Cara Saya dalam Membatasi Pemakaian Gadget dan Paparan Screen Time pada Alma

Hola, hola! It’s been awhile!

Duh, sebenernya aku punya banyak banget cerita buat ditulis di sini, tapi apa daya aku lagi sering banget mager, huhuhu.

But I certainly won’t be this time! Soalnya bisa dibilang, cerita yang akan aku tuliskan kali ini merupakan sebuah milestone yang akhirnya berhasil aku lewati setelah sekian lama. Apa itu?

Yaaa, keliatan lah yaaa dari judul. Pake sok suruh netijen nebak-nebak segala, ah. 🙄🤣

Jadi, buat yang belum tahu, sejak menikah sampai Alma umur dua setengah tahun, aku dan suami sama sekali nggak pasang TV demi biar perkembangan Alma bisa berlangsung secara optimal. Nah, sejak balik ke rumah di Cisauk ini, muncullah sebuah masalah: sinyal di rumah jelek banget! Biar aku dan suami bisa tetap waras, kita pun bergegas untuk pasang WiFi. Di kompleks perumahan kami, provider yang proses pemasangannya paling cepet adalah IndiHome. Jadilah kita pakai itu.

Nah, waktu liat-liat paket-paketnya, kita jadi pengen sekalian pasang TV kabel. Kebetulan waktu nikah dulu kita dapet kado TV dari temen-temen kantor suami, yaudah kan daripada mubazir. Lagipula, Alma juga udah lancar ngomongnya (MOLAIKKK MEMBELA DIRI 😂). Jebret, keesokan harinya, TV beserta WiFi pun sudah terpasang rapi di ruang tengah.

Di sinilah cobaan-cobaan (yang sebelumnya belum pernah terjadi) dimulai.

Sejak TV dipasang; aku, suami dan Alma punya tontonan favorit masing-masing. Yang jelas, entah kenapa kita nggak doyan nonton channel TV lokal. Bukannya sok iyes, tapi kita beneran udah pernah nyoba nonton salah satu acara TV di channel lokal dan kemudian kita langsung kapok, ogah nonton di situ lagi. Hartaku yang paling berharga, Alma, nggak akan aku biarkan nonton acara-acara tv yang mayoritas nggak berfaedah itu. 🙅

Terus? Kita nontonnya apa? Aku pribadi, cuma dua channel ini: NatGeo dan NatGeoWild. Kalo marathon nonton TV on demand NatGeo selesai, lanjut ke NatGeoWild. Gituuu terus persis orang main pingpong. Selain itu, kadang-kadang aku juga nonton film dan drama di iFlix kalo pas ada yang bagus (maklum, iFlix kan nggak sekeren Netflix, hiks).

Kalo suami, karena dia kerja berangkat pagi pulang malem, otomatis jadi jarang pake TV. Jadi ya kalo ada waktu pun, dia akan nonton apa yang aku tonton.

Nahhh, yang paling penting dibahas akhirnya datang juga. Kalo Alma nonton apa? Jawabannya ada tiga: Go Diego Go, Dora the Explorer dan channel nursery rhymes di YouTube (macem Cocomelon, Dave and Ava, LooLoo Kids, gitu-gitu deh). Iya, kita bisa nonton YouTube di TV.

Kebayang dong, apa yang akan terjadi kalo ada anak yang sebelumnya nggak pernah nonton TV tau-tau disodorin TV dengan konten yang super menarik? Yes, dia bakal nonton terus tanpa tau jeda waktu. Kalo nggak di-stop, ya nggak bakal berenti.

Dampak buruk apa yang paling aku rasa berat selama Alma aku izinin nonton TV? Alma jadi susah fokus dan gampang stres. Pas dibacain buku, Alma jadi nggak seantusias dulu (ini yang bikin aku paling sedih sih). Mau makan, minta sambil nonton (yang mana ini bikin sesi makan jadi super-duper lamaaaaa banget). Mau mandi, minta nego selesaiin satu episode Dora dulu. Kalo dilarang baik-baik, dia nangis bagai orang patah hati. Umiknya pun jadi sering kesel sendiri.

Udah tau ada masalah, aku nggak mungkin berdiam diri dong. Aku pun mencoba beberapa jalan keluar. Biar lebih singkat, aku ceritain tiga solusi yang paling sering aku pakai (tapi kemudian gagal), ya.

Pertama, batasin waktu nonton Alma pakai timer. Aku bilang ke Alma, “Dek, kalo hapenya Umik bunyi, berarti Alma nonton TV-nya selesai, ya.” Ta-daaa, fail. Setelah bunyi timer pecah, Alma merengek-rengek minta nonton lagi. Aku sebenernya bisa aja tetep tegas menolak, tapi aku merasa kalo aku melakukan itu, berarti aku ibu yang munafik. Aku aja masih suka nonton marathon TV series di NatGeo, masa Alma nggak boleh? Karena itulah, metode yang ini selalu berakhir gagal.

Kedua, aku coba lebih banyak ajakin Alma baca buku. Ini juga banyakan gagalnya. Kenapa? Pertama, karena selama buku masih bersaing sama TV, jelas TV-lah yang bakal menang. Mau segigih apapun aku ajak dia baca buku, ini nggak akan bisa membuat Alma lebih bertanggung jawab dengan durasi screen-time-nya. Ya gimana, masa benda yang dipakai sebagai pengganti nggak lebih menarik dari benda yang ingin diganti? Kedua, karena aku manusia biasa yang bisa lelah. Ngajakin anak yang lagi nggak fokus buat baca buku itu sama sekali nggak gampang, Sodara-Sodara! Butuh energi luar biasa besar biar aku bisa tetap stay calm tapi tetap tegas waktu mendampingi Alma di saat-saat seperti itu.

Ketiga, selain baca buku, aku mulai sering ajakin Alma main di luar. Nggak perlu jauh-jauh, cukup di sekitaran rumah aja. Dan seriusan, di antara dua cara sebelumnya, cara inilah yang menurutku agak terasa efeknya. Mungkin karena balita itu energinya besar ya, jadi butuh rutin disalurkan melalui aktivitas-aktivitas fisik. Cumaaa, tetep aja, cara ini juga belum bisa 100% menyelesaikan masalah.

