Alasan Mengikuti Program Bunda Sayang

Kalau ditanya, apa sih alasan terkuatku buat gabung di program Bunda Sayang? Maka dengan yakin aku akan sodorin foto di atas.

Iya, aku kepengen bisa liat pemandangan semacam itu, bahkan sampai aku tua nanti. Suami yang sabar dan pengertian, anak yang senantiasa menjadi penyejuk hati dan mewarnai hari-hari. Meskipun kami tidak sempurna dan tidak semua hal berjalan seperti yang diharapkan, kami tetap bahagia karena kami memiliki satu sama lain.

Kondisi seperti ini tentunya tidak ujug-ujug ada. Ada usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga agar kondisi ini bisa terwujud. Aku sendiri, sebagai istri dan ibu, masih perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Salah satu usaha yang aku lakukan adalah dengan mengikuti program Bunda Sayang ini.

Untuk yang belum tahu, program Bunda Sayang adalah salah satu dari lima program yang ada di Institut Ibu Profesional. Mengutip dari website Ibu Profesional, berikut deskripsinya.

Program Bunda Sayang adalah program pembelajaran yang  diikuti oleh para Ibu Profesional yang sudah lulus Matrikulasi. Kelas ini mengajak para ibu dan calon ibu untuk terus belajar bagaimana mendidik anak dengan mudah dan menyenangkan; disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai tantangan setiap bulannya.

Tidak seperti program Matrikulasi di mana materinya disampaikan setiap satu minggu sekali selama kurang lebih tiga bulan, program Bunda Sayang ini akan membutuhkan waktu hingga satu tahun ke depan. Jelas ya, dibutuhkan komitmen yang jauh lebih besar untuk menyelesaikan Kelas Bunda Sayang dibandingkan dengan Kelas Matrikulasi.

Tantangan di Kelas Bunda Sayang diberikan tiap satu bulan sekali, dipraktikkan minimal selama 10 hari, lebih dari itu lebih baik. Nah, biar nggak keteteran, aku akan berusaha untuk mengerjakan tantangan segera setelah mendapatkan materi. Procrastination is pure evil!

Waktu masih single suka seenak jidat nunda-nunda pekerjaan. But now, as a mother, I’ll be doomed if I keep doing so.

Moving on to the next point, kali ini aku mau bahas perihal adab dalam menuntut ilmu. Alhamdulillah, di IIP ini ada banyak sekali pencerahan. Salah satunya adalah fakta bahwa sesungguhnya, adab itu wajib didahulukan sebelum ilmu. Kalau mau menuntut ilmu, etika harus dikedepankan terlebih dulu.

COPAS DARI GRUP SEBELAH

Pasti udah banyak yang dapet yang model begini. Atau jangan-jangan malah pernah jadi pelaku? 😏 Ini adalah contoh ketika seseorang mengesampingkan adab saat menuntut ilmu. Terlalu fokus dengan isi dari ‘ilmu’ yang didapatkan dan ingin segera menyebarluaskan tanpa diinvestigasi dulu. Ini betulan atau cuma bualan? Apa yang akan terjadi kalau aku klik ‘share‘? Dan seterusnya.

Adab menuntut ilmu lainnya: sebelum menyebarluaskan, tidak ada ruginya meminta izin dulu ke orang yang menyampaikan ilmu kepada kita. Kalau diizinkan, baru tancap gas. Jangan lupa, saat menyebarluaskan, cantumkan juga sumber ilmunya.

It surely sounded easy, but reality can make us overlook things. It happened to me once and I learned my lesson, haha. Tapi itu juga karena salah paham sih. Intinya begini, hanya karena ada banyak orang lain yang menyebarkan hal yang ingin kamu sebarkan, sebagus apapun isinya, bukan berarti itu melegitimasi bahwa kamu berhak dan boleh ikut menyebarluaskan. Seribu orang yang melakukan sebuah kesalahan tidak akan membuat kesalahan itu menjadi benar.

Kamu boleh menyebarluaskan ilmu yang kamu dapatkan jika dan hanya jika si sumber ilmu mengizinkan kamu untuk menyebarluaskan.

