut saya, ini pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Sang Ibu.

Bagaimana dengan Alma? Setelah sekian lama, pada awal bulan Mei saya memantapkan diri untuk mulai menyapih Alma hingga akhirnya sekarang Alma sudah benar-benar lepas dari ASI. Alhamdulillah.

Bagaimana prosesnya? Beberapa hari pertama, momen-momen tersulit adalah ketika jadwal tidur malam tiba. Untungnya, ini sudah sesuai dengan ekspektasi saya. Saya teramat maklum, dari sejak dia lahir ke dunia hingga di usianya yang menginjak 32 bulan, belum pernah sekalipun dia lepas dari ‘nenen’. Nenen sebelum tidur? Wajib hukumnya. Full setiap hari selama 32 bulan penuh. Ketika pada akhirnya Alma harus dihadapkan pada kenyataan bahwa dia tidak lagi bisa menyusu di malam hari, teramat wajar kalau akhirnya Alma menjadi tantrum. It wasn’t an easy goodbye at all.

Di saat Alma tantrum seperti ini, saya hanya menyiapkan tiga hal: makanan/minuman pengganti, stok sabar (tanpa batas) saat menunggu dia menangis sampai lega dan yang terakhir: tawaran untuk dipeluk. Ternyata, yang paling ampuh adalah yang terakhir.

Selama ini, ekpresi kasih sayang paling dominan saya kepada Alma tertumpahkan saat ia sedang menyusu. Saat disapih, pelukan inilah yang akhirnya mampu menjadi pengganti. Sekarang, kalau Alma sedang takut, marah, kesal atau kecewa, dia pasti minta dipeluk. Setelah itu tentu saja saya akan peluk dia seerat dan selama dia mau.

Sesungguhnya, selain Alma, saya pun membutuhkan pelukan ini. Melalui pelukan-pelukan (yang frekuensinya jadi semakin sering) ini, kami saling menenangkan dan menguatkan satu sama lain. Saya juga bisa (secara tidak langsung) memberitahunya bahwa meskipun ia tidak bisa menyusu lagi, bukan berarti kasih sayang yang saya curahkan kepadanya jadi berkurang. Justru, kini kami bisa saling menyayangi satu sama lain dengan seribu satu cara yang lain.

Perubahan apa lagi yang terjadi setelah Alma disapih (selain rutin minta peluk)? Yang paling terlihat adalah peningkatan nafsu makannya. Mungkin ini disebabkan karena Alma tidak terlalu bergantung pada susu. Sebagai pengganti ASI, Alma sekarang mulai mengonsumsi susu UHT. Itu pun saya berikan kalau Alma yang minta. Pasca-disapih, rupanya dia lebih suka beralih ke makanan padat. Saya tidak masalah dengan ini.

Sebagai seorang ibu, satu milestone telah berhasil saya lewati. Masih ada banyak milestones lain yang akan saya dan suami hadapi ke depannya. Saya yakin, setiap ibu yang ada di dunia ini juga pasti telah, sedang dan akan melalui hal yang sama. The fact that I am not alone in this, it gives me strength somehow. I can do this, we all can do this! YOSSHHH!

Everything About Senses (and of course, Sensory Play!)

Beberapa hari yang lalu, mak Alma berhasil join salah satu Kulwapp (Kuliah WhatsApp) yang diadakan oleh @sensoryzone. Tema Kulwapp-nya: Pentingnya Sensory Play untuk Anak Usia Dini dengan narasumber Ms. Zahra Zahira, founder Indonesia Islamic Montessori Community.

Kulwapp ini terdiri atas dua sesi. Di sesi pertama, peserta mendapatkan materi tentang tema terkait. Peserta kemudian diberi waktu untuk mempelajari materi. Sesi kedua dimulai pada malam harinya, yaitu sesi tanya-jawab. Pertanyaan hanya dibatasin sampe lima aja. Alhamdulillah pertanyaanku berhasil masuk ke urutan lima, jadi bisa dijawab langsung oleh Miss Zahra. Yay!

Nah, sayangnya, materinya nggak boleh disebarluaskan, nih. Jadi memang confidential, ya. Untungnya, untuk list Q&A masih boleh buat di-share.

Sebelum aku tuliskan daftar pertanyaannya di sini, rasanya kok nggak enak banget ya kalo belum ada paparan sedikit tentang Senses dan Sensory Play. I tried to find more information about this sensory thing. Luckily, aku ketemu salah satu page di https://www.goodstart.org.au/ yang ngebahas tentang manfaat Sensory Play dengan bahasa yang mudah dipahami. Aku coba ceritakan kembali di sini ya.

Tujuh Indera Manusia

Sensory Play: sebelum bahas tentang ‘Play’-nya, kita cari tahu tentang ‘Sensory’-nya terlebih dulu, ya.

‘Sensory’ adalah kata sifat dari ‘Sense’, alias ‘Indera’. Biasanya, kata ‘Indera’ ini lekat sekali dengan kata ‘Panca’, alias lima. Jadi, sejak jaman dahulu kala yang kita tahu, yang namanya indera itu ya pasti ada lima:

Rasa – stimulasi yang datang saat reseptor rasa kita bereaksi terhadap bahan kimia di mulut kita.

Sentuhan – stimulasi yang berasal dari reseptor sentuhan di kulit kita yang bereaksi terhadap tekanan, panas/dingin, atau getaran.

Bau – stimulasi reseptor kimia di bagian atas saluran udara (hidung).

Melihat – stimulasi reseptor cahaya di mata kita, yang ditafsirkan otak menjadi gambar visual.

Mendengar – penerimaan suara, melalui mekanik di telinga bagian dalam kita.

Itu ya yang lima. Tapi tahu nggak, sebenernya kita semua punya sixth sense, lho. Nggak cukup enam, ada seventh sense juga! (langsung berasa jadi Superman nggak, hahaha). Ini nih yang dua lagi:

Kesadaran tubuh (proprioception) – memungkinkan kita untuk memiliki kesadaran atas posisi tubuh kita di dalam ruang.