Di tengah kegundahan ini, hari Sabtu tanggal 24 November kemarin, aku ikut workshop pendidikan karakter “Habit of Obedience and the Way of Will” yang dipimpin langsung oleh Mba Ellen Kristi, pendiri Charlotte Mason Indonesia. Iya, aku lagi serius mendalami filosofi pendidikan Charlotte Mason (CM). Sejak baca buku Cinta yang Berpikir, aku langsung jatuh cinta sama CM. 😍 Beneran jadi aha-moment-ku, “THIS is what I have been looking for!

Ada banyak banget pencerahan-pencerahan baru yang aku dapetin dari workshop, salah satunya yang paling lekat menempel di kepalaku adalah bahwa orang tua yang selama ini berperan sebagai pemegang otoritas di rumah, ternyata ‘hanyalah’ perpanjangan tangan dari otoritas-otoritas yang jauh lebih tinggi. (Si)apa saja otoritas-otoritas yang lebih tinggi itu? Diantaranya Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma.

Dengan prinsip ini, batasan-batasan orang tua dalam mengasuh anak menjadi jelas: orang tua tidak akan menjadi permisif, tidak juga otoriter, karena kita sudah punya acuan yang ajeg (berupa aturan-aturan dari Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma itu tadi). Jika apa yang dilakukan anak sudah sesuai dengan acuan, ya alhamdulillah. Sebaliknya, jika anak berperilaku tidak sesuai acuan, ya kita wajib meluruskan (dengan cara-cara yang sesuai, tentunya).

Sekarang kita udah tahu (si)apa aja otoritas-otoritas yang lebih tinggi dari kita yang patut kita jadikan sebagai acuan dalam membuat aturan-aturan di rumah. Nah, tugas kita (sebagai orang tua) adalah merumuskan aturan-aturan dan menegakkan aturan-aturan yang sudah dirumuskan tersebut. Kuncinya, orang tua harus mampu membedakan mana saja hal-hal prinsip dan tidak prinsip yang biasa terjadi di rumah, dan ini bisa beda-beda untuk setiap keluarga.

Misalnya, ada keluarga yang menganggap mandi itu sebagai hal prinsip, ada juga yang enggak. Karena perbedaan ini, perlakuan yang diberikan ke anak yang nggak mau mandi akan jadi berbeda di dua keluarga ini. Di keluarga yang pertama, karena mandi itu prinsip, ya anak harus mandi. Anak nangis-nangis bin tantrum? Ya kita validasi dulu emosinya, sambil tetap si anak kita angkat ke kamar mandi. Kalau yang menganggap mandi tidak prinsip? Yaudah, nggak ada masalah kalau anak nggak mau mandi.

Oiya, perlu diingat, aturan-aturan yang dibuat ini wajib dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga, tanpa kecuali. Pinter-pinter orang tua aja bikin aturan biar bisa tepat sasaran tanpa merugikan sebagian anggota keluarga.

Nah, dari sinilah aku mulai tersadar dan menemukan missing link yang selama ini aku cari-cari. Kenapa aku selalu gagal menerapkan solusi atas permasalahanku terkait screen-time Alma? Ya karena aku belum merumuskan aturan yang jelas dan kalaupun aturan sudah kubuat, aku hanya menerapkannya untuk Alma! I was too cowardly to willingly do the exact same thing as her!

Sepulang dari workshop, aku langsung tahu aturan seperti apa yang harus kami terapkan di rumah terkait screen-time ini. Aturannya pun sangat sederhana.

Dalam sehari, setiap orang di rumah ini hanya memiliki SATU sesi menonton TV, tidak lebih dan tidak kurang.

Udah. Itu aja.

Untuk Alma, satu sesi ini berarti satu episode Dora atau Diego. Kalau yang ditonton ada di YouTube, berarti durasinya hanya 30 menit, sama seperti durasi satu episode Dora dan Diego.

Untuk aku dan suami, satu sesi ini berarti satu episode acara TV di NatGeo atau NatGeoWild atau iFlix.

Asal dikomunikasikan dengan baik dan diterapkan dengan konsisten, besar kemungkinan aturan ini akan berjalan dengan sukses. Alhamdulillah, itulah yang terjadi selama tiga hari ini. Amazingly, Alma patuh tanpa ada penolakan yang berarti! No wonder, karena dia juga melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya juga konsisten mematuhi aturan ini.

Herannya, aku juga nggak sedikitpun merasakan kehilangan, lho! Biasa aja gitu. Kirain aku bakalan yang, “Yah, padahal aku pengen banget nih nonton Primal Survivor, tapi nggak bisa, huhuhu.” Ternyata enggak.

It was truly our victory together!

Ya mungkin tanpa kita sadari, otak kita juga merasa lebih nyaman begini ya. Lebih damai aja gitu rasanya. Apalagi sekarang kita rutin main outdoor, jadi sering kena sinar matahari pagi dan liat yang ijo-ijo (secara harfiah, yaa 🤣). Our mind has been much more peaceful ever since.

P.S.: Kalo hape gimana? Fortunately, we have sorted this out as well. Alma boleh pakai hape, tapi hanya untuk lihat bagian foto-foto dan video aja. Aku juga boleh pakai hape; tapi cuma buat pakai kamera dan ngetik aja. 😆

15 Tahun Sokola dan Tawa Alma yang Menggema

 

Sokola Rimba, yang baru saja diubah namanya menjadi Sokola Institute, didirikan oleh Butet Manurung sejak tahun 2003 pertama kali di pedalaman hutan Jambi. Selama 15 tahun terakhir, Sokola Institute telah memberikan pendidikan alternatif kepada sekitar 10 ribu orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Jambi Aceh, Pariaman, Cianjur, Dukuh, Klaten, Merapi, Bantul, Makassar, Sumbercandi Jember, Wailaso, Bulukumba, Halmera, Asmat dan Sumba (gatra.com).

Nah, tanggal 20 September kemarin, aku dapet info dari temen komunitas bahwa Sokola Institute bakal bikin perayaan #15TahunSokola.

Kalian liat kan bakal ada siapa aja di #15TahunSokola? Oh man, ini sih aku wajib ikut! Hahaha. Apalagi acaranya selesai sekitar jam 6 sore, bisa langsung dijemput pak suami.

