15 Tahun Sokola dan Tawa Alma yang Menggema

 

Sokola Rimba, yang baru saja diubah namanya menjadi Sokola Institute, didirikan oleh Butet Manurung sejak tahun 2003 pertama kali di pedalaman hutan Jambi. Selama 15 tahun terakhir, Sokola Institute telah memberikan pendidikan alternatif kepada sekitar 10 ribu orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Jambi Aceh, Pariaman, Cianjur, Dukuh, Klaten, Merapi, Bantul, Makassar, Sumbercandi Jember, Wailaso, Bulukumba, Halmera, Asmat dan Sumba (gatra.com).

Nah, tanggal 20 September kemarin, aku dapet info dari temen komunitas bahwa Sokola Institute bakal bikin perayaan #15TahunSokola.

Kalian liat kan bakal ada siapa aja di #15TahunSokola? Oh man, ini sih aku wajib ikut! Hahaha. Apalagi acaranya selesai sekitar jam 6 sore, bisa langsung dijemput pak suami.

Lompat ke hari-H, aku udah siap-siap dari pagi, bawa bekal segala macem biar Alma nggak cranky. Aku sempet kuatir sih, Alma bisa anteng nggak ya di Goethehaus nanti? Tanggal 23 September kemarin Alma beranjak tiga tahun dan kita belum pernah sekalipun ngajakin dia ke bioskop. Alasannya apalagi kalau bukan karena takut dia bikin kerusuhan dan bikin pengunjung lain nggak nyaman. 🙁

But in the end, I still decided to go. Misal nanti dia beneran cranky, aku tinggal angkat kaki aja kan~

Kita nyampe Goethe Institut sekitar jam setengah tigaan dan ternyata registrasi baru dibuka setengah jam kemudian. Lumayan, jadi bisa ngajakin Alma liat-liat foto yang dipajang di sepanjang lorong masuk.

Larva kumbang sagu FTW.

Setelah puas baca-baca dan foto-foto, kita makan sebentar. Jam tiga kita registrasi. Kalo liat daftar namanya, ternyata banyak juga homeschooler yang hadir, cuma aku nggak kenal (krik). Di meja registrasi, kita bisa dapetin souvenir dengan memberikan donasi seikhlasnya. Karena souvenirnya gelang lucuk yang mana Alma pasti suka, akhirnya kita ambil satu (setelah sebelumnya Alma masukin uang donasi ke kotak yang mirip kaleng kerupuk mini 😆).

Kawaii desu ne!

Karena udah mulai banyak yang antre di depan pintu ruang pertunjukan, akhirnya kita ikutan melipir ke situ. Lumayan, dapet spot sebelah pintu persis. Setelah menunggu beberapa lama, pintu pun dibuka! Wahhh, it was quite chaotic. 😂 Alhamdulillah, aku sama Alma dapet duduk di depan dan paling pinggir (sesuai sama ekspektasiku, biar kalo Alma bosen bisa turun dan mondar-mandir di tangga tanpa ganggu yang lain).

Acara yang dipandu sama Vena Annisa ini berjalan dengan sukses. Ada belasan wajah familiar yang tampil sebagai narator. Narator-narator ini bergantian membacakan narasi tentang kehidupan anak rimba (yang luar biasa dan jarang orang tahu) sambil diiringi petikan gitar akustik. Sungguh syahdu sekali!

Narator favoritku: Maudy Koesnaedi dan Handry Satriago. Indikatornya, waktu mereka baca narasi, Alma serius banget menghayati dari awal sampe akhir. 😍

Selain pembacaan narasi, ada juga penampilan dari Tulus dan Ananda Sukarlan. Tulus nyanyi, Ananda Sukarlan menampilkan Rapsodia Nusantara No. 14.

Nah, Rapsodia Nusantara ini kan suka ada jeda-jeda gitu kan yah di tengah-tengah. Di salah satu jeda, Alma ketawa kenceng banget! Seisi ruang pertunjukan sampe ketawa dan ngeliat ke arah Alma duduk. Ananda Sukarlan juga keliatan kaget-kaget-geli gitu (maaf ya om 🤣). Yang bikin epic karena timing-nya pas banget. Mana nuansa musiknya cheerful-cheerful gimana gitu kan, jadi lucu aja tiba-tiba ada suara anak kecil ketawa. 😆 Suara Alma ketawa bisa ditonton di video di bawah ini.

It was definitely an unforgettable moment. Waktu kita pulang pun ada beberapa orang yang liat Alma dan bilang, “Eh, kamu yang ketawa tadi ya? Pas banget loh timing-nya, hahaha!”