Jangan ngeles: ‘tapi kan Si A nggak bilang kalo ini nggak boleh disebar’ atau‘aku nyebarin karena temen-temen sesama peserta banyak yang udah nyebarin duluan, jadi kirain emang boleh’.

Nope. Never ever do that. Justruuu, karena Si A nggak bilang itu, kita yang harus memastikan lagi tentang boleh/nggaknya. Sebagai penerima ilmu, kita harus bertanggung jawab atas hal terkecil sekalipun. Penting sekali buat berjaga-jaga.

Yak. Begitulah. Sepertinya ini udah cukup panjang yaa. Sebelum melebar ke mana-mana, aku akhiri aja sesi curhatku kali ini, muahaha. 🤐😆

First NHW, done! 💪

 

Montessori di Rumah – Bagian Dua – Aktivitas di Setiap Ruangan

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya.

Setelah selesai men-declutter seisi rumah, sekarang kita berlanjut ke detail aktivitas yang bisa kita persiapkan untuk anak di tiap-tiap ruangan di dalam rumah.

Catatan: apapun yang kita persiapkan dan lakukan (mulai dari aktivitas decluttering sampai dengan men-setting setiap ruangan di dalam rumah) harus diingat bahwa semua itu sejatinya meruncing pada satu tujuan pokok: to bring in a sense of independence for the child (agar anak bisa mandiri) and also to boost self-confidence (meningkatkan rasa percaya diri). Jadi kalau mau melakukan sesuatu untuk anak, ingat dua pedoman itu aja.

OK. Langsung cekidot ya.


Ruang Tidur

Untuk ruang tidur, yang paling perlu untuk ditekankan adalah bahwa sesuai fungsinya, ruang tidur dipergunakan hanya untuk tidur dan beristirahat. Oleh karena itu, sebisa mungkin ruangan ini bersih dari benda-benda yang bisa merusak fungsi ruang tidur dan yang bisa mendistraksi anak dari tujuan awal saat ia masuk ke ruangan ini, yaitu untuk tidur. Out of sight, out of mind.

Contoh benda yang bisa mendistraksi adalah mainan. Jangan pernah menaruh mainan di dalam kamar tidur. Saat ayah/ibu mengajak anak tidur dan anak melihat ada mainan di dekatnya, kemungkinan besar perhatiannya akan terpecah. Anak akan berpikir, kalau ayah/ibu menaruh mainan di sini, berarti aku boleh memakainya kapanpun aku berada di sini. Akibatnya, akan menjadi lebih sulit bagi orangtua untuk mengondisikan anak untuk bersiap-siap tidur. Kalau begini, yang lelah juga ujung-ujungnya orangtua kan?

Terkecuali bendanya diperlukan untuk bedtime routine (buku misalnya), itu boleh ya.

Oiya, untuk tempat tidurnya, akan lebih baik jika anak tidak memakai ranjang, cukup kasur/matrasnya saja. Tujuannya agar sejak bayi (terutama saat bayi mulai bisa merangkak), anak bisa dengan mandiri naik-turun tempat tidur dengan aman tanpa bantuan orang dewasa.

Selain itu, biasanya ruang tidur juga merangkap menjadi tempat anak berhias dan berganti baju. Terkait ini, sebaiknya anak disediakan cermin dan lemari rendah yang bisa dicapai anak. Di sini, kita bisa membiarkan anak memilih baju sendiri, mengajari anak cara memakai baju, menyisir rambut, dan lain sebagainya.

Overall, benda-benda yang ada di dalam ruang tidur sejatinya cukup tiga ini: kasur, lemari/rak baju dan cermin.

Kamar Mandi

Biarkan anak mandi dan buang air sendiri, kalaupun perlu bantuan, berikan seperlunya saja. Ini akan mudah dilakukan, asalkan orangtua membekali diri dengan stok sabar yang berlimpah.

