Task 5 Chukyuu – Konmari Habits – Kitchen Komono

Kategori kali ini masih masuk ke kategori Komono, tapi difokuskan ke printilan dan perkakas dapur aja. Untuk kebiasaan-kebiasaan di area dapur emang aku cukup strict ya, wajib dilakukan, soalnya aku selalu masak setiap hari (kecuali hari libur).

So without any more chit chat, berikut kebiasaan-kebiasaan di dapur yang sesuai dengan prinsip KonMari yang biasa aku lakukan  di rumah.

  1. Mengelap sisa minyak dan cairan lain di area kompor gas dan meja dapur setiap selesai memasak dan/atau bila diperlukan
  2. Mengumpulkan sampah sisa bahan masakan segera setelah selesai memasak dan/atau bila diperlukan
  3. Mencuci peralatan makan dan masak segera setelah selesai digunakan
  4. Memindahkan piring, gelas, dan lain-lain dari drainer ke rak dapur di siang atau sore hari
  5. Mengembalikan peralatan dan bahan dapur ke rumahnya masing-masing setelah selesai digunakan (kalau perlu dicuci terlebih dulu, maka kembali ke habit nomor tiga)
  6. Membersihkan kulkas sebulan sekali

Task 4 Chukyuu – Konmari Habits – General Komono

Berikut adalah benda-benda subkategori general komono beserta penjelasannya.

CD/DVD

Di rumah, kami tidak menyimpan CD ataupun DVD. Jadi ini saya skip ya.

Persediaan ATK

Sebagian besar ATK disimpan di nakas di dalam kamar. Kami konsisten mengembalikan alat tulis ke ‘rumah’-nya setelah digunakan, jadi sejauh ini aman.

Electrical komono

Laptop, hard disk, dan salah satu dari dua handsfree selalu dibawa suami ke mana-mana. Laptop saya sedang error jadi masih disimpan di dalam lemari. Sisanya: power bank, flash diskhandsfree, dan lain-lain selalu berada di dalam kotak di nakas.

Skin care, alat kosmetik dan grooming

Saya sempat mencoba-coba berbagai produk skin care (dengan banyak step itu) dan kosmetik. Hasilnya, sebagai manusia antiribet, ternyata saya hanya rajin menggunakan produk-produk ini: St. Ives Fresh Skin Apricot Scrub, SilkyGirl BB Cushion, Colourpop Lippie Stix Brink-Lumiere-Bichette, Bourjois Rouge Edition Velvet Beau Brun dan Nature Republic Aloe Vera Soothing Gel. Produk yang paling pertama disebut selalu diletakkan di kamar mandi, produk yang paling terakhir disebut selalu disimpan di nakas (bersama parfum, deodoran, sisir dan teman-temannya), sedangkan sisanya selalu saya bawa ke mana-mana (jadi saya letakkan di dalam cosmetic pouch).

Obat-obatan

Sudah ada rumahnya, di nakas juga, dan jarang ditengok. Kami jarang sekali memakai obat-obatan. Untuk kegiatan mengecek tanggal kedaluwarsa, biasanya ini kami lakukan saat mengonsumsi si obat. Kalau sudah ‘jatuh tempo’, langsung discard.

Peralatan hobi

Kami tidak punya hobi khusus yang memerlukan peralatan tertentu.

Peralatan jahit

Saya kurang bisa menjahit, tapi punya beberapa benang dan jarum (yang jarang disentuh). Sudah ada rumahnya juga di nakas.

Koleksi (tanaman, pernak-pernik)

Untuk pernak-pernik, semua kami letakkan di bagian tengah rak buku, sehingga otomatis ikut dibersihkan hampir setiap pagi saat rak buku dibersihkan. Untuk tanaman, kami hanya punya satu tanaman dalam pot, yang kami letakkan di area wastafel tempat mencuci piring, sisanya kami tanam di taman. Kami rutin menyiram taman 1-2 kali sehari.

Handuk, selimut, bed cover, sprei

Benda-benda ini selalu tersimpan rapi di dalam lemari. Untungnya, selama ini kami mengganti sprei sudah sesuai anjuran: maksimal dua minggu sekali. Yang masih PR adalah handuk. Selama ini saya lebih sering menjemur daripada mencuci handuk, padahal ternyata semakin sering handuk dicuci, semakin baik. We’ll surely go the extra mile for this habit.