Well, selain ketawanya Alma, ada satu hal lain yang paling aku inget dari seluruh rangkaian acara, yaitu waktu Handry Satriago memberikan sambutan di akhir acara. Ada beberapa kalimat yang buatku sangat relatable.

Kenapa saya terlibat di sini? Menurut saya simpel sekali. Ini adalah keberagaman. Keberagaman adalah manusia. (Yang) saya sering nggak mengerti (dari) orang perusahaan itu: (tendensi untuk) menyeragamkan semuanya. Itu membuat kita menjadi tidak manusiawi. Sebuah proses keberagaman pendidikan adalah hal yang manusiawi.

Pengendum tidak perlu menjadi manusia modern, orang-orang di rimba tidak perlu menjadi manusia modern. Mereka telah hidup dengan cara mereka selama beratus tahun, dan nyatanya mereka baik-baik saja.

P.S.: Pengendum Tampung adalah salah seorang dari Suku Anak Dalam yang juga merupakan murid ‘senior’ Sokola Rimba.

Ya, sebagai seorang praktisi homeschooling yang notabene kaum minoritas, I really get the idea of what he’s been talking about. Menyitir Charlotte Mason, pendidikan itu bukanlah sistem, pendidikan itu metode. Tidak masuk ke dalam sistem sekolah yang sudah ada bertahun-tahun, bukan berarti seseorang menjadi tidak terdidik.

Kemudian baper, eaaa. 😂

Anywayss, buat yang nggak bisa dateng ke event 15 Tahun Sokola ini, kalian bisa lihat video-videonya di playlist-ku yaa (klik ikon di pojok kiri atas).

Mohon abaikan suara-suara balita yang suka tiba-tiba muncul. Abaikan juga kalau tiba-tiba penampakan video jadi random atau berputar 180 derajat. Yang penting audionya jelas, ya toh? #mencaripembenaran 🤣

Kayaknya itu aja sih. Sekian liputan random dari emaknya Alma. Thank you for reading and see you next post!

Balada Memilih Metode Homeschooling

Sejak pertama kali mengenal homeschooling satu setengah tahun yang lalu, saya sudah lumayan banyak terpapar berbagai macam metode dalam homeschooling; mulai dari metode Montessori, Charlotte Mason, Waldorf, klasik, eklektik, unschooling dan seterusnya.

Setelah melepaskan mindset hasil produk sekolahan, saya bagaikan burung yang dilepas dari sangkar. Saya mulai banyak membaca referensi terkait homeschooling dan pendidikan/psikologi anak usia dini, mengikuti webinar homeschooling, berjejaring di grup-grup homeschooling di Telegram dan Whatsapp, mengikuti kulwap-kulwap dan seminar-seminar offline, sampai akhirnya saya bergabung di salah satu komunitas HS yang rutin melakukan kegiatan setiap minggunya.

Dari situ, saya jadi bisa melihat langsung teman-teman yang menerapkan bermacam-macam metode HS, tidak cuma dari tulisan. Ada tiga metode yang saya lihat paling banyak dipakai: metode Charlotte Mason, Montessori, eklektik dan unschooling.

Keempat metode ini sama-sama baik, baik sekali malah. Namun saya tidak ingin grasa-grusu menerapkan metode-metode ini hanya karena mereka baik. Saya bisa saja langsung menerapkan metode-metode ini di rumah karena toh, materi-materi dan contoh-contoh penerapannya banyak bertebaran di internet. Alat-alat dan buku-buku yang dianjurkan oleh metode-metode ini pun bisa didapatkan dengan mudah. Namun, saya selalu merasa ada yang mengganjal. Saya tidak ingin mengaplikasikan sesuatu yang saya tidak tahu persis seluk-beluknya, cuma sekadar tahu permukaannya. Saya ingin mempelajari sejarah dan filosofi di balik tiap-tiap metode tersebut. Ibarat mencari pasangan hidup, penampilan fisik saja tidak cukup. Saya harus mengetahui betul pola pikir dan kepribadian calon pasangan hidup saya. Saya juga ingin tahu keterkaitan antarmetode, apa yang membuat mereka sama dan apa yang membuat mereka berbeda satu sama lain.

Sayangnya, saya agak telat mencari tahu. Saya sekarang sudah menjadi IRT yang memiliki balita. Hasrat saya untuk membaca buku dibatasi dengan kenyataan: saya tidak punya waktu sebanyak yang saya inginkan untuk membaca buku, tidak seperti waktu masih single dulu. Saya baru punya satu ebook The Montessori Method yang ditulis oleh Maria Montessori sendiri dan untuk bisa membaca buku ini dengan tenang pun rasanya masih sulit mencari celah waktunya. Sejauh ini, saya baru selesai membaca bagian Introduction-nya saja 🙈 (tapi jangan salah, meskipun baru bagian Introduction, isinya sudah penuh dengan pencerahan).

