Cara Saya dalam Membatasi Pemakaian Gadget dan Paparan Screen Time pada Alma

Hola, hola! It’s been awhile!

Duh, sebenernya aku punya banyak banget cerita buat ditulis di sini, tapi apa daya aku lagi sering banget mager, huhuhu.

But I certainly won’t be this time! Soalnya bisa dibilang, cerita yang akan aku tuliskan kali ini merupakan sebuah milestone yang akhirnya berhasil aku lewati setelah sekian lama. Apa itu?

Yaaa, keliatan lah yaaa dari judul. Pake sok suruh netijen nebak-nebak segala, ah. 🙄🤣

Jadi, buat yang belum tahu, sejak menikah sampai Alma umur dua setengah tahun, aku dan suami sama sekali nggak pasang TV demi biar perkembangan Alma bisa berlangsung secara optimal. Nah, sejak balik ke rumah di Cisauk ini, muncullah sebuah masalah: sinyal di rumah jelek banget! Biar aku dan suami bisa tetap waras, kita pun bergegas untuk pasang WiFi. Di kompleks perumahan kami, provider yang proses pemasangannya paling cepet adalah IndiHome. Jadilah kita pakai itu.

Nah, waktu liat-liat paket-paketnya, kita jadi pengen sekalian pasang TV kabel. Kebetulan waktu nikah dulu kita dapet kado TV dari temen-temen kantor suami, yaudah kan daripada mubazir. Lagipula, Alma juga udah lancar ngomongnya (MOLAIKKK MEMBELA DIRI 😂). Jebret, keesokan harinya, TV beserta WiFi pun sudah terpasang rapi di ruang tengah.

Di sinilah cobaan-cobaan (yang sebelumnya belum pernah terjadi) dimulai.

Sejak TV dipasang; aku, suami dan Alma punya tontonan favorit masing-masing. Yang jelas, entah kenapa kita nggak doyan nonton channel TV lokal. Bukannya sok iyes, tapi kita beneran udah pernah nyoba nonton salah satu acara TV di channel lokal dan kemudian kita langsung kapok, ogah nonton di situ lagi. Hartaku yang paling berharga, Alma, nggak akan aku biarkan nonton acara-acara tv yang mayoritas nggak berfaedah itu. 🙅

Terus? Kita nontonnya apa? Aku pribadi, cuma dua channel ini: NatGeo dan NatGeoWild. Kalo marathon nonton TV on demand NatGeo selesai, lanjut ke NatGeoWild. Gituuu terus persis orang main pingpong. Selain itu, kadang-kadang aku juga nonton film dan drama di iFlix kalo pas ada yang bagus (maklum, iFlix kan nggak sekeren Netflix, hiks).

Kalo suami, karena dia kerja berangkat pagi pulang malem, otomatis jadi jarang pake TV. Jadi ya kalo ada waktu pun, dia akan nonton apa yang aku tonton.

Nahhh, yang paling penting dibahas akhirnya datang juga. Kalo Alma nonton apa? Jawabannya ada tiga: Go Diego Go, Dora the Explorer dan channel nursery rhymes di YouTube (macem Cocomelon, Dave and Ava, LooLoo Kids, gitu-gitu deh). Iya, kita bisa nonton YouTube di TV.

Kebayang dong, apa yang akan terjadi kalo ada anak yang sebelumnya nggak pernah nonton TV tau-tau disodorin TV dengan konten yang super menarik? Yes, dia bakal nonton terus tanpa tau jeda waktu. Kalo nggak di-stop, ya nggak bakal berenti.

Dampak buruk apa yang paling aku rasa berat selama Alma aku izinin nonton TV? Alma jadi susah fokus dan gampang stres. Pas dibacain buku, Alma jadi nggak seantusias dulu (ini yang bikin aku paling sedih sih). Mau makan, minta sambil nonton (yang mana ini bikin sesi makan jadi super-duper lamaaaaa banget). Mau mandi, minta nego selesaiin satu episode Dora dulu. Kalo dilarang baik-baik, dia nangis bagai orang patah hati. Umiknya pun jadi sering kesel sendiri.

Udah tau ada masalah, aku nggak mungkin berdiam diri dong. Aku pun mencoba beberapa jalan keluar. Biar lebih singkat, aku ceritain tiga solusi yang paling sering aku pakai (tapi kemudian gagal), ya.

Pertama, batasin waktu nonton Alma pakai timer. Aku bilang ke Alma, “Dek, kalo hapenya Umik bunyi, berarti Alma nonton TV-nya selesai, ya.” Ta-daaa, fail. Setelah bunyi timer pecah, Alma merengek-rengek minta nonton lagi. Aku sebenernya bisa aja tetep tegas menolak, tapi aku merasa kalo aku melakukan itu, berarti aku ibu yang munafik. Aku aja masih suka nonton marathon TV series di NatGeo, masa Alma nggak boleh? Karena itulah, metode yang ini selalu berakhir gagal.

Kedua, aku coba lebih banyak ajakin Alma baca buku. Ini juga banyakan gagalnya. Kenapa? Pertama, karena selama buku masih bersaing sama TV, jelas TV-lah yang bakal menang. Mau segigih apapun aku ajak dia baca buku, ini nggak akan bisa membuat Alma lebih bertanggung jawab dengan durasi screen-time-nya. Ya gimana, masa benda yang dipakai sebagai pengganti nggak lebih menarik dari benda yang ingin diganti? Kedua, karena aku manusia biasa yang bisa lelah. Ngajakin anak yang lagi nggak fokus buat baca buku itu sama sekali nggak gampang, Sodara-Sodara! Butuh energi luar biasa besar biar aku bisa tetap stay calm tapi tetap tegas waktu mendampingi Alma di saat-saat seperti itu.