Lompat ke hari-H, aku udah siap-siap dari pagi, bawa bekal segala macem biar Alma nggak cranky. Aku sempet kuatir sih, Alma bisa anteng nggak ya di Goethehaus nanti? Tanggal 23 September kemarin Alma beranjak tiga tahun dan kita belum pernah sekalipun ngajakin dia ke bioskop. Alasannya apalagi kalau bukan karena takut dia bikin kerusuhan dan bikin pengunjung lain nggak nyaman. 🙁

But in the end, I still decided to go. Misal nanti dia beneran cranky, aku tinggal angkat kaki aja kan~

Kita nyampe Goethe Institut sekitar jam setengah tigaan dan ternyata registrasi baru dibuka setengah jam kemudian. Lumayan, jadi bisa ngajakin Alma liat-liat foto yang dipajang di sepanjang lorong masuk.

Larva kumbang sagu FTW.

Setelah puas baca-baca dan foto-foto, kita makan sebentar. Jam tiga kita registrasi. Kalo liat daftar namanya, ternyata banyak juga homeschooler yang hadir, cuma aku nggak kenal (krik). Di meja registrasi, kita bisa dapetin souvenir dengan memberikan donasi seikhlasnya. Karena souvenirnya gelang lucuk yang mana Alma pasti suka, akhirnya kita ambil satu (setelah sebelumnya Alma masukin uang donasi ke kotak yang mirip kaleng kerupuk mini 😆).

Kawaii desu ne!

Karena udah mulai banyak yang antre di depan pintu ruang pertunjukan, akhirnya kita ikutan melipir ke situ. Lumayan, dapet spot sebelah pintu persis. Setelah menunggu beberapa lama, pintu pun dibuka! Wahhh, it was quite chaotic. 😂 Alhamdulillah, aku sama Alma dapet duduk di depan dan paling pinggir (sesuai sama ekspektasiku, biar kalo Alma bosen bisa turun dan mondar-mandir di tangga tanpa ganggu yang lain).

Acara yang dipandu sama Vena Annisa ini berjalan dengan sukses. Ada belasan wajah familiar yang tampil sebagai narator. Narator-narator ini bergantian membacakan narasi tentang kehidupan anak rimba (yang luar biasa dan jarang orang tahu) sambil diiringi petikan gitar akustik. Sungguh syahdu sekali!

Narator favoritku: Maudy Koesnaedi dan Handry Satriago. Indikatornya, waktu mereka baca narasi, Alma serius banget menghayati dari awal sampe akhir. 😍

Selain pembacaan narasi, ada juga penampilan dari Tulus dan Ananda Sukarlan. Tulus nyanyi, Ananda Sukarlan menampilkan Rapsodia Nusantara No. 14.

Nah, Rapsodia Nusantara ini kan suka ada jeda-jeda gitu kan yah di tengah-tengah. Di salah satu jeda, Alma ketawa kenceng banget! Seisi ruang pertunjukan sampe ketawa dan ngeliat ke arah Alma duduk. Ananda Sukarlan juga keliatan kaget-kaget-geli gitu (maaf ya om 🤣). Yang bikin epic karena timing-nya pas banget. Mana nuansa musiknya cheerful-cheerful gimana gitu kan, jadi lucu aja tiba-tiba ada suara anak kecil ketawa. 😆 Suara Alma ketawa bisa ditonton di video di bawah ini.

It was definitely an unforgettable moment. Waktu kita pulang pun ada beberapa orang yang liat Alma dan bilang, “Eh, kamu yang ketawa tadi ya? Pas banget loh timing-nya, hahaha!”

Well, selain ketawanya Alma, ada satu hal lain yang paling aku inget dari seluruh rangkaian acara, yaitu waktu Handry Satriago memberikan sambutan di akhir acara. Ada beberapa kalimat yang buatku sangat relatable.

Kenapa saya terlibat di sini? Menurut saya simpel sekali. Ini adalah keberagaman. Keberagaman adalah manusia. (Yang) saya sering nggak mengerti (dari) orang perusahaan itu: (tendensi untuk) menyeragamkan semuanya. Itu membuat kita menjadi tidak manusiawi. Sebuah proses keberagaman pendidikan adalah hal yang manusiawi.

Pengendum tidak perlu menjadi manusia modern, orang-orang di rimba tidak perlu menjadi manusia modern. Mereka telah hidup dengan cara mereka selama beratus tahun, dan nyatanya mereka baik-baik saja.

P.S.: Pengendum Tampung adalah salah seorang dari Suku Anak Dalam yang juga merupakan murid ‘senior’ Sokola Rimba.

Ya, sebagai seorang praktisi homeschooling yang notabene kaum minoritas, I really get the idea of what he’s been talking about. Menyitir Charlotte Mason, pendidikan itu bukanlah sistem, pendidikan itu metode. Tidak masuk ke dalam sistem sekolah yang sudah ada bertahun-tahun, bukan berarti seseorang menjadi tidak terdidik.

Kemudian baper, eaaa. 😂

Anywayss, buat yang nggak bisa dateng ke event 15 Tahun Sokola ini, kalian bisa lihat video-videonya di playlist-ku yaa (klik ikon di pojok kiri atas).

Mohon abaikan suara-suara balita yang suka tiba-tiba muncul. Abaikan juga kalau tiba-tiba penampakan video jadi random atau berputar 180 derajat. Yang penting audionya jelas, ya toh? #mencaripembenaran 🤣

Kayaknya itu aja sih. Sekian liputan random dari emaknya Alma. Thank you for reading and see you next post!

Yang Saya Rasakan Setelah Perkuliahan Level 1 Bunda Sayang Usai

Sejak sebelum memiliki anak, saya dikenal sebagai orang yang ‘mudah bergaul’ dengan anak kecil. Anak kecil biasanya suka berinteraksi dengan saya. Entah kenapa ini bisa terjadi, tapi saya punya satu teori: karena saya ini sangat child-like. Bukan childish ya, tapi child-like. Dua istilah ini memiliki dua arti yang sangat berbeda (walau kadang saya bisa childish juga sih, sering malah, hahaha 😢).

Childish merupakan kata sifat yang lebih mengarah pada sifat kekanak-kanakan, tidak dewasa dan konyol. Jika dipakai untuk orang dewasa maka kata ini mengandung arti negatif yang tidak seharusnya orang dewasa bersikap seperti itu.