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya dicolek oleh seorang teman di Facebook, memberi tahu postingan Mba Arum yang menawarkan kesempatan untuk belajar tentang filosofi CM secara rutin dan offline (thanks, Mba Brit!). Salah satu syarat untuk bergabung adalah saya harus terlebih dulu membaca buku Cinta yang Berpikir (CyB). Sejujurnya, itu pertama kalinya saya mengetahui tentang buku CyB. Karena saya belum punya tapi tidak sabaran ingin segera membaca, saya pun meminjam buku CyB teman saya ini (sambil memesan buku CyB di Shopee juga) dan alhamdulillah boleh. 🤭

Lembar demi lembar buku CyB ini saya baca dan hayati betul. Sebelumnya saya hanya tahu sepintas saja tentang metode CM, salah satunya tentang living books. Setelah membaca sepuluh bab pertama (bagian I), saya jadi tergoda untuk membaca bagian III terlebih dulu sebelum membaca bagian II (untungnya kata Mba Ellen Kristi, selain bagian I, membaca bab-bab lainnya boleh melompat-lompat).

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menumpuk di kepala sedikit demi sedikit menemukan jawaban yang tepat sasaran. Mba Ellen bertutur melalui tulisan dengan sangat menarik, jelas dan runtut. Rasanya sungguh melegakan sekali, bagaikan bertemu mata air di tengah padang pasir.

Perbedaan-perbedaan mendasar di antara metode-metode pendidikan yang disebutkan di bagian III tak menyurutkan saya untuk tetap merasa kagum dengan tokoh-tokoh pencetusnya yang begitu visioner. Bagaimana teori-teori yang mereka kemukakan di awal abad ke-20 bisa sangat sesuai dengan teori-teori psikologi/pendidikan anak di abad ke-21 ini (terutama teori-teori Charlotte Mason) padahal mereka hidup di era yang penuh keterbatasan? Saya masih terkagum-kagum sendiri kalau mengingat ini.

Setelah menimbang-nimbang lagi, saya memutuskan untuk memakai metode eklektik (campuran, sesuai kebutuhan anak). Saya akan tetap menerapkan beberapa prinsip Montessorian untuk memperkaya aktivitas jasmani anak saya (meskipun tidak saklek-saklek amat, saya sesuaikan dengan situasi dan kebutuhan anak, seringkali terjadi secara spontan). Perihal proporsi otoritas orang tua dalam mendidik anak dan juga pemberian asupan yang penuh nutrisi bagi jiwa dan pikiran anak, tidak ada yang bisa menandingi cara-cara Charlotte Mason (menurut saya). Jadi, saya akan sangat senang jika saya punya kesempatan untuk mempelajari model pendidikan kedua tokoh ini jauh lebih dalam lagi. Khusus metode CM, sejak dulu saya merasa saya pasti akan memiliki banyak kecocokan dengan metode ini. Saya dan suami suka membaca. Sejak Alma bayi, saya selalu membacakan buku cerita untuknya setiap hari. Qadarullah, Alma ternyata anak yang sangat suka bercerita, she’s been always a chatterbox. Apapun yang dia lihat, dia akan dengan senang hati bercerita tentangnya.

Saya selalu merasa beruntung karena bisa menerapkan homeschooling. Karena homeschooling juga, saya jadi bisa mengenal banyak orang-orang hebat yang menginspirasi.

I’ve been always a curious person, and now that I’ve decided to be a homeschooler, I have many more reasons to feed this curiousity~ 😆

Berkunjung ke Pepsodent Dental Expert Centre di Gandaria City

Jeng jeng jeeeng!

Tiga minggu yang lalu akhirnya Alma perdana ikut playdate bareng temen-temen HS. Alma hepi, aku pun juga nggak kalah hepi karena:

1. kebetulan yang ikutan playdate kali ini nggak terlalu banyak, jadi Alma nggak ngerasa overwhelmed, masih masuk zona nyamannya dia (secara dia nggak suka keramaian yes).

2. Playdate kali ini sangat bermanfaat buat Alma. Sebagai seorang toddler yang belum pernah sekalipun berkunjung ke dokter gigi, it was a great chance for her to get a good (first) impression of a dentist.