Ketiga, selain baca buku, aku mulai sering ajakin Alma main di luar. Nggak perlu jauh-jauh, cukup di sekitaran rumah aja. Dan seriusan, di antara dua cara sebelumnya, cara inilah yang menurutku agak terasa efeknya. Mungkin karena balita itu energinya besar ya, jadi butuh rutin disalurkan melalui aktivitas-aktivitas fisik. Cumaaa, tetep aja, cara ini juga belum bisa 100% menyelesaikan masalah.

Di tengah kegundahan ini, hari Sabtu tanggal 24 November kemarin, aku ikut workshop pendidikan karakter “Habit of Obedience and the Way of Will” yang dipimpin langsung oleh Mba Ellen Kristi, pendiri Charlotte Mason Indonesia. Iya, aku lagi serius mendalami filosofi pendidikan Charlotte Mason (CM). Sejak baca buku Cinta yang Berpikir, aku langsung jatuh cinta sama CM. 😍 Beneran jadi aha-moment-ku, “THIS is what I have been looking for!

Ada banyak banget pencerahan-pencerahan baru yang aku dapetin dari workshop, salah satunya yang paling lekat menempel di kepalaku adalah bahwa orang tua yang selama ini berperan sebagai pemegang otoritas di rumah, ternyata ‘hanyalah’ perpanjangan tangan dari otoritas-otoritas yang jauh lebih tinggi. (Si)apa saja otoritas-otoritas yang lebih tinggi itu? Diantaranya Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma.

Dengan prinsip ini, batasan-batasan orang tua dalam mengasuh anak menjadi jelas: orang tua tidak akan menjadi permisif, tidak juga otoriter, karena kita sudah punya acuan yang ajeg (berupa aturan-aturan dari Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma itu tadi). Jika apa yang dilakukan anak sudah sesuai dengan acuan, ya alhamdulillah. Sebaliknya, jika anak berperilaku tidak sesuai acuan, ya kita wajib meluruskan (dengan cara-cara yang sesuai, tentunya).

Sekarang kita udah tahu (si)apa aja otoritas-otoritas yang lebih tinggi dari kita yang patut kita jadikan sebagai acuan dalam membuat aturan-aturan di rumah. Nah, tugas kita (sebagai orang tua) adalah merumuskan aturan-aturan dan menegakkan aturan-aturan yang sudah dirumuskan tersebut. Kuncinya, orang tua harus mampu membedakan mana saja hal-hal prinsip dan tidak prinsip yang biasa terjadi di rumah, dan ini bisa beda-beda untuk setiap keluarga.

Misalnya, ada keluarga yang menganggap mandi itu sebagai hal prinsip, ada juga yang enggak. Karena perbedaan ini, perlakuan yang diberikan ke anak yang nggak mau mandi akan jadi berbeda di dua keluarga ini. Di keluarga yang pertama, karena mandi itu prinsip, ya anak harus mandi. Anak nangis-nangis bin tantrum? Ya kita validasi dulu emosinya, sambil tetap si anak kita angkat ke kamar mandi. Kalau yang menganggap mandi tidak prinsip? Yaudah, nggak ada masalah kalau anak nggak mau mandi.

Oiya, perlu diingat, aturan-aturan yang dibuat ini wajib dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga, tanpa kecuali. Pinter-pinter orang tua aja bikin aturan biar bisa tepat sasaran tanpa merugikan sebagian anggota keluarga.

Nah, dari sinilah aku mulai tersadar dan menemukan missing link yang selama ini aku cari-cari. Kenapa aku selalu gagal menerapkan solusi atas permasalahanku terkait screen-time Alma? Ya karena aku belum merumuskan aturan yang jelas dan kalaupun aturan sudah kubuat, aku hanya menerapkannya untuk Alma! I was too cowardly to willingly do the exact same thing as her!

Sepulang dari workshop, aku langsung tahu aturan seperti apa yang harus kami terapkan di rumah terkait screen-time ini. Aturannya pun sangat sederhana.

Dalam sehari, setiap orang di rumah ini hanya memiliki SATU sesi menonton TV, tidak lebih dan tidak kurang.

Udah. Itu aja.

Untuk Alma, satu sesi ini berarti satu episode Dora atau Diego. Kalau yang ditonton ada di YouTube, berarti durasinya hanya 30 menit, sama seperti durasi satu episode Dora dan Diego.

Untuk aku dan suami, satu sesi ini berarti satu episode acara TV di NatGeo atau NatGeoWild atau iFlix.

Asal dikomunikasikan dengan baik dan diterapkan dengan konsisten, besar kemungkinan aturan ini akan berjalan dengan sukses. Alhamdulillah, itulah yang terjadi selama tiga hari ini. Amazingly, Alma patuh tanpa ada penolakan yang berarti! No wonder, karena dia juga melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya juga konsisten mematuhi aturan ini.

Herannya, aku juga nggak sedikitpun merasakan kehilangan, lho! Biasa aja gitu. Kirain aku bakalan yang, “Yah, padahal aku pengen banget nih nonton Primal Survivor, tapi nggak bisa, huhuhu.” Ternyata enggak.

It was truly our victory together!

Ya mungkin tanpa kita sadari, otak kita juga merasa lebih nyaman begini ya. Lebih damai aja gitu rasanya. Apalagi sekarang kita rutin main outdoor, jadi sering kena sinar matahari pagi dan liat yang ijo-ijo (secara harfiah, yaa 🤣). Our mind has been much more peaceful ever since.

P.S.: Kalo hape gimana? Fortunately, we have sorted this out as well. Alma boleh pakai hape, tapi hanya untuk lihat bagian foto-foto dan video aja. Aku juga boleh pakai hape; tapi cuma buat pakai kamera dan ngetik aja. 😆

Yang Saya Rasakan Setelah Perkuliahan Level 1 Bunda Sayang Usai

Sejak sebelum memiliki anak, saya dikenal sebagai orang yang ‘mudah bergaul’ dengan anak kecil. Anak kecil biasanya suka berinteraksi dengan saya. Entah kenapa ini bisa terjadi, tapi saya punya satu teori: karena saya ini sangat child-like. Bukan childish ya, tapi child-like. Dua istilah ini memiliki dua arti yang sangat berbeda (walau kadang saya bisa childish juga sih, sering malah, hahaha 😢).