Sedangkan child-like mempunyai arti memiliki sifat atau sikap yang baik seperti anak-anak, seperti kepolosannya dan kejujurannya, atau bisa juga perilakunya secara fisik. Jika child-like ditujukan untuk orang dewasa berarti mempunyai arti positif untuk orang tersebut.

Mungkin karena saya anak bungsu, saya jadi agak kekanak-kanakan. Saya bisa berbicara dan membuat ekspresi wajah yang exaggerated sehingga membuat anak-anak tertarik (misal ekspresi kaget, bingung, senang dll). Saya juga suka memanjat, melompat dan berputar-putar. Saya suka mengisengi anak kecil. Terkadang, saya juga bisa memahami pola pikir anak-anak yang tentunya sangat berbeda dengan orang dewasa.

Dulu, saya pikir jika saya memiliki anak, pasti tidak akan terlalu susah. Toh anak orang biasanya suka sama saya, apalagi anak sendiri.

Ternyata itu semua tidak terbukti benar. 😂

Saya baru menyadari, mengapa interaksi-interaksi saya dengan anak kecil dulu terasa smooth adalah karena saya berinteraksi dengan mereka hanya dalam sekali waktu dan dalam rentang waktu yang relatif tidak lama (tidak sampai seharian misalnya). Saya belum pernah merasakan hidup berdampingan dengan anak kecil selama 24 jam dalam sehari secara terus-menerus.

Saat memiliki anak betulan, semua berbeda 180 derajat. Tekanan sebagai orang tua itu bagi saya, no joke. Baru juga melahirkan, anak masih bayi, Emaknya sudah kena baby blues. Anak sudah makin besar, sudah mulai masuk usia toddler, berarti tantangan baru lagi. Ingin rasanya bisa selalu berwajah senang, tenang dan ceria sepanjang hari di depan anak, tapi saya paham betul bahwa saya tidak bisa mencoba menjadi sempurna setiap saat. Trying to be perfect every single time will kill you, sooner or later.

Ya, saya masih memiliki komponen ‘child-like’ yang saya sebutkan di awal tadi. Komponen ini juga masih sering membantu saya saat sedang membersamai anak. Sayangnya, komponen ini hanyalah komponen kecil. Ibarat mesin cuci, ini cuma bagian tutupnya saja.

Saya beruntung saya hidup di era di mana informasi bisa didapatkan dengan mudah, termasuk informasi mengenai ilmu parenting dan psikologi anak. Saya terus membaca dan saya terus belajar (terutama tentang teori positive parenting). Salah satu bagian dalam positive parenting yang paling bermanfaat bagi saya: bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan anak. Sejak Alma mulai bisa diajak berkomunikasi dua arah, saya senantiasa berusaha untuk menerapkan ini.

Gong dari (yang saya sebut) komunikasi efektif yang sudah lebih dulu saya pelajari adalah ketika saya menerima materi Bunsay Level Pertama: Komunikasi Produktif. Melihat materi yang disusun dengan begitu rapi, saya langsung merasa excited. Seolah-olah ini adalah summary dari apa yang sudah saya pelajari sebelum-sebelum ini.

Untuk tantangan level satu ini, saya tidak merasa terbebani sama sekali karena ya, memang inilah yang sejak dulu saya usahakan untuk lakukan setiap hari. Overall, tantangan level satu ini berjalan dengan sangat alami. Bedanya, saya harus mendokumentasikannya dengan rutin selama 10-15 hari, itu saja.

Sesungguhnya, tantangan yang sebenar-benarnya itu bukanlah saat saya harus menyetor narasi, melainkan saat saya harus menghadapi diri sendiri di titik-titik terendah saya (misalnya saat sedang ada masalah, saat kondisi mental saya memburuk, dsb). Jadi menurut saya, ini bukan hanya tantangan 10 hari. Ini adalah tantangan seumur hidup selama saya berstatus sebagai orang tua.

Yang saya sukai dari program Bunsay ini adalah, program Bunsay membuat kita menganggap serius peran kita sebagai orang tua, that we must take parenting very, very seriously. Bisa melahirkan anak, belum tentu bisa menjadi orang tua yang baik. Program Bunsay, melalui materi dan tantangannya, menjadi sebuah alarm/wake-up-call: wahai para (Ayah dan) Ibu, ilmu parenting bukan hanya untuk dipelajari, tapi juga harus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh!

Itulah kenapa saya lebih suka mem-posting tantangan 10 hari saya di media sosial. Saya sangat berharap, orang lain yang membaca tulisan saya jadi bisa ikut kecipratan ilmu-ilmu yang saya dapat dari perkuliahan Bunda Sayang. Inti dari semua ini apa sih? Menurut saya jawabannya adalah perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Jadi saya sudah berkomitmen untuk menjalani perkuliahan ini bukan hanya untuk saya dan suami, tapi juga untuk para orang tua lain di luar sana.

Sumber: https://www.kampunginggris.id/penggunaan-childish-childlike/amp/

Balada Memilih Metode Homeschooling

Sejak pertama kali mengenal homeschooling satu setengah tahun yang lalu, saya sudah lumayan banyak terpapar berbagai macam metode dalam homeschooling; mulai dari metode Montessori, Charlotte Mason, Waldorf, klasik, eklektik, unschooling dan seterusnya.

Setelah melepaskan mindset hasil produk sekolahan, saya bagaikan burung yang dilepas dari sangkar. Saya mulai banyak membaca referensi terkait homeschooling dan pendidikan/psikologi anak usia dini, mengikuti webinar homeschooling, berjejaring di grup-grup homeschooling di Telegram dan Whatsapp, mengikuti kulwap-kulwap dan seminar-seminar offline, sampai akhirnya saya bergabung di salah satu komunitas HS yang rutin melakukan kegiatan setiap minggunya.

Dari situ, saya jadi bisa melihat langsung teman-teman yang menerapkan bermacam-macam metode HS, tidak cuma dari tulisan. Ada tiga metode yang saya lihat paling banyak dipakai: metode Charlotte Mason, Montessori, eklektik dan unschooling.