Kalau anak dimandikan ayah/ibu, waktu yang diperlukan kira-kira 10 menit. Kalau anak mandi sendiri, sadarilah bahwa anak akan membutuhkan waktu lebih lama, bisa sampai 30 menit sendiri, dan ini tidak apa-apa. Once they enjoy the activity, they will surely master it sooner or later. Jika akhirnya anak bisa melakukannya sendiri, self-esteem anak nantinya akan terbangun dengan baik.

Patience, this has always been the hardest part, but it’s also the key to everything. Sabar adalah koentji. Yuk, tantang diri kita biar bisa senantiasa bersabar saat membersamai Si Kecil! 😉

Dapur dan Ruang Makan

Di ruangan ini, sebisa mungkin buatlah agar anak bisa mengakses sendiri peralatan dan bahan makanan yang mereka butuhkan (piring, gelas, sendok, dispenser air, masakan, roti, saos, kecap, dll) dan letakkan benda-benda berbahaya (kompor, pisau, dll) jauh dari jangkauan anak. Ini untuk meminimalisasi ucapan-ucapan berbentuk larangan, “Aduh, jangan pegang pisaunya! Kompornya jangan diputar-putar”, dan sejenisnya. Lagi-lagi, out of sight, out of mind. Kalau ada meja makan, pikirkan cara agar anak bisa naik ke kursinya sendiri, dan seterusnya.

Di dapur, anak juga bisa diajak memasak bersama. Cobakan dan berikan aktivitas yang sekiranya paling disukai anak. Alma misalnya, dia paling suka mengupas bawang putih. Berapapun bawang putih yang dia terima, dia pasti dengan semangat mengupas satu persatu.

Kalau anak belum pernah melakukan aktivitas tertentu, bagaimana caranya agar anak mau dilibatkan? Begini kata Sony.

This is the trick: you start it, the child will finish it. And at a point, they will be able to do it all by themselves since they’ve seen it for so many times.

Misalnya kita ingin agar anak bisa mengupas pisang sendiri. Beri contoh saat menarik kulit pisang dari atas ke bawah sekali atau dua kali, lalu biarkan anak mencoba sendiri sambil terus dimotivasi. Jangan cuma sekali, ajak anak mengupas pisang setiap ada kesempatan yang pas, insyaAllah hasilnya nanti bisa terlihat. Ini juga berlaku untuk aktivitas-aktivitas lain di dalam rumah: mandi, memakai sepatu, mengelap tumpahan air, memakai baju, meletakkan piring kotor ke wastafel, dan seterusnya.

Teras Rumah

Di sini, kita bisa mengajari anak untuk melepaskan kaos kaki dan sepatu sendiri. Biarkan anak mencoba meskipun memerlukan waktu lama. Jangan pernah memburu-buru atau menyuruh anak menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Let them take their time.

Anak juga suka sekali mengulang-ulang kegiatan yang mereka sukai. Asal tidak merugikan, biarkan saja. Itu salah satu cara mereka belajar. 😉

Ruang tengah

Di ruangan inilah biasanya anak-anak bermain. Kuncinya: gunakan apa yang ada. Kalau tidak memungkinkan, tidak perlu menambah rak baru untuk meletakkan buku, mainan dan material Montessori, apalagi kalau anak masih balita. FYI, di bawah satu tahun, 4-5 mainan/material dan 2-3 buku saja sudah lebih dari cukup kok.

Fokuslah hanya pada benda yang penting dan diperlukan. Semakin sedikit benda di dalam rumah, semakin mudah hidup kita. Kalau kita menyimpan terlalu banyak barang, rumah jadi gampang berantakan. Ujung-ujungnya, kita jadi sibuk beberes, jadi banyak waktu terbuang. Belum lagi kalau benda yang harus dibereskan ada banyak, kita cenderung lebih suka beberes sendiri agar cepat selesai, anak jadi tidak diikutsertakan, anak jadi tidak bisa belajar mandiri.


Done! Lumayan banyak juga yaa PR-nya. Yang penting harus tetep semangat dong~ Kalo kata Sony begini nih.

