Mengobati Inner Child dengan Self-healing (yang Ternyata Tidak Semudah Itu)

Aku nggak nyangka kalau ternyata Inner Child dan Self-healing jadi salah satu materi Pra-Bunsay. Di pertemuan kedua kemarin, ada cukup banyak teman yang berani speak-up mengenai inner child masing-masing.

Aku enggak. Aku takut setengah mati.

Yang membuatku serba salah adalah karena ternyata, materi ini ada tugasnya. Salah satunya adalah kami diminta untuk melakukan kilas balik ke masa anak-anak dan membuat list kejadian-kejadian negatif dan/atau positif yang masih membekas kuat sampai sekarang.

Seketika aku ngerasa kalo aku nggak bakal bisa ngerjain ini. Untungnya, tugas yang ini nggak perlu dipublikasikan. Kalau sampai bener-bener harus bikin list, mungkin aku bisa nulis sampai satu buku tulis penuh. Memori masa kecil dan remajaku juga didominasi kenangan buruk. Kenangan baik yang aku alami kebanyakan udah tergerus, yang aku ingat cuma tinggal sedikit.

Sebetulnya, melakukan kilas balik adalah sebuah langkah awal untuk self-healing. Tapi aku belum siap. Lagipula, aku pasti butuh pendamping buat ngelakuin ini, nggak bisa sendirian.

Untungnya, dua langkah self-healing selanjutnya masih doable: membuat jurnal syukur dan afirmasi positif atas diri sendiri. And here they are.

Jurnal Syukur

Aku bersyukur memiliki suami yang sabar dan pengertian. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak banyak menuntut. Aku bersyukur memiliki suami yang berpikiran terbuka. Aku bersyukur karena telah menikahi seorang family man. Aku bersyukur kami diciptakan sebagai dua potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain.

Aku bersyukur telah dikaruniai seorang anak perempuan yang mendamaikan hati dan jiwa. Aku bersyukur memiliki anak perempuan penyejuk mata. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang peka dan pandai bercerita. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang mencintaiku tanpa syarat. Aku bertekad untuk terus menemani dan membesarkannya sebaik yang aku bisa.

Afirmasi Positif

Aku adalah seorang perempuan yang tangguh. Aku adalah istri dan ibu terbaik untuk suami dan anakku. Mereka berdua selalu bisa mengandalkanku dan aku pun selalu bisa mengandalkan mereka.

Seburuk apapun hariku, aku telah mengusahakan semampu yang aku bisa. Aku bisa membuat kesalahan dan itu tidak apa-apa. Aku adalah pembelajar sejati dan kesalahan adalah guru yang terbaik.

Aku sangat menyayangi keluarga kecilku. Keluarga kecilku juga sangat menyayangiku.

I will never be alone.

We will always have each other’s back and that’s the one that really matters.

Ketika Anak Minum Terlalu Banyak Susu

Akyu mau curhat lagi nih. Kali ini perihal kebiasaan minum susu Si Alma.

Flash back, setelah disapih, Alma itu sebenernya jadi ogah minum susu. Waktu itu (setelah melalui banyak pertimbangan) aku kasih Alma susu UHT sebagai pengganti ASI. Kenapa susu UHT? Jawabannya bisa diliat di tabel di bawah ini.

Dicomot dari vetindonesia.com

Karena Alma nggak doyan susu, akhirnya aku memaksakan kehendak dengan selalu menyediakan susu UHT setiap hari buat Alma sambil selalu menyemangati dia buat minum susu. Seperti kata pepatah, bisa karena terbiasa, beberapa minggu kemudian Alma pun jadi suka minum susu UHT. Kenapa aku ngelakuin ini padahal aku udah paham betul bahwa susu itu nggak wajib buat anak usia di atas dua tahun? Karena aku takut di-judge. JENG JENG JENG.

Aku inget banget, Alma berhasil disapih beberapa minggu sebelum libur lebaran. Aku bersyukur karena aku jadi bisa pencitraan di depan keluarga besar: Yossie ibu teladan, berhasil menyapih anaknya walaupun anaknya nenen-addict (silakan kalo mau kentut). Tapi di sisi lain, muncul kegalauan baru: kalo sampe Alma ogah minum susu, pasti nanti Alma disuruh minum sufor.

Disclaimer: aku bukan antisufor. Cumaaa, aku nih anaknya nggak mau ribet. Kalo Alma minum sufor, berarti ke mana-mana aku harus bawa-bawa termos dll. Aku bayanginnya aja udah nggak kuat. Apalagi kalo nanti Alma minum sufor, pasti minumnya (umumnya) pake dot.

Nyapih nenen aja prosesnya nggak instan bin menguras energi, masa mau bikin PR baru lagi, nyapih dot. Alma nenen doang aja gigi depannya udah karies, apa kabar kalo nanti minum susu pake dot.

Nah, daripada ntar Alma didorong buat ngedot, lebih baik Alma minum susu UHT aja. Selain karena paparan di tabel di atas, susu UHT juga antiribet. Ini poin plus banget. Waktu itu Alma masih nggak terlalu suka, jadi kalo sehari bisa ngabisin satu kotak (125 ml) aja udah alhamdulillah. Si Emak pun hepi, tas diapernya masih bisa seenteng dulu waktu sebelum disapih.

Tapi itu dulu~~~ Sekarang? Dari ogah jadi doyan. Iyaaa Alma jadi doyan susu UHT. Bangun tidur minta susu, laper dikit minta susu, mau tidur harus minum susu.

Sounds like no big deal, right? Tapi sesungguhnya ini sumber masalah baru bagiku. Ibarat senjata makan tuan.

