Yang Saya Rasakan Setelah Perkuliahan Level 1 Bunda Sayang Usai

Sejak sebelum memiliki anak, saya dikenal sebagai orang yang ‘mudah bergaul’ dengan anak kecil. Anak kecil biasanya suka berinteraksi dengan saya. Entah kenapa ini bisa terjadi, tapi saya punya satu teori: karena saya ini sangat child-like. Bukan childish ya, tapi child-like. Dua istilah ini memiliki dua arti yang sangat berbeda (walau kadang saya bisa childish juga sih, sering malah, hahaha 😢).

Childish merupakan kata sifat yang lebih mengarah pada sifat kekanak-kanakan, tidak dewasa dan konyol. Jika dipakai untuk orang dewasa maka kata ini mengandung arti negatif yang tidak seharusnya orang dewasa bersikap seperti itu.

Sedangkan child-like mempunyai arti memiliki sifat atau sikap yang baik seperti anak-anak, seperti kepolosannya dan kejujurannya, atau bisa juga perilakunya secara fisik. Jika child-like ditujukan untuk orang dewasa berarti mempunyai arti positif untuk orang tersebut.

Mungkin karena saya anak bungsu, saya jadi agak kekanak-kanakan. Saya bisa berbicara dan membuat ekspresi wajah yang exaggerated sehingga membuat anak-anak tertarik (misal ekspresi kaget, bingung, senang dll). Saya juga suka memanjat, melompat dan berputar-putar. Saya suka mengisengi anak kecil. Terkadang, saya juga bisa memahami pola pikir anak-anak yang tentunya sangat berbeda dengan orang dewasa.

Dulu, saya pikir jika saya memiliki anak, pasti tidak akan terlalu susah. Toh anak orang biasanya suka sama saya, apalagi anak sendiri.

Ternyata itu semua tidak terbukti benar. 😂

Saya baru menyadari, mengapa interaksi-interaksi saya dengan anak kecil dulu terasa smooth adalah karena saya berinteraksi dengan mereka hanya dalam sekali waktu dan dalam rentang waktu yang relatif tidak lama (tidak sampai seharian misalnya). Saya belum pernah merasakan hidup berdampingan dengan anak kecil selama 24 jam dalam sehari secara terus-menerus.

Saat memiliki anak betulan, semua berbeda 180 derajat. Tekanan sebagai orang tua itu bagi saya, no joke. Baru juga melahirkan, anak masih bayi, Emaknya sudah kena baby blues. Anak sudah makin besar, sudah mulai masuk usia toddler, berarti tantangan baru lagi. Ingin rasanya bisa selalu berwajah senang, tenang dan ceria sepanjang hari di depan anak, tapi saya paham betul bahwa saya tidak bisa mencoba menjadi sempurna setiap saat. Trying to be perfect every single time will kill you, sooner or later.

Ya, saya masih memiliki komponen ‘child-like’ yang saya sebutkan di awal tadi. Komponen ini juga masih sering membantu saya saat sedang membersamai anak. Sayangnya, komponen ini hanyalah komponen kecil. Ibarat mesin cuci, ini cuma bagian tutupnya saja.

Saya beruntung saya hidup di era di mana informasi bisa didapatkan dengan mudah, termasuk informasi mengenai ilmu parenting dan psikologi anak. Saya terus membaca dan saya terus belajar (terutama tentang teori positive parenting). Salah satu bagian dalam positive parenting yang paling bermanfaat bagi saya: bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan anak. Sejak Alma mulai bisa diajak berkomunikasi dua arah, saya senantiasa berusaha untuk menerapkan ini.

Gong dari (yang saya sebut) komunikasi efektif yang sudah lebih dulu saya pelajari adalah ketika saya menerima materi Bunsay Level Pertama: Komunikasi Produktif. Melihat materi yang disusun dengan begitu rapi, saya langsung merasa excited. Seolah-olah ini adalah summary dari apa yang sudah saya pelajari sebelum-sebelum ini.

Untuk tantangan level satu ini, saya tidak merasa terbebani sama sekali karena ya, memang inilah yang sejak dulu saya usahakan untuk lakukan setiap hari. Overall, tantangan level satu ini berjalan dengan sangat alami. Bedanya, saya harus mendokumentasikannya dengan rutin selama 10-15 hari, itu saja.

Sesungguhnya, tantangan yang sebenar-benarnya itu bukanlah saat saya harus menyetor narasi, melainkan saat saya harus menghadapi diri sendiri di titik-titik terendah saya (misalnya saat sedang ada masalah, saat kondisi mental saya memburuk, dsb). Jadi menurut saya, ini bukan hanya tantangan 10 hari. Ini adalah tantangan seumur hidup selama saya berstatus sebagai orang tua.

Yang saya sukai dari program Bunsay ini adalah, program Bunsay membuat kita menganggap serius peran kita sebagai orang tua, that we must take parenting very, very seriously. Bisa melahirkan anak, belum tentu bisa menjadi orang tua yang baik. Program Bunsay, melalui materi dan tantangannya, menjadi sebuah alarm/wake-up-call: wahai para (Ayah dan) Ibu, ilmu parenting bukan hanya untuk dipelajari, tapi juga harus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh!

Itulah kenapa saya lebih suka mem-posting tantangan 10 hari saya di media sosial. Saya sangat berharap, orang lain yang membaca tulisan saya jadi bisa ikut kecipratan ilmu-ilmu yang saya dapat dari perkuliahan Bunda Sayang. Inti dari semua ini apa sih? Menurut saya jawabannya adalah perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Jadi saya sudah berkomitmen untuk menjalani perkuliahan ini bukan hanya untuk saya dan suami, tapi juga untuk para orang tua lain di luar sana.

Sumber: https://www.kampunginggris.id/penggunaan-childish-childlike/amp/

Mengobati Inner Child dengan Self-healing (yang Ternyata Tidak Semudah Itu)

Aku nggak nyangka kalau ternyata Inner Child dan Self-healing jadi salah satu materi Pra-Bunsay. Di pertemuan kedua kemarin, ada cukup banyak teman yang berani speak-up mengenai inner child masing-masing.

Aku enggak. Aku takut setengah mati.

Yang membuatku serba salah adalah karena ternyata, materi ini ada tugasnya. Salah satunya adalah kami diminta untuk melakukan kilas balik ke masa anak-anak dan membuat list kejadian-kejadian negatif dan/atau positif yang masih membekas kuat sampai sekarang.

Seketika aku ngerasa kalo aku nggak bakal bisa ngerjain ini. Untungnya, tugas yang ini nggak perlu dipublikasikan. Kalau sampai bener-bener harus bikin list, mungkin aku bisa nulis sampai satu buku tulis penuh. Memori masa kecil dan remajaku juga didominasi kenangan buruk. Kenangan baik yang aku alami kebanyakan udah tergerus, yang aku ingat cuma tinggal sedikit.