Keseimbangan – stimulasi sistem vestibular telinga bagian dalam untuk memberi tahu kita mengenai posisi tubuh yang terkait dengan gravitasi.

Pertanyaan yang mungkin muncul: OK, ada tujuh indera. Terus kenapa? Kenapa sih harus dilatih segala? Kan nanti bisa sendiri? Hmm, seandainya kita tahu seberapa besarnya pengaruh sensori terhadap banyak aspek hidup manusia saat dewasa nanti, pasti nggak bakal deh bilang begitu, hehe.

Jadi begini, ada nggak sih bayi yang baru lahir langsung lancar dan suka makan? Langsung bisa ngomong? Yang langsung bisa nulis? Jawabannya sudah jelas: nggak ada. Alasannya adalah karena kemampuan semacam itu teramat kompleks bagi bayi yang baru lahir. Bayi perlu melalui tahapan-tahapan (milestones) untuk bisa menguasai keterampilan hidup yang mereka perlukan.

Dan tahapan yang puuuuaaaaling awal, ya mengoptimalkan potensi yang pertama kali mereka punya, yaitu ketujuh indera mereka. Ketujuh indera inilah yang akan membantu mereka memahami dunia di sekitar mereka.

Analoginya seperti ini: jika kita ingin menulis dengan pensil, hal pertama yang kita perlukan adalah pensilnya terlebih dulu. Pensil diraut pakai rautan/silet sampai runcing agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus.

Pensil = ketujuh indera anak
Silet/rautan = permainan sensori (sensory play)
Tulisan = pertumbuhan kognitif, perkembangan bahasa, keterampilan motorik kasar, interaksi sosial dan keterampilan memecahkan masalah, dll.

Sensory Play

Jadi bayi itu susah banget, lho. Habis enak-enak hidup di dalem rahim ibu, tau-tau dipaksa keluar ke dunia yang begitu besar dan asing. Mereka butuh didampingi untuk belajar. Belajarnya bagaimana? Ya dengan banyak-banyak menyentuh (ini yang paling sensitif, makanya kontak skin-to-skin dengan ibu itu luar biasa penting), mencicipi, mencium, melihat, bergerak dan mendengar. Sering-sering beri kesempatan kepada bayi untuk secara aktif menggunakan indera mereka untuk mengeksplor sekitarnya.

Inilah asal-muasal istilah ‘Sensory Play’. Meskipun dinamai dengan kata ‘play’ alias ‘permainan’, tapi sebenarnya ini aktivitas yang sarat dengan proses belajar.

Bagi anak-anak, bermain dan belajar itu sama. Oleh karena itu, salah satu indikator utama kesuksesan belajar anak adalah ketika mereka bahagia melakukannya. Kalau suatu kegiatan belajar/bermain membuat mereka muram, ya.. lebih baik hentikan dulu saja.

Apa yang terjadi ketika anak melakukan Sensory Play?

Sensory Play memiliki peran krusial dalam perkembangan otak anak. Aktivitas ini membantu membangun koneksi saraf di jalur otak. Jika koneksi saraf banyak terbentuk, maka kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas yang lebih kompleks akan makin terasah. Sensory Play juga sangat berperan dalam pertumbuhan kognitif, perkembangan bahasa, keterampilan motorik kasar, interaksi sosial dan keterampilan memecahkan masalah.

Dan semakin sering diulang, akan semakin bagus. Penjelasannya ada di gambar berikut ini:

Efek yang ditimbulkan Sensory Play ini nyata sekali, lho. Satu contoh aja ya: ada anak yang nggak suka makanan dengan tekstur basah seperti buah-buahan, spaghetti, dll. Anak kemudian diajak bermain sensori: anak sedikit demi sedikit dipaparkan dengan benda/makanan bertekstur basah. Anak dibiarkan menyentuh, mencium dan bermain dengan benda/makanan itu tanpa diberi ekspektasi apa-apa (kalau awalnya betul-betul tidak mau, bisa disiasati dengan menaruh makanannya di dalam zipper bag untuk kemudian dipegang-pegang anak, jadi bendanya tidak bersentuhan langsung dengan tangan). Kalau sudah mau dan terbiasa, baru ditingkatkan lagi dengan mengambil sedikit-sedikit makanannya, dan seterusnya sampai anak berani mengeksplor secara keseluruhan (dan biasanya ini bukan proses yang instan, butuh kesabaran orangtua).

Ketika bermain dengan makanan basah, yang terjadi sebenarnya adalah anak sedang mengembangkan kepercayaan dan pemahaman akan tekstur ini, di mana sedikit demi sedikit akan terbangun jalur positif di otak untuk mengatakan aman untuk terlibat dengan makanan ini.

Itulah kenapa, kalo ada balita yang berpotensi memiliki masalah tumbuh kembang (telat bicara/speech delay misalnya), terapi sensori integrasi biasanya menjadi solusi pertama.

Lalu, permainan sensori apa saja yang bisa dilakukan anak? Jawabannya: BANYAK. Di era digital yang banjir informasi seperti sekarang, masalahnya bukan di kesulitan mencari informasi, melainkan kesulitan dalam merealisasikan SEDIKIT dari begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Mantranya: just do it!

Refleksi Mak Alma

Kalo Alma sendiri gimana? Jujur, aku sendiri masih kurang maksimal dalam melibatkan Alma buat main sensori. Kendalanya berasal dari perasaan, “Aduh bentar lagi mau pindahan, ntar aja sekalian di rumah biar nggak repot bungkusin printilan”. Lagipula waktu Alma bayi masih jarang pengetahuan tentang pentingnya aktivitas sensori di sosial media. Jadi aku pun tak tahu.

Ahhh bisa aja Yosss ngelesnya. 🙄

Kalo mau di-review lagi, kegiatan Alma sehari-hari lebih banyak bermain bebas (di dalam maupun di luar ruangan) dan membaca buku. Dan kalo diinget-inget lagi, tanpa sengaja Alma udah cukup banyak melakukan permainan sensori sih (tapi ya itu, tidak pada jam tertentu dengan tema tertentu, seketemunya aja apa yang diminati Alma) yang melibatkan semua indera kecuali indera perasa dan penciuman. Aku yakin ini penyebab utama kenapa Alma termasuk picky-eater (sayur-buah lancar, lauk milih-milih, karbo apalagi).