 

Lanjutin poin kedua, kenapa bisa gitu? Karena kemarin anak-anak periksa giginya di Pepsodent Dental Expert Center. Alma jadi ketemu sama banyak Om dan Tante Dokter Gigi yang seeeemuanya berwajah lively dan engaging. ❤️ Jauuuuuuuh dari kesan horor yang selama ini terlanjur nempel di dokter gigi. 👍

Oiya, di sini anak-anak nggak cuma periksa gigi aja dong. Di sesi pertama, ada storytelling yang dibawakan oleh salah satu Tante Dokgi. Fix emaknya Alma heran, ini beneran dokter gigi nih? Kok pinter banget mendongengnya?

YA TERUS KENAPA, KAN MALAH BAGUS HAHAHA. Mohon saya jangan ditimpuk. 😂

Di sesi kedua, anak-anak diajak sikat gigi bareng-bareng. The more the merrier… and easier. 😌 Karena banyak temennya, Alma jadi gampang diajakin sikat gigi. 😎

Terus di sesi ketiga anak-anak dipakein jas dokter cilik terus mereka foto bareng. Ya Allah gemes bangettt. They were all adorable! 😍😍😍

Next, sesi keempat, baru deh anak-anak gantian masuk ke ruangan buat diperiksa giginya. Alhamdulillah Alma mau mangap dari awal sampe akhir, meskipun maunya diperiksa sambil dipangku. No big deal, she still did great~ 😘

Terakhir, anak-anak diajak nonton film pendek gitu. Sayangnya Alma nggak mau gabung nonton lesehan sama temen-temen yang lain, soalnya dia maunya duduk di stool sofa yang teramat dia sukai itu. Yha.

Overall, it was really nice. Yang nggak kalah nice lagi, giginya Alma udah banyak yang harus ditambal: empat gigi seri atas dan satu gigi geraham. CRAY. 😭

Efek positifnya, Alma sekarang jadi suka syeeekali gosok gigi. Sikat giginya dibawa dan DIPAKAI di mana pun dan kapan pun. Luar biasa bukan?

Bahkan waktu di KRL kemarin dia duduk sambil gosok gigi…. yang mana jatohnya malah jadi jorok. 🙄 Ya udahlah ya, yang penting kan spirit-nya. Okesip!

Oiya satu lagi, sebelum pulang nggak afdol kayaknya kalo nggak foto bareng. Ini fotonya.

Alma entah kenapa pose setengah membungkuk (ngempet pipis?). Dzak kayak mau berubah jadi Ranger Merah. Makki lumayan, until I saw his face (melow banget, Nak). Dega terheran-heran melihat itu semua (sambil merem). Mikka sebagai yang paling dewasa, cuma bisa ngelirik sambil mesam-mesem. 😂😂😂

 

Tentang Sekolah dan Alasan Kami Memilih Homeschooling

Halo, halo, halo!

Wuah, lama juga ya aku nggak posting blog. Nah, biar nggak jamuran, aku mau update lagi nih. Kali ini temanya berkisar di dunia pendidikan.

FYI, sejak beberapa bulan yang lalu, dengan berbagai pertimbangan, aku dan Abi memutuskan buat nggak menyekolahkan Alma ke sekolah formal. Dengan kata lain, kami pengen nerapin homeschooling.

Yesss, I know. Alma sekarang masih 2 tahun. Tapi kami sadar betul kalau keputusan kami ini bukan keputusan yang gampang. Simply karena kami nggak cuma hidup bertiga doang. Keputusan yang kami ambil, apalagi keputusan sebesar ini, pasti bakal ngaruh juga ke keluarga besar, teman-teman, sampai tetangga. Bakal ada banyak banget tantangan yang harus kita hadapi nantinya, terutama waktu Alma udah masuk usia sekolah nanti, yaitu sekitar 5-6 tahun. Pasti bakal ada baaanyak sekali pertanyaan, saran, kritikan (baik yang membangun maupun yang enggak) yang diarahkan ke kami berdua. And trust me, it is not gonna be easy.

Itulah kenapa, kami harus siap-siap mulai dari sekarang. Sekarang Alma udah 2 tahun. Berarti kami cuma punya waktu 4 tahun buat kuatin mental dan rencanain semua yang kami perlu buat dampingin Alma. Harus banyak-banyak belajar dari keluarga-keluarga yang lebih dulu nerapin homeschooling.

Tapi bagaimanapun reaksi yang kami terima nanti, insya Allah kami nggak bakal goyah. Ya karena kami emang udah mantap banget sama pilihan kami ini.

Aku udah beberapa kali posting tentang homeschooling, tapi di Instagram. Bakal aku post ulang ke sini kayaknya sih. Mana tau kan bisa bermanfaat, hehe.