When you are setting up the environment, always remember that YOU are the mother. YOU are in charge. This is YOUR child. YOU have the AUTHORITY to do what your child likes and wants (as long as it’s positive). And please realize that even as a mother, you can go wrong, you make mistakes, because you love your child, you are learning and trying.

Jadi inget satu quote: the only true failure is when you stop trying. Bukan kesempurnaan yang membuat kita menjadi ayah/ibu yang baik, melainkan kegigihan kita untuk terus belajar.

That’s it for today! Masih ada satu postingan lanjutan lagi ya, abis itu selesai. Next, bahasannya tentang freedoms dalam Montessori dan natural consequences.

See you!

Task 5 Chukyuu – Konmari Habits – Kitchen Komono

Kategori kali ini masih masuk ke kategori Komono, tapi difokuskan ke printilan dan perkakas dapur aja. Untuk kebiasaan-kebiasaan di area dapur emang aku cukup strict ya, wajib dilakukan, soalnya aku selalu masak setiap hari (kecuali hari libur).

So without any more chit chat, berikut kebiasaan-kebiasaan di dapur yang sesuai dengan prinsip KonMari yang biasa aku lakukan  di rumah.

  1. Mengelap sisa minyak dan cairan lain di area kompor gas dan meja dapur setiap selesai memasak dan/atau bila diperlukan
  2. Mengumpulkan sampah sisa bahan masakan segera setelah selesai memasak dan/atau bila diperlukan
  3. Mencuci peralatan makan dan masak segera setelah selesai digunakan
  4. Memindahkan piring, gelas, dan lain-lain dari drainer ke rak dapur di siang atau sore hari
  5. Mengembalikan peralatan dan bahan dapur ke rumahnya masing-masing setelah selesai digunakan (kalau perlu dicuci terlebih dulu, maka kembali ke habit nomor tiga)
  6. Membersihkan kulkas sebulan sekali

Montessori di Rumah – Bagian Satu – Salah Kaprah dan Persiapan

Akhir bulan Juli kemarin, aku gabung di grup Facebook Montessori for Mommies yang dibuat oleh Sony Vasandani dari Sunshine Teachers Training. Kata Sony, ini grup terbuka, jadi feel free yaa kalo mau gabung.

Nah, tanggal 1 Agustus, Sony ngadain Facebook Live yang temanya Specific Montessori Activities to Implement at Home. Durasinya lumayan panjang, hampir satu setengah jam. Biar nggak bosen, isi dari live session ini aku buat jadi tiga bagian, dan postingan ini adalah bagian yang pertama.

First thing first, aku mau bahas motifku dulu, kenapa aku pengen ikut live session-nya. Alasan pertama: ya why not? Kenapa enggak? Ilmu itu investasi yang jangka waktunya limitless, bisa untuk selamanya. Apalagi ini free kann. 😝

Alasan kedua: ya karena aku suka banget sama metode Montessori. Tapiii aku selalu merasa overwhelmed tiap kali liat postingan para ibu hebat di Instagram (internet, generally) yang menampilkan kegiatan-kegiatan Montessori anaknya. Gelagapan di tengah banjir informasi.

For a beginner like me, seeing many of those posts was like looking at scattered puzzle pieces. Aktivitas X menarik banget, tapi tujuannya apa sih? Adakah hubungan antara aktivitas X dan Y? Adakah urutan-urutan tertentu? Apakah aktivitas/aturan XYZ ini wajib, atau boleh di-skip? Apa sih tujuan dasar kita ngelakuin aktivitas-aktivitas ini?

Kayak misalnya nih, akhir-akhir ini aku sering banget lihat temen-temen yang bikin Pojok Montessori alias area khusus untuk anak buat berkegiatan Montessori. Mainan-mainan dan material yang digunakan anak diletakkan di area ini. Jadi kalau mau belajar/beraktivitas Montessorial ya harus di situ, nggak boleh pindah-pindah. Tujuannya agar anak bisa mengenal konsep teritori dan belajar buat konsisten (CMIIW).

Ini bagus banget, but I couldn’t help thinking: kalau rumahnya kecil dan bener-bener nggak ada ruang lebih buat bikin Pojok Montessori gimana? Berarti nggak bisa aplikasiin Montessori di rumah?