Sebetulnya, melakukan kilas balik adalah sebuah langkah awal untuk self-healing. Tapi aku belum siap. Lagipula, aku pasti butuh pendamping buat ngelakuin ini, nggak bisa sendirian.

Untungnya, dua langkah self-healing selanjutnya masih doable: membuat jurnal syukur dan afirmasi positif atas diri sendiri. And here they are.

Jurnal Syukur

Aku bersyukur memiliki suami yang sabar dan pengertian. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak banyak menuntut. Aku bersyukur memiliki suami yang berpikiran terbuka. Aku bersyukur karena telah menikahi seorang family man. Aku bersyukur kami diciptakan sebagai dua potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain.

Aku bersyukur telah dikaruniai seorang anak perempuan yang mendamaikan hati dan jiwa. Aku bersyukur memiliki anak perempuan penyejuk mata. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang peka dan pandai bercerita. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang mencintaiku tanpa syarat. Aku bertekad untuk terus menemani dan membesarkannya sebaik yang aku bisa.

Afirmasi Positif

Aku adalah seorang perempuan yang tangguh. Aku adalah istri dan ibu terbaik untuk suami dan anakku. Mereka berdua selalu bisa mengandalkanku dan aku pun selalu bisa mengandalkan mereka.

Seburuk apapun hariku, aku telah mengusahakan semampu yang aku bisa. Aku bisa membuat kesalahan dan itu tidak apa-apa. Aku adalah pembelajar sejati dan kesalahan adalah guru yang terbaik.

Aku sangat menyayangi keluarga kecilku. Keluarga kecilku juga sangat menyayangiku.

I will never be alone.

We will always have each other’s back and that’s the one that really matters.

Ibu Rumah Tangga Punya Kartu Nama? Why Not!

Judulnya langsung gitu banget ya, hahaha. Pasti pada bingung deh, emang kalo IRT bikin kartu nama, mau diisi apa? Emang ada gitu yang bisa dibanggain buat dicantumin di kartu nama?

Phew. Pertanyaan ini sesungguhnya butuh proses perenungan mendalam (tsahh) bagi sebagian wanita yang berstatus ‘ibu rumah tangga’ untuk membuat satu atau dua baris jawaban.

Aku pun pernah berada di situasi yang sama.

Sebelum menikah, aku sempat bekerja selama dua tahun di Pinnacle Learning Centre dari 2013-2015 sebagai Tutor. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini. Especially for a fresh graduate, my salary was more than enough, haha.

Aku menikah bulan Desember tahun 2014. Alma lahir bulan September tahun 2015. Saat Alma lahir, aku udah lebih dulu resign sebagai Tutor. Untuk sebagian orang, mungkin ini terlihat seperti keputusan yang tidak mudah. Aduh, sayang ya, padahal baru juga meniti karier, udah resign aja.

(((Meniti karier))) 😂

Well, believe it or not, it was a very easy decision for me. Kalau disuruh milih antara kerjaan atau anak, nggak pake mikir panjang juga aku pasti pilih anak dan ini ada alasannya.

Aku tipe orang yang perfeksionis parah, termasuk untuk urusan menjadi orangtua. Sejak dulu aku udah bertekad: kalo misal aku punya anak, aku bakal urus anakku sendiri. Cita-citaku cuma satu, aku pengen jadi stay-at-home mama. Kenapa? Kok bisa? Ada beberapa alasan pribadi yang aku nggak mau sebutin di sini karena cukup sensitif dan personal (aku nulis ini bukan buat dipake jadi bahan Moms War 😝). Yang jelas, keputusanku udah nggak bisa digoyahkan lagi. Aku sangat beruntung karena punya suami yang sangat mendukung cita-citaku ini.

Yang sebenarnya cukup mengganggu adalah justru, kalau dilihat dari kacamata sebagian orang, keputusan ini seolah-olah aku ambil dengan terpaksa. Seolah-olah yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk pengorbanan.

Seolah-olah menjadi ibu rumah tangga itu tidak sama terhormatnya dengan ibu yang bekerja.

Tapi fase itu udah terlewati sih. Sekarang aku udah nggak pernah lagi ambil pusing. Apalagi abis gabung ke komunitas Ibu Profesional (IP), perasaan sedih karena disalahpahami itu berangsur hilang. Aku bangga karena aku bisa berada di tengah-tengah para ibu yang memiliki pola pikir jauh di depan. Cuma di sini nih ibu bekerja dan ibu rumah tangga bisa berbaur jadi satu saling menguatkan alih-alih saling membandingkan satu sama lain. 🤗

Yang aku tangkap dari serangkaian materi/bacaan yang udah aku dapat selama ini, manusia itu, baik pria ataupun wanita, pada hakikatnya memiliki sebuah kebutuhan dasar yang sama: aktualisasi diri.

A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be ultimately happy. What a man can be, he must be. This need we may call: self-actualization. – Abraham Maslow

Disclaimer: man di sini dimaksudkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang gender.

Nah, berarti para ibu juga punya kebutuhan untuk berkarya alias beraktualisasi diri dong ya. Agar bisa mencapai ini, kita harus mulai berusaha mengenali diri sendiri: mulai dari kelebihan, kekurangan, keahlian, bakat, minat and finally do something about it. Aktualisasi diri nggak bakal tercapai kalau kita hanya duduk diam dan hanya berfokus pada rutinitas domestik.

Karena sesungguhnya, berkarya-menjaga amanah mendidik anak dapat berjalan seiringan, tidak ada yang perlu dikorbankan. – Ibu Septi Wulandani

Yang perlu digarisbawahi adalah kata ‘seiringan’ dan ‘tidak ada yang dikorbankan’. 😉 Yang IRT, urusan domestik bukan alasan untuk kita berhenti berkarya. Yang ibu bekerja di ranah publik juga sama, jangan mengambinghitamkan pekerjaan sehingga anak jadi dinomorduakan.

Aku sendiri gimana? Oh, aku bangga sekali bisa menjadi ibu rumah tangga karena aku sangat menikmati momen-momen saat aku belajar ilmu parenting. Aku juga sangat suka menulis. Melalui tulisan, aku jadi bisa membagikan pengetahuan dan pengalamanku sebagai ibu kepada dunia. Salah satu tempat menulis favoritku adalah blog dan aku berkomitmen untuk bisa rutin mem-posting tulisan-tulisan berkualitas di sini.

Oleh karena itu, kalau diminta untuk membuat kartu nama, aku bakal bikin kayak gini.

Selain itu, kalau ada orang yang minta aku buat memperkenalkan diri, aku bakal kasih narasi kayak gini.