Nah, buat postingan yang ini, aku secara khusus mau kasih tau alasan kenapa aku dan Abi bisa pilih homeschooling. Awalnya aku bingung harus mau mulai dari mana. Tapi ndilalah, kemarin ada yang sharing video ini di grup Telegram. Abis nonton, wow, I really cannot agree more! This is what I have been looking for! Wajib banget di-share.

Ini videonya:

Kalo mau lebih jelas, jangan lupa turn on caption ya, biar jadi ada subtitle-nya gitu, hehehe.

Daaaan, kebetulan aku tadi pagi, ENTAH KENAPA AKU JUGA NGGAK PAHAM, tiba-tiba jadi terobsesi buat terjemahin narasi video ini. Bangun tidur langsung jebret buka laptop. Bertekad buat nyelesaiin terjemahan sebelum anak bayik bangun. Udah kayak penerjemah yang lagi dikejar deadline. Padahal ya nggak dikejar apa-apa. Iseng doang. :)))

Yesss, I know. I completely realize the fact that I’m a weirdo.

So, yeah. Buat yang kepingin baca versi bahasa Indonesianya, silakan cek tulisan di bawah ya. Maaf kalo ada anak Sastra Inggris yang baca trus jadi mangkel karena ada yang salah-salah. Namanya juga emak-emak. Nggak nyambung? Biarin.


Enam Permasalahan dalam Sistem Sekolah

Ada sebuah pendapat yang tengah berkembang saat ini, yaitu bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang salah?

Kita mengirim anak-anak kita ke sekolah untuk mempersiapkan mereka agar mampu menghadapi dunia nyata yang terus berubah dengan sangat, sangat cepat ini. Ironisnya, sekolah yang ada sekarang ini masih belum banyak berubah dari sejak ratusan tahun yang lalu.

Faktanya, para pemikir besar dunia setuju bahwa sistem pendidikan sekarang ini dirancang pada Era Industri, tujuan utamanya adalah untuk memproduksi pekerja-pekerja pabrik. Dan mentalitas produksi massal dan kontrol massa ala Era Industri ini masih mengalir deras di sekolah-sekolah.

Nilai-nilai di Era Industri

Kita mendidik anak-anak dalam kelompok-kelompok dan mengendalikan hidup mereka dengan cara membunyikan bel. Sepanjang hari, murid-murid tidak melakukan apapun selain mengikuti perintah-perintah.

Ayo duduk, keluarkan bukunya, buka halaman 40, kerjakan soal nomor tiga, berhenti bicara.

Di sekolah, kamu dihargai karena kamu melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan. Ini adalah nilai-nilai di Era Industri yang pada saat itu teramat penting  bagi para pekerja pabrik. Kesuksesan mereka bergantung pada kemampuan mereka dalam mengikuti instruksi-instruksi dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan.

Namun, di era globalisasi ini, seberapa jauh kamu bisa bertahan hanya dengan mengikuti instruksi?

Dunia modern menghargai orang-orang yang kreatif, yang dapat mengomunikasikan ide-ide dengan baik, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. Meskipun demikian, anak-anak kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut di dalam sistem yang didasarkan pada nilai-nilai di Era Industri ini.

Kurangnya Kemandirian dan Kontrol Diri

Di sekolah, anak-anak sangat kurang dalam hal kemandirian dan kontrol diri. Setiap menit dalam hidup seorang anak senantiasa dikontrol oleh sistem. Akan tetapi di masa kini, apabila kamu melakukan suatu pekerjaan penting, maka kamu lah yang harus mengatur waktumu sendiri untuk melakukan pekerjaan itu. Kamu membuat keputusanmu sendiri sehubungan dengan apa-apa saja yang harus dilakukan dan kapan kamu akan melakukannya.

Nyatanya, kehidupan di sekolah terlihat sangat berbeda. Sistem mengirimkan pesan yang berbahaya kepada anak-anak: bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri. Mereka hanya perlu mengikuti apapun yang sudah ditetapkan, alih-alih bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan memanfaatkan sebaik dan sepositif mungkin hidup yang telah diberikan kepada mereka.

Para ahli percaya bahwa kemandirian adalah hal yang teramat penting bagi anak-anak. Tidak heran jika anak-anak kita merasa bosan dan tidak termotivasi oleh sekolah.

Bisakah kalian membayangkan bagaimana rasanya jika kalian selalu diberitahu apa yang harus dilakukan di tiap menit hidup kalian?