Childish merupakan kata sifat yang lebih mengarah pada sifat kekanak-kanakan, tidak dewasa dan konyol. Jika dipakai untuk orang dewasa maka kata ini mengandung arti negatif yang tidak seharusnya orang dewasa bersikap seperti itu.

Sedangkan child-like mempunyai arti memiliki sifat atau sikap yang baik seperti anak-anak, seperti kepolosannya dan kejujurannya, atau bisa juga perilakunya secara fisik. Jika child-like ditujukan untuk orang dewasa berarti mempunyai arti positif untuk orang tersebut.

Mungkin karena saya anak bungsu, saya jadi agak kekanak-kanakan. Saya bisa berbicara dan membuat ekspresi wajah yang exaggerated sehingga membuat anak-anak tertarik (misal ekspresi kaget, bingung, senang dll). Saya juga suka memanjat, melompat dan berputar-putar. Saya suka mengisengi anak kecil. Terkadang, saya juga bisa memahami pola pikir anak-anak yang tentunya sangat berbeda dengan orang dewasa.

Dulu, saya pikir jika saya memiliki anak, pasti tidak akan terlalu susah. Toh anak orang biasanya suka sama saya, apalagi anak sendiri.

Ternyata itu semua tidak terbukti benar. 😂

Saya baru menyadari, mengapa interaksi-interaksi saya dengan anak kecil dulu terasa smooth adalah karena saya berinteraksi dengan mereka hanya dalam sekali waktu dan dalam rentang waktu yang relatif tidak lama (tidak sampai seharian misalnya). Saya belum pernah merasakan hidup berdampingan dengan anak kecil selama 24 jam dalam sehari secara terus-menerus.

Saat memiliki anak betulan, semua berbeda 180 derajat. Tekanan sebagai orang tua itu bagi saya, no joke. Baru juga melahirkan, anak masih bayi, Emaknya sudah kena baby blues. Anak sudah makin besar, sudah mulai masuk usia toddler, berarti tantangan baru lagi. Ingin rasanya bisa selalu berwajah senang, tenang dan ceria sepanjang hari di depan anak, tapi saya paham betul bahwa saya tidak bisa mencoba menjadi sempurna setiap saat. Trying to be perfect every single time will kill you, sooner or later.

Ya, saya masih memiliki komponen ‘child-like’ yang saya sebutkan di awal tadi. Komponen ini juga masih sering membantu saya saat sedang membersamai anak. Sayangnya, komponen ini hanyalah komponen kecil. Ibarat mesin cuci, ini cuma bagian tutupnya saja.

Saya beruntung saya hidup di era di mana informasi bisa didapatkan dengan mudah, termasuk informasi mengenai ilmu parenting dan psikologi anak. Saya terus membaca dan saya terus belajar (terutama tentang teori positive parenting). Salah satu bagian dalam positive parenting yang paling bermanfaat bagi saya: bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan anak. Sejak Alma mulai bisa diajak berkomunikasi dua arah, saya senantiasa berusaha untuk menerapkan ini.

Gong dari (yang saya sebut) komunikasi efektif yang sudah lebih dulu saya pelajari adalah ketika saya menerima materi Bunsay Level Pertama: Komunikasi Produktif. Melihat materi yang disusun dengan begitu rapi, saya langsung merasa excited. Seolah-olah ini adalah summary dari apa yang sudah saya pelajari sebelum-sebelum ini.

Untuk tantangan level satu ini, saya tidak merasa terbebani sama sekali karena ya, memang inilah yang sejak dulu saya usahakan untuk lakukan setiap hari. Overall, tantangan level satu ini berjalan dengan sangat alami. Bedanya, saya harus mendokumentasikannya dengan rutin selama 10-15 hari, itu saja.

Sesungguhnya, tantangan yang sebenar-benarnya itu bukanlah saat saya harus menyetor narasi, melainkan saat saya harus menghadapi diri sendiri di titik-titik terendah saya (misalnya saat sedang ada masalah, saat kondisi mental saya memburuk, dsb). Jadi menurut saya, ini bukan hanya tantangan 10 hari. Ini adalah tantangan seumur hidup selama saya berstatus sebagai orang tua.

Yang saya sukai dari program Bunsay ini adalah, program Bunsay membuat kita menganggap serius peran kita sebagai orang tua, that we must take parenting very, very seriously. Bisa melahirkan anak, belum tentu bisa menjadi orang tua yang baik. Program Bunsay, melalui materi dan tantangannya, menjadi sebuah alarm/wake-up-call: wahai para (Ayah dan) Ibu, ilmu parenting bukan hanya untuk dipelajari, tapi juga harus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh!

Itulah kenapa saya lebih suka mem-posting tantangan 10 hari saya di media sosial. Saya sangat berharap, orang lain yang membaca tulisan saya jadi bisa ikut kecipratan ilmu-ilmu yang saya dapat dari perkuliahan Bunda Sayang. Inti dari semua ini apa sih? Menurut saya jawabannya adalah perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Jadi saya sudah berkomitmen untuk menjalani perkuliahan ini bukan hanya untuk saya dan suami, tapi juga untuk para orang tua lain di luar sana.

Sumber: https://www.kampunginggris.id/penggunaan-childish-childlike/amp/

Anakku Pemalu Sekali, Wajarkah?

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini pasti punya karakter unik, berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya, ada yang sejak kecil mudah berbaur dengan orang lain, ada pula yang pemalu.

Ups. Tunggu sebentar. Fun fact: tahu nggak sih kalo sebetulnya tidak ada orang yang dilahirkan pemalu di dunia ini? Well, you might not believe me, tapi ilmu psikologi punya penjelasannya lho.

