15 Tahun Sokola dan Tawa Alma yang Menggema

 

Sokola Rimba, yang baru saja diubah namanya menjadi Sokola Institute, didirikan oleh Butet Manurung sejak tahun 2003 pertama kali di pedalaman hutan Jambi. Selama 15 tahun terakhir, Sokola Institute telah memberikan pendidikan alternatif kepada sekitar 10 ribu orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Jambi Aceh, Pariaman, Cianjur, Dukuh, Klaten, Merapi, Bantul, Makassar, Sumbercandi Jember, Wailaso, Bulukumba, Halmera, Asmat dan Sumba (gatra.com).

Nah, tanggal 20 September kemarin, aku dapet info dari temen komunitas bahwa Sokola Institute bakal bikin perayaan #15TahunSokola.

Kalian liat kan bakal ada siapa aja di #15TahunSokola? Oh man, ini sih aku wajib ikut! Hahaha. Apalagi acaranya selesai sekitar jam 6 sore, bisa langsung dijemput pak suami.

Lompat ke hari-H, aku udah siap-siap dari pagi, bawa bekal segala macem biar Alma nggak cranky. Aku sempet kuatir sih, Alma bisa anteng nggak ya di Goethehaus nanti? Tanggal 23 September kemarin Alma beranjak tiga tahun dan kita belum pernah sekalipun ngajakin dia ke bioskop. Alasannya apalagi kalau bukan karena takut dia bikin kerusuhan dan bikin pengunjung lain nggak nyaman. 🙁

But in the end, I still decided to go. Misal nanti dia beneran cranky, aku tinggal angkat kaki aja kan~

Kita nyampe Goethe Institut sekitar jam setengah tigaan dan ternyata registrasi baru dibuka setengah jam kemudian. Lumayan, jadi bisa ngajakin Alma liat-liat foto yang dipajang di sepanjang lorong masuk.

Larva kumbang sagu FTW.

Setelah puas baca-baca dan foto-foto, kita makan sebentar. Jam tiga kita registrasi. Kalo liat daftar namanya, ternyata banyak juga homeschooler yang hadir, cuma aku nggak kenal (krik). Di meja registrasi, kita bisa dapetin souvenir dengan memberikan donasi seikhlasnya. Karena souvenirnya gelang lucuk yang mana Alma pasti suka, akhirnya kita ambil satu (setelah sebelumnya Alma masukin uang donasi ke kotak yang mirip kaleng kerupuk mini 😆).

Kawaii desu ne!

Karena udah mulai banyak yang antre di depan pintu ruang pertunjukan, akhirnya kita ikutan melipir ke situ. Lumayan, dapet spot sebelah pintu persis. Setelah menunggu beberapa lama, pintu pun dibuka! Wahhh, it was quite chaotic. 😂 Alhamdulillah, aku sama Alma dapet duduk di depan dan paling pinggir (sesuai sama ekspektasiku, biar kalo Alma bosen bisa turun dan mondar-mandir di tangga tanpa ganggu yang lain).

Acara yang dipandu sama Vena Annisa ini berjalan dengan sukses. Ada belasan wajah familiar yang tampil sebagai narator. Narator-narator ini bergantian membacakan narasi tentang kehidupan anak rimba (yang luar biasa dan jarang orang tahu) sambil diiringi petikan gitar akustik. Sungguh syahdu sekali!

Narator favoritku: Maudy Koesnaedi dan Handry Satriago. Indikatornya, waktu mereka baca narasi, Alma serius banget menghayati dari awal sampe akhir. 😍

Selain pembacaan narasi, ada juga penampilan dari Tulus dan Ananda Sukarlan. Tulus nyanyi, Ananda Sukarlan menampilkan Rapsodia Nusantara No. 14.

Nah, Rapsodia Nusantara ini kan suka ada jeda-jeda gitu kan yah di tengah-tengah. Di salah satu jeda, Alma ketawa kenceng banget! Seisi ruang pertunjukan sampe ketawa dan ngeliat ke arah Alma duduk. Ananda Sukarlan juga keliatan kaget-kaget-geli gitu (maaf ya om 🤣). Yang bikin epic karena timing-nya pas banget. Mana nuansa musiknya cheerful-cheerful gimana gitu kan, jadi lucu aja tiba-tiba ada suara anak kecil ketawa. 😆 Suara Alma ketawa bisa ditonton di video di bawah ini.

It was definitely an unforgettable moment. Waktu kita pulang pun ada beberapa orang yang liat Alma dan bilang, “Eh, kamu yang ketawa tadi ya? Pas banget loh timing-nya, hahaha!”

Well, selain ketawanya Alma, ada satu hal lain yang paling aku inget dari seluruh rangkaian acara, yaitu waktu Handry Satriago memberikan sambutan di akhir acara. Ada beberapa kalimat yang buatku sangat relatable.

Kenapa saya terlibat di sini? Menurut saya simpel sekali. Ini adalah keberagaman. Keberagaman adalah manusia. (Yang) saya sering nggak mengerti (dari) orang perusahaan itu: (tendensi untuk) menyeragamkan semuanya. Itu membuat kita menjadi tidak manusiawi. Sebuah proses keberagaman pendidikan adalah hal yang manusiawi.

Pengendum tidak perlu menjadi manusia modern, orang-orang di rimba tidak perlu menjadi manusia modern. Mereka telah hidup dengan cara mereka selama beratus tahun, dan nyatanya mereka baik-baik saja.

P.S.: Pengendum Tampung adalah salah seorang dari Suku Anak Dalam yang juga merupakan murid ‘senior’ Sokola Rimba.

Ya, sebagai seorang praktisi homeschooling yang notabene kaum minoritas, I really get the idea of what he’s been talking about. Menyitir Charlotte Mason, pendidikan itu bukanlah sistem, pendidikan itu metode. Tidak masuk ke dalam sistem sekolah yang sudah ada bertahun-tahun, bukan berarti seseorang menjadi tidak terdidik.

Kemudian baper, eaaa. 😂

Anywayss, buat yang nggak bisa dateng ke event 15 Tahun Sokola ini, kalian bisa lihat video-videonya di playlist-ku yaa (klik ikon di pojok kiri atas).

Mohon abaikan suara-suara balita yang suka tiba-tiba muncul. Abaikan juga kalau tiba-tiba penampakan video jadi random atau berputar 180 derajat. Yang penting audionya jelas, ya toh? #mencaripembenaran 🤣

Kayaknya itu aja sih. Sekian liputan random dari emaknya Alma. Thank you for reading and see you next post!

Balada Memilih Metode Homeschooling

Sejak pertama kali mengenal homeschooling satu setengah tahun yang lalu, saya sudah lumayan banyak terpapar berbagai macam metode dalam homeschooling; mulai dari metode Montessori, Charlotte Mason, Waldorf, klasik, eklektik, unschooling dan seterusnya.

Setelah melepaskan mindset hasil produk sekolahan, saya bagaikan burung yang dilepas dari sangkar. Saya mulai banyak membaca referensi terkait homeschooling dan pendidikan/psikologi anak usia dini, mengikuti webinar homeschooling, berjejaring di grup-grup homeschooling di Telegram dan Whatsapp, mengikuti kulwap-kulwap dan seminar-seminar offline, sampai akhirnya saya bergabung di salah satu komunitas HS yang rutin melakukan kegiatan setiap minggunya.

Dari situ, saya jadi bisa melihat langsung teman-teman yang menerapkan bermacam-macam metode HS, tidak cuma dari tulisan. Ada tiga metode yang saya lihat paling banyak dipakai: metode Charlotte Mason, Montessori, eklektik dan unschooling.