Nah, kalo kamu gimana? Bikin juga yuk ah~

Show off your name cards and make yourself proud, Mothers! 😉

Alasan Mengikuti Program Bunda Sayang

Kalau ditanya, apa sih alasan terkuatku buat gabung di program Bunda Sayang? Maka dengan yakin aku akan sodorin foto di atas.

Iya, aku kepengen bisa liat pemandangan semacam itu, bahkan sampai aku tua nanti. Suami yang sabar dan pengertian, anak yang senantiasa menjadi penyejuk hati dan mewarnai hari-hari. Meskipun kami tidak sempurna dan tidak semua hal berjalan seperti yang diharapkan, kami tetap bahagia karena kami memiliki satu sama lain.

Kondisi seperti ini tentunya tidak ujug-ujug ada. Ada usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga agar kondisi ini bisa terwujud. Aku sendiri, sebagai istri dan ibu, masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Salah satu usaha yang aku lakukan adalah dengan mengikuti program Bunda Sayang ini.

Untuk yang belum tahu, program Bunda Sayang adalah salah satu dari lima program yang ada di Institut Ibu Profesional. Mengutip dari website Ibu Profesional, berikut deskripsinya.

Program Bunda Sayang adalah program pembelajaran yang  diikuti oleh para Ibu Profesional yang sudah lulus Matrikulasi. Kelas ini mengajak para ibu dan calon ibu untuk terus belajar bagaimana mendidik anak dengan mudah dan menyenangkan; disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai tantangan setiap bulannya.

Tidak seperti program Matrikulasi di mana materinya disampaikan setiap satu minggu sekali selama kurang lebih tiga bulan, program Bunda Sayang ini akan membutuhkan waktu hingga satu tahun ke depan. Jelas ya, dibutuhkan komitmen yang jauh lebih besar untuk menyelesaikan Kelas Bunda Sayang dibandingkan dengan Kelas Matrikulasi.

Tantangan di Kelas Bunda Sayang diberikan tiap satu bulan sekali, dipraktikkan minimal selama 10 hari, lebih dari itu lebih baik. Nah, biar nggak keteteran, aku akan berusaha untuk mengerjakan tantangan segera setelah mendapatkan materi. Procrastination is pure evil!

Waktu masih single suka seenak jidat nunda-nunda pekerjaan. But now, as a mother, I’ll be doomed if I keep doing so.

Moving on to the next point, kali ini aku mau bahas perihal adab dalam menuntut ilmu. Alhamdulillah, di IIP ini ada banyak sekali pencerahan. Salah satunya adalah fakta bahwa sesungguhnya, adab itu wajib didahulukan sebelum ilmu. Kalau mau menuntut ilmu, etika harus dikedepankan terlebih dulu.

COPAS DARI GRUP SEBELAH

Pasti udah banyak yang dapet yang model begini. Atau jangan-jangan malah pernah jadi pelaku? 😏 Ini adalah contoh ketika seseorang mengesampingkan adab saat menuntut ilmu. Terlalu fokus dengan isi dari ‘ilmu’ yang didapatkan dan ingin segera menyebarluaskan tanpa diinvestigasi dulu. Ini betulan atau cuma bualan? Apa yang akan terjadi kalau aku klik ‘share‘? Dan seterusnya.

Adab menuntut ilmu lainnya: sebelum menyebarluaskan, tidak ada ruginya meminta izin dulu ke orang yang menyampaikan ilmu kepada kita. Kalau diizinkan, baru tancap gas. Jangan lupa, saat menyebarluaskan, cantumkan juga sumber ilmunya.

It surely sounded easy, but reality can make us overlook things. It happened to me once and I learned my lesson, haha. Tapi itu juga karena salah paham sih. Intinya begini, hanya karena ada banyak orang lain yang menyebarkan hal yang ingin kamu sebarkan, sebagus apapun isinya, bukan berarti itu melegitimasi bahwa kamu berhak dan boleh ikut menyebarluaskan. Seribu orang yang melakukan sebuah kesalahan tidak akan membuat kesalahan itu menjadi benar.

Kamu boleh menyebarluaskan ilmu yang kamu dapatkan jika dan hanya jika si sumber ilmu mengizinkan kamu untuk menyebarluaskan.

Jangan ngeles: ‘tapi kan Si A nggak bilang kalo ini nggak boleh disebar’ atau‘aku nyebarin karena temen-temen sesama peserta banyak yang udah nyebarin duluan, jadi kirain emang boleh’.

Nope. Never ever do that. Justruuu, karena Si A nggak bilang itu, kita yang harus memastikan lagi tentang boleh/nggaknya. Sebagai penerima ilmu, kita harus bertanggung jawab atas hal terkecil sekalipun. Penting sekali buat berjaga-jaga.

Yak. Begitulah. Sepertinya ini udah cukup panjang yaa. Sebelum melebar ke mana-mana, aku akhiri aja sesi curhatku kali ini, muahaha. 🤐😆

First NHW, done! 💪

 

Rekrutmen Kepengurusan IP Tangsel: Interview

Hari Minggu pagi kemarin, tahapan keempat rekrutmen pengurus IP Tangsel diadain di Taman Bintaro Jaya Xchange Mall. Tahapan keempat ini dalam bentuk interview alias wawancara.

Dari wawancara ini, aku nangkepnya, para calon pengurus diharapkan memiliki ketahanan diri yang kuat dan bisa mengatur waktu dengan baik. Aku nanya, memangnya sebelum-sebelumnya ada pengurus yang berhenti di tengah jalan? Ternyata ada.

Yang awalnya aku mulai agak santai, sekarang jadi dag-dig-dug lagi. Aku bakal beneran bisa nggak ya?

Terutama perihal time management. Aku bener-bener masih yang learning by doing. Siap-siap jam tidur bakal berkurang. Expecting less.

Kalo udah kaya gini, aku musti inget-inget lagi motivasiku gabung jadi pengurus itu apa. Apalagi jadi pengurus itu nggak dibayar, it’s a volunteer work. Meskipun nggak dibayar, aku yakin aku bakal menerima ‘bayaran-bayaran’ lain yang nggak kalah berharga yang nggak bisa aku dapetin di tempat lain.

Berkumpul bersama para wanita hebat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, saling memberi dan menerima ilmu, belajar bersama, bertumbuh bersama, berjejaring dan memperluas lingkar pertemanan. This is the best (social) environment I could ever have. ❤️

I have received so many good things from IP Tangsel, so I guess, this is my way of paying back to this community. 😘

Tentang Hobi Menulis

Halo, halo, halooo! I’m back again!

Cih. Gayanya kayak ada yang nungguin aja. #kemudiancengengesan 🤣

Ehm. Jadi, di postingan kali ini aku mau nulis tentang salah satu kulwap (kuliah Whatsapp) yang beberapa hari yang lalu diadakan oleh Kejar (Kelas Belajar) Menulis Tangsel.