Alexander Thomas dan Stella Chess (1977) mengklasifikasi temperamen pada anak menjadi tiga kelompok.

Easy: 40% bayi memiliki temperamen ini; mudah menyesuaikan diri dengan situasi baru, mampu menerapkan rutinitas dengan cepat, terlihat ceria dan mudah tenang.

Difficult: 10% bayi memiliki temperamen ini; lambat menyesuaikan diri dengan pengalaman baru, cenderung bereaksi secara negatif dan intens terhadap stimulus dan lingkungan.

Slow-to-warm-up: 15% bayi memiliki temperamen ini; agak sulit berbaur di awal, tetapi lambat laun menjadi lebih mudah.

Apa hubungan antara klasifikasi di atas dengan anak pemalu? Another fun fact: anak-anak yang dilabeli ‘pemalu’ ini sebetulnya adalah anak-anak dengan tipe temperamen slow-to-warm-up.

Yep. It’s all about the speed. Setiap anak mempunyai kecepatannya sendiri-sendiri ketika harus berinteraksi dengan lingkungan baru.

Bila anak bertipe easy dan slow-to-warm-up memasuki sebuah taman bermain yang ramai, misalnya, pasti akan terlihat perbedaan perilaku yang mencolok. Anak bertipe easy akan langsung berbaur di dalam kerumunan dan memilih permainan yang dia sukai tanpa ada rasa canggung. Sebaliknya, anak bertipe slow-to-warm-up akan lebih memilih untuk berdiri agak jauh dari kerumunan sambil mengamati keadaan. Kalaupun ada permainan yang dia sukai, dia akan menunggu terlebih dahulu sampai situasi terasa aman baginya (tidak ada anak lain yang memakai permainan yang dimaksud, misalnya). Bahkan, kalau dia merasa bahwa tempatnya terlalu gaduh dan ramai, besar kemungkinan dia akan menolak untuk bermain di situ.

Klasifikasi temperamen anak ini sama sekali bukan tentang ‘mana tipe temperamen yang lebih baik dari yang lain’. Sama sekali bukan. Anak bertemperamen easy bukan berarti lebih baik dari anak bertemperamen slow-to-warm-up, pun sebaliknya. Sayangnya, seringkali anak bertipe slow-to-warm-up dianggap ‘lebih negatif’ dari anak bertipe easy hingga muncullah label-label negatif yang ditujukan kepada anak (penakut, pemalu, susah bergaul, dll). Ini fenomena yang umum saya temui, mungkin karena jumlah anak bertemperamen easy mendominasi (di data di atas sampai 40%) sehingga karakteristik temperamen ini dianggap sebagai tolok ukur pencapaian keterampilan sosial seorang anak. While we clearly know that it does not work that way.

Label-label inilah yang sesungguhnya berbahaya jika dipaparkan pada anak secara berulang-ulang (sadar atau tanpa sadar). Bagaikan mantra. Anak akan benar-benar menjadi apa yang setiap hari kita katakan pada mereka. Tidak ada anak yang terlahir menjadi seorang ‘penakut’. Namun jika kita berulang kali memberitahunya bahwa dia anak penakut, well, your wish will mostly be granted then. Dia betul-betul akan tumbuh menjadi anak yang penakut. Ngeri, ya? Itulah mengapa sebaiknya kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik saja pada anak-anak. Siapa yang tahu kan ucapan mana yang nantinya dijabah oleh Yang Maha Kuasa?

Tipe temperamen yang dimiliki seorang anak juga tidak ada hubungannya dengan gaya pengasuhan orangtua. They are born with it. Sebaliknya, gaya pengasuhan orangtualah yang harus menyesuaikan temperamen anak.

Kuncinya ada dua: nature (sifat dasar, bawaan) dan nurture (pengasuhan). Alma, misalnya. Alma terlahir sebagai anak slow-to-warm-up. Ini adalah anugerah dari Allah yang saya, ibunya (atau siapapun), tidak akan bisa ubah (nature). Yang bisa saya ubah (atau lebih tepatnya: sesuaikan) adalah pola pengasuhan saya (nurture). Pola asuh untuk anak easy jelas akan berbeda dengan pola asuh untuk anak slow-to-warm-up, meskipun tujuan akhirnya sama: agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal, plus, potensi terbaiknya bisa tergali dengan baik.

Saya sendiri adalah seorang yang bertemperamen slow-to-warm-up. Jadi saya sama sekali tidak terkejut ketika Alma memiliki temperamen yang sama. Justru saya merasa bersyukur karena dengan begini saya jadi paham betul perlakuan seperti apa yang harus saya berikan kepada Alma. Berikut beberapa contohnya.

Saat bertemu dengan orang yang tidak dikenal/lama tidak bertemu, saya berusaha untuk tidak memaksa Alma untuk melakukan kontak fisik saat itu juga, bahkan untuk bersalaman sekalipun. Kalaupun orang yang bersangkutan mengajak bersalaman, saya akan tanyakan terlebih dahulu pada Alma apakah dia mau atau tidak. Oiya, jika pertemuannya sudah direncanakan sebelumnya, saya akan sounding sejak jauh hari dengan siapa Alma akan bertemu sambil menceritakan hal-hal baik tentang orang tersebut agar Alma memiliki ekspektasi terhadap apa yang akan dia hadapi nantinya.

Saya membiarkan Alma menempel pada saya (secara harfiah) pada saat dia berada di tempat/situasi yang asing. Saya akan berusaha agar situasi bisa menjadi aman dan nyaman baginya hingga akhirnya dia bisa berbaur atas inisiatifnya sendiri. Kalaupun pada akhirnya dia tidak mau berbaur tanpa saya, ya tidak apa-apa. Saya akan dengan senang hati mendampingi. Setiap orang punya kriteria keamanannya masing-masing kan?