Keempat metode ini sama-sama baik, baik sekali malah. Namun saya tidak ingin grasa-grusu menerapkan metode-metode ini hanya karena mereka baik. Saya bisa saja langsung menerapkan metode-metode ini di rumah karena toh, materi-materi dan contoh-contoh penerapannya banyak bertebaran di internet. Alat-alat dan buku-buku yang dianjurkan oleh metode-metode ini pun bisa didapatkan dengan mudah. Namun, saya selalu merasa ada yang mengganjal. Saya tidak ingin mengaplikasikan sesuatu yang saya tidak tahu persis seluk-beluknya, cuma sekadar tahu permukaannya. Saya ingin mempelajari sejarah dan filosofi di balik tiap-tiap metode tersebut. Ibarat mencari pasangan hidup, penampilan fisik saja tidak cukup. Saya harus mengetahui betul pola pikir dan kepribadian calon pasangan hidup saya. Saya juga ingin tahu keterkaitan antarmetode, apa yang membuat mereka sama dan apa yang membuat mereka berbeda satu sama lain.

Sayangnya, saya agak telat mencari tahu. Saya sekarang sudah menjadi IRT yang memiliki balita. Hasrat saya untuk membaca buku dibatasi dengan kenyataan: saya tidak punya waktu sebanyak yang saya inginkan untuk membaca buku, tidak seperti waktu masih single dulu. Saya baru punya satu ebook The Montessori Method yang ditulis oleh Maria Montessori sendiri dan untuk bisa membaca buku ini dengan tenang pun rasanya masih sulit mencari celah waktunya. Sejauh ini, saya baru selesai membaca bagian Introduction-nya saja 🙈 (tapi jangan salah, meskipun baru bagian Introduction, isinya sudah penuh dengan pencerahan).

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya dicolek oleh seorang teman di Facebook, memberi tahu postingan Mba Arum yang menawarkan kesempatan untuk belajar tentang filosofi CM secara rutin dan offline (thanks, Mba Brit!). Salah satu syarat untuk bergabung adalah saya harus terlebih dulu membaca buku Cinta yang Berpikir (CyB). Sejujurnya, itu pertama kalinya saya mengetahui tentang buku CyB. Karena saya belum punya tapi tidak sabaran ingin segera membaca, saya pun meminjam buku CyB teman saya ini (sambil memesan buku CyB di Shopee juga) dan alhamdulillah boleh. 🤭

Lembar demi lembar buku CyB ini saya baca dan hayati betul. Sebelumnya saya hanya tahu sepintas saja tentang metode CM, salah satunya tentang living books. Setelah membaca sepuluh bab pertama (bagian I), saya jadi tergoda untuk membaca bagian III terlebih dulu sebelum membaca bagian II (untungnya kata Mba Ellen Kristi, selain bagian I, membaca bab-bab lainnya boleh melompat-lompat).

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menumpuk di kepala sedikit demi sedikit menemukan jawaban yang tepat sasaran. Mba Ellen bertutur melalui tulisan dengan sangat menarik, jelas dan runtut. Rasanya sungguh melegakan sekali, bagaikan bertemu mata air di tengah padang pasir.

Perbedaan-perbedaan mendasar di antara metode-metode pendidikan yang disebutkan di bagian III tak menyurutkan saya untuk tetap merasa kagum dengan tokoh-tokoh pencetusnya yang begitu visioner. Bagaimana teori-teori yang mereka kemukakan di awal abad ke-20 bisa sangat sesuai dengan teori-teori psikologi/pendidikan anak di abad ke-21 ini (terutama teori-teori Charlotte Mason) padahal mereka hidup di era yang penuh keterbatasan? Saya masih terkagum-kagum sendiri kalau mengingat ini.

Setelah menimbang-nimbang lagi, saya memutuskan untuk memakai metode eklektik (campuran, sesuai kebutuhan anak). Saya akan tetap menerapkan beberapa prinsip Montessorian untuk memperkaya aktivitas jasmani anak saya (meskipun tidak saklek-saklek amat, saya sesuaikan dengan situasi dan kebutuhan anak, seringkali terjadi secara spontan). Perihal proporsi otoritas orang tua dalam mendidik anak dan juga pemberian asupan yang penuh nutrisi bagi jiwa dan pikiran anak, tidak ada yang bisa menandingi cara-cara Charlotte Mason (menurut saya). Jadi, saya akan sangat senang jika saya punya kesempatan untuk mempelajari model pendidikan kedua tokoh ini jauh lebih dalam lagi. Khusus metode CM, sejak dulu saya merasa saya pasti akan memiliki banyak kecocokan dengan metode ini. Saya dan suami suka membaca. Sejak Alma bayi, saya selalu membacakan buku cerita untuknya setiap hari. Qadarullah, Alma ternyata anak yang sangat suka bercerita, she’s been always a chatterbox. Apapun yang dia lihat, dia akan dengan senang hati bercerita tentangnya.

Saya selalu merasa beruntung karena bisa menerapkan homeschooling. Karena homeschooling juga, saya jadi bisa mengenal banyak orang-orang hebat yang menginspirasi.

I’ve been always a curious person, and now that I’ve decided to be a homeschooler, I have many more reasons to feed this curiousity~ 😆

Montessori di Rumah – Bagian Empat – Konsekuensi Alami

Kalau belum baca, silakan ngintip tulisan bagian 1, 2 dan 3 di sini, di sini dan di sini.

Habis baca tentang konsep kebebasan, pasti pada bertanya-tanya deh, nggak apa-apa nih begini? Kalo nanti kebablasan gimana? Anak jadi nggak tahu aturan dong?

Dalam Montessori, kebebasan ini ternyata punya batasan (freedom within limits). Kalo kata Sony,

the freedom has to make sense.

Apapun yang dilakukan anak, anak harus bertanggung jawab atas diri sendiri (respect for oneself), orang lain (respect for others) dan lingkungan (respect for the environment). Jadi kalau aktivitas anak membahayakan diri sendiri, orang lain dan/atau lingkungan misalnya, ya harus dibatasi.

Jadi inget postingan viral lagi (oh well, ini gara-gara aku balik main Twitter lagi nih 😂). Udah pada tahu juga sih pasti. Itu lho, yang ibu bawa tiga anaknya naik KRL dan sayangnya perilaku anak-anaknya ini mengganggu penumpang KRL yang lain. Yang satu naik jendela, yang dua lainnya ngedeprok main di lantai kereta. Yang naik jendela kayanya masih balita, 4-5 tahunan; yang dua lainnya mungkin udah masuk SD (badannya lebih bongsor dari yang pertama soalnya).

Nah, udah keliatan ya kalo anak-anak ini melanggar kenyamanan penumpang lain. It’s an undeniable fact. Anak-anaknya nggak ada yang duduk, padahal di sebelah ibunya ada ruang kosong yang cukup lebar yang harusnya bisa diduduki penumpang lain. Ada dua anak yang main di lantai, ini juga jadi mengambil space penumpang lain, terutama penumpang berdiri. Orang jadi nggak bisa berdiri di situ.

Hey, don’t judge! Hmmm, bukannya nge-judge ya. Ini penting dibahas karena ada pelajaran yang bisa dipetik di sini. That’s why parents must learn parenting. Kalimat ‘namanya juga anak-anak’ nggak berlaku di sini. 

Di sisi lain, ada satu hal yang aku nggak setuju: yang posting foto viral itu nggak menyamarkan wajah si ibu dan anak-anaknya. IMHO, it was a good idea to post the photo so that people can learn, but we also need to mind others’ privacy. Ada loh kasus seorang ibu yang wajahnya muncul di foto yang kemudian viral dan ternyata Si Ibu ini lagi hamil. Entah karena stres/kepikiran/gimana, ibu ini akhirnya meninggal dunia. Sedih banget. 😭

Wait, kok jadi bahas yang viral-viral sih. 😂

Beklah. Tadi bahas apa? Oh, konsekuensi alami ya? Aku kutip definisinya dari sini ya.

Natural consequences simply means that outcomes will happen as a result of behavior that are not controlled.

Dan dari sini.

Montessori schools and homes use natural consequences because we don’t want children to behave well out of fear of punishment, we want them to do the right thing because they understand the impact of their actions.

Terakhir, aku mau bagiin tips dari Sony saat kita ingin menerapkan konsekuensi alami pada anak.

Misal, anak diberi sebuah kursi untuk duduk. Alih-alih duduk, anak malah memanjat kursi dan berdiri di atasnya. Apa yang bisa kita lakukan?