Mainan anak

Ah, ini yang paling membuat saya pusing kepala dan saya sedang menjalani proses untuk memperbaiki ini. Alma memiliki belasan boneka dan dua kotak mainan yang mana boneka dan mainan-mainan ini sesungguhnya jarang dimainkan. Alma lebih suka bermain outdoor (berlari-lari sambil memunguti daun kering, bebatuan dan sebagainya) atau memainkan benda-benda betulan yang bukan mainan (gelas betulan, sendok betulan, dan lain lain). Yang paling sering dipakai cuma satu: spidol berwarna, ini pun saya masih dalam proses membiasakan Alma untuk merapikan kembali spidol dan benda-benda yang dia mainkan setiap selesai dia gunakan. Ingin rasanya men-discard sebagian besar kategori ini, hanya saja banyak sekali boneka dan mainan ini hasil pemberian dari nenek dan kakeknya. Aku kudu piye iki, peeps. 😭

Well anywayyy, berikut daftar kebiasaan (list of habit) yang saya lakukan terkait kategori general komono.

Task 3 Chukyuu – Konmari Habits – Papers

Sejauh ini, keluarga kami tidak terlalu banyak menggunakan kertas. Dokumen-dokumen penting sudah kami kumpulkan jadi satu di dalam map. Saya sering sekali menulis dan mencatat, semuanya paperless. Beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan: Evernote, Google Docs, blog, dll.

Beberapa kali suami mendapat buku agenda dari kantor. Karena saya dan suami jarang pakai, buku-buku agenda itu akhirnya dipakai Alma untuk doodling, salah satu kegiatan favoritnya. Setelah buku agenda sudah penuh dengan coretan Alma, saya akan mengabadikan beberapa hasil coretan yang paling mengesankan dan memorable dalam bentuk foto. Setelah selesai, buku agenda kemudian saya discard.

Yang paling banyak dan konstan kami ‘hasilkan’ adalah kertas bills dan receipts. Setiap ada kesempatan, saya pasti segera membuang kertas bills dan receipts. Jika ingat dan memungkinkan, saat di meja kasir saya biasanya meminta agar kertas receipt tidak usah digandakan.

Sebagai rangkuman, berikut kebiasaan-kebiasaan terkait kategori kertas yang biasa saya lakukan.

  1. Mengabadikan hasil doodling milik Alma
  2. Men-discard buku agenda yang halamannya sudah penuh terisi
  3. Membuang kertas bills dan receipts
  4. Meminta kasir untuk tidak menggandakan kertas receipts

Task 2 Chukyuu – Konmari Habits – Books

Untuk task kali ini, saya membuat list kebiasaan apa saja terkait kategori Buku yang harus konsisten saya lakukan dalam rentang waktu tujuh hari berturut-turut, untuk kemudian dilakukan seterusnya. Berikut list kebiasaan yang saya buat.

  1. Membersihkan rak buku setiap pagi
  2. Tiap selesai membaca buku, buku dikembalikan ke lokasi semula
  3. Membaca buku setiap hari (minimal 10 lembar)
  4. Langsung merapikan rak buku saat rak buku terlihat kurang rapi
  5. Mengajak anak untuk bersama-sama melakukan keempat list di atas

 

Tidying Festival – Sentimental Items

The very last task has finally come!

Yep. Sentimental items alias barang-barang yang menyimpan kenangan bagi pemiliknya. Kenapa sentimental items ditaruh paling akhir? Karena sesungguhnya kategori ini sangat berpotensi untuk menghambat proses berbenah.

Let me explain.

Waktu kita memegang benda kenangan yang masih berguna sih pasti no problemo ya, tanpa pikir panjang pasti tetap disimpan. Tapi bagaimanakah ceritanya kalau ternyata selama bertahun-tahun bendanya cuma nyempil aja di pojokan? Mau buang nggak tega. Mau nggak buang, tapi nggak pernah dipakai juga.

In the end, kegiatan berbenah jadi terhambat dan tertunda karena seharian malah galau di pojokan kamar. Finally see the point, right? 😆

Pertanyaan selanjutnya… ehm, barang kenangan kita jadinya ada apa aja nih?

Well,  sejujurnya nggak terlalu susah sih buat menyortir barang di kategori ini. Aku juga nggak terlalu inget barang kenangan apa aja yang udah kita discard (eh, tetiba inget satu: baju bayinya Alma! 😆). Jadi ya seperti biasa, langsung tunjukin aja lah ya fotonya.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aku kasih keterangan sesuai nomor foto ya.