Keempat metode ini sama-sama baik, baik sekali malah. Namun saya tidak ingin grasa-grusu menerapkan metode-metode ini hanya karena mereka baik. Saya bisa saja langsung menerapkan metode-metode ini di rumah karena toh, materi-materi dan contoh-contoh penerapannya banyak bertebaran di internet. Alat-alat dan buku-buku yang dianjurkan oleh metode-metode ini pun bisa didapatkan dengan mudah. Namun, saya selalu merasa ada yang mengganjal. Saya tidak ingin mengaplikasikan sesuatu yang saya tidak tahu persis seluk-beluknya, cuma sekadar tahu permukaannya. Saya ingin mempelajari sejarah dan filosofi di balik tiap-tiap metode tersebut. Ibarat mencari pasangan hidup, penampilan fisik saja tidak cukup. Saya harus mengetahui betul pola pikir dan kepribadian calon pasangan hidup saya. Saya juga ingin tahu keterkaitan antarmetode, apa yang membuat mereka sama dan apa yang membuat mereka berbeda satu sama lain.

Sayangnya, saya agak telat mencari tahu. Saya sekarang sudah menjadi IRT yang memiliki balita. Hasrat saya untuk membaca buku dibatasi dengan kenyataan: saya tidak punya waktu sebanyak yang saya inginkan untuk membaca buku, tidak seperti waktu masih single dulu. Saya baru punya satu ebook The Montessori Method yang ditulis oleh Maria Montessori sendiri dan untuk bisa membaca buku ini dengan tenang pun rasanya masih sulit mencari celah waktunya. Sejauh ini, saya baru selesai membaca bagian Introduction-nya saja 🙈 (tapi jangan salah, meskipun baru bagian Introduction, isinya sudah penuh dengan pencerahan).

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya dicolek oleh seorang teman di Facebook, memberi tahu postingan Mba Arum yang menawarkan kesempatan untuk belajar tentang filosofi CM secara rutin dan offline (thanks, Mba Brit!). Salah satu syarat untuk bergabung adalah saya harus terlebih dulu membaca buku Cinta yang Berpikir (CyB). Sejujurnya, itu pertama kalinya saya mengetahui tentang buku CyB. Karena saya belum punya tapi tidak sabaran ingin segera membaca, saya pun meminjam buku CyB teman saya ini (sambil memesan buku CyB di Shopee juga) dan alhamdulillah boleh. 🤭

Lembar demi lembar buku CyB ini saya baca dan hayati betul. Sebelumnya saya hanya tahu sepintas saja tentang metode CM, salah satunya tentang living books. Setelah membaca sepuluh bab pertama (bagian I), saya jadi tergoda untuk membaca bagian III terlebih dulu sebelum membaca bagian II (untungnya kata Mba Ellen Kristi, selain bagian I, membaca bab-bab lainnya boleh melompat-lompat).

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menumpuk di kepala sedikit demi sedikit menemukan jawaban yang tepat sasaran. Mba Ellen bertutur melalui tulisan dengan sangat menarik, jelas dan runtut. Rasanya sungguh melegakan sekali, bagaikan bertemu mata air di tengah padang pasir.

Perbedaan-perbedaan mendasar di antara metode-metode pendidikan yang disebutkan di bagian III tak menyurutkan saya untuk tetap merasa kagum dengan tokoh-tokoh pencetusnya yang begitu visioner. Bagaimana teori-teori yang mereka kemukakan di awal abad ke-20 bisa sangat sesuai dengan teori-teori psikologi/pendidikan anak di abad ke-21 ini (terutama teori-teori Charlotte Mason) padahal mereka hidup di era yang penuh keterbatasan? Saya masih terkagum-kagum sendiri kalau mengingat ini.

Setelah menimbang-nimbang lagi, saya memutuskan untuk memakai metode eklektik (campuran, sesuai kebutuhan anak). Saya akan tetap menerapkan beberapa prinsip Montessorian untuk memperkaya aktivitas jasmani anak saya (meskipun tidak saklek-saklek amat, saya sesuaikan dengan situasi dan kebutuhan anak, seringkali terjadi secara spontan). Perihal proporsi otoritas orang tua dalam mendidik anak dan juga pemberian asupan yang penuh nutrisi bagi jiwa dan pikiran anak, tidak ada yang bisa menandingi cara-cara Charlotte Mason (menurut saya). Jadi, saya akan sangat senang jika saya punya kesempatan untuk mempelajari model pendidikan kedua tokoh ini jauh lebih dalam lagi. Khusus metode CM, sejak dulu saya merasa saya pasti akan memiliki banyak kecocokan dengan metode ini. Saya dan suami suka membaca. Sejak Alma bayi, saya selalu membacakan buku cerita untuknya setiap hari. Qadarullah, Alma ternyata anak yang sangat suka bercerita, she’s been always a chatterbox. Apapun yang dia lihat, dia akan dengan senang hati bercerita tentangnya.

Saya selalu merasa beruntung karena bisa menerapkan homeschooling. Karena homeschooling juga, saya jadi bisa mengenal banyak orang-orang hebat yang menginspirasi.

I’ve been always a curious person, and now that I’ve decided to be a homeschooler, I have many more reasons to feed this curiousity~ 😆

Mengobati Inner Child dengan Self-healing (yang Ternyata Tidak Semudah Itu)

Aku nggak nyangka kalau ternyata Inner Child dan Self-healing jadi salah satu materi Pra-Bunsay. Di pertemuan kedua kemarin, ada cukup banyak teman yang berani speak-up mengenai inner child masing-masing.

Aku enggak. Aku takut setengah mati.

Yang membuatku serba salah adalah karena ternyata, materi ini ada tugasnya. Salah satunya adalah kami diminta untuk melakukan kilas balik ke masa anak-anak dan membuat list kejadian-kejadian negatif dan/atau positif yang masih membekas kuat sampai sekarang.

Seketika aku ngerasa kalo aku nggak bakal bisa ngerjain ini. Untungnya, tugas yang ini nggak perlu dipublikasikan. Kalau sampai bener-bener harus bikin list, mungkin aku bisa nulis sampai satu buku tulis penuh. Memori masa kecil dan remajaku juga didominasi kenangan buruk. Kenangan baik yang aku alami kebanyakan udah tergerus, yang aku ingat cuma tinggal sedikit.