1. Kita bilang ke anak, “Turun, yukkk. Kalau Kakak/Adik berdiri begitu bisa jatuh.”

2. Kalau nggak mempan, kita tawarkan beberapa pilihan ke anak, mau turun sendiri atau dibantuin turun Ayah/Ibu?

3. Masih nggak mempan juga, jangan marah jangan gundah: langsung bantu anak turun, ambil kursinya, kasih tau kalau Ayah/Ibu ambil kursinya sekarang, besok Ayah/Ibu kembalikan lagi. Intinya, enyahkan kursi itu dari pandangan Si Anak. 😁

Kemudian anak pasti akan menurut.

JUST KIDDING! 👻 Kemungkinan besar anak bakal protes dooong, bahkan nangis guling-guling. 🙈 Ya nggak papa. Kalo kata Sony,

Don’t budge, its OK. Even if he’s taking the house down, you’re not going to listen to him. Tell him, “I understand you are very angry, it’s okay, you can cry. If you finish, you can come to mommy.”

Sometimes it can be real bad, but if they see that it doesn’t affect you, the tantrum will slowly go away.

Alhamdulillahh, selesai juga summary Specific Montessori Activities to Implemet at Home oleh Sunshine Teachers Training ini.

Cukup di sini dulu, sampai ketemu. Urusan domestik sudah menunggu. 😘

Bye!

Montessori di Rumah – Bagian Tiga – Konsep Kebebasan

Bagian pertama dan kedua bisa dilihat di sini dan di sini. Nah, setelah kemarin-kemarin bahas gimana caranya menyiapkan lingkungan rumah yang sesuai dengan kaidah Montessori (prepared environment), di bagian terakhir ini kita mulai bahas perlakuan seperti apa yang bisa kita terapkan kepada anak-anak kita. Ibarat PC, menyiapkan lingkungan rumah itu bagaikan menyiapkan hardware, sedangkan perlakuan pada anak ini adalah software-nya. Pertama, tentang konsep kebebasan (concept of freedom) dalam Montessori. Konsep kebebasan ini muncul dari sebuah gagasan bahwa sesungguhnya, anak-anak terlahir sebagai penjelajah yang mampu belajar dan melakukan banyak hal sendiri. Kalau kata Ustadz Harry Santosa, fitrahnya memang sudah begitu.
Kebebasan untuk Bergerak (Freedom to Move)
Ada enam jenis kebebasan dalam Montessori, dan ini yang pertama. Dalam Montessori, anak diberi kebebasan untuk bergerak di dalam ruangan, itulah kenapa decluttering sangat penting untuk dilakukan. Jadi, bagaimanapun aktifnya anak bergerak mengeksplor ruangan, mereka bisa tetap aman, atau paling tidak, minim risiko.
Kebebasan Waktu (Freedom of Time)
Nah, ini nih yang paling sering kita lupa kalo lagi main sama anak-anak. Dalam metode Montessori (dan aku percaya nggak cuma di Montessori aja), anak diperbolehkan buat menggunakan material yang mereka suka selama yang mereka mau. Kebebasan waktu juga bisa diartikan sebagai: dalam mempelajari satu hal yang baru, setiap anak memiliki pace-nya masing-masing. Ada yang cepat menguasai di satu topik belajar dan lebih lambat di topik yang lain, dan sebaliknya.
Just because you need more time to do something, it does not mean that you cannot do it.
Santai aja. Namanya manusia, pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Even a superhero has a weak point. Semua akan berjalan baik-baik saja selama kita punya kuncinya: SABAR.
Kebebasan untuk Memilih (Freedom of Choice)
Yang ini juga penting banget: anak diperbolehkan untuk memilih kegiatan mereka sendiri sesuai dengan urutan yang mereka sukai. Bayangin kita aja deh nih, yang orang dewasa. Ambil contoh aku sendiri. Lagi semangat-semangatnya belajar parenting, tau-tau disuruh belajar otomotif. Oh, dang. Ya bisa sih ya baca, tapi kan nggak dari hati. Belajar jadi kurang meaningful. Berasanya kayak, “What am I doing here reading nonsense??” 😂 Sebaliknya, mau disodorin belasan artikel parenting dalam sehari pun aku pasti hepi-hepi aja bacanya, ilmu jadi lebih gampang nempel di kepala karena aku suka.
Kebebasan untuk Mengulangi (Freedom to Repeat)
Ini udah pernah dibahas sepintas ya di bagian kedua. Daaan, lagi-lagi kata ini muncul: SABAR. Kalo anak lagi suka banget sama topik/kegiatan tertentu, anak pasti pengennya ngulang-ngulang terus sampe yang liat bosen. You know what, you might be bored looking at him doing the same thing over and over again, but he is obviously not. Just mind your own business, Parents! Let your child do what he likes as long as he’s learning something. Bahkan buat bayi, aktivitas sesederhana membuka tutup botol itu termasuk ‘belajar’ loh. Melatih motorik halus, daya konsentrasi dan sebagainya. For children, playing is learning~~ Dengan memberikan mereka waktu sebanyak yang mereka butuhkan, ada banyak manfaat yang bisa mereka terima. Tanpa diburu-buru, anak merasa dihargai dan biasanya, anak jadi lebih mudah menyerap ilmu. Anak juga jadi belajar memahami diri: anak jadi tahu kalau dia lebih mudah belajar lewat video, misalnya. Selain itu, anak juga bisa belajar untuk memecahkan masalah (problem solving).
Kebebasan untuk Membuat Kesalahan (Freedom to Make Mistakes)
Pada dasarnya, Montessori itu memfasilitasi anak untuk bisa self-correcting: memperbaiki sendiri kesalahan yang anak lakukan. Nah, gimana mau memperbaiki kesalahan kalau kesalahannya aja nggak ada? Dengan kata lain, anak nggak dibolehin membuat kesalahan? Definisi ‘tidak memperbolehkan anak untuk membuat kesalahan’ itu banyak, btw. Salah satunya: kita mudah marah setiap kali anak melakukan kesalahan. Misalnya nih, kita marah-marah setelah anak tanpa sengaja memecahkan piring. Padahal kita tahu kalo dia nggak sengaja, tapi kita tetep aja memutuskan buat marah-marah. Dampaknya ada dua: anak jadi takut gagal setiap akan melakukan sesuatu atau sebaliknya, jadi memberontak dengan beragam cara (dari yang awalnya nggak sengaja, jadi suka sengaja memecahkan barang-barang, misalnya). Efek jangka panjangnya: anak jadi minder atau sebaliknya, jadi rebellious. Naudzubillah, jangan sampe yaaa ini terjadi ke anak-anak kita. Saat anak melakukan kesalahan pun jangan buru-buru dibenerin. Misalnya anak lagi belajar penjumlahan. Anak salah menjumlahkan beberapa kali. Nah, jangan terburu-buru buat ngasih jawaban yang bener. Lebih baik, ajak anak mengulang lagi materi di esok hari sampai dia paham di mana letak kesalahannya. Kalau sudah begitu, insyaAllah anak bisa membetulkan kesalahannya sendiri. We call it discovery!
He who never made a mistake, never made a discovery. – Samuel Smiles
Kebebasan untuk Berkomunikasi (Freedom to Communicate)
Kalo kata Undang-Undang sih, kebebasan berekspresi. 😆 Intinya, jangan pernah mengalihkan pertanyaan anak, seremeh dan seaneh apapun pertanyaannya. Apresiasi juga saat anak memberikan tanggapan atas sesuatu. Jadi inget salah satu postingan viral. Ada ibu dan anak  (muslim) lagi nonton pertandingan Asian Games di TV di mana para atletnya pakai baju renang yang terbuka. Si Anak tanya, kenapa kok bajunya begitu? Alih-alih menjawab, ibunya malah buru-buru mengganti channel. Well. This can turn out really bad. Naudzubillah, anaknya jadi tanya ke orang lain dan malah disalahgunakan alias di-abuse. Amit-amit kan. Banyak lho kasus kaya gini di sekitar kita. Seremmm. 😭 Kalaupun ternyata kita nggak punya jawaban yang pas saat anak bertanya pun nggapapa loh, jujur aja. Bilang kalo Ayah/Ibu coba cari jawabannya dulu, nanti malam/besok pagi/dua jam lagi Adik/Kakak diberitahu. Even better, anak diajak sama-sama mencari tahu jawabannya kalau sekiranya memungkinkan. OK that’s all. Kalau mau lanjut ke bagian empat alias bagian terakhir, silakan klik di sini ya. See you there!  