Tau sendiri lah ya kalo susu sapi itu rendah zat besi, sama kaya ASI. Itulah kenapa kalo frekuensi nenen/minum susu lebih banyak daripada frekuensi makan, bisa bahaya. Anak pasti jadi defisiensi alias kekurangan zat besi. Salah satu efek dari kekurangan zat besi ini, anak jadi males makan. Kalo males makan, hampir bisa dipastikan bahwa anak pasti maunya minum susu doang. Makin nggak mau makan, makin kekurangan zat besi. Persis lingkaran setan. Dampak negatif yang paling keliatan: berat badan anak jadi susah naik, bahkan turun.

Kembali ke Alma. Udah bisa ditebak, Alma jadi males makan. Ujung-ujungnya aku tetep harus nyapih dua kali. Keluar energi lagi emaknya. 😭

Plot twist-nya adalah… mengeliminasi susu UHT dari daftar most wanted object-nya Alma ternyata cukup mudah. Dan ini nggak disengaja. 😆

Selama ini, Alma cuma mau minum Ultra Mimi rasa Coklat, Vanila dan Stroberi. Dodolnya, beberapa minggu yang lalu aku baru tau dong kalo ternyata Ultra Mimi Full Cream itu punya nama lain, yaitu Ultra Mimi Plain, karena di antara ketiga rasa yang lain dia satu-satunya yang zero sugar. Aku langsung pengen ganti dong yah. Aku tawarin lah ke Alma yang plain.

Too bad. Dia udah terbiasa sama yang rasa coklat, vanila dan stroberi. Dia nggak mau minum yang plain. Di situ aku merasa sedih.

Nah, empat hari yang lalu, aku pesen Ultra Mimi Vanilla satu dus ke tetangga (mayan, harganya miring soalnya). Malemnya susunya dateng. Pas Alma mau tidur, aku buka dong dusnya.

Aku baru ngeh kalo ternyata yang kuterima tadi Ultra Mimi yang plain, bukan vanila.

Awalnya aku sedih. Tapi abis diskusi sama Si Abi, akhirnya kita nggak minta ganti. Justru, mungkin ini bisa jadi momen yang bagus buat switch ke susu plain. Alma tadi liat waktu susunya dianter ke rumah. Dia tau kalo aku beli di Tante tetangga. Jadilah waktu Alma protes minta susu yang pink gambar singa, aku bilang gini sambil pasang wajah sedih,

Maaf ya, Dek. Umik tadi beli susunya di Tante yang tadi. Eh, sama Tante, Umik dikasih yang biru, yang gambar sapi. Ngga papa ya Dek? Jadi, kalo Alma sekarang mau minum susu, Alma minum yang ini ya. Umik udah beli banyak banget nih, kasian kalo susu birunya ngga diminum.

Eh dia nggak protes lagi dong. Alhamdulillahhhh hepi banget akutuuuuh. 🤣

Tapi bisa ditebak, Alma nggak suka, jadi susunya diminum cuma dikiiiit banget. Sebelum tidur pun Alma minum air putih doang.

Besokannya, bangun tidur Alma masih nyariin susu. Aku sodorin susu yang plain. Alih-alih diminum dikit kaya semalem, kali ini dia bener-bener nolak. Sampe seharian pun dia nggak minta susu. Sebagai gantinya, porsi makan Alma jadi lebih banyak dari biasanya.

Saudara sekalian, inilah definisi kebahagiaan yang HQQ. So much win! Hahahahaha. #kemudianistighfar

Masya Allah yaa, kenapa coba nggak dari kemarin-kemarin aku kepikiran pake cara ini. 😪 Sekarang aku tinggal berusaha buat menyediakan makanan sehat yang bervariasi buat Alma.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, nggak papa tuh Alma jadi nggak minum susu? Jawabannya: nggak papa. Malah menurutku, lebih baik begitu, asalkan asupan makanan padatnya cukup dan seimbang.

Buat yang belum tahu, prinsip 4 sehat 5 sempurna itu sudah usang ya, Bapak dan Ibu sekalian. Yang berlaku sekarang adalah PGS, alias pedoman gizi seimbang. Apa, kenapa dan bagaimananya silakan baca di sini, di sini, di sini dan di sini biar lebih jelas. Aku nggak punya kapasitas buat menjelaskan secara detil.

Yak. Ini udah panjang banget tulisannya. See you next post, yaa. Masih ada PR satu tulisan lagi nih. Please wait! 😘

Berkunjung ke Pepsodent Dental Expert Centre di Gandaria City

Jeng jeng jeeeng!

Tiga minggu yang lalu akhirnya Alma perdana ikut playdate bareng temen-temen HS. Alma hepi, aku pun juga nggak kalah hepi karena:

1. kebetulan yang ikutan playdate kali ini nggak terlalu banyak, jadi Alma nggak ngerasa overwhelmed, masih masuk zona nyamannya dia (secara dia nggak suka keramaian yes).

2. Playdate kali ini sangat bermanfaat buat Alma. Sebagai seorang toddler yang belum pernah sekalipun berkunjung ke dokter gigi, it was a great chance for her to get a good (first) impression of a dentist.

 

Lanjutin poin kedua, kenapa bisa gitu? Karena kemarin anak-anak periksa giginya di Pepsodent Dental Expert Center. Alma jadi ketemu sama banyak Om dan Tante Dokter Gigi yang seeeemuanya berwajah lively dan engaging. ❤️ Jauuuuuuuh dari kesan horor yang selama ini terlanjur nempel di dokter gigi. 👍

Oiya, di sini anak-anak nggak cuma periksa gigi aja dong. Di sesi pertama, ada storytelling yang dibawakan oleh salah satu Tante Dokgi. Fix emaknya Alma heran, ini beneran dokter gigi nih? Kok pinter banget mendongengnya?