Sebetulnya, melakukan kilas balik adalah sebuah langkah awal untuk self-healing. Tapi aku belum siap. Lagipula, aku pasti butuh pendamping buat ngelakuin ini, nggak bisa sendirian.

Untungnya, dua langkah self-healing selanjutnya masih doable: membuat jurnal syukur dan afirmasi positif atas diri sendiri. And here they are.

Jurnal Syukur

Aku bersyukur memiliki suami yang sabar dan pengertian. Aku bersyukur memiliki suami yang tidak banyak menuntut. Aku bersyukur memiliki suami yang berpikiran terbuka. Aku bersyukur karena telah menikahi seorang family man. Aku bersyukur kami diciptakan sebagai dua potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain.

Aku bersyukur telah dikaruniai seorang anak perempuan yang mendamaikan hati dan jiwa. Aku bersyukur memiliki anak perempuan penyejuk mata. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang peka dan pandai bercerita. Aku bersyukur memiliki anak perempuan yang mencintaiku tanpa syarat. Aku bertekad untuk terus menemani dan membesarkannya sebaik yang aku bisa.

Afirmasi Positif

Aku adalah seorang perempuan yang tangguh. Aku adalah istri dan ibu terbaik untuk suami dan anakku. Mereka berdua selalu bisa mengandalkanku dan aku pun selalu bisa mengandalkan mereka.

Seburuk apapun hariku, aku telah mengusahakan semampu yang aku bisa. Aku bisa membuat kesalahan dan itu tidak apa-apa. Aku adalah pembelajar sejati dan kesalahan adalah guru yang terbaik.

Aku sangat menyayangi keluarga kecilku. Keluarga kecilku juga sangat menyayangiku.

I will never be alone.

We will always have each other’s back and that’s the one that really matters.

Ibu Rumah Tangga Punya Kartu Nama? Why Not!

Judulnya langsung gitu banget ya, hahaha. Pasti pada bingung deh, emang kalo IRT bikin kartu nama, mau diisi apa? Emang ada gitu yang bisa dibanggain buat dicantumin di kartu nama?

Phew. Pertanyaan ini sesungguhnya butuh proses perenungan mendalam (tsahh) bagi sebagian wanita yang berstatus ‘ibu rumah tangga’ untuk membuat satu atau dua baris jawaban.

Aku pun pernah berada di situasi yang sama.

Sebelum menikah, aku sempat bekerja selama dua tahun di Pinnacle Learning Centre dari 2013-2015 sebagai Tutor. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini. Especially for a fresh graduate, my salary was more than enough, haha.

Aku menikah bulan Desember tahun 2014. Alma lahir bulan September tahun 2015. Saat Alma lahir, aku udah lebih dulu resign sebagai Tutor. Untuk sebagian orang, mungkin ini terlihat seperti keputusan yang tidak mudah. Aduh, sayang ya, padahal baru juga meniti karier, udah resign aja.

(((Meniti karier))) 😂

Well, believe it or not, it was a very easy decision for me. Kalau disuruh milih antara kerjaan atau anak, nggak pake mikir panjang juga aku pasti pilih anak dan ini ada alasannya.

Aku tipe orang yang perfeksionis parah, termasuk untuk urusan menjadi orangtua. Sejak dulu aku udah bertekad: kalo misal aku punya anak, aku bakal urus anakku sendiri. Cita-citaku cuma satu, aku pengen jadi stay-at-home mama. Kenapa? Kok bisa? Ada beberapa alasan pribadi yang aku nggak mau sebutin di sini karena cukup sensitif dan personal (aku nulis ini bukan buat dipake jadi bahan Moms War 😝). Yang jelas, keputusanku udah nggak bisa digoyahkan lagi. Aku sangat beruntung karena punya suami yang sangat mendukung cita-citaku ini.

Yang sebenarnya cukup mengganggu adalah justru, kalau dilihat dari kacamata sebagian orang, keputusan ini seolah-olah aku ambil dengan terpaksa. Seolah-olah yang aku lakukan ini adalah sebuah bentuk pengorbanan.

Seolah-olah menjadi ibu rumah tangga itu tidak sama terhormatnya dengan ibu yang bekerja.

Tapi fase itu udah terlewati sih. Sekarang aku udah nggak pernah lagi ambil pusing. Apalagi abis gabung ke komunitas Ibu Profesional (IP), perasaan sedih karena disalahpahami itu berangsur hilang. Aku bangga karena aku bisa berada di tengah-tengah para ibu yang memiliki pola pikir jauh di depan. Cuma di sini nih ibu bekerja dan ibu rumah tangga bisa berbaur jadi satu saling menguatkan alih-alih saling membandingkan satu sama lain. 🤗

Yang aku tangkap dari serangkaian materi/bacaan yang udah aku dapat selama ini, manusia itu, baik pria ataupun wanita, pada hakikatnya memiliki sebuah kebutuhan dasar yang sama: aktualisasi diri.

A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is to be ultimately happy. What a man can be, he must be. This need we may call: self-actualization. – Abraham Maslow

Disclaimer: man di sini dimaksudkan untuk seluruh umat manusia tanpa memandang gender.

Nah, berarti para ibu juga punya kebutuhan untuk berkarya alias beraktualisasi diri dong ya. Agar bisa mencapai ini, kita harus mulai berusaha mengenali diri sendiri: mulai dari kelebihan, kekurangan, keahlian, bakat, minat and finally do something about it. Aktualisasi diri nggak bakal tercapai kalau kita hanya duduk diam dan hanya berfokus pada rutinitas domestik.

Karena sesungguhnya, berkarya-menjaga amanah mendidik anak dapat berjalan seiringan, tidak ada yang perlu dikorbankan. – Ibu Septi Wulandani

Yang perlu digarisbawahi adalah kata ‘seiringan’ dan ‘tidak ada yang dikorbankan’. 😉 Yang IRT, urusan domestik bukan alasan untuk kita berhenti berkarya. Yang ibu bekerja di ranah publik juga sama, jangan mengambinghitamkan pekerjaan sehingga anak jadi dinomorduakan.

Aku sendiri gimana? Oh, aku bangga sekali bisa menjadi ibu rumah tangga karena aku sangat menikmati momen-momen saat aku belajar ilmu parenting. Aku juga sangat suka menulis. Melalui tulisan, aku jadi bisa membagikan pengetahuan dan pengalamanku sebagai ibu kepada dunia. Salah satu tempat menulis favoritku adalah blog dan aku berkomitmen untuk bisa rutin mem-posting tulisan-tulisan berkualitas di sini.