1. I made this all by myself. The very first birthday present that I give to Reza Darmawan. Jangan tanya tulisan di frame sebelah kanan ya. Aku sama Abi selalu nggak abis pikir kenapa aku kita dulu bisa se-cheesy ini. 😂 Karena lucuk, kita shamelessly pajang ini di rak buku paling atas. 😂

2. Bendanya yang di sebelah kanan. Going Merry, the ship of the Straw Hat crew. It’s not just an accessory in a bookshelf. Ini dulu hadiah pernikahan dari salah satu sahabat terbaik Abi. It came with a letter, definitely a heart-warming one. Jadi kita putuskan buat ditaruh di rak buku paling atas juga.

3. Ini kumpulan tiket nonton di mana nontonnya bareng Si Abi. Entah kenapa mau buang kok susahnya luar biasa. Ya udah disimpen aja. 😛

4-5. Ini komik buatanku, gambarnya manual pake pensil, pen, dsb. Aku bikin ini sebagai tugas akhir/skripsi waktu kuliah dulu. Mana tau kan Alma nanti kalo udah gede mau baca ini, hahaha.

6. Ini map dapat waktu Abi ikut training Certified Ethical Hacker. Hampir nggak pernah dipakai dan sempat akan aku discard tapi dilarang Abi. Well, it’s just his thing. 😆

7. Persis seperti nomor enam, cuma bedanya ini map dari Training Manajemen Layanan TI.

8. Pin yang didapat dari dalam map nomor tujuh.

9. My birthday present from Abi last year. He made it all by himself. Beli bahannya diem-diem, tau-tau jadi. 😍 Detilnya ada di video di bawahnya ya.

I guess that’s all. Semoga aku bisa lulus Kelas Shokyuu biar bisa lanjut ke Kelas Chukyuu. Amin!

Tidying Festival – Papers

Postingan tentang papers (kertas dan dokumen) kali ini akan menjadi postingan terpendek yang pernah saya buat. Ini cukup aneh karena papers termasuk kategori urutan ketiga dalam seni berbenah ala Konmari, yang berarti menyortir dokumen seharusnya akan lebih ribet daripada menyortir komono alias barang printilan (yang bagi saya sudah cukup ribet ini).

Alasannya adalah karena kami sudah melakukan proses penyortiran sejak dari dua bulan yang lalu saat kami baru saja pindah rumah.

Yes, kami sudah berhasil melewati hari-hari yang gelap itu. 😂

Kalau diingat-ingat lagi, dokumen-dokumen yang belum disortir waktu itu ada sekitar dua kardus. Ada BANYAK sekali kertas dan dokumen yang bahkan kami pun heran bagaimana bisa kami tidak membuang itu semua. 😂

Lalu bagaimana sekarang? Alhamdulillah, dokumen yang sudah tersortir muat dimasukkan ke dalam satu folder saja.

Mohon abaikan tulisan yang jauh dari istilah ‘spark joy‘ di atas. Suami saya memang nekat, padahal dia tahu betul kalo tulisan tangannya jarang-jarang bisa kebaca. 😬

Tidying Festival – Komono (Miscellaneous Items)

Huhuhu, task kali ini ngerjainnya telat nih. I feel so baaad.

Well, kategori yang telah saya benahi kali ini adalah Komono.

Wait, komono? Kimono kali nih maksudnya? Hahaha bukaaan. Komono itu kalau mau diartikan pakai bahasa sehari-hari adalah barang printilan. 😆 Atau kalau dalam bahasa Inggris: miscellaneous items. Yang jelas, komono itu semua benda yang tidak termasuk ke dalam kategori pakaian, buku, kertas ataupun barang kenangan.

Di rumah, sebagian besar benda-benda ini kami letakkan di tiga tempat: rak di kamar tidur, satu kolom terbawah rak buku, dan dua kotak mainan besar. Langsung saja ya saya display di sini. 💜

 

 

Wadah mainan warna kuning dan oranye itu kami beli di IKEA. Karena Alma lebih suka bermain bebas, akhirnya mainan hanya kami bagi jadi dua subkategori: mainan kecil dan mainan besar.

Wadah-wadah yang ada di rak kamar tidur asalnya bermacam-macam. Ada kotak Calista, laci lemari yang tidak dipakai, sampai kotak bekas mahar juga ada. 😂

Demikian penataan komono di rumah kami. Sejauh ini, saya dan suami hanya menemui satu kendala dalam mempertahankan kerapian rak, yaitu ketika Alma mulai mengeksplor area yang terlihat di foto-foto di atas. Entah kenapa, dia suka sekali memindah-mindahkan barang dan menyimpannya di tempat yang tidak lazim. Misalnya, Alma suka sekali menyimpan remote TV di lemari baju atau kulkas.