YA TERUS KENAPA, KAN MALAH BAGUS HAHAHA. Mohon saya jangan ditimpuk. 😂

Di sesi kedua, anak-anak diajak sikat gigi bareng-bareng. The more the merrier… and easier. 😌 Karena banyak temennya, Alma jadi gampang diajakin sikat gigi. 😎

Terus di sesi ketiga anak-anak dipakein jas dokter cilik terus mereka foto bareng. Ya Allah gemes bangettt. They were all adorable! 😍😍😍

Next, sesi keempat, baru deh anak-anak gantian masuk ke ruangan buat diperiksa giginya. Alhamdulillah Alma mau mangap dari awal sampe akhir, meskipun maunya diperiksa sambil dipangku. No big deal, she still did great~ 😘

Terakhir, anak-anak diajak nonton film pendek gitu. Sayangnya Alma nggak mau gabung nonton lesehan sama temen-temen yang lain, soalnya dia maunya duduk di stool sofa yang teramat dia sukai itu. Yha.

Overall, it was really nice. Yang nggak kalah nice lagi, giginya Alma udah banyak yang harus ditambal: empat gigi seri atas dan satu gigi geraham. CRAY. 😭

Efek positifnya, Alma sekarang jadi suka syeeekali gosok gigi. Sikat giginya dibawa dan DIPAKAI di mana pun dan kapan pun. Luar biasa bukan?

Bahkan waktu di KRL kemarin dia duduk sambil gosok gigi…. yang mana jatohnya malah jadi jorok. 🙄 Ya udahlah ya, yang penting kan spirit-nya. Okesip!

Oiya satu lagi, sebelum pulang nggak afdol kayaknya kalo nggak foto bareng. Ini fotonya.

Alma entah kenapa pose setengah membungkuk (ngempet pipis?). Dzak kayak mau berubah jadi Ranger Merah. Makki lumayan, until I saw his face (melow banget, Nak). Dega terheran-heran melihat itu semua (sambil merem). Mikka sebagai yang paling dewasa, cuma bisa ngelirik sambil mesam-mesem. 😂😂😂

 

Etonne Calendula Skin Care (My Alternative to the Petroleum-based Lucas Paw Paw)

Sejak umur 16 bulan, Alma jadi alergi pospak/pampers. Kalo kelamaan dikit makenya, pasti langsung nongol ruam-ruam.

Masalahnya, kalo mau pergi keluar rumah agak lama kan nggak mungkin ya kalo nggak pake pampers. Iya sih Alma udah toilet training, tapi ya dia kan belum sampe yang 100% pasti ngasih tau kalo pas kebelet pipis. Pasti ada aja momen ketika dia keasikan main dan sebagainya sampe ‘lupa’ kalo lagi kebelet pipis, walhasil ngompol deh.

Yekali kan ngompol di tempat umum. 😷

Kalo pas ruamnya lagi kumat tuh sedihhh banget rasanya. Terutama waktu bobok malem entah kenapa gatelnya pasti menjadi-jadi. Tidur jadi nggak nyenyak, bahkan sampe kebangun sambil nangis. Drama banget. 😔

Awal kena ruam aku kasih Myco-Z (kata kakakku yang apoteker, biasanya DSA suruh pake ini). It worked, of course, tapi butuh waktu yang agak lama sampe bener-bener sembuh total. Belum lagi konsistensi krimnya yang heavy, opaque (apa sih istilahnya pokoknya yang krimnya super lengket gitu) jadi nggak cepet nyerap ke kulit. Mungkin ada gunanya ya dibikin kaya gitu, but still, I don’t like it at all. Kalo abis diolesin kadang Alma suka garukin lagi, wassalam deh krimnya jadi pindah ke jari-jarinya Alma. 😓

Nahhh, kemarin aku inget kalo dulu aku pernah ditawarin apoteker Kimia Farma krim Etonne ini. Waktu itu aku nggak terlalu tertarik jadi ya aku iyain aja biar cepet 😂 Iya ntar kalo butuh aku bakal balik lagi, gitu.

Eh ternyata beneran aku balik lagi dong! Lesson learned: don’t take anyone for granted, even if he/she is somebody you don’t know. 😂

Jadi ceritanya, si Etonne ini mengandung ekstrak Calendula yang manfaatnya buanyak banget. Now we know that this is a plant-based product yah. Abis aku baca-baca aku langsung keinget Lucas Paw Paw (dan teman-temannya) yang emang magical dan multifungsi banget: bisa mempercepat penyembuhan ruam/iritasi, luka biasa, luka bakar, bekas gigitan serangga, dsb.

Sayangnya, Lucas Paw Paw ini meskipun emang efektif, tapi dia petroleum-based (diproses dari minyak mentah). Iya, iya, emang udah ngelewatin proses pemurnian, but remember: no chemical or physical process can ever be 100% efficient. Ngeri kan kalo ternyata senyawa-senyawa hidrokarbon yang berbahaya itu ada yang lolos masuk ke produk yang kita pake, dan ini bisa banget terjadi. Makanya sekarang banyak orang yang beralih nyari alternatifnya si Paw Paw ini.

And I have finally found one. Happy-happy-happy! Apalagi si Etonne nih baunya enakkk dan krimnya light banget jadi gampang meresap ke pori-pori kulit. Kalo abis diolesin ke kulit nggak pake lama langsung nggak berasa kalo di situ abis ada krim yang diolesin ke situ. Rasanya tuh kering, tapi juga lembap. Nah lho bingung kan. Gitu deh pokoknya. 😂

Satu hal yang paling bikin jatuh cinta adalah karena ruamnya Alma hari itu juga langsung baikan! Yayyy. Gerenjel-gerenjel bintik-bintik merahnya udah nggak berasa padahal biasanya kalo pake Myco-Z butuh beberapa hari biar bisa kaya gitu. Call it magic!