Mau OOT dikit ya. Jadi aku kan (alhamdulillah) udah jadi salah satu peserta di Kelas Bunda Sayang IIP Batch 4 nih. Kalau Kelas Bunsay di IIP itu diibaratkan sebagai KBM di sekolah, maka Kelas Belajar ini bisa diibaratkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Di IP Tangsel, maksimal peserta bisa ambil dua Kejar sekaligus. Setelah timbang sana timbang sini, akhirnya aku mutusin buat ikut Kejar IT dan Kejar Menulis.

Back to topic. Kulwapnya kemarin, obviously, bahasannya nggak jauh-jauh dari aktivitas menulis.

Nah, langsung keliatan deh ya narasumbernya siapa.

Apa? Kalian nggak tahu siapa itu Indari Mastuti?

Ehm. Sama. 😭

Teh Indariiiii maafkanlah fans barumu yang masih cemen, cupu dan kurang gaul ini. 😭 Padahal Teh Indari ini masya Allahhh keren banget, inspiratif banget. Beliau berkecimpung di dunia tulis-menulis itu sama sekali nggak sebentar lho, udah 20 tahun! Iya, beliau udah senior banget.

Satu hal yang bikin aku bengong. Di tengah kesibukan yang luar biasa, beliau yang sudah ‘berbuntut dua’ ini masih sempet tidur siang dua jam dan kalo malem tidurnya jam 19.30. Dan itu hukumnya wajib. Karena agenda beliau padat, manajemen waktu beliau pun jadi sangat ketat.

CRYYYYYYYYYY. I don’t even dare to dream about such miracle. How can she do that? 😭

Terlebih lagi, kata beliau di kulwap kemarin (yang aku inget banget), dua hal yang harus kita lakukan agar mimpi jadi penulis bisa terwujud adalah:

PERCAYA DIRI DAN KONSISTEN MENULIS SETIAP HARI.

Ah, omdo kali nih Teh Indari. Masa iya beliau bisa tiap hari nulis?

The answer is… BIG YES! Nggak tanggung-tanggung, target beliau setiap hari minimal menulis satu ebook di luar deadline tulisan yang lain.

Ebook, loh. Bukan caption Instagram, bukan pula artikel. Ebook.

Sempat juga ada temen yang nanya, yang mana aku yakin pertanyaannya mewakili pertanyaan banyak sekali orang. Pertanyaannya kira-kira begini: bagaimana kalau dalam sehari, seringkali kita kehabisan waktu untuk menulis?

Namanya juga emak-emak, ya. Adaaa aja yang harus dikerjain dan diselesaiin.

Berikut ini jawaban yang ditulis Teh Indari.

Tidak ada yang namanya kehabisan waktu selain TIDAK MENGALOKASIKAN WAKTU untuk melakukan PRIORITAS mana yang harus DITULIS. Seperti halnya (kita disibukkan dengan) pekerjaan IRT  dan tak punya waktu (untuk) menulis. (Sebenarnya) bukan tak ada, tapi (kita yang) tak bisa mengalokasikan waktu.

Mak jleb yaaa. Kalo emang serius pengen jadi penulis, harusnya bisa serius juga menyisihkan waktu (secara sadar) untuk menulis.

Aku bayanginnya gini. Misal, kita bercita-cita punya rumah yang rapi. Tapi kita sibuk banget sampe nggak sempat buat beberes rumah. Akhirnya rumahnya nggak kunjung rapi. Ujung-ujungnya kepikiran, karena rumah selalu aja nggak pernah rapi. Kalo dipikir-pikir lagi, kepikirannya ini lumayan ‘aneh’ yaa. Kita sebenernya udah tau alasan kenapa rumah nggak pernah rapi, tapi kita berlindung di balik rutinitas dan kesibukan sehari-hari.

We just keep making excuses again and again, each and every day.

Jadi inget satu kutipan yang aku baca tepat sebelum aku bikin postingan ini.

Don’t make excuses. Make things happen. Make changes. Then make history. – Doug Hall

Yum yum! Aku sendiri sejauh ini masih nyaman nulis nonfiksi, itu pun di blog. Nonfiksinya pun biasanya berdasarkan apa yang aku alami dalam kehidupan sehari-hari. Tapi paling nggak, aku ngerasa enjoy. Aku merasa lebih baik setelah aku menulis. Untuk sementara, buatku itu sih yang terpenting.

Trus? Mau coba bikin target kayak Teh Indari nggak? Oh, ya tentu. Cumaaa, karena aku anaknya gampang labil plus anak masih balita juga, jadi aku bikin targetnya yang realistis dulu.

Dalam seminggu, minimal aku harus bisa dua kali bikin postingan baru di blog. Kemungkinan besar aku bakal nulis di malam hari, waktu Alma udah tidur.

WAHHHH. This is no joke. Targetnya aku tulis di sini, bisa dibaca orang banyak, jadi kalo aku mangkir pasti rasanya nggak enak banget yaaa. 🤣

Bismillah aja deh. Berusaha buat jadi pengamat yang lebih baik, berusaha biar bisa lebih curious lagi, biar bisa bikin postingan baru tiap tiga hari sekali. 😂

See you all very soon, hopefully!

P.S.: Profil Teh Indari bisa dilihat di sini, di sini dan di sini.

Pengalaman Ikut Class Meeting Student Exchange (CMSE) Matrikulasi Batch 5

Hola, hola! It’s been awhile!

Beberapa hari ini rasanya mati gaya gara-gara Kelas Matrikulasi udah selesai (tinggal dag-dig-dug nunggu pengumuman kelulusan), hahaha. Untungnya, Tim Matrikulasi IIP Batch 5 ternyata udah nyiapin beberapa aktivitas baru buat kita. Salah satunya, kita diberi program di mana para peserta Matrikulasi bisa gabung dan berkesempatan buat menginspirasi teman-teman antarkelas. Namanya: Class Meeting Student Exchange (CMSE). Begitu tahu info ini, aku langsung super-excited dong.

Too bad, I had a problem.

Salah satu peraturan biar bisa ikut CMSE adalah aku harus punya gambaran social venture (SV) sendiri. FYI, di NHW kesembilan di mana SV dibahas, aku clearly tulis di situ bahwa untuk saat ini aku belum punya ide terkait SV apa yang bisa aku buat. Lagipula aku anaknya nggak berjiwa wirausaha, jadi ya jujur agak susah buat bikin komitmen di sini.

Kelas Matrikulasi di IIP ini ada di hampir seluruh penjuru Indonesia, online dan offline. Di tiap-tiap kelas, hanya ada lima orang yang bisa berkesempatan buat ikut CMSE sekaligus menjadi perwakilan kelas.

Deep down inside, I didn’t  want to miss this opportunity. Terlebih lagi, ada beberapa teman sekelas yang nyemangatin buat ikut. So hey, let’s just do it! 