But I guess that’s another story. Hopefully we will have the problem solved soon. 😅

 

Festival Berbenah: Buku!

Akhirnya sampai juga di kategori ini! Sejujurnya, menyortir buku ini jaaauuuh lebih susah daripada menyortir baju. Sebagai keluarga bookworm, kami merasa sangat attached dengan setiap buku yang kami punya di rumah.

Oleh karena itu, alih-alih menyortir buku habis-habisan seperti saat kami menyortir baju, saya dan suami lebih memilih untuk mencari cara agar seluruh buku mendapatkan kadar kasih sayang yang sama rata dari kami, hehehe.

Saat sudah memiliki anak, kami jadi tidak bisa sebebas dulu membaca buku. Jumlah buku yang bisa kami selesaikan pun jadi menurun drastis. Salah satu usaha suami agar untuk memperbaiki masalah ini adalah dengan membuat ini.

Total buku yang kami punya adalah 239 buku dengan 16 genre yang berbeda

 

Katalog Buku kami

Jadi nanti kami bisa meng-input banyak informasi mengenai perpustakaan kecil kami. Misalnya, buku apa saja yang sudah dibaca, buku mana saja yang sedang dipinjam, dan seterusnya.

Untuk penampakan rak buku kami, karena kami memutuskan untuk tidak men-discard satu buku pun, maka kami hanya menyusun dan menata ulang buku-buku sesuai kategori/genre masing-masing (sebelumnya semua genre campur aduk jadi satu, jadi cukup sulit menemukan buku yang kami inginkan).

SEBELUM
SESUDAH

Tips: Bila belum sempat membeli pembatas buku, agar buku tidak ambruk, posisikan buku terluar menyandar ke buku sebelahnya sampai membentuk segitiga. 😉

Sekian untuk postingan kali ini. Sampai jumpa di kategori berikutnya!

Task 5: Tidying Festival – Clothes

Ini adalah bagian kedua (sekaligus terakhir) dari Festival Berbenah dalam kategori Clothes alias Pakaian.

Kalau di postingan pertama saya banyak memperlihatkan hasil lipatan baju ala KonMari, maka di postingan kedua ini saya akan membahas mengenai storage alias tempat penyimpanannya.

Sesungguhnya, tempat penyimpanan baju ala KonMari yang paling ideal adalah yang berupa drawer/laci, seperti yang ditunjukkan ilustrasi di bawah ini.

Tempat penyimpanan ideal kedua adalah dengan menggunakan kabinet dimana baju disimpan dengan cara digantung. Agar kabinet bisa lebih spark joy, maka selain diurutkan berdasarkan warna (seperti saat disimpan dalam laci), baju juga bisa diurutkan dari yang paling panjang ke yang paling pendek.

Tapi laci memang lebih preferable karena bisa memuat jauh lebih banyak baju.

Lalu, bagaimana kalau kita terlanjur membeli lemari model konvensional?

Masalah yang umumnya timbul dari lemari konvensional adalah jarak antarsekat yang terlalu tinggi. Opsi solusi yang pertama adalah dengan mengganti lemari konvensional dengan kabinet/laci.

Masalahnya, belum tentu kita memiliki budget yang memadai dalam waktu dekat untuk melakukan ini. Seperti saya contohnya. 😆

Untungnya, kita punya opsi yang kedua, yaitu dengan menambahkan sekat-sekat tambahan yang disisipkan di antara dua sekat yang terlalu tinggi tadi, seperti ini.

Setelah mengecek di Tokopedia, ternyata harga tiap sekat lumayan juga. Terlebih lagi, saya tidak hanya membutuhkan 1-2 buah sekat saja, melainkan sedikitnya 10 buah sekat seperti ini (lemari di rumah ada dua dan tiap lemari memiliki 5 buah kolom yang bisa disisipi sekat tambahan).

Akhirnya, saya pun menggunakan opsi ketiga, yaitu menambahkan beberapa kontainer di tiap-tiap kolom lemari. Begini penampakan lemari pakaian saya saat ini.

Abaikan tulisan di tiap kotak yang masih acakadut, hahaha. Dan kenapa pakai bahasa Inggris? Pertama, biar lebih pendek (coba tulis Socks & Panties vs Kaos Kaki & Celana Dalam, pilih mana? 😂). Kedua, karena bagi saya, tulisan berbahasa Inggris itu sangat spark joy. 😎

Back to topic, kekurangan dari model penyimpanan seperti ini adalah kontainer jadi saling ditumpuk satu sama lain. Kontainer yang berada di tumpukan paling bawah jadi agak sulit untuk diakses (kontainer yang ada di atasnya harus diambil terlebih dulu).