Oiya satu lagi, Etonne ini juga udah mengandung tabir surya, lho. Yah meskipun ‘cuma’ SPF 15+ tapi lumayan banget kan. Kalo mau yang SPF-nya gedean ya pake body lotion yang bagus gih. Hahaha.

Untuk harga, emang agak sedikit pricey: 175 ribu untuk 100 ml. Tapi kalo inget-inget fungsinya yang banyak itu, nggak rugi sih kalo aku bilang. Apalagi makenya kan dikit-dikit dan kalo udah sembuh ya udah nggak dipake lagi, bisa disimpen buat jangka waktu yang lebih lama.

FYI, aku kemarin dapet diskon dong, jadi cukup bayar 158 ribu saja. *proud* 😂

Sekian dan terima kasih. 😂😂😂

 

Alma Kena Radang Gusi!

Sekitar dua mingguan yang lalu Alma kena radang gusi.

And again, this is no one’s fault but mine. Harusnya aku dengerin naluri bahwa aku mesti bener-bener perhatiin giginya Alma. Harus bener-bener rutin yang rutin banget gosok gigi, nggak cuma sekali dua kali. Apalagi di umur segini (17 bulan) giginya Alma masih enam (atas empat, bawah dua). Pertama kali tumbuh gigi umur 10 bulan dan keroyokan. Jadi ya selama 7 bulan ini enam gigi itu aja yang kerja keras bantuin Alma ngunyah.

Tapi agak bersyukur juga. Misal giginya Alma udah banyak dan aku sama neglectful-nya kaya aku sekarang, radang gusinya pasti lebih parah karena ‘rumah’ bakterinya juga jadi lebih banyak.

Awalnya aku dan abi nggak ngeh kalo Alma kena radang gusi. Kirain malah Alma kena gejala flu soalnya badannya anget dan idungnya pernah meler dua kali (tapi ingusnya dikit banget sih). Jadi aku beliin Sambucol (immune booster yang lagi hits di kalangan ibu-ibu IG hahaha), harapannya biar gejala flunya nggak berlanjut.

Setelah beberapa lama, kok diliat-liat gusinya Alma warnanya jadi merah terang dan agak bengkak gitu ya, trus jadi bau mulut! Arrrgghhhhh. Ditambah lagi dia sering gigit-gigit jari. Bisa aja sih Alma lagi teething, tapi akhirnya kita simpulin kalo ini radang gusi soalnya ada bau mulutnya itu tadi.

Fix kan yah kalo gini Alma harus banget ke dokter gigi. Dilema selanjutnya adalah milih dokter gigi yang pas. Kita pendatang banget nih di Solo, jadi belom tau lor-kidul. Otomatis jadi ngandelin Google.

After seeing some results, kita mutusin buat bawa Alma ke Klinik Anak Cerdas Ceria. Sebenernya ini klinik tumbuh kembang, tapi layanannya nggak cuma itu aja. Ada dokter spesialis anak, dokter gigi spesialis anak, psikolog anak, sampe baby spa pun ada. Lengka-kap-kap. Ditambah lagi di situ ada playground-nya. Jadi misal Alma bosen nunggu giliran, bisa main-main dulu di situ. Oiya ada akun IG-nya juga lho. Nama akunnya @klinikanakcerdasceria.

Long story short, kita udah sampe sana dan kita ketemu sama drg. Citra Adinda, Sp.KGA. I like her so so much! Orangnya banyak kasih kita info-info yang bahkan aku dan abi nggak tanyain, yang ternyata penting banget. Bisa ribet banget kalo nggak tahu padahal itu sepintas kaya hal remeh-temeh. Truss ditambah Alma waktu mau pulang dapet sticker My Little Pony dooong, gyahaha.

Duh, nulisnya baru dua minggu kemudian jadi takut banyak yang kelupaan. Yaudah aku tulis seingetnya aja deh ya.

Pertama, tentang radang gusinya. Sebenernya hampir tiap orang pernah ngalamin radang gusi, cuma beda-beda aja tingkat keparahannya. Kalo kaya Alma gini misalnya, udah termasuk parah soalnya udah sampe yang bikin bau mulut banget dan gusinya bengkak, kegesek dikit langsung berdarah. Beneran berdarah yang darahnya keluar banyak gitu. Penyebabnya apa? Yang paling umum: karena penderitanya kurang memerhatikan kesehatan gigi dan mulut. Alma sejak 7 bulan lalu tumbuh gigi belum pernah sekalipun gosok gigi yang beneran gosok gigi. Gara-garanya ini anak insecure banget sama mulutnya. Paling ogah disuruh buka mulut.