Montessori di Rumah – Bagian Dua – Aktivitas di Setiap Ruangan

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya.

Setelah selesai men-declutter seisi rumah, sekarang kita berlanjut ke detail aktivitas yang bisa kita persiapkan untuk anak di tiap-tiap ruangan di dalam rumah.

Catatan: apapun yang kita persiapkan dan lakukan (mulai dari aktivitas decluttering sampai dengan men-setting setiap ruangan di dalam rumah) harus diingat bahwa semua itu sejatinya meruncing pada satu tujuan pokok: to bring in a sense of independence for the child (agar anak bisa mandiri) and also to boost self-confidence (meningkatkan rasa percaya diri). Jadi kalau mau melakukan sesuatu untuk anak, ingat dua pedoman itu aja.

OK. Langsung cekidot ya.


Ruang Tidur

Untuk ruang tidur, yang paling perlu untuk ditekankan adalah bahwa sesuai fungsinya, ruang tidur dipergunakan hanya untuk tidur dan beristirahat. Oleh karena itu, sebisa mungkin ruangan ini bersih dari benda-benda yang bisa merusak fungsi ruang tidur dan yang bisa mendistraksi anak dari tujuan awal saat ia masuk ke ruangan ini, yaitu untuk tidur. Out of sight, out of mind.

Contoh benda yang bisa mendistraksi adalah mainan. Jangan pernah menaruh mainan di dalam kamar tidur. Saat ayah/ibu mengajak anak tidur dan anak melihat ada mainan di dekatnya, kemungkinan besar perhatiannya akan terpecah. Anak akan berpikir, kalau ayah/ibu menaruh mainan di sini, berarti aku boleh memakainya kapanpun aku berada di sini. Akibatnya, akan menjadi lebih sulit bagi orangtua untuk mengondisikan anak untuk bersiap-siap tidur. Kalau begini, yang lelah juga ujung-ujungnya orangtua kan?

Terkecuali bendanya diperlukan untuk bedtime routine (buku misalnya), itu boleh ya.

Oiya, untuk tempat tidurnya, akan lebih baik jika anak tidak memakai ranjang, cukup kasur/matrasnya saja. Tujuannya agar sejak bayi (terutama saat bayi mulai bisa merangkak), anak bisa dengan mandiri naik-turun tempat tidur dengan aman tanpa bantuan orang dewasa.

Selain itu, biasanya ruang tidur juga merangkap menjadi tempat anak berhias dan berganti baju. Terkait ini, sebaiknya anak disediakan cermin dan lemari rendah yang bisa dicapai anak. Di sini, kita bisa membiarkan anak memilih baju sendiri, mengajari anak cara memakai baju, menyisir rambut, dan lain sebagainya.

Overall, benda-benda yang ada di dalam ruang tidur sejatinya cukup tiga ini: kasur, lemari/rak baju dan cermin.

Kamar Mandi

Biarkan anak mandi dan buang air sendiri, kalaupun perlu bantuan, berikan seperlunya saja. Ini akan mudah dilakukan, asalkan orangtua membekali diri dengan stok sabar yang berlimpah.

Kalau anak dimandikan ayah/ibu, waktu yang diperlukan kira-kira 10 menit. Kalau anak mandi sendiri, sadarilah bahwa anak akan membutuhkan waktu lebih lama, bisa sampai 30 menit sendiri, dan ini tidak apa-apa. Once they enjoy the activity, they will surely master it sooner or later. Jika akhirnya anak bisa melakukannya sendiri, self-esteem anak nantinya akan terbangun dengan baik.

Patience, this has always been the hardest part, but it’s also the key to everything. Sabar adalah koentji. Yuk, tantang diri kita biar bisa senantiasa bersabar saat membersamai Si Kecil! 😉

Dapur dan Ruang Makan

Di ruangan ini, sebisa mungkin buatlah agar anak bisa mengakses sendiri peralatan dan bahan makanan yang mereka butuhkan (piring, gelas, sendok, dispenser air, masakan, roti, saos, kecap, dll) dan letakkan benda-benda berbahaya (kompor, pisau, dll) jauh dari jangkauan anak. Ini untuk meminimalisasi ucapan-ucapan berbentuk larangan, “Aduh, jangan pegang pisaunya! Kompornya jangan diputar-putar”, dan sejenisnya. Lagi-lagi, out of sight, out of mind. Kalau ada meja makan, pikirkan cara agar anak bisa naik ke kursinya sendiri, dan seterusnya.

Di dapur, anak juga bisa diajak memasak bersama. Cobakan dan berikan aktivitas yang sekiranya paling disukai anak. Alma misalnya, dia paling suka mengupas bawang putih. Berapapun bawang putih yang dia terima, dia pasti dengan semangat mengupas satu persatu.

Kalau anak belum pernah melakukan aktivitas tertentu, bagaimana caranya agar anak mau dilibatkan? Begini kata Sony.

This is the trick: you start it, the child will finish it. And at a point, they will be able to do it all by themselves since they’ve seen it for so many times.

Misalnya kita ingin agar anak bisa mengupas pisang sendiri. Beri contoh saat menarik kulit pisang dari atas ke bawah sekali atau dua kali, lalu biarkan anak mencoba sendiri sambil terus dimotivasi. Jangan cuma sekali, ajak anak mengupas pisang setiap ada kesempatan yang pas, insyaAllah hasilnya nanti bisa terlihat. Ini juga berlaku untuk aktivitas-aktivitas lain di dalam rumah: mandi, memakai sepatu, mengelap tumpahan air, memakai baju, meletakkan piring kotor ke wastafel, dan seterusnya.

Teras Rumah

Di sini, kita bisa mengajari anak untuk melepaskan kaos kaki dan sepatu sendiri. Biarkan anak mencoba meskipun memerlukan waktu lama. Jangan pernah memburu-buru atau menyuruh anak menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Let them take their time.

Anak juga suka sekali mengulang-ulang kegiatan yang mereka sukai. Asal tidak merugikan, biarkan saja. Itu salah satu cara mereka belajar. 😉

Ruang tengah

Di ruangan inilah biasanya anak-anak bermain. Kuncinya: gunakan apa yang ada. Kalau tidak memungkinkan, tidak perlu menambah rak baru untuk meletakkan buku, mainan dan material Montessori, apalagi kalau anak masih balita. FYI, di bawah satu tahun, 4-5 mainan/material dan 2-3 buku saja sudah lebih dari cukup kok.

Fokuslah hanya pada benda yang penting dan diperlukan. Semakin sedikit benda di dalam rumah, semakin mudah hidup kita. Kalau kita menyimpan terlalu banyak barang, rumah jadi gampang berantakan. Ujung-ujungnya, kita jadi sibuk beberes, jadi banyak waktu terbuang. Belum lagi kalau benda yang harus dibereskan ada banyak, kita cenderung lebih suka beberes sendiri agar cepat selesai, anak jadi tidak diikutsertakan, anak jadi tidak bisa belajar mandiri.


Done! Lumayan banyak juga yaa PR-nya. Yang penting harus tetep semangat dong~ Kalo kata Sony begini nih.

When you are setting up the environment, always remember that YOU are the mother. YOU are in charge. This is YOUR child. YOU have the AUTHORITY to do what your child likes and wants (as long as it’s positive). And please realize that even as a mother, you can go wrong, you make mistakes, because you love your child, you are learning and trying.

Jadi inget satu quote: the only true failure is when you stop trying. Bukan kesempurnaan yang membuat kita menjadi ayah/ibu yang baik, melainkan kegigihan kita untuk terus belajar.