Sebetulnya indera perasa dan penciuman ini bisa banget diasah melalui BLW (Baby Led Weaning). Walaupun BLW ini judulnya salah satu metode pemberian MPASI, kalo aku bilang, BLW ini juga termasuk aktivitas sensori karena sangat melibatkan keempat indera anak (penglihatan, perasa, penciuman, dan peraba). Aku nyesel banget kenapa dulu nggak BLW-in Alma aja (bukan karena ikut-ikutan Andien ya, PLIS! BLW itu udah banyak yang pake jaaaauuuuh sebelum Andien punya bayi). Kekurangannya BLW ini kan biasanya karena ditakutkan asupan makanan yang masuk ke anak nanti tidak mencukupi kebutuhan gizi anak.

That is a very weak argumentation. Kalau BLW waktu bayi masih di bawah 12 bulan, pasti sama sekali nggak masalah. Lha asupan gizi bayi di bawah 12 bulan itu kan utamanya masih dari ASI. Makanya namanya ‘Makanan Pendamping ASI’, bukan ‘Makanan Pengganti ASI’. Justru dengan BLW kemungkinannya akan kecil sekali anak tumbuh jadi picky-eater. Malah jadi lancar bukan makannya? PLUS, melatih kemandirian anak juga. Anak dilatih makan sendiri tanpa dipaksa. Super sekali lah pokoknya.

Beda kaya Alma yang udahlah disuapin melulu, makannya kalo nggak bubur ya nasi tim. Alasannya biar tambah gendut (DUH! Gendutnya padahal dari ASI-ku 😳 I was really stupid, indeed). Jarang dikasih makanan utuh dengan bentuk, bau dan rasa yang berbeda-beda. Waktu itu kena baby blues pula, jadi sering maksain Alma makan sampe sering dia muntah kekenyangan. Sungguh suram. Kalo inget aku jadi pengen jeduk-jedukin kepala ke bantal rasanya. 😢😠

Nggak heran lepas setahun Alma langsung GTM parah, nggak mau makan, walhasil emaknya makin stres. Bisa lho waktu itu dia nggak makan seharian. Jadi harus purging dulu: aku pasrah Alma nggak makan apa-apa. Toh, kalo laper pasti minta makan. Aku cukup sediain makanan sehat beraneka macam rupa digeletakin di mana-mana. Sampe beberapa minggu kaya gitu, baru deh normal lagi.

Back to topic (curcol mulu yak aing). But to my surprise, I discovered that Alma really excelled the proprioception and the vestibular ones, terutama proprioception. Kalo misal lagi jalan di lantai atau halaman yang banyak rintangannya (misalnya batu, mainan yang berserakan, lubang, dll), dia tetep bisa jalan lancar tanpa kejeblos atau jatuh atau nginjek rintangannya. Padahal dia jalan nggak pake liat bawah, lho. Nyeludur aja gitu. Aku kadang sampe terheran-heran sendiri.

Mungkin karena aku nggak pernah dikit-dikit ngelarang Alma buat eksplor apapun yang dia suka. Ehm. Manjat-manjat? Silakan. Naik turun tangga sendiri? Cus. Jalan nggak pake sendal? Boleh.

Semuanya boleh asalkan aman, nggak ngerugiin orang lain, dan/atau Alma masih di bawah pantauanku atau Abi. Tapi namanya manusia, pasti ada aja salahnya. Beberapa kali Alma jatuh, tapi alhamdulillah masih aman terkendali. Paling nangis bentar trus lanjut main lagi. Justru, pengalaman jatuh/kepentok in akan bikin anak makin aware sama dirinya sendiri. Anak akan otomatis makin hati-hati next time dia melakukan hal yang serupa. Kalo anak sedikit-sedikit dilarang, dia malah jadi minim pengalaman buat mengeksplor diri sendiri dan ruang di sekitarnya. And for me, that is actually much worse than just kepentok.

OK. Jadi sekarang PR-ku ada dua nih:

1. Perbanyak aktivitas sensori, khususnya yang melibatkan indera perasa dan penciuman.

2. Buat kegiatan rutin terencana setiap hari, nggak perlu lama-lama, yang penting rutin (karena aku pernah baca bahwa rutinitas itu penting sekali buat balita, kalo mau dibahas udah beda topik lagi ini, haha).

*TARIK NAPAS DALAM-DALAM… HEMPASKAN*

Ya Allah kenapa bisa jadi panjang giniiiii. Parah emang. Kalo gini sih jadinya list Q&A Kulwapp kemarin dilanjut di postingan selanjutnya aja, ya. So sorryyyy.

See you very soon!


RALAT

Di salah satu paragraf di atas, aku bilang bahwa pernyataan ‘anak yang BLW punya risiko kekurangan asupan gizi’ sebagai argumentasi yang lemah.

Now I have to take back what I have said. I wasn’t completely right. Aku lupa ada satu zat yang penting banget buat bayi dan balita yang kalo didapetin dari ASI aja, nggak bakal cukup.

Zat itu adalah iron alias zat besi.

Pasti udah pada tahu ya (terutama para mamak-mamak yang anaknya pernah GTM nih) segimana pentingnya zat besi ini buat anak kita (yang paling populer: kekurangan zat besi bikin anak nggak nafsu makan). Sayangnya memang ASI itu rendah zat besi, sama kaya susu sapi. Makanya kebutuhan akan zat besi ini mau nggak mau harus dipenuhi dari makanan padat.

Abis tanya ke salah satu temenku yang adalah seorang dietisien/ahli gizi, yang paling baik itu ya di-mix aja antara BLW dan direct feeding (disuapin langsung). Jadi bisa dapet dua-duanya: pengalaman anak terhadap berbagai tekstur dan rasa makanan oke, asupan gizi yang cukup dan seimbang juga oke. Win-win!