Ooooooooooooookay. That was my ego writing. Harusnya sih yaaa, kalo dari bayi udah dibiasain bersihin lidah dan gigi (kalo udah tumbuh gigi), pasti makin lama si anak bakal terbiasa ngelakuin ritual gosok gigi ini. Namanya balita yang sebelumnya belum pernah buka mulut buat gosok gigi terus tau-tau disuruh buka mulut pasti nggak mau dong ah. Gimana sih uminya Alma iniiii. *self-toyor*

Kedua, lanjutan dari yang pertama: soal membiasakan anak gosok gigi. Mungkin aku nggak sendirian, mungkin banyak orang tua di luar sana yang nunda-nunda ngajarin anak gosok gigi karena kasian atau bahkan males liat anak nangis. Tentu saja ini salah ya, bapak ibu sekalian. First times are always the hardest. Coba deh berakit-rakit dulu ke hulu, nanti tinggal nikmatin deh itu berenang-renang ke tepian. Daripada kaya saya ini, ignorance dipiara tapi waktu Alma kena radang gusi malah nangis.😂

Etapi beneran sedih lho kalo anak kena radang gusi. Udahlah kesian gusinya berdarah, bau mulut (jadi males bawa Alma keluar soalnya takut bau mulutnya bikin orang ilfil, hahaha), riwil terus, jadi clingy berat (si umi jadi susah mau ngapa-ngapain), dan yang paling berat adalaaaaah: Alma jadi males makan! Alamakkkk. Udahlah aku ini paling sensitif sama urusan berat badannya Alma, eh anaknya malah nggak mau makan. Ntar kalo jadi kurus gimana. Kalo kurang gizi gimana. Jadi makin nggak sembuh-sembuh dong sakitnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Ketiga, trus gimana caranya ngajak anak gosok gigi pertama kali biar anaknya sukarela mau gosok gigi? Jawaban yang paling gampang: biasain sejak bayi. In this case tentu saja bukan gosok gigi ya, tapi bersihin lidah. Atau kasih contoh terus-menerus. Tiap kita gosok gigi, si anak diajak.

Oke kalo gitu pertanyaannya diganti: gimana caranya menggosok gigi anak yang emang sekarang-juga-harus-gosok-gigi padahal sebelumnya belum pernah diajakin gosok gigi? Jawabannya: nggak punya pilihan lain, harus dipaksa. Huhuhu. Maksanya pun pasti bingung kan gimana? Nah, ini kemarin aku sama abi dikasih tau posisi megangin Alma-nya gimana biar gosok giginya sukses. Berguna banget ini soalnya sebelumnya Alma cuma digendong doang sama abi trus aku yang berusaha gosokin giginya Alma. Gatot. Alma-nya meronta-ronta kluget-kluget sekuat tenaga. Mau diterusin pun bahaya, salah-salah malah gusi/giginya kena sodok.

Jadiii, cara paling aman itu begini (pake ilustrasi aku, abi, sama Alma ya): Alma dipangku abi dengan posisi wajahnya Alma ngadep dadanya abi (persis waktu kalo Alma digendong pake baby carrier). Aku duduk di hadapannya abi, ngadep abi juga. Kalo posisi udah pas, Alma digeletakin ke belakang. Jadinya kepala Alma ada di pangkuanku, kakinya di pangkuannya abi. Tugasnya abi buat megangin kaki sama tangannya Alma (soalnya pasti anaknya nangis meronta-ronta). Tugasku buat megangin kepala sama ngegosok giginya Alma. Kurang lebih posisinya seperti gambar di bawah ini.

plis jangan diketawain. mohon maklum yaa ini aku gambar sendiri soalnya. muahahaha. yang penting jadi ada bayangan posisinya gimana kan yaaa. iyain aja dehhh. 😂

Beberapa tambahan lagi, kalo anaknya nggak mau mangap, pencet aja idungnya, pasti nanti mangap. Gerakan menggosok juga melingkar dari arah gusi ke gigi di bawahnya ya. Kalo bisa gusinya sambil dipijat biar peredaran darah di situ lancar.

FYI, awalnya Alma jerit-jerit waktu diginiin. Kayaknya sih campur-campur antara kesel dipaksa gosok gigi plus gigi-gusinya sakit juga. Tapi alhamdulillah makin ke sini Alma makin santai kalo udah waktunya gosok gigi. Malahan dia tau-tau jadi sering niruin gerakan orang gosok gigi lho. 😉

Nah, itu yang aku dapet waktu abis dari dokter gigi. Jadi abis dari Klinik Anak Cerdas Ceria, kita nggak dikasih resep obat, cuma diminta rutinin gosok giginya Alma aja.

Sayangnya, bahkan setelah rutin gosok gigi, Alma tetep riwil dan nggak mau makan. Dia juga jadi suka nunjuk-nunjuk ke dalem mulutnya sambil nangis. Oke. Kali ini kita mutusin buat ke DSA aja buat nyari second opinion. Akhirnya diputusin buat bawa Alma ke RSIA Hermina.

Setelah nunggu antrian yang nggak lama, kita masuk ke ruangan DSA. Alma direbahin sambil dicek kondisi mulutnya. Jreng jreng. Ada sariawan di ujung lidah dan di pangkal tenggorokan kanan. Pantesannnnn si bayik nggak mau makan. Kita yang orang dewasa aja rasanya nggak keruan kalo lagi sariawan, apalagi bayi. Dapet resep deh. Kandistatin buat sariawannya, obat serbuk buat batuknya (sebenernya aku udah bilang dokternya kalo batuknya nih cuma sesekali doang, tapi tetep diresepin, yaudah gapapa, tapi tetep nggak kita kasihin ke Alma, hehehe).

Alhamdulillah, setelah beberapa hari Alma udah mau makan lagi, yang berarti sariawannya udah mendingan. Radang gusinya pun berangsur membaik. Warna gusinya udah mulai normal, bengkaknya ilang, dan frekuensi gusi berdarahnya juga jauh berkurang. Sampe akhirnya tepat sebelum ikut family gathering kelasnya abi (berarti tanggal 3 Maret), Alma udah sembuh total. Bersyukur bangettt rasanya, nggak kebayang kalo ikutan fam-gath tapi radang gusi/sariawannya belum sembuh.

Tapi tetep, kemarin waktu fam-gath Alma sering riwil gara-gara rame banget banyak orang yang belum kenal (buat yang belum tau Alma ini stranger plus separation anxiety-nya gede banget, dan di umur segini lagi puncak-puncaknya, hehe) dan juga dia hari Sabtu mules kebelet pup. Bhahahak. Belum lagi cranky pas dia ngantuk mau bobo.