Oleh karena itu, kalau diminta untuk membuat kartu nama, aku bakal bikin kayak gini.

Selain itu, kalau ada orang yang minta aku buat memperkenalkan diri, aku bakal kasih narasi kayak gini.

Nah, kalo kamu gimana? Bikin juga yuk ah~

Show off your name cards and make yourself proud, Mothers! 😉

Montessori di Rumah – Bagian Empat – Konsekuensi Alami

Kalau belum baca, silakan ngintip tulisan bagian 1, 2 dan 3 di sini, di sini dan di sini.

Habis baca tentang konsep kebebasan, pasti pada bertanya-tanya deh, nggak apa-apa nih begini? Kalo nanti kebablasan gimana? Anak jadi nggak tahu aturan dong?

Dalam Montessori, kebebasan ini ternyata punya batasan (freedom within limits). Kalo kata Sony,

the freedom has to make sense.

Apapun yang dilakukan anak, anak harus bertanggung jawab atas diri sendiri (respect for oneself), orang lain (respect for others) dan lingkungan (respect for the environment). Jadi kalau aktivitas anak membahayakan diri sendiri, orang lain dan/atau lingkungan misalnya, ya harus dibatasi.

Jadi inget postingan viral lagi (oh well, ini gara-gara aku balik main Twitter lagi nih 😂). Udah pada tahu juga sih pasti. Itu lho, yang ibu bawa tiga anaknya naik KRL dan sayangnya perilaku anak-anaknya ini mengganggu penumpang KRL yang lain. Yang satu naik jendela, yang dua lainnya ngedeprok main di lantai kereta. Yang naik jendela kayanya masih balita, 4-5 tahunan; yang dua lainnya mungkin udah masuk SD (badannya lebih bongsor dari yang pertama soalnya).

Nah, udah keliatan ya kalo anak-anak ini melanggar kenyamanan penumpang lain. It’s an undeniable fact. Anak-anaknya nggak ada yang duduk, padahal di sebelah ibunya ada ruang kosong yang cukup lebar yang harusnya bisa diduduki penumpang lain. Ada dua anak yang main di lantai, ini juga jadi mengambil space penumpang lain, terutama penumpang berdiri. Orang jadi nggak bisa berdiri di situ.

Hey, don’t judge! Hmmm, bukannya nge-judge ya. Ini penting dibahas karena ada pelajaran yang bisa dipetik di sini. That’s why parents must learn parenting. Kalimat ‘namanya juga anak-anak’ nggak berlaku di sini. 

Di sisi lain, ada satu hal yang aku nggak setuju: yang posting foto viral itu nggak menyamarkan wajah si ibu dan anak-anaknya. IMHO, it was a good idea to post the photo so that people can learn, but we also need to mind others’ privacy. Ada loh kasus seorang ibu yang wajahnya muncul di foto yang kemudian viral dan ternyata Si Ibu ini lagi hamil. Entah karena stres/kepikiran/gimana, ibu ini akhirnya meninggal dunia. Sedih banget. 😭

Wait, kok jadi bahas yang viral-viral sih. 😂

Beklah. Tadi bahas apa? Oh, konsekuensi alami ya? Aku kutip definisinya dari sini ya.

Natural consequences simply means that outcomes will happen as a result of behavior that are not controlled.

Dan dari sini.

Montessori schools and homes use natural consequences because we don’t want children to behave well out of fear of punishment, we want them to do the right thing because they understand the impact of their actions.

Terakhir, aku mau bagiin tips dari Sony saat kita ingin menerapkan konsekuensi alami pada anak.

Misal, anak diberi sebuah kursi untuk duduk. Alih-alih duduk, anak malah memanjat kursi dan berdiri di atasnya. Apa yang bisa kita lakukan?

1. Kita bilang ke anak, “Turun, yukkk. Kalau Kakak/Adik berdiri begitu bisa jatuh.”

2. Kalau nggak mempan, kita tawarkan beberapa pilihan ke anak, mau turun sendiri atau dibantuin turun Ayah/Ibu?

3. Masih nggak mempan juga, jangan marah jangan gundah: langsung bantu anak turun, ambil kursinya, kasih tau kalau Ayah/Ibu ambil kursinya sekarang, besok Ayah/Ibu kembalikan lagi. Intinya, enyahkan kursi itu dari pandangan Si Anak. 😁

Kemudian anak pasti akan menurut.

JUST KIDDING! 👻 Kemungkinan besar anak bakal protes dooong, bahkan nangis guling-guling. 🙈 Ya nggak papa. Kalo kata Sony,

Don’t budge, its OK. Even if he’s taking the house down, you’re not going to listen to him. Tell him, “I understand you are very angry, it’s okay, you can cry. If you finish, you can come to mommy.”

Sometimes it can be real bad, but if they see that it doesn’t affect you, the tantrum will slowly go away.

Alhamdulillahh, selesai juga summary Specific Montessori Activities to Implemet at Home oleh Sunshine Teachers Training ini.

Cukup di sini dulu, sampai ketemu. Urusan domestik sudah menunggu. 😘

Bye!