Wah, lega deh udah ngeralat. I definitely learned my lesson! Aku bisa aja sih keukeuh gak mau ralat apa yang aku bilang, but that isn’t gonna be fair for everyone else, and even for myself.

Karena mengakui kesalahan itu adalah bentuk tanggung jawab.

Karena mengakui kesalahan itu jauh lebih baik daripada menyembunyikan keburukan.

Dan memang harus mengakui kesalahan kalau masih mau dipercaya orang.

Toilet Training: Completed!

Aku inget banget, Alma pertama kali toilet training itu waktu dia umur 16 bulan. Bukan karena pengen dijuluki ibu teladan atau apa ya, tapi waktu itu Alma mendadak alergi pospak sampe pantatnya ruam parah, jadi mau nggak mau harus lepas pampers.

Baca: Memulai Toilet Training

Sepuluh bulan kemudian, alias beberapa minggu yang lalu, akhirnya Alma bener-bener lulus toilet training (I still cannot believe this!). Udah bener-bener yang kalo kebelet pipis/pup dia langsung bilang tanpa harus ditanyain dulu. Rasanya tuh yang legaaa banget! Eureka moment lah pokoknya.

Sepuluh bulan jelas bukan waktu yang sebentar ya buat toilet training. To be honest, aku dan Abi selama sepuluh bulan ini termasuk yang nggak konsisten banget dalam men-toilet training Alma. Alma pun masih yang harus rutin dibawa ke toilet dulu biar dia nggak kelepasan pipis. Dia bener-bener mau ngomong sebelum pipis itu cuma beberapa kali aja. Atau dia ngomong pipis, tapi pipisnya udah banjirin lantai. Jadi ya.. cukup melelahkan sih. Apalagi kalo udah pipis di lantai jadi harus ngepel dan lain sebagainya. Belum lagi kalo Alma ngompol pas mood kita lagi jelek atau pas kita lagi capek. Beuh, rasanya pengen ngamuuuk, hahaha.

Jadilah makin ke sini, makin kita bawa santai aja. Waktu ruamnya udah sembuh total, kita mulai curi-curi lagi pakein Alma pampers. Mau pergi jalan ke mana gitu, pasti wajib pake. Berani lepas pampers kalo pas di rumah (tidur siang kadang lepas pampers kadang enggak, tidur malem wajib pake) dan kalo pergi sebentar doang. Sisanya Alma pasti pake pampers. Nggak dibawa pusing lah.

Nggak taunyaaa, beberapa minggu yang lalu, tanpa ngasih pertanda apapun, di suatu siang yang cerah (halah), tiba-tiba Alma bilang ke Abi, “Bi, pipis!”

Dan ternyata dia pipis beneran dong.

Ok. This has happened before. Not something new at all. Paling juga abis ini balik lagi nggak ngomong. Ekspektasi kita rendah banget pokoknya.

Sorenya, dia bilang lagi kalo mau pipis. Kita ajakin ke toilet, keluar pipisnya beneran. Besoknya juga begitu. Besok-besoknya lagi juga. Sampai akhirnya kita nyadar kalo (akhirnya) Alma udah lulus toilet training

WOW. Kita setengah nggak percaya, kok bisa sih? Padahal sebelumnya Alma tuh yang masih sering pake pampers gitu. Pas kita lagi getol bikin Alma biar nggak pake pampers seharian ditambah sounding tiada henti kok malah nggak ada hasilnya?

Ini quote by @kcstauffer setelah dia berhasil potty-train Si Kembar Mila dan Emma:

“I’m not an expert, but after three kids, I let these two tell me when they were ready… And boy, was it way easier! Moms and Dads, don’t let anyone tell you how or when you should do something. Do what’s right for you and your kids.”

Jadi ternyata memang begitu. Bolehlah kita terapin itu langkah-langkah toilet training anak (karena memang harus begitu, anak harus dilatih biar terlatih, tapi tetep, sukses nggak-nya tergantung kesiapan anak, kalo dilatih pas anaknya udah siap, pasti bisa cepet lulusnya), but trust me, kita nggak bisa atur ini anak harus bisa lulus toilet training umur segini-segini karena begini-begini. Nggak. It doesn’t work that way. Your kids will tell you when they’re ready. As simple as that.

And once again, timing. Another prove that timing is everything.

Akhir kata, yay! Akhirnya budget buat pampers berkurang secara signifikan! Emaknya menang banyak. Huahahaha.

This is what I call happiness. xD

Tahap Perkembangan Bahasa, Kognitif, dan Sosial Bayi Usia 13-18 Bulan

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya. Mohon dibaca dulu ya jembrengan pendahuluan yang udah aku tulis di situ (bagi yang belum).

Setelah perkembangan bayi usia 10-12 bulan, sekarang lanjut ke perkembangan batita 13-15 bulan dan 16-18 bulan. Buat yang anaknya masih masuk rentang usia 10-15 bulan, yuk dimaksimalin stimulasinya biar perkembangan si anak nantinya bisa sesuai seperti yang kita harapkan. Emang sih perkembangan tiap anak bisa beda-beda, but I guess it’s also important to set a goal.

Buat yang anaknya udah masuk rentang usia 16-18 bulan, then this is a red alert for you! Ini batas usia di mana anak bisa berpotensi speech delay atau gangguan lainnya. Kalo sebagian besar poin di rentang usia ini nggak terpenuhi, terlebih lagi kalo anaknya belum bisa ngomong satu kata pun, you better worry. Buat mastiin, mending dibawa konsultasi ke klinik tumbuh kembang aja. Kalo ternyata masih normal ya syukur alhamdulillah, kalo ada yang perlu diperbaiki kan jadi bisa tahu penanganan yang tepat gimana. Bukannya nakut-nakutin sih, tapi kan emang serem kalo misal beneran ada gangguan. It’s because this kind of thing can really happen to anyone.

Iya, saya emang anaknya parnoan dan tukang nyebarin keparnoan sendiri sampe akhirnya postingan di akun Instagram penuh. Mana akhirnya bikin blog pula. Huahaha. 😂

Oh ya satu lagi, buat para ibu, use your instinct, or intuition, or whatever that’s called. Seringnya akurat, lho!