Aku nggak kunjung dapet jawaban yang pasti… sampai akhirnya aku dengerin penjelasan Sony. Berikut kutipan lengkapnya.

When we’re implementing Montessori, it doesn’t have to be a place where you are setting up the shelves and everything, it’s the whole home environment.
Montessori at home means we’re taking the whole house. We are not using a corner of the house: this is your area, this is were you have to work, no. It cannot be like that. It has to be the whole house for the child.

Kemudian Sony mulai jelasin satu persatu kondisi ideal seperti apa yang bisa kita usahakan untuk tiap-tiap ruangan di dalam rumah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Montessori, mulai dari teras depan sampai ke toilet. And it all started to make more sense to me.

Aku juga mulai browsing lagi soal Pojok Montessori ini. Kira-kira apa ya yang bikin dua info ini bisa saling kontradiktif? Satunya bilang Pojok Montessori itu penting, satunya lagi bilang enggak.

Ternyata, nama lain dari Pojok Montessori ini adalah The Montessori Work Mat (selanjutnya disebut TMWM). TMWM ini memiliki ukuran ideal tertentu dan dari yang aku baca, TMWM ini biasanya disediakan oleh guru untuk murid-murid di dalam kelas. Kalo di kelas, pasti ada lebih dari tiga anak ya paling nggak. Nah, biar anak-anak nggak saling ‘ngerecokin’ satu sama lain, maka dibuatlah TMWM ini, biar anak tahu batas teritori masing-masing. Make sense  banget yaa.

Nah, I guess, peraturan semacam itu ternyata nggak saklek-saklek amat, nggak harus dilakuin, tergantung konteks. Kalau konteksnya Montessori di rumah, bukan di kelas, berarti udah beda lagi dong ya (again, CMIIW).

Kalau di rumah ada lebih dari satu anak gimana? Berarti bisa nih TMWM dipake? This question suddenly popped inside my head, hahaha. Beklah, kayanya aku harus tanya ke Sony dulu nih. 😆


Mulai dari sini, bahasannya fokus ke Montessori di Rumah yaa.

Ada dua hal yang harus dilakukan sebelum kita, para orangtua, mulai mengaplikasikan Montessori di rumah.

1. Declutter

Siapa yang tahu seni berbenah KonMari? Ini persisss kaya gitu. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan rumah (setting up the environment). Rumah seperti apa yang ideal untuk anak? Jawabannya kira-kira: rumah yang aman di mana anak bisa bebas bergerak dan menjelajah rumah serta bebas mengakses benda-benda yang mereka perlukan secara mandiri, plus, yang tidak mendistraksi anak.

Sebagai orangtua, apalagi orangtua newbie, bawaannya pasti pengen beliin banyak hal buat anak. Baju, mainan, perlengkapan gears, boneka dan lain sebagainya. Sayangnya, anak di bawah 6 tahun nggak memerlukan benda sebanyak itu. Buku? Dua aja cukup, maksimal tiga. Boneka? Palingan yang suka emaknya aja ini sih. Mainan? Ehm, anak biasanya lebih tertarik sama kardus pembungkusnya sih, haha.

Nah, kalo barang-barang itu udah numpuk, yang ada malah tercipta distraksi-distraksi yang tidak perlu bagi Si Anak. Menstimulasi perkembangan anak enggak, bikin anak nggak konsen iya.

Ini juga berlaku buat apparatus Montessori ya. Percuma beli apparatus mahal-mahal kalo nggak tahu gimana cara pengaplikasian yang bener, apalagi kalo ujung-ujungnya cuma dipajang di rak.

Detil tentang bagaimana menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori aku tulis di postingan selanjutnya ya.

Why declutter? Too much things can be very distracting. The less things you have in the house, the better it is for you and your child.