Saya selalu berusaha untuk menghargai pilihannya atas segala sesuatu, asalkan pilihannya itu tidak merugikan dirinya atau orang lain.

Dalam pikiran saya, saya selalu percaya bahwa this too shall pass. Saya berusaha untuk tidak memikirkan apa yang mungkin orang pikirkan terhadap saya (sebagai orangtua), terlebih lagi komentar-komentar yang tidak berfaedah. Saya meyakini bahwa pola pengasuhan yang sesuai dengan temperamen anak yang sedang saya usahakan (dan penuh tantangan) ini nantinya akan berbuah manis.

Saya selalu berusaha untuk fokus pada kelebihan dan potensi Alma sambil mencari cara untuk mengoptimalkan potensi-potensi tersebut.

Khusus poin terakhir, saya jadi teringat kejadian yang saya dan Alma alami beberapa waktu yang lalu. Ketika itu saya dan Alma baru saja memasuki salah satu bilik toilet di sebuah mal. Tidak sampai tiga detik, Alma langsung menyadari bahwa ada sebuah ponsel (yang tertinggal) di pojok toilet. Dia langsung bertanya kepada saya dengan wajah polosnya, “Mik, hapenya siapa itu?” Saya merasa takjub, bagaimana bisa dia langsung tahu benda apa yang tidak semestinya ada di situ dengan begitu cepatnya? Terlebih lagi letak ponselnya saat itu cukup tersembunyi? Seandainya saya masuk ke bilik itu tanpa Alma, saya yakin saya tidak akan tahu kalau ada ponsel yang tertinggal di situ.

Saya selalu kagum dengan daya observasi Alma (yang seringkali dia pamerkan) ini. Saya yakin, anak-anak bertemperamen slow-to-warm-up lain juga memiliki karakter yang mirip: mereka adalah pengamat yang baik.

Begitulah. Setiap anak memiliki karakteristiknya masing-masing. Orangtua tidak perlu bersusah payah mengubah karakteristik itu (karena niscaya usaha itu akan berakhir sia-sia, atau bahkan lebih buruk dari ekspektasi kita, naudzubillah).

Let’s accept our children for who they are. Don’t take them for granted. Let’s just bring the best out of them instead, using the most appropriate ways. 😘

Weaning with Love: Completed!

Menyusui itu sesungguhnya bukan hanya perihal memberikan asupan kalsium (berupa ASI) kepada anak. Jauh lebih penting dari itu, dengan menyusui, anak merasa sepenuh-penuhnya dicintai.

Bukan berarti yang tidak menyusui tidak bisa membuat anak merasa dicintai, ya. 😊

Seiring anak bertumbuh besar, akan ada masanya ketika anak harus berpisah dengan aktivitas menyusui, alias disapih. Di usia berapakah anak harus mulai disapih? Menurut saya, ini pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Sang Ibu.

Bagaimana dengan Alma? Setelah sekian lama, pada awal bulan Mei saya memantapkan diri untuk mulai menyapih Alma hingga akhirnya sekarang Alma sudah benar-benar lepas dari ASI. Alhamdulillah.

Bagaimana prosesnya? Beberapa hari pertama, momen-momen tersulit adalah ketika jadwal tidur malam tiba. Untungnya, ini sudah sesuai dengan ekspektasi saya. Saya teramat maklum, dari sejak dia lahir ke dunia hingga di usianya yang menginjak 32 bulan, belum pernah sekalipun dia lepas dari ‘nenen’. Nenen sebelum tidur? Wajib hukumnya. Full setiap hari selama 32 bulan penuh. Ketika pada akhirnya Alma harus dihadapkan pada kenyataan bahwa dia tidak lagi bisa menyusu di malam hari, teramat wajar kalau akhirnya Alma menjadi tantrum. It wasn’t an easy goodbye at all.

Di saat Alma tantrum seperti ini, saya hanya menyiapkan tiga hal: makanan/minuman pengganti, stok sabar (tanpa batas) saat menunggu dia menangis sampai lega dan yang terakhir: tawaran untuk dipeluk. Ternyata, yang paling ampuh adalah yang terakhir.

Selama ini, ekpresi kasih sayang paling dominan saya kepada Alma tertumpahkan saat ia sedang menyusu. Saat disapih, pelukan inilah yang akhirnya mampu menjadi pengganti. Sekarang, kalau Alma sedang takut, marah, kesal atau kecewa, dia pasti minta dipeluk. Setelah itu tentu saja saya akan peluk dia seerat dan selama dia mau.

Sesungguhnya, selain Alma, saya pun membutuhkan pelukan ini. Melalui pelukan-pelukan (yang frekuensinya jadi semakin sering) ini, kami saling menenangkan dan menguatkan satu sama lain. Saya juga bisa (secara tidak langsung) memberitahunya bahwa meskipun ia tidak bisa menyusu lagi, bukan berarti kasih sayang yang saya curahkan kepadanya jadi berkurang. Justru, kini kami bisa saling menyayangi satu sama lain dengan seribu satu cara yang lain.

Perubahan apa lagi yang terjadi setelah Alma disapih (selain rutin minta peluk)? Yang paling terlihat adalah peningkatan nafsu makannya. Mungkin ini disebabkan karena Alma tidak terlalu bergantung pada susu. Sebagai pengganti ASI, Alma sekarang mulai mengonsumsi susu UHT. Itu pun saya berikan kalau Alma yang minta. Pasca-disapih, rupanya dia lebih suka beralih ke makanan padat. Saya tidak masalah dengan ini.

Sebagai seorang ibu, satu milestone telah berhasil saya lewati. Masih ada banyak milestones lain yang akan saya dan suami hadapi ke depannya. Saya yakin, setiap ibu yang ada di dunia ini juga pasti telah, sedang dan akan melalui hal yang sama. The fact that I am not alone in this, it gives me strength somehow. I can do this, we all can do this! YOSSHHH!