Yah begitulah pokoknya. Silakan cus ceki-ceki poin-poin di bawah ini ya. Enjoy!

 


 

13-15 MONTHS

Listening

Mengenal lebih banyak kata

Mampu mengingat satu buah kata dalam satu kalimat

Dapat mengenali frase/kata-kata yang familiar

Dapat mengikuti perintah satu langkah yang familiar (misal: lempar bajunya, dst.)

 

Receptive Language

Memahami lebih banyak kata-kata baru setiap minggunya

Dapat mengikuti perintah satu langkah saat bermain (misal: ambil bonekanya)

Memahami pertanyaan ‘di mana’ sederhana (misal: abi di mana?)

Mengenali dan menunjukkan pengetahuan tentang banyak benda dengan cara menunjuk benda tersebut

Mulai mengenali nama-nama bagian tubuh (misal: mata, tangan, kaki, dst.)

Menikmati irama/lagu

 

Expressive Language

Menggunakan 7 kata (atau lebih) secara konsisten

Menggunakan suara dan gerakan tubuh untuk mendapatkan benda yang diinginkan

Masih mengoceh tapi mulai ada beberapa kata yang terbentuk

Ocehan anak memiliki jeda-jeda dan intonasi

Menirukan kata-kata baru secara spontan (seperti refleks, setelah kata disebut langsung ditiru)

Bernyanyi

 

Speech

Menirukan suara huruf vokal yang diselang-seling (misal: a, i, a, i, a, i)

Dapat menirukan kata-kata dan pengucapannya dapat dimengerti

Hampir seluruh huruf vokal dalam berbagai variasi kata bisa diucapkan (misal: Alma bisa menyebutkan banyak kata dengan berbagai kombinasi huruf vokal, tapi masih belajar buat nyebutin beberapa kata yang ada kombinasi huruf u dan i. dia bisa bilang ‘abi’ (kombinasi a dan i), tapi susah bilang ‘umi’ (kombinasi u dan i), dan anehnya dia bisa bilang ‘uti’ (padahal kombinasi u dan i juga, faktor konsonan juga kali ya). but neverthelessshe excelled this point. kenapa? karena selain kombinasi u dan i, untuk kombinasi huruf vokal lainnya dia lancar-lancar aja. begitu. you got the idea, right? semoga yah. 😂)

Mengeluarkan lebih banyak lagi suara yang diawali konsonan p, b, d, dan m

Mengeluarkan suara yang diawali konsonan h dan w.

 

Cognition

Mempertahankan ketertarikan pada suatu benda dalam jangka waktu 2 menit atau lebih

Menaruh lingkaran di shape board

Menumpuk dua buah kubus

Mulai mencoret-coret kertas dengan krayon

Menirukan lebih banyak tindakan (misal: mengelus boneka kucing)

Menunjukkan pemahaman tentang fungsi suatu benda (misal: kalau ingin menyalakan laptop, anak akan menekan tombol power karena dia sudah mengamati dan menyimpulkan bahwa tombol yang itu gunanya untuk menyalakan laptop)

Melepas tutup kotak mainan/sejenisnya untuk menemukan mainan yang disembunyikan

 

Social Communication

Mulai bisa mempertahankan kontak mata dengan lawan bicara dalam periode waktu yang lebih lama

Berinisiatif untuk mengambil giliran, baik saat bermain ataupun berbicara (seiring dengan makin berkembangnya bahasa ekspresif)

Mengajak/melibatkan orang lain dengan cara menunjukkan barang-barang (misal: menunjukkan sepatu favoritnya ke kakek dan nenek)

Mulai memahami ‘wh’ questions (siapa, apa, kapan, di mana, dst. alias pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan ya’ atau ‘tidak’)

 


 

16-18 MONTHS

Listening

Mengenali lebih banyak ungkapan/kalimat

Mengenali dan menghubungkan lebih banyak kata dengan bendanya (misal: bagian-bagian tubuh, makanan, buah-buahan, dst.)

Menirukan kata yang terdengar

 

Receptive Language

Memahami lebih banyak pertanyaan sederhana

Mulai memahami kalimat yang lebih panjang (karena ada satu/beberapa kata di tengah-tengah kalimat yang dikenali anak. misal: Alma paham bahwa dia diminta untuk membuang sampah karena  dia mengenali kata ‘Alma’ dan ‘sampah’ dalam kalimat ‘Alma tolong buang ini ke tempat sampah dong’)

Mengenali lebih banyak bagian tubuh

Dapat menemukan suatu benda yang tidak bisa terlihat dengan mudah (misal: anak dapat menemukan gajah di tengah sekumpulan animal figures yang lain)

Memahami 50 kata atau lebih

Mengenali beberapa jenis pakaian, mainan, dan makanan

 

Expressive Language

Anak berhenti mengoceh tidak jelas (jargoning)

Kosakata bertambah menjadi 10 kata atau lebih

Penggunaan gerakan tubuh untuk mengomunikasikan sesuatu mulai berkurang dan sekarang jadi lebih banyak menggunakan bahasa verbal

Menirukan kata-kata yang terdengar

Setelah selesai melakukan suatu aktivitas, anak dapat memberi tahu secara lisan kalau dia ingin melakukannya lagi (misal dengan mengatakan ‘lagi’)

 

Speech

Dapat menirukan lebih banyak lagi kata-kata dengan pengucapan yang dapat dimengerti

Dapat mengucapkan hampir semua huruf vokal dalam sebuah kata (penjelasan kurang lebih sama seperti di rentang umur 13-15 bulan)

Masih banyak mengeluarkan kata-kata dengan huruf konsonan p, b, d, m, n, h, dan w

 

Cognition

Dapat menggambar coretan melingkar (circular scribble)

Dapat mengambil mainan yang tertutup penghalang/sekat

Dapat memungut benda-benda kecil

Membalikkan botol untuk mengambil mainan/benda yang ada di dalamnya

Menunjuk gambar-gambar di dalam buku dan mulai bisa membalikkan halaman buku

Menunjukkan permanensi objek (pemahaman/kesadaran bahwa suatu objek tetap ada meskipun tidak terlihat, terdengar, atau tersentuh. misal: menyadari eksistensi angin, meskipun tidak terlihat, tapi anak paham bahwa angin itu ada. kalau dipikir-pikir, berarti mulai bisa diajarin konsep ketuhanan nih.)