That’s it for today! Masih ada satu postingan lanjutan lagi ya, abis itu selesai. Next, bahasannya tentang freedoms dalam Montessori dan natural consequences.

See you!

Montessori di Rumah – Bagian Satu – Salah Kaprah dan Persiapan

Akhir bulan Juli kemarin, aku gabung di grup Facebook Montessori for Mommies yang dibuat oleh Sony Vasandani dari Sunshine Teachers Training. Kata Sony, ini grup terbuka, jadi feel free yaa kalo mau gabung.

Nah, tanggal 1 Agustus, Sony ngadain Facebook Live yang temanya Specific Montessori Activities to Implement at Home. Durasinya lumayan panjang, hampir satu setengah jam. Biar nggak bosen, isi dari live session ini aku buat jadi tiga bagian, dan postingan ini adalah bagian yang pertama.

First thing first, aku mau bahas motifku dulu, kenapa aku pengen ikut live session-nya. Alasan pertama: ya why not? Kenapa enggak? Ilmu itu investasi yang jangka waktunya limitless, bisa untuk selamanya. Apalagi ini free kann. 😝

Alasan kedua: ya karena aku suka banget sama metode Montessori. Tapiii aku selalu merasa overwhelmed tiap kali liat postingan para ibu hebat di Instagram (internet, generally) yang menampilkan kegiatan-kegiatan Montessori anaknya. Gelagapan di tengah banjir informasi.

For a beginner like me, seeing many of those posts was like looking at scattered puzzle pieces. Aktivitas X menarik banget, tapi tujuannya apa sih? Adakah hubungan antara aktivitas X dan Y? Adakah urutan-urutan tertentu? Apakah aktivitas/aturan XYZ ini wajib, atau boleh di-skip? Apa sih tujuan dasar kita ngelakuin aktivitas-aktivitas ini?

Kayak misalnya nih, akhir-akhir ini aku sering banget lihat temen-temen yang bikin Pojok Montessori alias area khusus untuk anak buat berkegiatan Montessori. Mainan-mainan dan material yang digunakan anak diletakkan di area ini. Jadi kalau mau belajar/beraktivitas Montessorial ya harus di situ, nggak boleh pindah-pindah. Tujuannya agar anak bisa mengenal konsep teritori dan belajar buat konsisten (CMIIW).

Ini bagus banget, but I couldn’t help thinking: kalau rumahnya kecil dan bener-bener nggak ada ruang lebih buat bikin Pojok Montessori gimana? Berarti nggak bisa aplikasiin Montessori di rumah?

Aku nggak kunjung dapet jawaban yang pasti… sampai akhirnya aku dengerin penjelasan Sony. Berikut kutipan lengkapnya.

When we’re implementing Montessori, it doesn’t have to be a place where you are setting up the shelves and everything, it’s the whole home environment.
Montessori at home means we’re taking the whole house. We are not using a corner of the house: this is your area, this is were you have to work, no. It cannot be like that. It has to be the whole house for the child.

Kemudian Sony mulai jelasin satu persatu kondisi ideal seperti apa yang bisa kita usahakan untuk tiap-tiap ruangan di dalam rumah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Montessori, mulai dari teras depan sampai ke toilet. And it all started to make more sense to me.

Aku juga mulai browsing lagi soal Pojok Montessori ini. Kira-kira apa ya yang bikin dua info ini bisa saling kontradiktif? Satunya bilang Pojok Montessori itu penting, satunya lagi bilang enggak.

Ternyata, nama lain dari Pojok Montessori ini adalah The Montessori Work Mat (selanjutnya disebut TMWM). TMWM ini memiliki ukuran ideal tertentu dan dari yang aku baca, TMWM ini biasanya disediakan oleh guru untuk murid-murid di dalam kelas. Kalo di kelas, pasti ada lebih dari tiga anak ya paling nggak. Nah, biar anak-anak nggak saling ‘ngerecokin’ satu sama lain, maka dibuatlah TMWM ini, biar anak tahu batas teritori masing-masing. Make sense  banget yaa.

Nah, I guess, peraturan semacam itu ternyata nggak saklek-saklek amat, nggak harus dilakuin, tergantung konteks. Kalau konteksnya Montessori di rumah, bukan di kelas, berarti udah beda lagi dong ya (again, CMIIW).

Kalau di rumah ada lebih dari satu anak gimana? Berarti bisa nih TMWM dipake? This question suddenly popped inside my head, hahaha. Beklah, kayanya aku harus tanya ke Sony dulu nih. 😆


Mulai dari sini, bahasannya fokus ke Montessori di Rumah yaa.

Ada dua hal yang harus dilakukan sebelum kita, para orangtua, mulai mengaplikasikan Montessori di rumah.

1. Declutter

Siapa yang tahu seni berbenah KonMari? Ini persisss kaya gitu. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan rumah (setting up the environment). Rumah seperti apa yang ideal untuk anak? Jawabannya kira-kira: rumah yang aman di mana anak bisa bebas bergerak dan menjelajah rumah serta bebas mengakses benda-benda yang mereka perlukan secara mandiri, plus, yang tidak mendistraksi anak.

Sebagai orangtua, apalagi orangtua newbie, bawaannya pasti pengen beliin banyak hal buat anak. Baju, mainan, perlengkapan gears, boneka dan lain sebagainya. Sayangnya, anak di bawah 6 tahun nggak memerlukan benda sebanyak itu. Buku? Dua aja cukup, maksimal tiga. Boneka? Palingan yang suka emaknya aja ini sih. Mainan? Ehm, anak biasanya lebih tertarik sama kardus pembungkusnya sih, haha.

Nah, kalo barang-barang itu udah numpuk, yang ada malah tercipta distraksi-distraksi yang tidak perlu bagi Si Anak. Menstimulasi perkembangan anak enggak, bikin anak nggak konsen iya.

Ini juga berlaku buat apparatus Montessori ya. Percuma beli apparatus mahal-mahal kalo nggak tahu gimana cara pengaplikasian yang bener, apalagi kalo ujung-ujungnya cuma dipajang di rak.

Detil tentang bagaimana menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori aku tulis di postingan selanjutnya ya.

Why declutter? Too much things can be very distracting. The less things you have in the house, the better it is for you and your child.

We love our children so much we want to give them everything. The best thing we can do is that we are learning how to do better and to give them our time: without any technology. – Sony Vasandani

2. Observe

Sebagai orangtua, kita harus mulai belajar mengamati anak. Anak kita lagi tertarik sama apa? Kebiasaannya terkait ini dan ini kaya gimana? Materi/aktivitas yang dia udah dan belum bisa apa aja?

Gunanya buat apa? Agar kita tahu apa yang dibutuhkan dan disukai anak (nggak cuma asal nyodorin aktivitas pilihan kita, orangtuanya, padahal anak belum tentu tertarik/suka) dan biar kita tahu cara-cara seperti apa yang bisa membuat anak belajar dengan nyaman dan optimal.

Misalnya, Si Bocil lagi suka coba-coba pake sepatu sendiri. Kita amatin, oh, ternyata dia udah bisa pake sepatu model slip on sendiri. Berarti kita bisa mulai kenalin ke sepatu yang pake velcro. Gimana biar Si Bocil ngerti cara pakenya? Oh, dicontohin. Gimana caranya biar anak cepet nangkep? Oh, waktu ngasih contoh, anaknya dipangku, biar anak bisa ngeliat dari sudut yang sebenarnya kaya waktu dia lagi make sepatu. Udah bisa lepas-pasang velcro? Coba dikasih sepatu bertali. Dan seterusnya.


That’s it. Di dua postingan selanjutnya, aku bakal nulis detil tentang proses menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori dan juga tentang natural consequences and freedom in Montessori ya (berdasarkan materi yang disampaikan Sony).