We love our children so much we want to give them everything. The best thing we can do is that we are learning how to do better and to give them our time: without any technology. – Sony Vasandani

2. Observe

Sebagai orangtua, kita harus mulai belajar mengamati anak. Anak kita lagi tertarik sama apa? Kebiasaannya terkait ini dan ini kaya gimana? Materi/aktivitas yang dia udah dan belum bisa apa aja?

Gunanya buat apa? Agar kita tahu apa yang dibutuhkan dan disukai anak (nggak cuma asal nyodorin aktivitas pilihan kita, orangtuanya, padahal anak belum tentu tertarik/suka) dan biar kita tahu cara-cara seperti apa yang bisa membuat anak belajar dengan nyaman dan optimal.

Misalnya, Si Bocil lagi suka coba-coba pake sepatu sendiri. Kita amatin, oh, ternyata dia udah bisa pake sepatu model slip on sendiri. Berarti kita bisa mulai kenalin ke sepatu yang pake velcro. Gimana biar Si Bocil ngerti cara pakenya? Oh, dicontohin. Gimana caranya biar anak cepet nangkep? Oh, waktu ngasih contoh, anaknya dipangku, biar anak bisa ngeliat dari sudut yang sebenarnya kaya waktu dia lagi make sepatu. Udah bisa lepas-pasang velcro? Coba dikasih sepatu bertali. Dan seterusnya.


That’s it. Di dua postingan selanjutnya, aku bakal nulis detil tentang proses menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori dan juga tentang natural consequences and freedom in Montessori ya (berdasarkan materi yang disampaikan Sony).

See you all! Hopefully very soon~

Task 4 Chukyuu – Konmari Habits – General Komono

Berikut adalah benda-benda subkategori general komono beserta penjelasannya.

CD/DVD

Di rumah, kami tidak menyimpan CD ataupun DVD. Jadi ini saya skip ya.

Persediaan ATK

Sebagian besar ATK disimpan di nakas di dalam kamar. Kami konsisten mengembalikan alat tulis ke ‘rumah’-nya setelah digunakan, jadi sejauh ini aman.

Electrical komono

Laptop, hard disk, dan salah satu dari dua handsfree selalu dibawa suami ke mana-mana. Laptop saya sedang error jadi masih disimpan di dalam lemari. Sisanya: power bank, flash diskhandsfree, dan lain-lain selalu berada di dalam kotak di nakas.

Skin care, alat kosmetik dan grooming

Saya sempat mencoba-coba berbagai produk skin care (dengan banyak step itu) dan kosmetik. Hasilnya, sebagai manusia antiribet, ternyata saya hanya rajin menggunakan produk-produk ini: St. Ives Fresh Skin Apricot Scrub, SilkyGirl BB Cushion, Colourpop Lippie Stix Brink-Lumiere-Bichette, Bourjois Rouge Edition Velvet Beau Brun dan Nature Republic Aloe Vera Soothing Gel. Produk yang paling pertama disebut selalu diletakkan di kamar mandi, produk yang paling terakhir disebut selalu disimpan di nakas (bersama parfum, deodoran, sisir dan teman-temannya), sedangkan sisanya selalu saya bawa ke mana-mana (jadi saya letakkan di dalam cosmetic pouch).

Obat-obatan

Sudah ada rumahnya, di nakas juga, dan jarang ditengok. Kami jarang sekali memakai obat-obatan. Untuk kegiatan mengecek tanggal kedaluwarsa, biasanya ini kami lakukan saat mengonsumsi si obat. Kalau sudah ‘jatuh tempo’, langsung discard.

Peralatan hobi

Kami tidak punya hobi khusus yang memerlukan peralatan tertentu.

Peralatan jahit

Saya kurang bisa menjahit, tapi punya beberapa benang dan jarum (yang jarang disentuh). Sudah ada rumahnya juga di nakas.

Koleksi (tanaman, pernak-pernik)

Untuk pernak-pernik, semua kami letakkan di bagian tengah rak buku, sehingga otomatis ikut dibersihkan hampir setiap pagi saat rak buku dibersihkan. Untuk tanaman, kami hanya punya satu tanaman dalam pot, yang kami letakkan di area wastafel tempat mencuci piring, sisanya kami tanam di taman. Kami rutin menyiram taman 1-2 kali sehari.