Aku pun ngajuin diri. Qadarullah, aku dapat slot padahal sebelumnya udah ada lengkap lima kandidat (salah satu temen ada yang baru ngeh kalo namanya tercantum di list padahal sebelumnya ngga ngerasa ngajuin diri 😅). Fortune favors the bold, indeed!

Aku pun mulai banyak merenung. What am I capable of? What am I good at? What are my passions? What can I share? Where can I ask for help if I do need one? Dan pertanyaan-pertanyaan 5W-1H lainnya.

Sampai kemudian aku inget momen ketika aku dan Abi ngobrolin ide buat bikin English Day di rumah. Obrolan ringan ini lumayan merembet ke mana-mana. Kita jadi bahas banyak hal, salah satunya tentang beberapa English course yang kita tahu beserta program-programnya.

Pop! A light bulb came on over my head. Kenapa aku nggak bikin English Club aja? I’ve got quite enough experience for this. Okelah. Bismillah, cus eksekusi. 😈

Proses bikin profil SV ini terbilang lancar. Yang bikin riweuh malah waktu milih-milih template flyer di Canva. 😂

Yak. Pendahuluannya udah cukup. Langsung aku display aja ya semua flyer yang aku udah bikin.

Aku memberanikan diri buat bercita-cita mendirikan satu Rumah Belajar baru di IIP Tangerang Selatan, yaitu sebuah English Club.

Kenapa harus dalam bentuk Rumbel? Karena aku merasa bakal butuh banyak bantuan. Satu-satunya tempat di mana aku punya banyak teman yang tinggal di dekat sini dan tentu saja yang bisa ‘nyambung’ ya di IIP ini. IIP juga sangat ramah ibu dan anak, ini yang paling penting buat aku.

Alhamdulilah, ide tentang Rumbel English Club ini disambut baik sama yang punya IP Tangsel: Mba Adit Marwa. Pengennya sih nanti aku mau ngobrol-ngobrol lebih banyak tentang ini. Tapi masih nanti, tunggu pengumuman dulu, lulus Matrikulasi apa enggak. 😂

Ehm. Back to topic. Akhirnyaaa, setelah semuanya udah siap, aku dan empat teman lainnya pun dapat jadwal buat ‘manggung’. Kita dikirim ke salah satu kelas Matrikulasi lain dan di sana kita harus jawab pertanyaan dari para matrikan selama 30 menit penuh. Sukses nggaknya presentasi ini bisa dibilang bergantung sama dua hal: antusiasme para matrikan di kelas tujuan dan pemahaman kita terhadap SV kita sendiri. Kalo yang pertama tercapai, pasti nantinya seru karena kelasnya jadi ‘hidup’. Kalo yang kedua tercapai, kita jadi lebih maksimal dalam jawabin pertanyaan. Lebih all out, begitu.

Awalnya aku kebagian berkunjung (secara online) ke Kelas MIIP Bandung. Tapi karena ada beberapa perubahan teknis, aku jadi pindah ke MIIP Sulawesi 2. FYI, aku mewakili MIIP Tangsel 1.

Akhirnya, hari Selasa tanggal 3 April kemarin aku presentasi. Alhamdulillah, nggak nyangka kalo antusiasme para matrikan di sana besar sekali. Ini pertama kalinya lho aku ngetik nonstop selama 30 menit penuh jawabin pertanyaan satu-satu. That was definitely the fastest 30 minutes in my life! 😂 Ada yang punya ide mirip-mirip SV-ku dan minta tips-tips terkait idenya itu, ada yang nanya gimana cara cepat belajar bahasa Inggris, ada yang curhat suka malu kalo bikin status berbahasa Inggris di medsos, dan lain sebagainya.

Overall, I was really happy. Hopefully, kalau nanti ada peserta Program Matrikulasi Batch 6 yang baca postingan ini dan ragu-ragu mau ikut CMSE apa nggak, please don’t be! Ikut aja! Grab the chance while it lasts. As long as you stay confident, I guess the rest will follow.

Palingan PR-nya ini sih, merealisasikan SV yang udah dibuat. The most challenging part indeed. 💪

P.S.: Pulang dari Kelas Sulawesi 2, aku dapat sertifikat juga loh. Syenenggg~

P.P.S.: Aku cantumin transkrip chat waktu aku ke Kelas Sulawesi 2 yah.


[4/3, 8:06 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Baiklah bunda sekalian jika ada yang ingin ditanyakan kepada beliau silahkan 🙋‍♀

[4/3, 8:08 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: ❓saya bund
Bagaimana memulai english fun club..?ini salah satu cita-cita suami saya

[4/3, 8:09 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Mungkin bunda bisa berbagi tips, krn kami sdh memiliki konsep hanya sj mengeksekusinya masih bingung

[4/3, 8:11 PM] Yossie Arisandy: Halo Bun Eva. Suaminya dulu majornya Bahasa Inggris juga kah? Saya pun sebetulnya masih butuh banyak belajar. Hanya saja saya dulu sejak SMP beberapa kali ikut Club di sekolah dan bahkan di tempat kerja. Kalau memulai, yang jelas dibutuhkan adalah peserta. Nah, kalau sudah kelihatan ini pesertanya tipenya kaya gimana ya, lebih suka gaya belajar seperti apa ya, baru nanti saya yang menyesuaikan metodenya yang cocok seperti apa.

[4/3, 8:12 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: ❓kedua saya
Untuk social venture point berfikir sistematis..terkait isu sosial I haven’t got the point bund 😊🙏🏼..could u explain to me?

[4/3, 8:14 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Hallo bunda sayang..suami saya bagroundnya sastra arab..tp beliau lebih tertarik dgn bhs inggris..jd nya skrng alhamdulillah dah hampir 10 thun ngajar bhs inggris di sebuah institusi swasta. Thanks jawabannya bund..berarti dlm menetapkan kelompok peserta disesuaikan dgn gaya belajarnya ya bund

[4/3, 8:15 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): 🙋‍♀bagaimana cara yang paling efektif untuk lulus tes ielts atau toefl bunda?

[4/3, 8:16 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Up bund 😅..sy tes ketiga kalinya baru lulus itupun krn di genjot sm pak suami.😁😁😁

[4/3, 8:17 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Masya Allah 😍😍😍 Mendingan bun, daripada saya belum lulus lulus 🙈

[4/3, 8:17 PM] Yossie Arisandy: Nah, untuk isu sosial saya ada dua. Pertama, kurangnya wadah dan lingkungan bagi para ibu untuk belajar Bahasa Inggris, padahal di era seperti sekarang saya rasa kemampuan ini cukup penting. Siapa di sini yang kalo ada temennya ngomong bahasa Inggris agak panjang malah diledekin? Hehehe.