 

Social Communication

Meminta barang atau bantuan orang dewasa dengan gerakan tubuh dan suara

Berinisiatif untuk memulai suatu percakapan

Lebih memilih untuk bersama dengan orang-orang yang familiar/dikenal

Menunjukkan kewaspadaan terhadap orang asing

Menirukan anak lain

Perkembangan Bahasa pada Balita

yak. setelah kelar baca dokumen plus video berjudul Toddler’s Talk punya Cochlear, i decided to rewrite it with my own language. sebelumnya, perlu digarisbawahi bahwa Cochlear sebenernya bahas lengkap banget tentang perkembangan bahasa anak umur 0-48 bulan, tapi di sini aku bakal nulis perkembangan bahasa di rentang usia 16-30 bulan aja (sesuai umur Alma, jadi lebih relevan buat aku).

 

kemarin-kemarin aku pernah share tentang pengalaman seorang ibu yang anaknya divonis speech delay. awalnya, si ibu dan suaminya sempat denial, ‘ah kaya gini sih masih normal, wajar, nanti juga bisa ngomong, ada waktunya lah’, padahal in-the-end enggak. akhirnya si anak butuh diterapi di klinik tumbuh kembang.

 

pengalaman si ibu ini sempet bikin aku takut juga lho. there is a saying: ‘we often fear of things we cannot see’. bener banget lah ini. batas-batasnya apa sih sampai seorang anak bisa divonis speech delay? aku nggak tahu dan ketidaktahuan inilah yang bikin nggak nyaman. kita jadi nggak tahu apa yang harus dilakukan biar semua bisa berjalan normal.

 

that is why, i want to write this post. tulisan ini berisi semua tentang perkembangan bahasa toddlers: mereka harusnya mulai bisa apa, apa yang harus dilakukan orang tua/pengasuh, dan hal-hal yang perlu dihindari. meskipun isinya memang bukan tentang indikator anak yang punya speech delay, but i think the risk will be minimum (hopefully) if we can make some efforts to do the things i write in this post.

 

mari dimulai.

 

di usia 16-30 bulan, kemampuan anak dalam memahami kata-kata (bahasa reseptif) dan kemampuan dalam mengutarakan ide/gagasan dalam bentuk kata-kata (bahasa ekspresif) berkembang sangat pesat. kemampuan mendengar mereka juga semakin berkembang. bagian ini nih yang penting banget: MENDENGAR.

 

seorang anak nggak akan bisa bicara kalo dia nggak bisa mendengar dengan baik.

 

gimana caranya biar bisa mendengar dengan baik? nanti aku bakal jembrengin metode-metodenya. nah lho, metode? iyaaa ada metodenya. jadi biar anak bisa fokus mendengarkan, kita jangan sampe asal kasih sumber suara ke anak. sumber suara terbaik untuk anak adalah suara kita, orang tuanya, atau siapapun yang sehari-hari ngasuh si anak (nenek, kakek, dst). kenapa? karena dengan menggunakan suara kita sendiri, kita jadi bisa atur output suara kita pengennya kaya gimana: mulai dari intonasi, kecepatan, timing, dan lain sebagainya, dengan tujuan kata-kata yang kita ucapkan bisa mudah diserap oleh anak. pasti akan beda deh hasilnya kalo sehari-hari kita suapin anak pake, misal, tv/gadget tanpa pendampingan yang memadai. kenapa? karena output suara dari tv/gadget itu amat sangat bervariasi, it can overwhelm your child’s mind, especially those under 2 years old. otak mereka belum bisa memilah mana yang mereka bisa tangkep mana yang engga. analoginya, kaya bayi yang baru bisa makan puree tapi udah dicekokin nasi tim, pasti dilepeh lah itu nasinya. ujung-ujungnya nasi nggak masuk perut, walhasil nggak ada makanan yang diserap tubuh. sama juga kaya tadi, ujung-ujungnya jadi ngga ada kosakata yang nyangkut di kepala. mana anak jadi susah fokus pula. pengen ngomong tapi bingung mau ngomong apa, jadinya babbling doang. kemungkinan terburuk jadi kena speech delay, atau bahkan autisme.

 

ngomong-ngomong soal babbling, ada satu istilah yang lebih scientific buat ini: jargoning. anak usia 16-30 bulan harusnya sudah berhenti jargoning. apa itu jargoning? jargoning adalah serentetan suara berisi huruf vokal dan konsonan yang tidak memiliki arti. perlu digarisbawahi ya ini: tidak memiliki arti. jargoning perlu dibedakan dengan suara-suara (yang seringkali kurang jelas) yang dikeluarkan toddlers ketika mereka mencoba mengucapkan kata tertentu. misal nih kaya Alma, dia suka bilang ‘ama’ dan ‘yaya’ yang sepintas kaya babbling doang, padahal dia sebenarnya lagi berusaha buat bilang ‘sama’ dan ‘mayang’. nah, yang kaya gini (thankfully) bukan jargoning karena meskipun hasil suara yang dikeluarkan kurang jelas (tapi pasti tetep ada bedanya sih kalo dibandingin sama jargoning biasa), tapi Alma sebenarnya sedang mencoba mengucapkan kata tertentu yang ada artinya. gitu. jadi kalo umur segini si anak masih babbling yang ga ada artinya, orang tua wajib khawatir.

 

selain itu, di usia ini anak juga makin bisa meniru perkataan orang di sekitarnya. jadi mesti yang ati-atiii banget deh. yang di rumah harus jaga biar yang keluar dari mulut ini ucapan yang baik-baik aja. lingkungan sekitar apalagi harus diawasin. they imitate very well! males banget kan kalo tau-tau si anak ngomong kata-kata kotor padahal kita ga ngerasa ngajarin.