Pembelajaran yang Tidak Autentik

Sebagian besar proses belajar yang terjadi di sekolah pada hari ini adalah proses belajar yang tidak autentik karena sekolah mengandalkan proses mengingat dan menghafal. Sistem sekolah mendefinisikan serangkaian pengetahuan di mana seluruh siswa harus mempelajarinya. Kemudian, setiap beberapa bulan sekali, kita mengukur seberapa jauh anak-anak menguasainya dengan mengadakan ujian-ujian. Kita bisa tahu bahwa proses belajar semacam ini tidak autentik karena sebagian besar materi yang diingat siswa akan hilang di hari setelah ujian diadakan.

Proses belajar bisa jauh lebih dalam dan lebih autentik dari itu. Proses belajar bisa lebih dari hanya sekadar mengingat dan menghafal. Namun nyatanya, hanya dua hal itu saja yang selama ini kita ukur, dan nilai ujian menjadi satu-satunya hal yang kita hargai.

Hal ini tentu menciptakan budaya yang tidak sehat bagi para siswa, orang tua, dan guru. Anak-anak tiada henti mengikuti pelajaran selama berjam-jam, bangun semalaman demi menghafal fakta-fakta yang tidak begitu berguna yang akan segera mereka lupakan.

Tidak Ada Ruang untuk Minat

Kita memiliki sistem yang begitu terstandardisasi, di mana setiap anak harus mempelajari hal yang sama, di waktu yang sama, dengan cara yang sama satu sama lain. Metode ini tidak menghargai fakta mendasar bahwa kita adalah manusia, bahwa setiap orang itu unik dan berbeda dengan cara kita masing-masing. Kita semua memiliki minat yang berbeda. Dan kunci pemenuhan dalam hidup adalah dengan menemukan passion kita.

Akan tetapi, sudahkah sekolah membantu anak-anak kita menemukan dan mengembangkan minat mereka? Sepertinya tidak ada ruang lagi di dalam sistem pendidikan saat ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup seorang anak: aku pandai melakukan apa? Apa yang ingin aku lakukan dalam hidup? Bagaimana aku bisa menempatkan diri di dunia ini? Sistem pendidikan kita nampaknya tidak begitu peduli.

Ada begitu banyak orang-orang yang sangat berbakat yang gagal di dalam sistem pendidikan tradisional. Untungnya, mereka bisa mengatasi kegagalan mereka.

Tapi tidak semua orang bisa.

Kita tidak tahu sudah ada berapa banyak bakat, berapa banyak potensi yang telah hilang, tidak diakui oleh sistem yang ada saat ini.

Perbedaan dalam Cara Belajar

Masing-masing dari kita juga berbeda dalam hal bagaimana cara kita belajar, berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk mempelajari sesuatu, dan alat serta sumber-sumber belajar macam apa yang terbaik bagi kita. Akan tetapi, sistem yang ada saat ini tidak memiliki ruang untuk perbedaan-perbedaan itu. Oleh karena itu, kalau kamu sedikit lambat dalam mempelajari sesuatu, maka kamu dianggap gagal, padahal yang sebenarnya kamu butuhkan hanyalah sedikit waktu lebih untuk menyusul ketertinggalan itu.

Metode Ceramah

Di dalam sistem yang ada saat ini, anak-anak ‘diceramahi’ dalam waktu lebih dari lima jam perhari. Namun sebetulnya ada beberapa masalah besar yang berkaitan dengan metode ceramah ini. Sal Khan dari Khan Academy menyebut metode ceramah sebagai “sebuah pengalaman yang tidak berperikemanusiaan, 30 anak dengan jari telunjuk di bibir, tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan satu sama lain”.

Selain itu, di tiap-tiap kelas, murid berada dalam tahap pemahaman yang berbeda-beda. Apapun yang dilakukan oleh guru, pasti akan ada siswa yang merasa bosan karena dia sudah lebih dulu memahami materi, dan sebaliknya, ada anak yang kebingungan karena ketinggalan materi.

Dengan adanya Internet dan media digital, anak-anak sekarang jadi bisa mengakses seluruh informasi yang ada di duniai hanya dengan ujung jari mereka. Teknologi telah memungkinkan siapapun untuk mempelajari apapun, namun karena khawatir kehilangan kendali, sistem kurang mendukung penggunaan sumber-sumber belajar yang luar biasa ini.

Sistem pendidikan yang terbentuk di Era Industri ini sudah ketinggalan zaman dan tidak efektif. Jika kita ingin mempersiapkan anak-anak kita untuk menyambut dunia modern, jika kita ingin kegiatan belajar menjadi efektif dan menyenangkan, maka tidak perlu diragukan lagi: kita perlu melakukan perubahan-perubahan mendasar pada sistem pendidikan kita.