[4/3, 8:19 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Ini programnya sangat luar biasa bund…🌸🌸🌸 Untuk kriteria ibu yg di mksd dilihat dr segi usia atau minat sj bund..krn kalau dilingkungan sy ini merupakan momok bagi sebagian ibu ibu…😅😅😅

[4/3, 8:19 PM] Yossie Arisandy: Kedua, saya ingin membantu mengubah mindset para ibu. Ada yang tau metode Konmari? Dengan mempelajari Konmari, kita todak hanya belajar ttg seni beberes. Secara tidak langsung kita juga belajar mengubah mindset tentang banyak hal dan bahkan menterapi gangguan psikologis. Mekanisme SV saya juga seperti itu. Berdasarkan pengalaman saya, dengan belajar bahasa Inggris aktif, saya merasa lebih percaya diri dan bisa berpikir dengan lebih logis dan runut.

[4/3, 8:19 PM] ‪+62 852-5510-xxxx: Keren ide sosialnya bunda 😍😍

[4/3, 8:20 PM] Yossie Arisandy: Terutama di era sekarang yang sedikit-sedikit ‘sebarkan agar bermanfaat’ padahal seringkali kita tidak tahu betul sumber informasinya. *uhuk 🤭

[4/3, 8:20 PM] ‪+62 852-5510-xxxx: Saya kalau mau diskusi rahasia dengan suami didepan anak2 suka ngomong pake bahasa inggris, biar tidak ketahuan lagi ngomongin apa bund 🤭

[4/3, 8:20 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Berbinar-binar😍😍😍

[4/3, 8:21 PM] Yossie Arisandy: Iya Bun. Gambaran saya seperti itu. Disesuaikan dengan audiensnya. 😄

[4/3, 8:22 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Ya bund..sy ikut seminar konmari pekan lalu 😊😊😊 Hebat loh bund..bisa mengaitkan metode konmari dgn belajar bhs inggris.. Mohon dijelaskan bund..benang merahnya seperti apa.. Krn mindset sy masih terperangkap bahwa konmari hanya seni beberes ..just it 😬

[4/3, 8:23 PM] Yossie Arisandy: Banyak-banyak praktik Bun. Grammar itu bisa menyusul. Saya dulu awalnya Grammar juga acakadut. Tapi saya suka ngomong. Suka nyanyi. Suka liat film (subtitle diset bahasa Inggris). Lama-lama grammar juga lancar sendiri, alhamdulillah.

[4/3, 8:23 PM] ‪+62 852-5510-xxxx: Kadang kalau mau buat status pakai bahasa inggris diurungkan bund, takut salah sih #nyadar diri bund 😁

[4/3, 8:24 PM] Yossie Arisandy: Nah. Kebetulan karena keterbatasan saya, saya baru bisa menuangkan ini dalam bentuk Rumbel, itu pun di IIP Tangsel saja. Kalau jam terbang sudah tinggi, semoga nanti bisa juga bikin event untuk nonmember. Mohon doanya yaa.

[4/3, 8:24 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Sama bunda..😅😅…bahkan sy request ke suami..kalau memang mau marahin sy atau lg kesel pakai bhs inggris aja..jd sambil belajar..😆

[4/3, 8:25 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Betul pakai banget..ini juga tips dr suami..jd kalau nonton film katanya jgn subtitle INA but English..😁

[4/3, 8:26 PM] ‪+62 853-9334-xxxx: Insyaallah bund..setiap niat baik akan dibukakan jalan oleh Allah..😊😊

[4/3, 8:26 PM] ‪+62 852-5510-xxxx: Aamiin insyaAllah bunda impiannya terwujud 😍😍

[4/3, 8:27 PM] Yossie Arisandy: Leh uga nih bun. Hahaha. Anak saya baru 2 taun, sekarang mulai nyanyi2 bahasa random ngikutin mamaknya 😆

[4/3, 8:28 PM] Yossie Arisandy: Kebetulan saya ikut kelas Intensif Konmari Indonesia Bun. Di situ dibahas lebih mendalam. Misal: siapa yg suka laper mata liat barang dan ujung2nya beli tapi nggak dipake dan malah numpuk? Itu sebetulnya ada latar belakang psikologisnya lho Bun.

[4/3, 8:30 PM] Yossie Arisandy: Jangan takut salah Bun. Pede ajaaa. Ini makanya harus ada partner berbahasa Inggris nih. Tapi harus diimbangi dengan jangan takut diberi masukan juga yaa. 😉

[4/3, 8:30 PM] Yossie Arisandy: Betuuul. Belajar listening plus grammar juga jadinya.

[4/3, 8:31 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Daaaan waktulah yang membatasi kita malam ini

[4/3, 8:31 PM] Yossie Arisandy: Aammiiinnn… terima kasih doanya bunda-bundaa ❤❤❤

[4/3, 8:31 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Terimakasih bunda yossie, social venture super duper

[4/3, 8:32 PM] Yossie Arisandy: Wah 30 menit bisa secepat ini ya. 😆

[4/3, 8:32 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Berikut adalah tanda terimakasih kami, untuk bunda yossie 🙏

[4/3, 8:34 PM] Yossie Arisandy: Terima kasih juga yaa atas antusiasme yang luar biasa dari Bunda-bunda semuanya. Semoga kita selalu bisa saling menginspirasi yaa. Maafkan kalau tadi ada salah ucap, eh, salah ketik. Hihihi.

[4/3, 8:35 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Alhamdulillah kami juga sangat berterima kasih atas kehadiran bunda

[4/3, 8:36 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Baiklah bunda sekalian, saya berkenaan mengantarkan bunda @Yossie Arisandy kembali ke tangsel😊

[4/3, 8:36 PM] IIP Hadijah (Sulawesi 2): Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Kenang-kenangan dari Fasil Kelas Matrikulasi Batch 5 Tangsel 1

Hari ini, keluarga besar Program Matrikulasi Batch 5 Tangsel akhirnya bisa saling bertatap muka untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu ‘hanya’ bercengkerama melalui platform WAG. Dengan kata lain, finally kita bisa kopdar! Yayayayyy~ 🤩

Alhamdulillah, acara tadi pagi berjalan lancar. Hujan yang ditakutkan akan turun, ternyata lebih memilih untuk tidak menampakkan diri. Dari seluruh rangkaian kegiatan kopdar, pengalaman yang paling mengena di hati justru saat sesi makan-makan. Bukan, saya tidak nambah pesanan makan seperti teman-teman lain yang terlihat kalap melihat makanan milik teman lain yang duduk di kanan-kiri. Ketika saya sedang khusyuk menikmati semangkuk soto, tiba-tiba Bu Fasil (dengan senyuman khasnya) muncul dari samping. Tanpa pendahuluan apapun, saya disodori sebuah ‘kado’ (yang dibungkus dengan rapi sekali) sebagai bentuk apresiasi karena kemarin saya sempat menjadi salah satu Koordinator Mingguan di Kelas  Matrikulasi.