 

oooookay. that was long enough. sekarang lanjut bahas metode yang bisa diterapkan ke anak biar perkembangan bahasanya bisa maksimal. ada beberapa metode, jadi aku bahas satu-satu ya. oiya akan sangat mungkin kalau ternyata banyak di antara kita yang sebenernya udah ngelakuin metode-metode ini, cuma kita ngga tahu istilahnya aja. kalo iya, anggep aja ini jadi semacam emphasis for those things you have already done dan biar apa yang kita lakuin jadi lebih terstruktur.

 

pertama, penekanan akustik (acoustic highlighting), yaitu dengan memberikan penekanan pada kata tertentu dengan cara mengubah kecepatan bicara, mengubah intonasi, menyanyikan, membisikkan, atau mengulang-ulang. misal kita pengen ngajarin anak ngomong ‘gajah’. ulang-ulang aja itu kata ‘gajah‘ TAPI ngulanginnya natural aja ya. jangan tau-tau ngomong ‘gajahgajahgajahgajahgajahgajahgajahgajahgajah’ di depan mukanya si anak juga sih. hahaha. ngulanginnya bisa waktu ngajak anak ke kebun binatang, baca buku yang ada gambar gajahnya, ngegambar gajah di tembok (lol) bareng, main sama boneka gajah, dsb. kenapa? karena dengan begini belajar ngomong ‘gajah’-nya akan lebih meaningful karena dia menikmati proses belajarnya. jangan lupa pengucapan kata ‘gajah‘-nya juga dibedain, bisa dari intonasinya, bisa pake nyanyian, dst.

 

kedua, vocalising on demand. ini aku ga tau bahasa indonesianya apa. hahaha. vocalising on demand ini adalah ketika kita mengucapkan satu kata lalu KITA TUNGGU sampai anak mengucapkan kata yang sama, setelah itu baru kita tekankan lagi dengan kembali mengucapkan kata tersebut DENGAN PENGUCAPAN YANG BENAR (kan sering tuh gara-gara lucu kita jadi sering ikut-ikutan nyebut suatu objek pake bahasa bayi. please avoid doing this yaa). jadi inti vocalising on demand itu waktu kita nunggu si anak ikut ngucapin kata yang sama ya. misal waktu lagi main boneka gajah (iya biarin lah gajah melulu), trus kita bilang, ‘halo, GAJAH, GAAA-JAH’. tunggu sampe si anak ikutan bilang ‘gajah‘. ketika akhirnya si anak ngomong, misal ngomong ‘AJAH’, kita tekankan sekali lagi ke anak dengan pengucapan yang benar dengan bilang ‘GAJAH’ lagi. kalo memungkinkan, lakukan ini secara berulang-ulang tiap ada kesempatan yang pas.

 

ketiga, ekspansi, yaitu ketika kita mengulangi kata yang diucapkan oleh anak SAMBIL membetulkan suku/struktur katanya. dalam bahasan vocalising on demand di atas juga sebenernya udah ada ekspansi di situ, yaitu waktu kita benerin kata ‘AJAH’ yang diucapin si anak jadi ‘GAJAH’. contoh lain: misalnya si anak liat gajah yang lagi duduk (sarung kaliii), terus si anak ngomong ‘duduk’, kita bisa ulangin dengan bilang ‘iya, gajahnya duduk ya‘. jadi kita tambahin kata ‘gajah’ di situ biar kalimatnya jadi efektif.

 

keempat, ekstensi/ekspansi plus. sesuai namanya ya ekspansi plus, jadi ini ekpansi TAPI sambil kita tambahin informasi (dalam bentuk kalimat) baru. misal, lagi-lagi ada gajah duduk, terus si anak ngomong ‘duduk‘, kita bisa ulangin dengan bilang ‘iya, gajahnya duduk ya. wahh duduknya di atas ember!’

 

jadi gitu. makin dewasa anak, frekuensi ekspansi dan ekstensi bahasa harusnya makin diperbanyak dan dibuat semakin kompleks. semakin banyak kosakata diperkenalkan ke anak, semakin bagus.

selain metode di atas,ada baiknya kita perhatiin juga beberapa hal ini:

 

karena anak masih belajar mendengarkan, kita sebaiknya menciptakan lingkungan yang tenang buat anak. makin sedikit distraction, makin bagus. idealnya malah ngga ada distraction sama sekali.

 

waktu terbaik dalam pembelajaran bahasa adalah ketika si anak menunjukkan ketertarikan. makanya jangan kenal lelah ya buat ngubah setiap sesi bermain jadi pengalaman dalam belajar bahasa. misal waktu mainan berbaterai mati, jadikan momen ini buat belajar kata ‘baterai‘. lebih bagus lagi kalau sambil kita ajarin konsep sebab-akibat dan problem-solving. oh, kalo baterai abis, mainannya jadi mati, ngga nyala. gimana ya biar nyala? oh kita harus ganti baterainya. ayo kita ambil baterai baru yuk~ hayo coba cari di mana baterainya~ yuk dipasang~ dan seterusnya dan seterusnya.

 

membaca buku bersama juga bagus banget lho. by sharing a book, kita bisa kembangkan kemampuan percakapan dan komunikasi anak. anak pasti bakal ketemu banyak kosakata baru, belajar baca bergantian, dan seterusnya. ikatan emosional antara anak dan orang tua pun jadi makin erat.

 

khusus momen membaca buku ini ada banyak tips juga (tapi bisa diaplikasiin selain waktu baca buku juga sih, misalnya pas lagi ngamatin lingkungan di sekitar halaman rumah). ini beberapa tipsnya:

 

hindari menanyakan anak pertanyaan, ‘apa ini?’ ‘itu apa?’ atau pertanyaan-pertanyaan serupa yang jawabannya hanya terdiri dari satu kata. kenapa? karena pertanyaan model tertutup begini ngga bisa mengembangkan kemampuan bahasa dan berpikir anak. jadi akan lebih baik kalau kita pakai pertanyaan-pertanyaan open-ended yang memerlukan beberapa kemungkinan jawaban yang lebih luas dan tidak terbatas. misalnya,‘wah ini gajahnya mau ke mana ya?’ ‘menurut kamu gajahnya lagi ngapain nih?’ dst. kalau anak belum bisa jawab, ajak pihak ketiga (kakak, sepupu, ayah, dll) gabung biar anak bisa dengar variasi jawaban dan sambil belajar gimana cara jawab pertanyaan juga. dengan begini, kita sambil memperkenalkan dasar kemampuan berpikir kritis ke anak juga.