Handuk, selimut, bed cover, sprei

Benda-benda ini selalu tersimpan rapi di dalam lemari. Untungnya, selama ini kami mengganti sprei sudah sesuai anjuran: maksimal dua minggu sekali. Yang masih PR adalah handuk. Selama ini saya lebih sering menjemur daripada mencuci handuk, padahal ternyata semakin sering handuk dicuci, semakin baik. We’ll surely go the extra mile for this habit.

Mainan anak

Ah, ini yang paling membuat saya pusing kepala dan saya sedang menjalani proses untuk memperbaiki ini. Alma memiliki belasan boneka dan dua kotak mainan yang mana boneka dan mainan-mainan ini sesungguhnya jarang dimainkan. Alma lebih suka bermain outdoor (berlari-lari sambil memunguti daun kering, bebatuan dan sebagainya) atau memainkan benda-benda betulan yang bukan mainan (gelas betulan, sendok betulan, dan lain lain). Yang paling sering dipakai cuma satu: spidol berwarna, ini pun saya masih dalam proses membiasakan Alma untuk merapikan kembali spidol dan benda-benda yang dia mainkan setiap selesai dia gunakan. Ingin rasanya men-discard sebagian besar kategori ini, hanya saja banyak sekali boneka dan mainan ini hasil pemberian dari nenek dan kakeknya. Aku kudu piye iki, peeps. 😭

Well anywayyy, berikut daftar kebiasaan (list of habit) yang saya lakukan terkait kategori general komono.

Task 3 Chukyuu – Konmari Habits – Papers

Sejauh ini, keluarga kami tidak terlalu banyak menggunakan kertas. Dokumen-dokumen penting sudah kami kumpulkan jadi satu di dalam map. Saya sering sekali menulis dan mencatat, semuanya paperless. Beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan: Evernote, Google Docs, blog, dll.

Beberapa kali suami mendapat buku agenda dari kantor. Karena saya dan suami jarang pakai, buku-buku agenda itu akhirnya dipakai Alma untuk doodling, salah satu kegiatan favoritnya. Setelah buku agenda sudah penuh dengan coretan Alma, saya akan mengabadikan beberapa hasil coretan yang paling mengesankan dan memorable dalam bentuk foto. Setelah selesai, buku agenda kemudian saya discard.

Yang paling banyak dan konstan kami ‘hasilkan’ adalah kertas bills dan receipts. Setiap ada kesempatan, saya pasti segera membuang kertas bills dan receipts. Jika ingat dan memungkinkan, saat di meja kasir saya biasanya meminta agar kertas receipt tidak usah digandakan.

Sebagai rangkuman, berikut kebiasaan-kebiasaan terkait kategori kertas yang biasa saya lakukan.

  1. Mengabadikan hasil doodling milik Alma
  2. Men-discard buku agenda yang halamannya sudah penuh terisi
  3. Membuang kertas bills dan receipts
  4. Meminta kasir untuk tidak menggandakan kertas receipts

Ketika Anak Minum Terlalu Banyak Susu

Akyu mau curhat lagi nih. Kali ini perihal kebiasaan minum susu Si Alma.

Flash back, setelah disapih, Alma itu sebenernya jadi ogah minum susu. Waktu itu (setelah melalui banyak pertimbangan) aku kasih Alma susu UHT sebagai pengganti ASI. Kenapa susu UHT? Jawabannya bisa diliat di tabel di bawah ini.

Dicomot dari vetindonesia.com

Karena Alma nggak doyan susu, akhirnya aku memaksakan kehendak dengan selalu menyediakan susu UHT setiap hari buat Alma sambil selalu menyemangati dia buat minum susu. Seperti kata pepatah, bisa karena terbiasa, beberapa minggu kemudian Alma pun jadi suka minum susu UHT. Kenapa aku ngelakuin ini padahal aku udah paham betul bahwa susu itu nggak wajib buat anak usia di atas dua tahun? Karena aku takut di-judge. JENG JENG JENG.