Eh, hampir aja kelupaan. Alma nih belum pake sikat gigi dan odol ya. Baik dokter gigi maupun DSA yang kita temui kemarin-kemarin sama-sama bilang cukup pake kain kasa yang dicelup air anget aja, soalnya Alma belum bisa kumur-kumur. Baru nanti kalo udah bisa, boleh pake sikat gigi. Mungkin dengan begini bisa langsung pake pasta gigi ber-fluoride ya. Sekarang emang banyak sih pasta gigi buat anak yang bisa ditelan (misal nggak sengaja ditelan), tapi konsekuensinya jadi nggak ada kandungan fluoride-nya (CMIIW). Kalo nggak ada fluoride jadinya kurang maksimal kan.

Yak. Segini dulu. Mau lanjut nulis postingan selanjutnya yang nampaknya cukup urgent (halah). See you next post! Hopefully very soon!

Important Update: Decongestants

diinfoin sepupu tentang decongestants dan sebagainya. yang aku heran ini nggak dijelasin lho di kemasannya. di dalem kotaknya itu biasanya kan ada kertas berisi semua detail tentang obatnya, tapi ini nggak ada. duh.

ini serius bahaya banget. let me show you how my thinking process was before i knew this information.

di aturan pemakaian, untuk balita seumuran Alma, aturannya 3-7 tetes. aku mikirnya gini dong: oh, batas amannya 7 tetes. ya udah aku kasih 5 tetes berarti nggak papa.

big mistake.

kalo misal sejak dari awal pemakaian aku langsung kasih 5 tetes, trus lama-lama kena rebound phenomenon, walhasil 5 tetes udah nggak ngasih efek lagi. aku otomatis harus ningkatin jadi 6 tetes, terus naik lagi jadi 7 tetes biar ngefek, trus apa kabar kalo ternyata Alma belum sembuh padahal aku udah kasih dia jumlah dosis maksimal yang dianjurkan? jadi kebal dong Alma sama ini obat?

duhhhhhhh. udah ah. let me get back to those delicious fruits and vegetables and water! i had been on the right track but now what have i done…

Inhalant Decongestant Oil

baru balik dari RS jam 1 siang. huahhh libur gini nggak ada dokter poli praktik jadinya IGD penuh banget. 😖

pertama yang diperiksa si abi. batuk-pileknya udah parah banget sampe sesak napas bengek bunyi ngik-ngik. tadi aku langsung minta abi diuap/terapi inhalasi aja. pertamanya disarankan pakai obat oral dulu, tapi ternyata dokter akhirnya mutusin buat inhalasi juga (plus obat oral). kalo buat Alma, dokternya nggak kasih resep obat oral sama sekali (yay!). cuma disaranin beli Vaporin di apotek. Vaporin itu obat tetes yang cara kerjanya persis inhalasi. jadi liquid-nya ditetesin di baju/bantal/kain apa aja asal deket idung, trus uapnya dihirup deh. atau bisa juga ditetesin di air panas trus sama juga uapnya dihirup. jadi bukan buat ditetesin ke hidung/mulut langsung, kita cuma butuh uapnya aja.

sayangnya, waktu ke Kimia Farma Vaporin-nya lagi kosong. disaranin pake Pure Kids aja. yaudah gapapa daripada nggak ada. mana lagi diskon pula (langsung ijo liat yang diskon-diskon muahaha). untungnya abis aku googling komposisi antara Vaporin sama Pure Kids punya, ternyata they’re almost identical to each other. jadi tenang deh, hehe. apalagi ini emang khusus buat anak-anak, harusnya lebih aman lagi dong ya.

lebih senengnya lagi, Pure Kids ini ngefek lho. tadi coba nenenin Alma sambil tiduran, dan dia bisa nenen sampe selesai nggak pake nangis~ alhamdulillah. dua hari terakhir ini nenennya cuma bentar-bentar doang. padahal kalo sebelum bobo malem, Alma harus nenen sampe kelenger dulu baru mau bobo. jadilah dua malem terakhir drama abis gara-gara idung mampet.

ahhh ayo mimi air+nenen yang banyak ya bayiii biar cepet sembuh biar semua happy nggak pusing-pusing lagi. sana pergi jauh-jauh penyakitttt 😥😥😥

P.S. ada tulisan terbaru tentang efek decongestant di sini.

Malam yang Melelahkan: Ketika Flu Menyerang

tonight was a long, long night.

seharian ini Alma happy banget. heboh main sama anak-anak tetangga. lari-larian mondar-mandir ke sana-sini (nggak bakal berenti kalo nggak disuruh berenti), joget-joget, lompat-lompat (badannya doang, kakinya tetep nempel lantai, haha), dst.

itu seharian. yang semaleman udah beda cerita.

badannya Alma kayaknya kaget gara-gara ada perubahan gerak fisik yang bisa dibilang lumayan drastis. kemarin-kemarin dia baik-baik aja meskipun abi kena flu (ini juga nih, abi jadi drop hasil dari kebanyakan tugas kuliah akhir semester, parah, kerjaannya begadang melulu, jam tidurnya kacau balau). trus tau-tau waktu sore tadi idungnya Alma beler.