See you all! Hopefully very soon~

Review: Aplikasi Lingokids

Sejak beberapa hari yang lalu, aku udah mulai strict lagi buat batasin screen time Alma. Aku udah yang super duper kepikiran karena dia udah bener-bener yang nggak terkontrol banget nonton YouTube-nya. Dia nonton YouTube lewat TV, jadi ya sussssssahnya luar biasa kalo mau berentiin. Misal aku ganti channel nih, ganti ke NatGeoWild misalnya, belom lima menit pasti dia udah minta pindah channel ke YouTube.

And all of this was always very exhausting to me.

Aku udah coba batasin pake metode timer. Aku pasang timer, 15 menit misalnya. Aku bilang ke Alma, kalo timer-nya bunyi, berarti TV-nya harus dimatiin. Well, it didn’t work for us. Abis timer nyala, Alma malah merengek-rengek minta ditambah waktunya.

Sebenernya bisa aja sih kalo aku mau konsisten bilang ‘nggak’ setiap kali dia begitu. Tapi aku nggak kuat. Dia bisa kaya gitu lebih dari 10 kali dalam sehari. Aku lebih pilih buat stay waras aja.

Oleh karena itu, aku lebih memilih buat menyetop YouTube sama sekali. Kalo mau nonton TV, ya nontonnya NatGeoWild dan kawan-kawannya. Selain itu nggak aku kasih. Ini udah aku sounding sejak H-2.

Alhamdulillah, Alma galaunya waktu pagi-siang di hari pertama aja. Abis itu udah mulai biasa lagi. Dan karena udah nggak ada kerjaan, Alma jadi sibuk ngajakin aku main, which is good. Biasanya, duh boro-boro. Anteng depan TV terus nggak peduli aku lagi ngapain juga.

Aku ajakin dia nge-craft ala-ala, main sama kucing, dll. Aku juga jadi tahu kalo Alma ternyata suka doodling.

Hahaha. Gemes banget nggak sih? 😆

Selain itu, aku juga punya misi buat mulai ngenalin Alma sama bahasa Inggris dengan lebih serius. Nah, aku anggap ini adalah momen yang pas. Buat ngajarin anak bahasa baru, aku jelas butuh bantuan. Abinya Alma? Nggak mungkin. Masa belajar bahasa Inggrisnya cuma weekend aja? Jadilah aku cari-cari tuh apps di Google Play yang bisa bantuin aku ngajarin bahasa Inggris ke Alma.

Ada kali aku instal sepuluh aplikasi. Yang cocok cuma satu dong: Lingokids. This app is genius, very well-made. Lingokids ini spesifikasinya buat anak-anak usia 2-8 tahun, ain’t that great? Karena ini adalah hal yang bener-bener baru buat Alma, meskipun dia bentar lagi udah 3 tahun, aku tetep atur setting-nya buat anak usia 2 tahun.

Oiya, semua yang ada di dalam aplikasi ini nggak asal dibikin lho. Semua dibuat berdasarkan materi pengajaran di Oxford University Press. Jadi kontennya pasti terjamin ya.

Hasilnya? Alma and I love this app sooo very much! Serius deh, kalo anak pake app ini, mereka nggak bakal nyadar kalo ini tuh sebenernya aplikasi buat belajar bahasa Inggris. Ya abis ini isinya games, lagu-lagu, audio book, dan sejenisnya. Dan Lingokids ini materinya tematik. Bagus banget lah pokoknya.

Aku sempat rekam waktu Alma lagi pake ini aplikasi. Karena nggak ada yang bantuin rekam, jadi aku screen recording aja. Suaraku sama suaranya Alma tetep kedengeran sih (kalo bisa pake handsfree aja yak dengerinnya). Itu bulet-bulet kecil warna putih yang sering muncul nunjukin lokasi di mana layar disentuh (she did most of the tapping FYI, makanya kadang suka random 😆).

Aku juga udah berkomitmen bahwa setiap Alma lagi buka Lingokids, berarti sebisa mungkin aku juga ikut ngomong pake bahasa Inggris dari awal sampe akhir. Alih-alih jelasin pake bahasa Indonesia, aku akan lebih memilih buat bantu jelasin pake gerakan tangan atau permainan intonasi kata. Misal, waktu jelasin tentang monkey bars, aku kasih penekanan di kata monkey karena dia tahu kalo monkey itu monyet, dan monyet sukanya gelantungan. Alhamdulillahnya, dia cepet ngerti jadi emaknya nggak perlu mikir cara yang lain lagi. 😆

Contoh lain lagi, waktu Alma disuruh pilih salah satu dari tiga kendaraan: bike, car atau truck. Misal perintahnya adalah dia harus tap the car. Karena bakal susah kalo musti deskripsiin mobil pake bahasa Inggris sederhana, aku sebutin aja warna mobilnya. “There, the car is the yellow one. YELLOW one.” Pasti dia ngerti kan tuh. Dalam waktu bersamaan, dia juga jadi tahu bahwa, oh, car itu mobil toh.

Pokoknya, kalo nggak kepepet banget, aku nggak pake bahasa Indonesia.

Sejauh ini sih ok ya. Tiap aku nyebutin kata dalam bahasa Inggris, dia suka langsung ikutin. Emang jauh dari sempurna sih pengucapannya, tapi ya wajar lah ya. Namanya juga masih cadel. 😅 Yang menurutku paling penting adalah: anaknya suka dan enjoy. Yang lain-lain insyaAllah bakal ngikut sendiri.

Yak. Sekian dulu curhatan dari emaknya Alma. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Happy parenting, all!

Berkunjung ke Pepsodent Dental Expert Centre di Gandaria City

Jeng jeng jeeeng!

Tiga minggu yang lalu akhirnya Alma perdana ikut playdate bareng temen-temen HS. Alma hepi, aku pun juga nggak kalah hepi karena:

1. kebetulan yang ikutan playdate kali ini nggak terlalu banyak, jadi Alma nggak ngerasa overwhelmed, masih masuk zona nyamannya dia (secara dia nggak suka keramaian yes).

2. Playdate kali ini sangat bermanfaat buat Alma. Sebagai seorang toddler yang belum pernah sekalipun berkunjung ke dokter gigi, it was a great chance for her to get a good (first) impression of a dentist.

 

Lanjutin poin kedua, kenapa bisa gitu? Karena kemarin anak-anak periksa giginya di Pepsodent Dental Expert Center. Alma jadi ketemu sama banyak Om dan Tante Dokter Gigi yang seeeemuanya berwajah lively dan engaging. ❤️ Jauuuuuuuh dari kesan horor yang selama ini terlanjur nempel di dokter gigi. 👍

Oiya, di sini anak-anak nggak cuma periksa gigi aja dong. Di sesi pertama, ada storytelling yang dibawakan oleh salah satu Tante Dokgi. Fix emaknya Alma heran, ini beneran dokter gigi nih? Kok pinter banget mendongengnya?

YA TERUS KENAPA, KAN MALAH BAGUS HAHAHA. Mohon saya jangan ditimpuk. 😂

Di sesi kedua, anak-anak diajak sikat gigi bareng-bareng. The more the merrier… and easier. 😌 Karena banyak temennya, Alma jadi gampang diajakin sikat gigi. 😎

Terus di sesi ketiga anak-anak dipakein jas dokter cilik terus mereka foto bareng. Ya Allah gemes bangettt. They were all adorable! 😍😍😍

Next, sesi keempat, baru deh anak-anak gantian masuk ke ruangan buat diperiksa giginya. Alhamdulillah Alma mau mangap dari awal sampe akhir, meskipun maunya diperiksa sambil dipangku. No big deal, she still did great~ 😘

Terakhir, anak-anak diajak nonton film pendek gitu. Sayangnya Alma nggak mau gabung nonton lesehan sama temen-temen yang lain, soalnya dia maunya duduk di stool sofa yang teramat dia sukai itu. Yha.

Overall, it was really nice. Yang nggak kalah nice lagi, giginya Alma udah banyak yang harus ditambal: empat gigi seri atas dan satu gigi geraham. CRAY. 😭

Efek positifnya, Alma sekarang jadi suka syeeekali gosok gigi. Sikat giginya dibawa dan DIPAKAI di mana pun dan kapan pun. Luar biasa bukan?