Kekurangan ini sebetulnya bisa diakali dengan cara mengisi kontainer paling bawah dengan pakaian yang paling jarang digunakan. Kalau saya, kontainer paling bawah saya isi dengan kumpulan mukena dan sajadah cadangan dan baju-baju atasan yang saya pakai di waktu-waktu tertentu saja.

FYI, saat saya mengirimkan foto lemari saya ini di grup kelas, ada yang mengira kalau kotak-kotak yang saya pakai adalah kotak SKUBB dari IKEA.

Padahal bukan.

Awalnya memang saya sempat browsing katalog IKEA (karena biasanya barang-barang basic di IKEA harganya bisa murah sekali). Saya pun menemukan box set SKUBB ini. Harganya 99.000 berisi 6 kotak dengan ukuran yang berbeda-beda.

Cukup menggiurkan, but this box set does not solve my problem. Kenapa?

Pertama, bisa dilihat di foto lemari saya di atas, dalam satu lemari saja saya membutuhkan 24 kotak baju tambahan. Jadi saya akan membutuhkan paling tidak 6 buah box set SKUBB untuk satu lemari. Lemari di rumah kami ada dua. Hmm, not so cheap anymore, eh?

Kedua, ini alasan yang membuat saya mencoret kotak SKUBB dari daftar, karena ukuran kotaknya yang tidak seragam. Kalau ukuran kotak tidak seragam, bila dijajarkan side-by-side pasti kurang enak dilihat. It’s really a big no-no for me.

Setelah saya mengukur panjang, lebar, dan tinggi tiap-tiap kolom lemari, saya menyimpulkan bahwa kontainer seukuran kotak sepatulah yang paling pas ditaruh di dalam situ. Akhirnya saya mencoba browsing di Tokopedia dan menemukan banyak sekali pilihan kotak sepatu.

Akhirnya, saya memilih kotak sepatu yang berbahan Duplex 250 GSM dan berwarna putih ini. Yay! Bahagia sekali rasanya saat saya menemukan kotak ini. Harga perhelainya pun hanya 4000 rupiah saja. Meskipun sebetulnya bahannya kurang tebal ya, jadi rasanya kurang kokoh (sebetulnya ada kotak lain yang lebih kokoh, tapi bahannya kardus berwarna coklat, saya tidak terlalu suka). Kalau ditumpuk vertikal, pasti cepat penyok. Kekurangan ini saya siasati dengan cara menyelipkan tutup kotak sepatu di antara dua kotak yang ditumpuk, seperti ini.

Fungsinya adalah untuk meminimalisasi tekanan pada kardus yang ada di tumpukan bawah. Tiap helai tutup kotak berfungsi memperlebar luas permukaan sisi atas kotak yang ada di bawah (kotak yang di bawah jadi memiliki ‘atap’), sehingga beban yang berasal dari kotak di atasnya bisa terdistribusi dengan lebih merata.

Manfaat lain yang saya temukan adalah kotak-kotak yang di bawah jadi bisa ditarik menyerupai laci. Jadi saya tidak perlu mengambil kotak yang paling atas jika ingin mengambil kotak baju yang berada di bawah.

Now that’s what I call happiness. 😛

Bagaimana rasanya setelah mengatur lemari menjadi seperti ini? Surprisingly, lemari saya jadi lebih tahan rapi dalam waktu yang sangat lama. Padahal saya termasuk orang yang cukup berantakan. Pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, tiap selesai merapikan tumpukan baju di lemari, dalam waktu beberapa hari pasti akan berubah berantakan lagi. Tapi kali ini tidak. Padahal sudah lebih dari seminggu yang lalu sejak saya menata ulang lemari. This is pretty much an achievement for a messy person like me. 😍

Sebetulnya ada alasannya sih kenapa bisa begitu. Kalau baju dilipat dan ditumpuk secara vertikal, bila kita mengambil/menarik baju yang ada di bawah, pasti sangat berpotensi untuk membuat tumpukan baju menjadi berantakan karena baju yang berada di atas/di bawahnya ikut tertarik.

Namun, jika baju dilipat sampai bisa berdiri sendiri untuk kemudian dijajarkan secara horizontal (seperti metode KonMari), risiko tersebut jadi bisa diminimalisasi, seperti baju saya dan anak saya setelah ditata ulang ini.

Awww, I really can’t take my eyes off of them. So much spark! So much joy!

I cannot wait to do the next category! 💜