Cerita Saat Salat Tarawih yang Terinspirasi dari Buku Totto-Chan

Dari kiri ke kanan: Kak Fatiha (4 tahun), Kak Fayyadh (katanya-Kak-Fatiha 2 tahun), sama Kak Alma (mau 2 tahun). Biar adil, semuanya pake satuan ‘tahun’. 😄

Kemarin karena perut masih cekit-cekit (#gastritisattack), jadinya emaknya Alma masih nggak ikut tarawih, tapi tetep ikut ke masjid. Nah, waktu yang lain lagi salat, nemu dua bocah kakak-adik ini.

Pertamanya diem-dieman aja otak-atik saklar lampu kolam ikan. Aku bilang, “Kalo lampunya mati-nyala gitu, ikan sama laba-labanya jadi kadang keliatan, kadang nggak keliatan. Tante kepingin liat ikannya terus nih, boleh dinyalain terus aja?” sambil pasang wajah melas.

Eh, berhasil. Mereka ga jadi main saklar. Apakah wajahku sememelas itu?

Tapi terus mereka ganti mainan saklar yang di taman deket batu-batu. 😂 Belajar dari buku Totto-Chan, anak kecil itu suka cerita. Akhirnya mereka aku panggil dan aku ajak ngobrol. Sukses.

Btw ngobrol di sini maksudnya Kak Fatiha jelasin A-Z (mulai dari keluarga dia, kolam deket rumah dia, langit itu rumahnya bulan dan awan itu jendelanya, dsb dsb), Kak Fayyadh copy-paste kata-kata plus gerakan tubuh kakaknya, Alma ngeliatin kita gantian satu-satu (speechless ada yang lebih cerewet dari dia kali), dan aku cuma nyebutin kata-kata ini: ‘waaaah!’ ‘masa??’ ‘hebaaat!’ ‘iya betul’ ‘kok bisa??’ ‘gimana caranya?’ dan sejenisnya. Dan itu Si Kakak cerita terus sampe selesai salat witir dan diajakin pulang sama Ummi-nya. Kemungkinan besar sih kalo misal salatnya nggak berhenti, dia juga nggak bakal berhenti cerita. 😆

Alhamdulillah masjidnya gede, jadi yang salat nggak keberisikan. Kalo nggak, kita pasti udah disamperin panitia salat tarawih.

It was really awakening. Aku jadi tahu kalo aku harus siap-siap kasih perhatian yang jauh, jauh, jauh lebih banyak ke Alma kalo dia udah makin gede. She will ask me about everything. She will tell me about everything she likes, everything she knows, everything she is worried about, everything that makes her upset, everything.

And because she will be able to understand a lot of things she still cannot understand now, I have to pack myself with more knowledge.

I know, right? Jadi emak-emak gini amat ya…

Time-Out? Time-In Aja Yuk

I am so against both authoritarian and permissive parenting. Therefore, I am so into authoritative/peaceful/positive parenting.

Ada yang pernah nonton Nanny 911 nggak sih? Dulu pernah diputer di Metro TV tahun 2008. Acara favorit banget ini pokoknya. 😂 Jadi ini reality show tentang sekumpulan ‘nanny‘ profesional yang dikirim buat bantu keluarga yang punya anak-anak dengan perilaku ‘menyimpang’ di mana orang tuanya udah hands-up nggak ngerti lagi mau gimanain anaknya biar anaknya bisa behaved seperti sedia kala. Rata-rata sih masalahnya adalah anak-anak berperilaku agresif. Ada juga anak-anak yang supermanja nggak mau disuruh, yang indifferent banget sama lingkungan sekitar dia.

Nah, satu metode yang paling stand-out yang paling sering dipake sama para nanny ini adalah: time-out.

Apaan tuh?

Time-out dikatakan sebagai alternatif terbaik untuk mendisplinkan anak. secara mukul, nyubit, teriak-teriak ke anak itu jelas nggak baik ya. Tapi kan ya nggak mungkin didiemin juga, bisa makin menjadi-jadi. Jadilah muncul metode time-out ini.

Step by step-nya adalah: kalo ada anak yang misbehave, anaknya disuruh berdiri di salah satu sudut ruangan selama beberapa menit dengan tujuan agar anaknya bisa merenungkan kesalahannya. Kalo masih teriak-teriak ngamuk dan kabur, harus dibalikin lagi ke spot semula. Gituuu terus sampe akhirnya anaknya bisa calm down dan bisa kasih tau salahnya tadi apa dan janji ngga ngulangin lagi sambil diminta kasih tau tadi tuh dia kenapa sih kok bisa ngamuk, dst dst.

Waktu nonton dulu bawaannya langsung amazed, metodenya keren gini ya bisa ampuh bikin anak kecil nggak agresif/manja lagi.

But deep down inside, I didn’t like the method. And now, after doing my research as a mother, I dislike it even more. I refuse to do that to Alma, mau segimanapun tantrumnya Alma.

Terus, kalo ngga pake time-out, pake apa dong?

 Do time-in! Ini istilah tandingan buat time-out gitu, hahaha. While doing time-in, we (mother & child) connect with each other. Sebagai orangtua, kita penuhi dulu kebutuhan emosi anaknya: diajak komunikasi dengan penuh sayang, kasih tau kalo kita ngerti kalo dia marah, sedih, pengen nangis kenceng-kenceng dan itu nggak papa. Kasih tau kalo ayah/ibu nggak bakal pergi kemana-mana, diajakin negosiasi, sama-sama numpahin unek-unek, sambil kasih ide solusi, gimana caranya biar ibu sama anaknya sama-sama happy.

We as parents are adults, so let’s act like one. We should be able to regulate our emotions better than our children. Children see, children do. Gimana caranya coba bikin anak bisa ngontrol emosi kalo kita orang tuanya ngga bisa kasih contoh? Kalo kita orangtuanya gampang nge-judge anak?