bahkan tenggorokanku juga mulai berasa sakit. 😖 kompak sih kompak, tapi nggak gini amat juga sih. 😖

walhasil, Alma tadi tidur jam 8 malem trus tiba-tiba kebangun nangis (nggak tau jam berapa nggak kepikiran ngecek jam gegara fokus ke bayi terus). nangisnya karena idungnya ada ingusnya dan mampet juga sepertinya, jadinya nggak bisa napas. nangis kejer. coba dinenenin dia nggak mau, dan emang nggak bisa, lha idungnya mampet mana bisa minum, ntar dia nggak napas dong. sampe akhirnya muntah, makanan yang dimakan siang-sore bye-bye semua. coba dipakein sedot ingus, didn’t work significantly. Alma malah makin kejer dan trauma sama sedot ingus.

sampai di sini si umi mulai kacau. mulai nggak rasional. udah berkaca-kaca. udah banting sedot ingus juga. nggak enak sama tetangga. males kalo misal nanti ditanya-tanyain. mikirnya udah ke mana-mana nggak keruan pokoknya.

eh bener aja. ibu tetangga nanyain, trus liat Alma kejer, digendonglah trus dibawa ke rumahnya.

i was feeling like the worst mother ever existed in this whole world.

i know. it was not my neighbour’s fault. she was just trying to help. and she did. i blamed no one but myself.

akhirnya minta tolong abi buat jemput Alma (nggak, aku nggak bisa, bisa pecah air mata). alhamdulillah Alma udah nggak nangis, udah bisa diajak ngobrol.

kita main-main sedikit sambil nunggu Alma ngantuk. setelah coba digendong diayun-ayun biar rileks, kira-kira jam 12 am Alma udah tidur lagi setelah sebelumnya berhasil nenen. alhamdulillah.

and now here i am, berencana masak sop ayam buat besok..

Cerita tentang Tomcat yang Menyebalkan

si umi lagi sedih soalnya si anak bayik siku kanannya kena tomcat. uhhh ngeselin! itu tomcat dari mana pula. 😠😠😠 kok gak gigit emaknya si bayi aja sih 😭😭😭 asli kesian banget, penampakannya jadi kayak kena herpes gitu. hebatnya ini anak nggak riwil lho. padahal kalo kena tomcat katanya gatel dan perih gitu (meskipun emang nggak pake demam kaya kalo kena herpes, soalnya ini ‘cuma’ infeksi lokal, bukan virus). akhirnya tadi pagi coba ke Viva Generik deket rumah soalnya apoteker-apotekernya pada baek banget suka ngasih saran yang adem di hati. setelah konsul, kita dikasih salep Desoxymethasone (OOT: pernah ada bapak-bapak bawa balita batuk-pilek nanya obat, eh sama mba apotekernya si balita disuruh dinenenin aja yang banyak, katanya ngga usah minum obat. ain’t that super cool? 👍).

siangnya cerita ke tetangga, ternyata pernah kena tomcat juga. katanya dulu dibawa ke dokter trus dikasih salep-yang-beliau-lupa-namanya (yang pasti bukan Desoxymethasone) dan sembuh dalam 3 hari. otomatis kepengen lah kita punya salep tokcer macem gitu. akhirnya nyeret abi ke RS-yang-cukup-besar-di-Solo-tapi-nggak-usah-disebutin-lah-ya-namanya. nyampe sana jam 4, nggak taunya dokternya baru praktik jam 5. akhirnya cus ke IGD. setelah diperiksa dokter dan yakin kalo ini emang kena tomcat, kita dikasih resep.

setelah nungguuuuu eh ternyata resepnya bukan salep/krim dong. resepnya obat serbuk racikan yang harus diminum 3 kali sehari. yang lebih bikin zonk adalah karena si mba apoteker RS bilang bahwa obatnya harus habis soalnya obatnya ada antivirusnya.

wait…… antivirus? entah mbaknya salah ngomong apa gimana, yang jelas ini bikin kita galau berat. pertama, penyebab sakitnya Alma ini bukan virus, melainkan dari racun tomcat, which is makhluk hidup, jadi logically harusnya Alma dikasih antibiotik, bukan antivirus. buat mastiin aku udah search info di salah satu situs dokter anak dan emang bener ya harusnya dikasih antibiotik, bukan antivirus. kedua, begitu tau Alma dikasih obat oral, abi dan aku jadi agak nggak minat buat kasih ke Alma. entah kenapa rasanya sayang aja gitu kalo badannya Alma kemasukan sesuatu yang nggak natural.

apalagi aku dan abi punya keyakinan yang sama dari dulu, kalo bisa sembuh tanpa pharmaceutical drugs, kenapa harus pake (terutama yang oral nih, agak parno kita, kalo obat luar masih cincay lah ya). jadi beneran kita jarang banget minum obat kalo nggak kepaksa banget. kaya misal lagi flu pun kita nggak pernah minum obat, cuma banyakin minum air putih dan banyakin makan makanan yang bisa boost immunity.

balik lagi, begitu tau Alma dapet obat oral, kita jadi makin ragu buat kasih ke Alma. mana ini nggak tau kan isinya beneran antivirus apa si mba apoteker salah ngomong. akhirnya balik ngandelin skill googling, nemu salah satu postigan blog seorang ibu yang anaknya kena tomcat dan udah mayan parah gitu. mana anaknya masih umur 3 bulan. kesian banget liatnya huhuhu. dia waktu itu pas nemu dokter yang keren sehingga anaknya sembuh hanya dalam waktu 2 hari saja. 👏👏👏 obatnya apa? katanya dia disuruh kompres luka si bayi pake NaCl, trus kompres lagi pake antiseptik (misalnya Betadine), trus terakhir diolesin Hydrocortisone. wahhh emaknya Alma langsung kaya nemu mata air di tengah gurun pasir.

cuma ada satu masalah, abis googling ternyata ada 2 jenis Hydrocortisone: yang 1% dan 2,5%. akhirnya pilih yang 1% soalnya kalo dipikir-pikir kalo konsentrasinya lebih rendah harusnya lebih aman ya, secara ini kan buat diaplikasiin ke batita.

barusan tadi abis Alma bobo aku dan abi cobain cara di atas. yang bikin lega, abis dikompres air garem, lesinya kempes dong! terharu banget :’> bismillah semoga abis rutin dikasih treatment, lukanya Alma cepet sembuh. aammiiiinnn. 🙏


UPDATE:

akhirnya nemu obat abis-kena-tomcat yang manjur banget!: Gentasolon. lukanya Alma cepet kering banget setelah pake ini. diolesinnya jangan di permukaan luka yang basah ya. jadi misal lukanya abis kena air, harus dikeringin dulu baru diolesin.