 

berikan komentar. misalnya kita bilang, ‘ini kayaknya gajahnya bingung deh mau ambil buah yang mana’. ekspektasinya, anak bakal ikutan komen balik.

 

jadilah lebay. iya seriusss, hahaha. banyak-banyak bilang,‘mmm’, ‘wahhh’, ‘aduuh’, ‘yayy’ biar anaknya jadi ikut semangat ikutan komentar. selain itu awali kalimat dengan kata ‘dik coba lihat blablabla’ atau ‘coba kasih tau umi dong blablabla’. fungsinya sama: buat memancing anak agar mau mengekspresikan ide dalam bentuk kata-kata, yang nantinya bisa kita lanjutkan dengan ekspansi atau bahkan ekstensi bahasa.

THE END.

yayyyyyy akhirnya kelar jugaaaaa. woohoohoohoooo~ lumayan lah sekalian ngajak otak kerja agak lebih keras dikit biar gak tumpul. hahaha.

last but not least, here is a quote by Indira Naidoo:

listening is the key to talking. your role as parents is critical. it takes commitment and consistent input, but the outcome will be rewarding.

happy parenting, Parents!

 

resources:

http://www.cochlear.com/wps/wcm/connect/shared-library/downloads/global-downloads/support/rehabilitation-resources-listen-learn-and-talk-toddlers-talk-chapter-2

Memulai Toilet Training

baru tidur jam 2 pagi gara-gara ruam popok yang udah bisa dibilang parah. Alma sampe nangis kejer tadi. 😭😭😭😭😭

sejak umur 3 bulanan pake pospak, baru sekali ini ngalamin yang namanya ruam popok. akunya jadi begok banget baru tahu kalo anak kena ruam popok itu ga cukup cuma dikasih krim aja, tapi pemakaian pospaknya juga harus berenti dulu. begok begok. u.u

besok pagi-pagi mau cus beli Myco-Z (pengennya pake ointment yang lebih natural kaya Burt’s Bees atau Aquaphor gitu but i don’t think i can find them here), trus beli tambahan celana dalem buat Alma sehari-hari di rumah.

dari bulan kemarin udah niat pengen toilet train Alma soalnya dia udah mulai kepo ngeliatin sambil ketawa waktu uminya lagi pipis (dulu-dulu nangis). tapi terus ditunda, sekalian habis liburan aja. eh sekarang malah kena ruam popok. fix habis liburan beneran harus mulai toilet training. when the time finally comes, let’s do our best ya bayiiiik, we got this! 😘

sigh, lagi-lagi maafin umi ya sayang 😢, semoga ruamnya cepet pergi jauh ga pake balik-balik lagi ya. hiks hiks. watching you cry painfully like that really breaks my heart. 😢


UPDATE

 

ok so i have decided to start potty train Alma from today on.

kalo dipikir-pikir lagi, ngapain sih nunggu kelar liburan? this is the moment! ruam popok bikin Alma harus lepas pampers, sekalian aja ajarin pipis di toilet. liburannya juga masih mayan lama, enough to make her get used to the toilet.

bismillah. semoga dilancarkan. 🙏🙏🙏

Speech Delay

ini sharing seorang ibu yang anaknya sekarang umur 2 tahun. dapet dari Facebook-nya abi.

jadi ceritanya, ibu ini SAHM (stay-at-home mom) tanpa nanny tanpa ART (gue bangeeeet, i feel her already). karena seringkali dia harus ninggal anaknya buat masak dll, otomatis dia dengan berat hati ijinin anaknya nonton tv. alasannya simpel, biar bisa anteng. kebiasaan ini berlanjut terus sampe pada akhirnya si anak bisa nangis guling-guling bahkan sampe mukul kepala kalo ga diijinin nonton tv.

😔😔😔😔

selain itu, sampe umur 2 tahun anaknya ini masih belum bisa ngomong satu kata pun. masih babbling kaya anak bayi. mulai kuatirlah ibunya. akhirnya dia bawa anaknya ke klinik tumbuh kembang.

hasilnya? anaknya beneran speech delay. insting ibu emang jarang salah sih ya. padahal awalnya suaminya pun keukeuh kalo anaknya normal-normal aja.

penjelasan terapisnya udah aku capture, silakan dibaca ya.

and you know what, kasus speech delay ini bisa dibilang nggak sedikit ya. mungkin banyak yang denial: alah jaman dulu nggak ada tuh yang kaya gini, waktu gede juga bisa sendiri.

menurutku sih begini: it’s not only about whether your kid will be able to speak or not. it really is much more than that. iya, katakanlah bener nanti juga bisa ngomong sendiri. tapi kesehatan emosinya gimana? perilaku anaknya gimana? kehidupan sosialnya nantinya gimana?

lagipula, jaman dulu tv dan gadget nggak sebanyak sekarang. jadi istilahnya, anak dibiarin nggak diapa-apain pun nggak bakal terpapar tv & gadget berlebihan.

sekarang udah beda. tv gadget di mana-mana. kontrol ortu beneran penting. lebih-lebih di masa golden age si anak.

sekali lagi, ini cuma opini ya. opini emak-emak yang berusaha buat memberikan yang terbaik buat si bayik. at least if i do this, the worst that can happen will still be good. hopefully.

oiya, jadi pengen makasih ke abi. abi nih selalu ngertiin kalo aku nggak masak di kala Alma lagi clingy berat nggak mau ditinggal, atau waktu banyak anak tetangga main ke rumah jadi aku harus full awasin Alma, atau rumah berantakan waktu aku udah pol cape seharian ngurus ini itu atau, most of the time, kalo aku lagi bad mood. he really is the best man for me. i can’t imagine living as a wife and a mother without him. probably i would have gone insane. haha.