I know, it’s damn hard. But it’s also damn well worth the effort. 

Puasa Gadget

aku dan abi sama-sama sepakat kalo sekarang udah waktunya puasa gadget kalau lagi ada Alma.

awalnya begini: waktu Alma pilek, dia susah tidur. biasanya dia harus nyusu dulu baru bisa tidur. berhubung idungnya mampet, wassalam deh. ngga enak sama tetangga gara-gara Alma nangis kenceng terus-terusan, aku kasih Alma video nursery rhymes sampe dia ketiduran.

i wish i didn’t do that.

sometimes i feel like i’m ruled by people’s judgments most of the time. and i hate that. moments like this always make me think how nice it would be if i could live alone even just for a few hours.

back to topic. daaan kebiasaan ini jadi kebawa sampe Alma udah sembuh. Alma jadi nggak bisa ‘ngantuk’ kalo nggak nonton dulu. padahal udah kucek-kucek mata plus nguap-nguap plus mata cape. jadi semacam placebo effect gitu ya. padahal nenen udah di sebelah idung dia tapi dia nggak mau nenen. kalo gadget disembunyiin, dia nunjuk-nunjuk nyariin sambil nangis (kadang nangisnya dibikin-bikin lho).

FYI, sejak nikah, aku sama abi komitmen nggak sedia tv di rumah. bahkan dapet kado tv dari temen-temennya abi pun itu kardusnya belom kita buka lho sampe sekarang, masih disimpen di rumah bogor 😂 waktu ngikut abi ke solo juga sengaja nggak kita bawa. eh nggak taunya malah rumah yang kita sewa ada include tv, tapi ya gitu nggak kita nyalain sama sekali sampe akhirnya diangkut lagi sama yang punya rumah daripada mubazir.

tanpa tv, tiap momen di rumah rasanya lebih berkualitas. apalagi abis ada Alma, makin banyakkk manfaatnya. she learns how to focus, to listen and to conduct an activity based on our instructions. dia terbiasa mendengarkan perkataan orang di sekitarnya sambil dia interpretasi sendiri itu orang lagi ngomong apa.

berasa lho bedanya kalo ada dan nggak ada tv. ini lagi di rumah buyut, otomatis ada tv (which is absolutely fine. kita nggak bisa maksain peraturan di rumah kita ke tempat lain seenak udel, apalagi tv juga salah satu hiburan buat mbah uti dll juga, yang bertamu yang harus adaptasi dong). keliatan banget Alma jadi banyak spaneng ke tv dan nggak fokus sama sekitarnya. kalo ngasih instruksi, aku harus ulang beberapa kali dengan penekanan yang berbeda sampe dia ‘ngeh’ kalo dia lagi diajak ngomong.

and you know what, bahkan suara background tv (tv nyala tapi ga ditonton) itu juga more than enough buat bikin fokus kita pecah lho, dan itu bakal kasih efek nggak bagus buat jangka pendek maupun jangka panjang.

jadi begitu. selama liburan ini bener-bener radar umi abinya Alma harus on terus buat pantau si bayik soalnya kita keluar comfort zone‘kita, hahaha. Alma udah makin gede makin ngerti apa yang kita bilang dan yang kita lakuin tiap hari. at the very least, kita pengen Alma punya good habits. kalopun ada bad habit ya yang nggak jelek-jelek amat lah ya yang masih bisa dimaklumi. itu aja cita-citanya ngga pengen yang muluk-muluk. hehehe.

because i believe that big, great things always grow from the small, little ones. 😊

oiya kelupaan. alasan lain kenapa Alma nggak kita kasih liat video lagi karena emang lama-lama udah nggak sesuai fungsi lagi. di awal-awal cukup semenit-dua menit nonton, Alma udah ketiduran. makin ke sini, dia butuh durasi yang lebih lama dari itu. bahkan terakhir, sampe itu video abis (45 menitan), Alma masih melek lebar. yep i know that this is really, REALLY bad. yaudah kalo emang ngga ada manfaatnya, banyakan efek negatifnya, it’s too obvious then. we must stop the habit immediately.

Spesial

sejak Alma lahir, aku tahu kalo dia spesial.

yaiyadonglah. tiap anak pasti spesial di mata orang tuanya. hehehe. 😜

tapiii, Alma ini emang buanyak banget sifat dan perilakunya yang bikin aku dan abi amazed. misalnya, bahkan sejak masih merah, aku tahu kalo Alma ini anak yang iron-willed. pernah aku post di Twitter juga kayaknya dulu. tau dari mana? dari gaya dia waktu nenen. she demands perfection. she knows what she wants. ngga nyaman dikit dia ogah nenen. badannya bisa kluget-kluget ngga keruan. walhasil percuma emaknya beli nursing apron. hahaha.

kalo nangis juga kwenceng banget. when she cries, people probably think that there is some kind of act of exorcism around. 😂

baru bisa tengkurep umur 10 bulan. begitu juga merangkak dan berdiri sambil pegangan. iya dia anaknya emang suka pake sistem kebut. 😂 makanan pun begitu. di bawah satu tahun dia naik teksturnya lambat banget, eh begitu umur setahunan lebih, udah bisa ngunyah keripik.

dan yang ini nih yang paling bikin heran: Alma nggak nyaman sama laki-laki dewasa. bahkan cuma diliatin pun, dia bakal teriak. kalo ngga ditolongin, pasti nangis. and you know what, bahkan akung-akungnya Alma sendiri pun struggling banget lho buat gendong Alma. pertama kali ketemu setelah lama nggak ketemu? jangan harap bisa langsung gendong (kecuali lagi hoki). boro-boro gendong, dideketin doang pun pasti langsung nangis. bener-bener harus dideketin pelaaan-pelaaan berhari-hari baru nanti lama-lama baru mau.

i know that this really breaks their heart. hahaha. tapi mau gimana lagi. sabar yaaa akung-akungnya Almaaaa.