Aku ulangin kalimat terakhir di paragraf terakhir ya:

Jika kita ingin kegiatan belajar menjadi efektif dan menyenangkan, maka tidak perlu diragukan lagi: kita perlu melakukan perubahan-perubahan mendasar pada sistem pendidikan kita.

Jadi udah jelas ya, solusinya adalah dengan melakukan perubahan mendasar di sistem pendidikan. Iya, ini bukan hal yang nggak mungkin. Tapi kita pasti paham kalau untuk melakukan ini pasti sama sekali nggak mudah dan dibutuhkan waktu sampai puluhan tahun, worst case, sampai ratusan tahun.

Keburu Alma punya cicit dong ah.

Bukannya pesimis, aku cuma berpikir realistis.

Nah, karena solusi di atas cukup susah diwujudkan, itulah kenapa aku, Abi dan ribuan bahkan jutaan keluarga lain memutuskan buat merealisasikan solusi yang kedua: kami keluar dari sistem yang ada. Kami memilih buat bertanggung jawab langsung terhadap pendidikan anak-anak.

Lagipula, who knows our children better than us? That will make us the best teacher and partner they can ever have.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang positif, beriman kepada Tuhan, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama ya.

Ketika Kami Jatuh Cinta dengan Homeschooling

Sejak menikah, bahkan mungkin sejak sebelum kami menikah, saya dan suami sering mendiskusikan banyak hal, membandingkan banyak hal. Salah satunya, kami pernah membandingkan pendidikan formal di Indonesia dengan pendidikan formal di Finlandia, misalnya.

Lalu kami cuma bisa tersenyum kecut.

Anak-anak itu, di gedung sekolah yang sama, dengan orang-orang yang sama, ditemani oleh buku-buku yang sama, belajar lima, bahkan enam hari berturut-turut dalam periode waktu yang sama.

Padahal kita tahu betul, anak-anak yang berangkat ke sekolah itu, mereka berbeda satu sama lain. Setiap anak berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, memiliki kepribadian yang berbeda, memiliki minat belajar yang berbeda, memiliki model belajar yang berbeda, memiliki kecepatan belajar yang berbeda, dan seterusnya.

Di dalam diri setiap anak sesungguhnya terdapat potensi-potensi luar biasa, PASTI, dan potensi ini hanya bisa ‘dimunculkan’ dengan cara-cara yang tepat, yang dapat berbeda untuk setiap anak.

Lalu apa jadinya jika mereka diperlakukan dengan sama, hampir setiap hari?

Itu, ditambah lagi dengan stigma dan tuntutan yang menambah beban berat di pundak mereka.

‘Kamu harus naik kelas’
‘Kamu harus bisa mempertahankan ranking kamu’
‘Jurusan IPA lebih baik daripada jurusan IPS, jadi berusahalah masuk IPA’
‘Kalau tidak mengerjakan tugas, nanti ada hukumannya ya’
‘Anak yang nilainya bagus di semua mata pelajaran itu keren sekali ya’
‘Kenapa kamu susah sekali sih belajar matematika?’
‘Kalau mau masuk SD ini, anak wajib bisa calistung ya’

Dan seterusnya.

Fenomena-fenomena anak salah jurusan, lulusan-lulusan universitas yang bingung harus ke mana, anak-anak yang berperilaku menyimpang, itu semua adalah cerminan nyata bahwa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita.

Kami membayangkan sekolah itu harusnya membuat anak bahagia, bukan hanya bahagia karena bertemu teman-teman tapi juga bahagia karena ia telah mempelajari banyak hal di kelas.

Kami ingin Alma tumbuh seperti itu. Kami jadi tidak tega kalau sampai dia harus masuk ke sekolah formal dengan berbagai macam gejolaknya. 😢 Sampai akhirnya, kami memutuskan bahwa homeschooling adalah pilihan yang terbaik.

Niat kami ini bukan sekadar niat, kami akhirnya mencari tahu lebih jauh tentang homeschooling (HS). Kami mengikuti seminar online tentang homeschooling (masih berjalan sampai sekarang), masuk ke komunitas praktisi HS, juga komunitas orang-orang yang berminat dan berniat mengaplikasikan homeschooling di rumah, jadi kami bisa belajar bersama.

Awalnya memang ada sedikit ragu, mampukah kami?

Tapi ternyata, semakin kami tahu tentang homeschooling, kami malah makin jatuh cinta dan makin yakin kalau kami pasti bisa.