Bahkan waktu di KRL kemarin dia duduk sambil gosok gigi…. yang mana jatohnya malah jadi jorok. 🙄 Ya udahlah ya, yang penting kan spirit-nya. Okesip!

Oiya satu lagi, sebelum pulang nggak afdol kayaknya kalo nggak foto bareng. Ini fotonya.

Alma entah kenapa pose setengah membungkuk (ngempet pipis?). Dzak kayak mau berubah jadi Ranger Merah. Makki lumayan, until I saw his face (melow banget, Nak). Dega terheran-heran melihat itu semua (sambil merem). Mikka sebagai yang paling dewasa, cuma bisa ngelirik sambil mesam-mesem. 😂😂😂

 

Everything About Senses (and of course, Sensory Play!)

Beberapa hari yang lalu, mak Alma berhasil join salah satu Kulwapp (Kuliah WhatsApp) yang diadakan oleh @sensoryzone. Tema Kulwapp-nya: Pentingnya Sensory Play untuk Anak Usia Dini dengan narasumber Ms. Zahra Zahira, founder Indonesia Islamic Montessori Community.

Kulwapp ini terdiri atas dua sesi. Di sesi pertama, peserta mendapatkan materi tentang tema terkait. Peserta kemudian diberi waktu untuk mempelajari materi. Sesi kedua dimulai pada malam harinya, yaitu sesi tanya-jawab. Pertanyaan hanya dibatasin sampe lima aja. Alhamdulillah pertanyaanku berhasil masuk ke urutan lima, jadi bisa dijawab langsung oleh Miss Zahra. Yay!

Nah, sayangnya, materinya nggak boleh disebarluaskan, nih. Jadi memang confidential, ya. Untungnya, untuk list Q&A masih boleh buat di-share.

Sebelum aku tuliskan daftar pertanyaannya di sini, rasanya kok nggak enak banget ya kalo belum ada paparan sedikit tentang Senses dan Sensory Play. I tried to find more information about this sensory thing. Luckily, aku ketemu salah satu page di https://www.goodstart.org.au/ yang ngebahas tentang manfaat Sensory Play dengan bahasa yang mudah dipahami. Aku coba ceritakan kembali di sini ya.

Tujuh Indera Manusia

Sensory Play: sebelum bahas tentang ‘Play’-nya, kita cari tahu tentang ‘Sensory’-nya terlebih dulu, ya.

‘Sensory’ adalah kata sifat dari ‘Sense’, alias ‘Indera’. Biasanya, kata ‘Indera’ ini lekat sekali dengan kata ‘Panca’, alias lima. Jadi, sejak jaman dahulu kala yang kita tahu, yang namanya indera itu ya pasti ada lima:

Rasa – stimulasi yang datang saat reseptor rasa kita bereaksi terhadap bahan kimia di mulut kita.

Sentuhan – stimulasi yang berasal dari reseptor sentuhan di kulit kita yang bereaksi terhadap tekanan, panas/dingin, atau getaran.

Bau – stimulasi reseptor kimia di bagian atas saluran udara (hidung).

Melihat – stimulasi reseptor cahaya di mata kita, yang ditafsirkan otak menjadi gambar visual.

Mendengar – penerimaan suara, melalui mekanik di telinga bagian dalam kita.

Itu ya yang lima. Tapi tahu nggak, sebenernya kita semua punya sixth sense, lho. Nggak cukup enam, ada seventh sense juga! (langsung berasa jadi Superman nggak, hahaha). Ini nih yang dua lagi:

Kesadaran tubuh (proprioception) – memungkinkan kita untuk memiliki kesadaran atas posisi tubuh kita di dalam ruang.

Keseimbangan – stimulasi sistem vestibular telinga bagian dalam untuk memberi tahu kita mengenai posisi tubuh yang terkait dengan gravitasi.

Pertanyaan yang mungkin muncul: OK, ada tujuh indera. Terus kenapa? Kenapa sih harus dilatih segala? Kan nanti bisa sendiri? Hmm, seandainya kita tahu seberapa besarnya pengaruh sensori terhadap banyak aspek hidup manusia saat dewasa nanti, pasti nggak bakal deh bilang begitu, hehe.

Jadi begini, ada nggak sih bayi yang baru lahir langsung lancar dan suka makan? Langsung bisa ngomong? Yang langsung bisa nulis? Jawabannya sudah jelas: nggak ada. Alasannya adalah karena kemampuan semacam itu teramat kompleks bagi bayi yang baru lahir. Bayi perlu melalui tahapan-tahapan (milestones) untuk bisa menguasai keterampilan hidup yang mereka perlukan.

Dan tahapan yang puuuuaaaaling awal, ya mengoptimalkan potensi yang pertama kali mereka punya, yaitu ketujuh indera mereka. Ketujuh indera inilah yang akan membantu mereka memahami dunia di sekitar mereka.

Analoginya seperti ini: jika kita ingin menulis dengan pensil, hal pertama yang kita perlukan adalah pensilnya terlebih dulu. Pensil diraut pakai rautan/silet sampai runcing agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus.

Pensil = ketujuh indera anak
Silet/rautan = permainan sensori (sensory play)
Tulisan = pertumbuhan kognitif, perkembangan bahasa, keterampilan motorik kasar, interaksi sosial dan keterampilan memecahkan masalah, dll.

Sensory Play

Jadi bayi itu susah banget, lho. Habis enak-enak hidup di dalem rahim ibu, tau-tau dipaksa keluar ke dunia yang begitu besar dan asing. Mereka butuh didampingi untuk belajar. Belajarnya bagaimana? Ya dengan banyak-banyak menyentuh (ini yang paling sensitif, makanya kontak skin-to-skin dengan ibu itu luar biasa penting), mencicipi, mencium, melihat, bergerak dan mendengar. Sering-sering beri kesempatan kepada bayi untuk secara aktif menggunakan indera mereka untuk mengeksplor sekitarnya.

Inilah asal-muasal istilah ‘Sensory Play’. Meskipun dinamai dengan kata ‘play’ alias ‘permainan’, tapi sebenarnya ini aktivitas yang sarat dengan proses belajar.

Bagi anak-anak, bermain dan belajar itu sama. Oleh karena itu, salah satu indikator utama kesuksesan belajar anak adalah ketika mereka bahagia melakukannya. Kalau suatu kegiatan belajar/bermain membuat mereka muram, ya.. lebih baik hentikan dulu saja.

Apa yang terjadi ketika anak melakukan Sensory Play?

Sensory Play memiliki peran krusial dalam perkembangan otak anak. Aktivitas ini membantu membangun koneksi saraf di jalur otak. Jika koneksi saraf banyak terbentuk, maka kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas yang lebih kompleks akan makin terasah. Sensory Play juga sangat berperan dalam pertumbuhan kognitif, perkembangan bahasa, keterampilan motorik kasar, interaksi sosial dan keterampilan memecahkan masalah.

Dan semakin sering diulang, akan semakin bagus. Penjelasannya ada di gambar berikut ini:

Efek yang ditimbulkan Sensory Play ini nyata sekali, lho. Satu contoh aja ya: ada anak yang nggak suka makanan dengan tekstur basah seperti buah-buahan, spaghetti, dll. Anak kemudian diajak bermain sensori: anak sedikit demi sedikit dipaparkan dengan benda/makanan bertekstur basah. Anak dibiarkan menyentuh, mencium dan bermain dengan benda/makanan itu tanpa diberi ekspektasi apa-apa (kalau awalnya betul-betul tidak mau, bisa disiasati dengan menaruh makanannya di dalam zipper bag untuk kemudian dipegang-pegang anak, jadi bendanya tidak bersentuhan langsung dengan tangan). Kalau sudah mau dan terbiasa, baru ditingkatkan lagi dengan mengambil sedikit-sedikit makanannya, dan seterusnya sampai anak berani mengeksplor secara keseluruhan (dan biasanya ini bukan proses yang instan, butuh kesabaran orangtua).