sempet kuatir juga sih. duh gini amat si bayik. tapi ternyata setelah browsing sana-sini, it actually is fine. asalkan yakin nggak ada laki-laki yang abuse dia, berarti aman. perilaku yang kayak gini nih nunjukin sifat anak, which meanssss, Alma is very sensitive. mekanisme pertahanan diri dia juga tinggi, which is kinda good. Alma jadi nggak gampang ‘disalahgunain’ orang. takut-sama-pria-dewasa ini juga salah satu variasi dari stranger-anxiety, yang mana udah umum banget terjadi sama bayi dan toddlers, terutama yang breastfed.

untungnya, karena tiap hari sama abi, Alma nempel banget sama abinya. tapi pernah tuh pas Alma umur 6-7 bulanan, abinya abis gondrong trus cukur rambut jadi tipis banget. begitu pulang, Alma nggak ngenalin dong 😂😂😂😂😂 nangis tuh dia sejadi-jadinya 😂 dipikir nih orang kok di sini nggak pergi-pergi mana sok akrab gitu kali ya 😂 untungnya besokannya Alma udah inget lagi. iya, nunggu besok baru inget. 😂😂😂😂

 

“caution around unfamiliar people and a close attachment to her primary caregivers are some of the healthiest traits a growing child can have.”
.
ahh.. i love this last sentence. nenangin banget. hehehe.

jadi ya.. dinikmatin aja. cuma ini aja, selalu berusaha nunjukin ke Alma, baik pake kata-kata ataupun perilaku bahwa mas itu baik, bapak ini nggak jahat, dll. hahaha. aku juga harus paham perasaan Alma (secara dia sensitif banget). aku nggak bisa tau-tau nyodorin Alma ke orang yang dia nggak nyaman. pelan-pelan aja. toh, ini bukan sebuah disorder. it’s normal. let time do the job.

plusss tugas umi abinya yang mesti berusaha ngolah sifat Alma ini biar lebih banyak positifnya daripada negatifnya (biar nggak kayak uminya yang semacam hipersensitif tapi suka nyembunyiin tapi kadang suka meledak *eh  😳). we can do it ya, bi! ganbatteeee~ 💪💪💪

About Trust

bobo siangnya jam 3. semoga nanti malem nggak begadang.

itu rambutnya Alma dikuncir empat. yang dua dikuncir umi, sisanya dikuncir sama anak tetangga depan rumah yang masih kelas 2 SD. begitu tahu abis nguncir Alma, ibunya si anak jadi agak marah gitu. kuatir Alma kejambak sepertinya (padahal waktu si anak nguncir Alma, si umi full ngawasin sambil ngasih arahan. akhirnya emang ngga terjadi apa-apa kok. si anak hepi soalnya merasa dipercaya, si Alma juga surprisingly anteng waktu dikuncir).

ini cuma satu dari banyak cerita.

begini… bukannya nggak sayang anak, tapi aku ngerasa kecemasan orang tua ke anak itu kadang agak berlebihan. mau ngapain sedikit, nggak boleh. nggak mau makan, diomelin. padahal seringkali dari pengalaman baru, anak bisa belajar. mungkin maksudnya baik, khawatir kalo anak terluka, lapar, dll. tapi salah satu fungsi orang tua itu buat ngawasin plus jadi partner anak, kan? pasti akan lebih baik kalau anak pengen ngelakuin sesuatu (asalkan nggak berbahaya dan masih di dalam kendali kita), kita coba izinkan. let them explore the world! atau sebaliknya kalo anak nggak mau ngelakuin sesuatu, diajak ngobrol baik-baik kenapa nggak mau.

coba kita beri sedikit rasa percaya kita kepada anak.

coba meminimalisasi risiko tanpa membuat anak kecewa.

justru kalo kita marahi, omeli, apalagi tiap hari dan terus-menerus (karena sudah jadi kebiasaan), anak bakal jauh lebih terluka lho. luka di hati yang menumpuk sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang panjang akan jauh lebih buruk daripada luka fisik yang masih bisa sembuh.

kalau pun ada hal yang tidak diinginkan terjadi, sekali lagi, utamakan diskusi. jangan pernah memberikan keputusan sepihak tanpa mendengarkan pendapat anak. lebih parah lagi begitu tau kita yang salah, tapi kita tetep keukeuh mempertahankan pendapat. biar keliatan garang. nunjukin kalo orang tua punya kuasa.

NO, DO NOT EVER DO THAT. THAT WILL BE THE WORST THING YOU EVER DO TO YOUR CHILDREN.

sadly, there are still parents who think that FEAR is the most effective weapon to discipline their children. 😭

i have met some. the fear that shows on those children’s face makes my heart tremble with sadness and anger.

makanya, banyak orang yang nggak ngerti sama perlakuanku ke Alma yang sering ngizinin dia begini begitu padahal berpotensi bikin dia jatuh, dsb. bagi mereka, aku ibu yang tega sama anak kali ya. padahal it’s not like aku ngebiarin Alma ngider-ngider sendiri. aku pasti ada di samping dia. kalaupun bener kejadian dia kejedot atau apa, i take full responsibility. anyone can blame me because that is indeed my fault. tapi alhamdulillah sejauh ini aman-aman aja. justru, dari pengalaman dia, Alma aku liat udah punya sense of awareness. sense of balance plus refleks dia juga bagus banget. Alma jadi bukan crybaby yang kalau kepleset dikit bakal nangis. if she did, she would look at me for a few seconds, feel herself, recognize that she’s all right, and continue what she was doing, even laughing! 😃 kecuali kalo lagi ngantuk bawaannya mah pengen nangis aja meskipun kepentok buku doang. 😂

jadi… begitulah. hehehe.just another random thought popped inside my mind.

oh, and i’m fully aware that i still need a lot to learn.

i made mistakes. big and small mistakes.