Homeschooling mengembalikan fitrah rumah (dalam hal ini keluarga) sebagai tempat belajar anak yang paling ideal. Homeschooling mengembalikan fitrah orangtua sebagai pendidik terbaik untuk anak.

Siapa sih yang paling mengerti anak-anak kita? Jawabannya pasti kita, orangtuanya!

Bayangkan, anak bisa memilih sendiri hari ini mau belajar apa, mau belajar yang mana dulu, mau belajar di mana, dsb. Kalau sudah bosan, silakan berhenti. Nanti/besok dilanjutkan lagi. Tidak ada paksaan/hukuman.

Terlebih lagi, model-model homeschooling ini sangat beragam.

Ada yang benar-benar menerapkan kurikulum. Kurikulumnya pun bisa pilih sendiri, mau pakai kurikulum nasional? Atau internasional seperti IGCSE, A Level dan teman-temannya? Bebas! Yang penting konsisten dan paham implikasinya.

Untuk orangtua yang merasa tidak telaten menemani belajar secara akademis, bisa pakai jasa bimbel, atau memanggil tutor. It’s really okay!

Semuanya bebas, mau pilih yang mana. Tinggal buat kesepakatan bersama antara orangtua dan anak saja.

Belajar materinya cukup beberapa jam saja. Sisanya anak bebas mengeksplorasi bakat dan minatnya.

Suka berenang? Yuk masuk klub berenang.
Suka main gitar? Yuk ikut kursus musik.

Bahkan ada salah satu praktisi HS yang anaknya punya minat yang besar sekali terhadap serangga. Dia ikut komunitas ‘peneliti’ serangga (iya ada 😆), rajin eksplor ke hutan bersama mentornya, sampai saat usia SD dia sering diundang ke TK-TK untuk menjelaskan tentang serangga (tidak lupa semua koleksi serangganya dibawa semua), bahkan dia pernah mengisi event di UI juga bersama para mahasiswa!

Isn’t that like a dream come true?

Anak belajar bukan karena disuruh, tapi karena memang dia suka. ❤

Beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan kalau mendengar anak yang homeschooling:

Anak HS kalau mau masuk perguruan tinggi bagaimana? Kan tidak ada ijasah?

Sebetulnya, homeschooling ini diakui secara hukum lho. Ada di dalam undang-undang. Hanya saja jumlah praktisi HS di sini belum sebanyak praktisi HS di luar Indonesia (di luar negeri ada jutaan keluarga praktisi HS, di Indonesia ‘masih’ ribuan).

Itulah kenapa ada ujian penyetaraan. Anak-anak bisa ikut ujian paket A (setara SD), B (setara SMP), dan C (setara SMA) untuk kemudian menggunakannya sebagai persyaratan masuk perguruan tinggi, baik negeri/swasta, dalam/luar negeri.

Dan ini bukan sekadar teori. Saya sudah menyaksikan anak-anak HS yang berhasil masuk universitas. Ada yang masuk UI, IKJ, bahkan universitas-universitas di luar negeri.

Lalu, sosialisasi anak HS bagaimana?

Justru, keuntungan HS adalah anak jadi bisa bergaul lintas-umur, tidak melulu dengan teman sebaya.

Mengutip paragraf di salah satu ebook Rumah Inspirasi:

“Dalam pandangan keluarga homeschooling, model sosialisasi vertikal (lintas-umur) adalah model yang paling alami di masyarakat. Sebab, masyarakat sesungguhnya tak pernah dikelompokkan berdasar umur. Keluarga, lingkungan, kantor, organisasi, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya semuanya terdiri atas orang-orang yg berbeda umur.”

“Dengan model sosialisasi lintas umur yang dijalani sehari-hari, keuntungan bagi anak-anak HS adalah mereka tak membutuhkan penyesuaian ketika bersosialisasi dan terjun ke masyarakat. Anak-anak HS relatif tak mengalami kesulitan dan tak membutuhkan proses penyesuaian untuk aktif di organisasi, lingkungan, atau tempat kerja karena lingkungan pergaulannya selama ini selalu lintas-umur.”

Ini bukan berarti anak-anak HS tidak bersosialisasi dengan teman sebaya. Sosialisasi dengan teman sebaya bisa dilakukan ketika anak mengikuti kursus-kursus, bimbel, klub, komunitas-komunitas yang diminati, dsb.

And yes.. insya Allah kami sudah mantap. Kami hanya perlu menguatkan mental, karena PASTI nanti kami akan mendapatkan banyak sekali tekanan, terutama dari keluarga besar.

But we believe that we will make it, just like many other homeschoolers did! 💪