Montessori di Rumah – Bagian Tiga – Konsep Kebebasan

Bagian pertama dan kedua bisa dilihat di sini dan di sini. Nah, setelah kemarin-kemarin bahas gimana caranya menyiapkan lingkungan rumah yang sesuai dengan kaidah Montessori (prepared environment), di bagian terakhir ini kita mulai bahas perlakuan seperti apa yang bisa kita terapkan kepada anak-anak kita. Ibarat PC, menyiapkan lingkungan rumah itu bagaikan menyiapkan hardware, sedangkan perlakuan pada anak ini adalah software-nya. Pertama, tentang konsep kebebasan (concept of freedom) dalam Montessori. Konsep kebebasan ini muncul dari sebuah gagasan bahwa sesungguhnya, anak-anak terlahir sebagai penjelajah yang mampu belajar dan melakukan banyak hal sendiri. Kalau kata Ustadz Harry Santosa, fitrahnya memang sudah begitu.
Kebebasan untuk Bergerak (Freedom to Move)
Ada enam jenis kebebasan dalam Montessori, dan ini yang pertama. Dalam Montessori, anak diberi kebebasan untuk bergerak di dalam ruangan, itulah kenapa decluttering sangat penting untuk dilakukan. Jadi, bagaimanapun aktifnya anak bergerak mengeksplor ruangan, mereka bisa tetap aman, atau paling tidak, minim risiko.
Kebebasan Waktu (Freedom of Time)
Nah, ini nih yang paling sering kita lupa kalo lagi main sama anak-anak. Dalam metode Montessori (dan aku percaya nggak cuma di Montessori aja), anak diperbolehkan buat menggunakan material yang mereka suka selama yang mereka mau. Kebebasan waktu juga bisa diartikan sebagai: dalam mempelajari satu hal yang baru, setiap anak memiliki pace-nya masing-masing. Ada yang cepat menguasai di satu topik belajar dan lebih lambat di topik yang lain, dan sebaliknya.
Just because you need more time to do something, it does not mean that you cannot do it.
Santai aja. Namanya manusia, pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Even a superhero has a weak point. Semua akan berjalan baik-baik saja selama kita punya kuncinya: SABAR.
Kebebasan untuk Memilih (Freedom of Choice)
Yang ini juga penting banget: anak diperbolehkan untuk memilih kegiatan mereka sendiri sesuai dengan urutan yang mereka sukai. Bayangin kita aja deh nih, yang orang dewasa. Ambil contoh aku sendiri. Lagi semangat-semangatnya belajar parenting, tau-tau disuruh belajar otomotif. Oh, dang. Ya bisa sih ya baca, tapi kan nggak dari hati. Belajar jadi kurang meaningful. Berasanya kayak, “What am I doing here reading nonsense??” 😂 Sebaliknya, mau disodorin belasan artikel parenting dalam sehari pun aku pasti hepi-hepi aja bacanya, ilmu jadi lebih gampang nempel di kepala karena aku suka.
Kebebasan untuk Mengulangi (Freedom to Repeat)
Ini udah pernah dibahas sepintas ya di bagian kedua. Daaan, lagi-lagi kata ini muncul: SABAR. Kalo anak lagi suka banget sama topik/kegiatan tertentu, anak pasti pengennya ngulang-ngulang terus sampe yang liat bosen. You know what, you might be bored looking at him doing the same thing over and over again, but he is obviously not. Just mind your own business, Parents! Let your child do what he likes as long as he’s learning something. Bahkan buat bayi, aktivitas sesederhana membuka tutup botol itu termasuk ‘belajar’ loh. Melatih motorik halus, daya konsentrasi dan sebagainya. For children, playing is learning~~ Dengan memberikan mereka waktu sebanyak yang mereka butuhkan, ada banyak manfaat yang bisa mereka terima. Tanpa diburu-buru, anak merasa dihargai dan biasanya, anak jadi lebih mudah menyerap ilmu. Anak juga jadi belajar memahami diri: anak jadi tahu kalau dia lebih mudah belajar lewat video, misalnya. Selain itu, anak juga bisa belajar untuk memecahkan masalah (problem solving).
Kebebasan untuk Membuat Kesalahan (Freedom to Make Mistakes)
Pada dasarnya, Montessori itu memfasilitasi anak untuk bisa self-correcting: memperbaiki sendiri kesalahan yang anak lakukan. Nah, gimana mau memperbaiki kesalahan kalau kesalahannya aja nggak ada? Dengan kata lain, anak nggak dibolehin membuat kesalahan? Definisi ‘tidak memperbolehkan anak untuk membuat kesalahan’ itu banyak, btw. Salah satunya: kita mudah marah setiap kali anak melakukan kesalahan. Misalnya nih, kita marah-marah setelah anak tanpa sengaja memecahkan piring. Padahal kita tahu kalo dia nggak sengaja, tapi kita tetep aja memutuskan buat marah-marah. Dampaknya ada dua: anak jadi takut gagal setiap akan melakukan sesuatu atau sebaliknya, jadi memberontak dengan beragam cara (dari yang awalnya nggak sengaja, jadi suka sengaja memecahkan barang-barang, misalnya). Efek jangka panjangnya: anak jadi minder atau sebaliknya, jadi rebellious. Naudzubillah, jangan sampe yaaa ini terjadi ke anak-anak kita. Saat anak melakukan kesalahan pun jangan buru-buru dibenerin. Misalnya anak lagi belajar penjumlahan. Anak salah menjumlahkan beberapa kali. Nah, jangan terburu-buru buat ngasih jawaban yang bener. Lebih baik, ajak anak mengulang lagi materi di esok hari sampai dia paham di mana letak kesalahannya. Kalau sudah begitu, insyaAllah anak bisa membetulkan kesalahannya sendiri. We call it discovery!
He who never made a mistake, never made a discovery. – Samuel Smiles
Kebebasan untuk Berkomunikasi (Freedom to Communicate)
Kalo kata Undang-Undang sih, kebebasan berekspresi. 😆 Intinya, jangan pernah mengalihkan pertanyaan anak, seremeh dan seaneh apapun pertanyaannya. Apresiasi juga saat anak memberikan tanggapan atas sesuatu. Jadi inget salah satu postingan viral. Ada ibu dan anak  (muslim) lagi nonton pertandingan Asian Games di TV di mana para atletnya pakai baju renang yang terbuka. Si Anak tanya, kenapa kok bajunya begitu? Alih-alih menjawab, ibunya malah buru-buru mengganti channel. Well. This can turn out really bad. Naudzubillah, anaknya jadi tanya ke orang lain dan malah disalahgunakan alias di-abuse. Amit-amit kan. Banyak lho kasus kaya gini di sekitar kita. Seremmm. 😭 Kalaupun ternyata kita nggak punya jawaban yang pas saat anak bertanya pun nggapapa loh, jujur aja. Bilang kalo Ayah/Ibu coba cari jawabannya dulu, nanti malam/besok pagi/dua jam lagi Adik/Kakak diberitahu. Even better, anak diajak sama-sama mencari tahu jawabannya kalau sekiranya memungkinkan. OK that’s all. Kalau mau lanjut ke bagian empat alias bagian terakhir, silakan klik di sini ya. See you there!