Ketika bermain dengan makanan basah, yang terjadi sebenarnya adalah anak sedang mengembangkan kepercayaan dan pemahaman akan tekstur ini, di mana sedikit demi sedikit akan terbangun jalur positif di otak untuk mengatakan aman untuk terlibat dengan makanan ini.

Itulah kenapa, kalo ada balita yang berpotensi memiliki masalah tumbuh kembang (telat bicara/speech delay misalnya), terapi sensori integrasi biasanya menjadi solusi pertama.

Lalu, permainan sensori apa saja yang bisa dilakukan anak? Jawabannya: BANYAK. Di era digital yang banjir informasi seperti sekarang, masalahnya bukan di kesulitan mencari informasi, melainkan kesulitan dalam merealisasikan SEDIKIT dari begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Mantranya: just do it!

Refleksi Mak Alma

Kalo Alma sendiri gimana? Jujur, aku sendiri masih kurang maksimal dalam melibatkan Alma buat main sensori. Kendalanya berasal dari perasaan, “Aduh bentar lagi mau pindahan, ntar aja sekalian di rumah biar nggak repot bungkusin printilan”. Lagipula waktu Alma bayi masih jarang pengetahuan tentang pentingnya aktivitas sensori di sosial media. Jadi aku pun tak tahu.

Ahhh bisa aja Yosss ngelesnya. 🙄

Kalo mau di-review lagi, kegiatan Alma sehari-hari lebih banyak bermain bebas (di dalam maupun di luar ruangan) dan membaca buku. Dan kalo diinget-inget lagi, tanpa sengaja Alma udah cukup banyak melakukan permainan sensori sih (tapi ya itu, tidak pada jam tertentu dengan tema tertentu, seketemunya aja apa yang diminati Alma) yang melibatkan semua indera kecuali indera perasa dan penciuman. Aku yakin ini penyebab utama kenapa Alma termasuk picky-eater (sayur-buah lancar, lauk milih-milih, karbo apalagi).

Sebetulnya indera perasa dan penciuman ini bisa banget diasah melalui BLW (Baby Led Weaning). Walaupun BLW ini judulnya salah satu metode pemberian MPASI, kalo aku bilang, BLW ini juga termasuk aktivitas sensori karena sangat melibatkan keempat indera anak (penglihatan, perasa, penciuman, dan peraba). Aku nyesel banget kenapa dulu nggak BLW-in Alma aja (bukan karena ikut-ikutan Andien ya, PLIS! BLW itu udah banyak yang pake jaaaauuuuh sebelum Andien punya bayi). Kekurangannya BLW ini kan biasanya karena ditakutkan asupan makanan yang masuk ke anak nanti tidak mencukupi kebutuhan gizi anak.

That is a very weak argumentation. Kalau BLW waktu bayi masih di bawah 12 bulan, pasti sama sekali nggak masalah. Lha asupan gizi bayi di bawah 12 bulan itu kan utamanya masih dari ASI. Makanya namanya ‘Makanan Pendamping ASI’, bukan ‘Makanan Pengganti ASI’. Justru dengan BLW kemungkinannya akan kecil sekali anak tumbuh jadi picky-eater. Malah jadi lancar bukan makannya? PLUS, melatih kemandirian anak juga. Anak dilatih makan sendiri tanpa dipaksa. Super sekali lah pokoknya.

Beda kaya Alma yang udahlah disuapin melulu, makannya kalo nggak bubur ya nasi tim. Alasannya biar tambah gendut (DUH! Gendutnya padahal dari ASI-ku 😳 I was really stupid, indeed). Jarang dikasih makanan utuh dengan bentuk, bau dan rasa yang berbeda-beda. Waktu itu kena baby blues pula, jadi sering maksain Alma makan sampe sering dia muntah kekenyangan. Sungguh suram. Kalo inget aku jadi pengen jeduk-jedukin kepala ke bantal rasanya. 😢😠

Nggak heran lepas setahun Alma langsung GTM parah, nggak mau makan, walhasil emaknya makin stres. Bisa lho waktu itu dia nggak makan seharian. Jadi harus purging dulu: aku pasrah Alma nggak makan apa-apa. Toh, kalo laper pasti minta makan. Aku cukup sediain makanan sehat beraneka macam rupa digeletakin di mana-mana. Sampe beberapa minggu kaya gitu, baru deh normal lagi.

Back to topic (curcol mulu yak aing). But to my surprise, I discovered that Alma really excelled the proprioception and the vestibular ones, terutama proprioception. Kalo misal lagi jalan di lantai atau halaman yang banyak rintangannya (misalnya batu, mainan yang berserakan, lubang, dll), dia tetep bisa jalan lancar tanpa kejeblos atau jatuh atau nginjek rintangannya. Padahal dia jalan nggak pake liat bawah, lho. Nyeludur aja gitu. Aku kadang sampe terheran-heran sendiri.

Mungkin karena aku nggak pernah dikit-dikit ngelarang Alma buat eksplor apapun yang dia suka. Ehm. Manjat-manjat? Silakan. Naik turun tangga sendiri? Cus. Jalan nggak pake sendal? Boleh.

Semuanya boleh asalkan aman, nggak ngerugiin orang lain, dan/atau Alma masih di bawah pantauanku atau Abi. Tapi namanya manusia, pasti ada aja salahnya. Beberapa kali Alma jatuh, tapi alhamdulillah masih aman terkendali. Paling nangis bentar trus lanjut main lagi. Justru, pengalaman jatuh/kepentok in akan bikin anak makin aware sama dirinya sendiri. Anak akan otomatis makin hati-hati next time dia melakukan hal yang serupa. Kalo anak sedikit-sedikit dilarang, dia malah jadi minim pengalaman buat mengeksplor diri sendiri dan ruang di sekitarnya. And for me, that is actually much worse than just kepentok.

OK. Jadi sekarang PR-ku ada dua nih:

1. Perbanyak aktivitas sensori, khususnya yang melibatkan indera perasa dan penciuman.

2. Buat kegiatan rutin terencana setiap hari, nggak perlu lama-lama, yang penting rutin (karena aku pernah baca bahwa rutinitas itu penting sekali buat balita, kalo mau dibahas udah beda topik lagi ini, haha).

*TARIK NAPAS DALAM-DALAM… HEMPASKAN*

Ya Allah kenapa bisa jadi panjang giniiiii. Parah emang. Kalo gini sih jadinya list Q&A Kulwapp kemarin dilanjut di postingan selanjutnya aja, ya. So sorryyyy.

See you very soon!


RALAT

Di salah satu paragraf di atas, aku bilang bahwa pernyataan ‘anak yang BLW punya risiko kekurangan asupan gizi’ sebagai argumentasi yang lemah.

Now I have to take back what I have said. I wasn’t completely right. Aku lupa ada satu zat yang penting banget buat bayi dan balita yang kalo didapetin dari ASI aja, nggak bakal cukup.

Zat itu adalah iron alias zat besi.

Pasti udah pada tahu ya (terutama para mamak-mamak yang anaknya pernah GTM nih) segimana pentingnya zat besi ini buat anak kita (yang paling populer: kekurangan zat besi bikin anak nggak nafsu makan). Sayangnya memang ASI itu rendah zat besi, sama kaya susu sapi. Makanya kebutuhan akan zat besi ini mau nggak mau harus dipenuhi dari makanan padat.

Abis tanya ke salah satu temenku yang adalah seorang dietisien/ahli gizi, yang paling baik itu ya di-mix aja antara BLW dan direct feeding (disuapin langsung). Jadi bisa dapet dua-duanya: pengalaman anak terhadap berbagai tekstur dan rasa makanan oke, asupan gizi yang cukup dan seimbang juga oke. Win-win!

Wah, lega deh udah ngeralat. I definitely learned my lesson! Aku bisa aja sih keukeuh gak mau ralat apa yang aku bilang, but that isn’t gonna be fair for everyone else, and even for myself.

Karena mengakui kesalahan itu adalah bentuk tanggung jawab.

Karena mengakui kesalahan itu jauh lebih baik daripada menyembunyikan keburukan.

Dan memang harus mengakui kesalahan kalau masih mau dipercaya orang.