I know, right? She’s just too kind.. and too sweet! I should have been the one who gave her some memorable present. Huhuhu.

Begitu sampai di rumah, saya pun langsung buru-buru membuka kadonya. Jeng jeng jeng! Ternyata isinya buku ini!

Definitely love at first sight! Jadi, ini adalah buku yang dilahirkan oleh Rumah Belajar Menulis IIP Banten. Buku ini berisi kumpulan beberapa cerita, bahkan Si Paksu pun langsung minta pinjam dan langsung dia baca saat itu juga. 🤣

Dear Mba Irma, I sincerely want to thank you sooo very much for giving me this. Mba Irma ini tahu betul kalau saya suka menulis, dan buku ini adalah pemberian yang sempurna. Buku ini berhasil membuat saya terlecut untuk terus bisa bersemangat dan konsisten menulis, because yes, writing is indeed my best therapy.

Semoga suatu hari nanti saya juga bisa berkontribusi dalam pembuatan buku seperti ini juga, yaa. Aamiinn. *fingers crossed*

NHW #9 (The Last Homework): Being An Agent of Change

Finally. The last homework. It’s kind of bittersweet, really. 😅

Sebelumnya, saya mau menampilkan isi sekilas NHW #9 ini, ya.

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar Anda, maka belajarlah untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Rumus yang kita pakai adalah sebagai berikut.

PASSION + EMPATHY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social entrepreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneurship.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Bagaimana caranya? Kami dipandu dengan cara diberikan beberapa poin pertanyaan berikut ini: 1) apa minat/hobi saya?, 2) apa saja hard skill dan soft skill yang saya miliki?, 3) apa isu sosial yang membuat saya ingin ‘melakukan sesuatu’?, 4) siapa saja yang akan menjadi sasarannya?, 5) untuk itu, seperti apa social venture yang akan saya buat?

Saya akan menjawab pertanyaan di atas satu persatu.

Minat

  • Mengamati isu dan belajar tentang pengasuhan anak, pemberdayaan perempuan dan keluarga.
  • Berbagi pengetahuan dan pengalaman via media sosial.

Hard skill

  • Menulis
  • Mengoperasikan media sosial (Instagram dan WordPress)
  • Mengoperasikan aplikasi berbasis Android

Soft skill (diambil dari hasil ST-30)

  • Mampu menangkap intisari suatu permasalahan
  • Mudah menyesuaikan diri
  • Mampu menjelaskan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa
  • Senang mempelajari sesuatu yang baru
  • Memiliki kemampuan analitis dan berpikir strategis
  • Intuitif

Isu sosial

Saya sangat tertarik dengan topik bahasan seputar pengasuhan anak dan pemberdayaan keluarga karena sangking seringnya saya menemui penyimpangan-penyimpangan di lingkungan sekitar saya. Banyak sekali pola pikir yang sudah kuno dan perlu diubah.

Misalnya, pola pikir bahwa menjadi ibu hanyalah semata sebuah kodrat yang harus dijalani. Bahwa menjadi seorang ibu itu tidak memerlukan persiapan apapun. Tinggal mengikuti cara pengasuhan orangtua terdahulu, beres.

Sesungguhnya, dengan menjadi seorang ibu (dan ayah) itu berarti kita harus siap menjadi pembelajar sejati. Kita harus banyak mencari tahu mana perlakuan yang hanya didasarkan pada tradisi dan tekanan sosial, dan mana perlakuan yang didasarkan pada bukti dan data ilmiah.

Banyak juga yang berpikir bahwa dengan mencukupi nafkah keluarga, maka seorang lelaki sudah selesai memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Padahal, keterlibatan suami dalam mendidik anggota keluarga, membersamai anak, menciptakan pola komunikasi yang efektif dan positif antaranggota keluarga, bahkan membantu meringankan beban istri dalam melakukan pekerjaan rumah tangga juga sangat penting dilakukan oleh para suami.

Belum lagi cara para orangtua dalam mendidik anak. Satu contoh kecil saja: para orangtua banyak sekali yang merasa risih dan gerah ketika anak menangis, hingga rela melakukan apapun agar anak bisa berhenti menangis. Salah satu cara yang paling jamak dilakukan adalah dengan mengalihkan sambil, terkadang, membohongi anak.

“Iya, setelah ini kita pergi ke XXX ya, sekarang XXX masih tutup karena blablabla”.

Padahal XXX tidak sedang tutup dan pada akhirnya anak tidak diajak ke XXX. Hal yang terlihat remeh ini bila rutin dilakukan bisa memberikan efek psikologis jangka panjang: anak jadi tidak mudah percaya kepada orangtuanya sendiri. Belum lagi kalau orangtua jadi sering membentak anak, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik (mencubit, memukul, dan seterusnya).

Padahal sebetulnya, menangis adalah suatu mekanisme alami yang dilakukan manusia. Bahkan untuk bayi, menangis adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk mengomunikasikan ketidaknyamanan. Bayi belum bisa bicara, dan kamu jengkel kalau mendengar si bayi menangis? So what do you expect? It’s not like he can talk and ask politely for some milk? Terdengar ridiculous, bukan?

Di usia balita pun, anak masih belajar untuk mengenali emosi. Terutama anak usia 2-3 tahun di mana mereka semakin sering throwing tantrum. Di usia-usia inilah orangtua semakin rawan untuk melukai kesehatan psikologis anak. Alih-alih dimarahi (karena percayalah, memarahi anak yang sedang tantrum itu sesungguhnya pekerjaan yang sia-sia), akan lebih baik jika kita ajak anak ke tempat yang lebih private dan berkata seperti ini, “Adik marah ya Mama nggak ngebolehin Adik beli mainan? Mama tunggu sampai Adik tenang dulu ya. Adik boleh menangis, karena Mama tahu Adik sedih dan marah sekali dan rasanya mau meledak. Mama tahu. Mama nggak akan ke mana-mana. Mama tungguin Adik di sini sampai Adik tenang.” Lalu baru kemudian ajak anak berkomunikasi dan bernegosiasi ketika anak sudah lebih tenang/selesai meluapkan emosi negatifnya.

Itu baru satu contoh.

Seperti yang pernah saya bilang di kelas MIIPB5: our society has too many broken-hearted children, and there are too many adults with inner-child syndrome. I do wanna help to change it all.

Sasaran

Para suami, istri, ayah, dan ibu.

Ide sosial

Saya bukan tipe orang yang memiliki ketahanan dan kemampuan dalam berwirausaha dan memulai sesuatu dari nol. Oleh karena itu, alih-alih menciptakan sebuah social venture, saya lebih suka bergabung ke salah satu social ventures yang sudah ada.