BTW  lukanya emang nggak boleh kena air sih. Alma sejak sikunya luka nggak pernah mandi, diseka doang.

sebelumnya udah nyoba dua krim berbeda (termasuk Hydrocortisone) tapi malah bikin lukanya makin parah, hiks. yang bikin kesel, begitu lukanya udah mulai sembuh eh si Alma malah gesek-gesekin sikunya ke meja, lukanya jadi ngelupas padahal belum kering bener. sukses kecolongan. lukanya jadi makin keliatan horor. 😒

oiya, tiap sebelum diolesin krim, lebih bagus kalo lukanya dibersihin dulu pake cairan antibakteri/antiseptik. kebetulan Alma pake larutan NaCl (beli di apotek rumah sakit, coba beli di Kimia Farma pun nggak ada lho, mereka lama nggak stok). kalo susah nemunya, pake Rivanol juga bisa. jangan Betadine tapi. soalnya Betadine teksturnya lengket bikin lukanya ngga kering-kering.

A Piece of Thought: Baby Blues (and Friends)

pasti pernah denger istilah ‘baby blues’ kan? kalo ‘postpartum depression‘ pernah denger juga belum?

well, baby blues dan postpartum depression ini pada dasarnya mirip: depresi yang diderita ibu yang baru melahirkan. gejala-gejalanya di antaranya mood swings, sering ngerasa sedih (dan berujung jadi sering nangis juga), insomnia, gampang tersinggung, dst. bedanya apa? bedanya, kalo postpartum depression ini jauh lebih parah dan lebih long-lasting. ibu yang ngalamin ini bisa-bisa suka kepingin bunuh diri dan ngerasa nggak becus ngurus anak.

kaya ekstrim banget ya? lebayyyyy. BUT HOLD ON. ternyata, banyak banget yang ngalamin ini! to my surprise, hampir tiap ibu-muda-yang-baru-lahiran-anak-pertama yang aku tanyain pada ngalamin baby blues! jadi bener deh, you really have to pay attention to this. terutama buat para suami. kenapa? because if your wife shows these symptoms, YOU will have to be the first person who MUST step up and help her out.

kenapa harus suami? kan ada ibunya istri/mertua istri yang pasti lebih ngerti soalnya mereka sama-sama wanita?

now hear me out. i am one of the those struggling mothers, baby blues and all. those mood swings, ngerasa nggak pantes jadi ibu, gampang banget tersinggung yang berujung drama dan mas suami kena damprat padahal nggak salah apa-apa, dsb. and believe me, my husband is the only person i want to help me. not my mother or anyone else.

kenapa? karena justru, sumber masalahnya seringkali karena banyaknya perbedaan antara pengetahuan kita dan orang tua kita mengenai perawatan dan pengasuhan bayi.

dan itu bukan salah siapa-siapa.

jaman sekarang udah ada internet. pengetahuan yang luar biasa banyaknya tentang ‘perbayian’ ini bisa diakses dari mana kapan aja. belum lagi sekarang rasanya udah banyak yang rutin ke DSA. kita jadi tahu mana yang fakta, mana yang mitos. setelah dipilah-pilah, kita jadi tahu mana yang terbaik buat anak kita.

nah, sekarang coba bayangin gimana ibu kita waktu punya anak. ini mungkin nggak semua ya, tapi ya ibu-ibu kita dulu bisa dapet ilmu ngerawat bayi dari mana lagi kalau bukan dari ibunya ibu kita (baca: nenek kita), di mana informasi itu udah turun-temurun. nggak heran banyak banget di antara informasi-informasi itu yang sebenernya cuma mitos, but THEY DO BELIEVE THAT IT WAS TRUE. kayak misal ibu menyusui nggaK boleh makan sambel soalnya nanti pup anaknya ada biji cabenya atau nanti anaknya jadi belekan, dsb. you know that it’s not true but they keep telling you that because they want the best for you. belom lagi kalo anaknya jadi belekan beneran dan ibu/nenek kamu jadi bilang ‘tuh kan kamu sih dibilangin nggaK percaya’ padahal kamu tahu persis ini belekan emang pasti dialami oleh tiap newborn and surely not because of the sambel you’ve just eaten.

ini cuma satu contoh dari puluhan hal lain yang bisa jadi sumber konflik.

that is why many newly-married couples decided to live separately from their parents. bukan karena apa-apa, cuma biar bisa lebih mandiri dan meminimalisasi konflik aja.

perlu ditekankan, contoh di atas cuma satu dari ratusan penyebab baby blues ya. sumber konflik bisa dari manapun. bahkan perasaan depresi itu bisa tau-tau muncul tanpa sebab yang jelas.

jadi gitu ya. banyak yang bisa membantu para ibu yang mengalami baby blues, tapi yang utama tetap para suami. trust me, suami yang perhatian dibandingin sama anggota keluarga lain yang perhatian itu rasanya beda banget.

okayy. segini aja dulu. hopefully this post can help somebody out there. BYE!