Lalu apa yang akan saya lakukan? Saya akan menyumbangkan pikiran dan tenaga saya melalui dua komunitas favorit saya: Ibu Profesional dan Konmari Indonesia. Hanya ini yang sejauh ini saya anggap realistis. Pun, sudah saya tuliskan berkali-kali di NHW-NHW sebelumnya.

One step at a time. Sebagai peserta MIIPB5, sedikit-sedikit saya sudah mulai take action untuk merealisasikan cita-cita saya ini dengan berkomitmen untuk mengerjakan seluruh tugas mingguan baik di Kelas MIIPB5 maupun di Kelas Shokyuu dan konsisten memposting jawaban tugas-tugas ini di Blog dan Instagram dengan tampilan semenarik mungkin.

Tujuannya, agar banyak teman-teman saya atau bahkan orang yang tidak saya kenal tertarik untuk bergabung di dua komunitas ini.

Kenapa begitu? Tentu bukan untuk keuntungan material (karena kedua komunitas ini bersifat nonprofit). Sebagai salah satu peserta yang sudah beberapa minggu (bahkan bulan) bergabung, saya percaya bahwa dua komunitas ini bisa membantu para keluarga Indonesia untuk menjadi lebih baik. These two communities can heal us from within. And therefore, I want to take part in it.

Untuk saat ini, doakan agar saya bisa lulus kelas Matrikulasi dan kelas Shokyuu dengan predikat baik, ya, hehehe.

Selamat tinggal, Kelas Matrikulasi! Selamat datang, Kelas Bunda Sayang! 😢😘

NHW #8: Produktif, Yuk!

NHW #8 kali ini mengingatkan saya kepada NHW #4 yang lalu. Kalau di NHW #4 kami ditantang untuk menemukan misi hidup, maka di NHW #8 ini kami harus membuat target-target berkaitan dengan misi hidup tersebut.

Berdasarkan Kuadran Aktivitas di NHW sebelumnya, ada beberapa aktivitas di kuadran SUKA-BISA yang perlu saya garis bawahi karena dari sinilah misi hidup saya akhirnya muncul.

Planning, berjejaring, berbagi pengetahuan dan pengalaman, assisting others.

Oleh karenanya, saya mantap ingin menjadi seorang Fasilitator, baik di ranah domestik maupun ranah publik. Insya Allah.

Nah, sekarang mari berkenalan dengan Zig Ziglar.

Yep. Prinsip Be-Do-Have milik Zig Ziglar inilah yang akan menjadi acuan saya (dan teman-teman sekelas saya) dalam menuntaskan tugas kali ini.

Sebelum memulai penjabaran Be-Do-Have, saya ingin terlebih dahulu memberitahukan beberapa hal yang memperkuat motivasi saya untuk menjadi seorang Fasilitator.

Ini adalah saat saya ‘berkonsultasi’ dengan Mba Irma Febriana, our beloved Facilitator. Terima kasih, Mak. Love you full!

Dua kutipan ini milik Mba Adit Marwa, our beloved Observer di Kelas Matrikulasi Tangerang Selatan.

Saya sangat menikmati proses-proses dalam ber-Konmari. Begitu saya mengetahui fakta di atas, saya langsung merasa bahwa, “This was definitely written for ME!“.


BE

Saya ingin menjadi Fasilitator di Komunitas Ibu Profesional dan/atau Komunitas Konmari Indonesia.

DO

Saat ini saya hampir menyelesaikan Kelas Matrikulasi Ibu Profesional (minggu ini saya menjabat sebagai Koordinator Mingguan) dan sedang menjalani Kelas Shokyuu Konmari Indonesia (dimana saya menjabat sebagai Ketua Kelas).

Setelah lulus Program Matrikulasi (semoga dengan predikat baik) dan memasuki tahapan Kelas Bunda Sayang, saya akan mendaftar untuk menjadi pengurus IIP.

Setelah lulus dari Kelas Jyoukyuu, saya akan mengomunikasikan ketertarikan saya untuk menjadi Fasilitator pada Tim Konmari Indonesia. Tentu saja, sebelumnya saya juga harus bisa lulus dengan predikat memuaskan dari ketiga tahapan Kelas Intensif (yaitu Kelas Shokyuu, Chukyuu, dan Jyoukyuu).

Saya juga akan berusaha aktif mengikuti workshop, seminar, dan kegiatan-kegiatan dalam komunitas yang berkaitan dengan pengasuhan anak, pengembangan diri, dan sejenisnya.

HAVE

Kutipan di bawah ini cukup menjelaskan tentang apa yang akan saya lakukan bila saya berhasil menjadi seorang Fasilitator.

Seorang fasilitator adalah seseorang yang terlibat dalam kegiatan fasilitasi. Mereka membantu sekelompok orang untuk memahami tujuan bersama mereka sekaligus membantu mereka untuk melakukan perencanaan demi mencapai tujuan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya ini, fasilitator tetap “netral”, yang berarti dia tidak mengambil posisi tertentu di dalam diskusi (Bens, 2012).

Catatan: tujuan bersama yang dimaksud dalam kutipan di atas disesuaikan dengan visi dan misi komunitas, dalam hal ini IIP dan Konmari Indonesia.

LIFETIME PURPOSE

Saya ingin menjadi manusia yang mampu memberikan kebermanfaatan untuk sekitar. Paling tidak, kepada sesama perempuan yang akan atau sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu. Selama ini, ketika seorang perempuan menjadi seorang ibu, seringkali ini hanya dilihat sebagai semata sebuah kodrat yang mau tidak mau harus dijalani, tanpa menyadari bahwa peran seorang ibu itu sebenarnya jauh lebih dari sekedar ‘menjalankan kodrat’.

Bahkan, kita sebetulnya sangat berpotensi untuk menjadi arsitektur peradaban dan juga agen perubahan. Setiap perempuan butuh persiapan untuk menyadari ini untuk kemudian mulai bisa bergerak maju.

Untuk itu, saya ingin hadir di tengah-tengah para perempuan ini sebagai seorang fasilitator dan inspirator, baik di dalam ataupun di luar forum, agar kami mampu dengan maksimal menjalankan peran kami dalam membangun peradaban.

The journey of a thousand miles begins with one step. – Lao Tzu

STRATEGIC PLANNING

Paling lambat dua tahun lagi, saya akan menjabat sebagai seorang Fasilitator, paling tidak dalam salah satu komunitas yang saya sebutkan di atas.

NEW YEAR RESOLUTION

Menjadi pengurus IIP – Mengikuti Training Fasilitator IIP – Lulus Kelas Chukyuu dengan predikat memuaskan – Sedikitnya satu minggu sekali berbagi ilmu dan pengetahuan di media sosial.


Wow. Luar biasa sekali rasanya setelah selesai menuliskan ini semua. Mohon doanya ya agar cita-cita saya ini bisa tercapai. 🙏