Aku inget banget, Alma berhasil disapih beberapa minggu sebelum libur lebaran. Aku bersyukur karena aku jadi bisa pencitraan di depan keluarga besar: Yossie ibu teladan, berhasil menyapih anaknya walaupun anaknya nenen-addict (silakan kalo mau kentut). Tapi di sisi lain, muncul kegalauan baru: kalo sampe Alma ogah minum susu, pasti nanti Alma disuruh minum sufor.

Disclaimer: aku bukan antisufor. Cumaaa, aku nih anaknya nggak mau ribet. Kalo Alma minum sufor, berarti ke mana-mana aku harus bawa-bawa termos dll. Aku bayanginnya aja udah nggak kuat. Apalagi kalo nanti Alma minum sufor, pasti minumnya (umumnya) pake dot.

Nyapih nenen aja prosesnya nggak instan bin menguras energi, masa mau bikin PR baru lagi, nyapih dot. Alma nenen doang aja gigi depannya udah karies, apa kabar kalo nanti minum susu pake dot.

Nah, daripada ntar Alma didorong buat ngedot, lebih baik Alma minum susu UHT aja. Selain karena paparan di tabel di atas, susu UHT juga antiribet. Ini poin plus banget. Waktu itu Alma masih nggak terlalu suka, jadi kalo sehari bisa ngabisin satu kotak (125 ml) aja udah alhamdulillah. Si Emak pun hepi, tas diapernya masih bisa seenteng dulu waktu sebelum disapih.

Tapi itu dulu~~~ Sekarang? Dari ogah jadi doyan. Iyaaa Alma jadi doyan susu UHT. Bangun tidur minta susu, laper dikit minta susu, mau tidur harus minum susu.

Sounds like no big deal, right? Tapi sesungguhnya ini sumber masalah baru bagiku. Ibarat senjata makan tuan.

Tau sendiri lah ya kalo susu sapi itu rendah zat besi, sama kaya ASI. Itulah kenapa kalo frekuensi nenen/minum susu lebih banyak daripada frekuensi makan, bisa bahaya. Anak pasti jadi defisiensi alias kekurangan zat besi. Salah satu efek dari kekurangan zat besi ini, anak jadi males makan. Kalo males makan, hampir bisa dipastikan bahwa anak pasti maunya minum susu doang. Makin nggak mau makan, makin kekurangan zat besi. Persis lingkaran setan. Dampak negatif yang paling keliatan: berat badan anak jadi susah naik, bahkan turun.

Kembali ke Alma. Udah bisa ditebak, Alma jadi males makan. Ujung-ujungnya aku tetep harus nyapih dua kali. Keluar energi lagi emaknya. 😭

Plot twist-nya adalah… mengeliminasi susu UHT dari daftar most wanted object-nya Alma ternyata cukup mudah. Dan ini nggak disengaja. 😆

Selama ini, Alma cuma mau minum Ultra Mimi rasa Coklat, Vanila dan Stroberi. Dodolnya, beberapa minggu yang lalu aku baru tau dong kalo ternyata Ultra Mimi Full Cream itu punya nama lain, yaitu Ultra Mimi Plain, karena di antara ketiga rasa yang lain dia satu-satunya yang zero sugar. Aku langsung pengen ganti dong yah. Aku tawarin lah ke Alma yang plain.

Too bad. Dia udah terbiasa sama yang rasa coklat, vanila dan stroberi. Dia nggak mau minum yang plain. Di situ aku merasa sedih.

Nah, empat hari yang lalu, aku pesen Ultra Mimi Vanilla satu dus ke tetangga (mayan, harganya miring soalnya). Malemnya susunya dateng. Pas Alma mau tidur, aku buka dong dusnya.

Aku baru ngeh kalo ternyata yang kuterima tadi Ultra Mimi yang plain, bukan vanila.

Awalnya aku sedih. Tapi abis diskusi sama Si Abi, akhirnya kita nggak minta ganti. Justru, mungkin ini bisa jadi momen yang bagus buat switch ke susu plain. Alma tadi liat waktu susunya dianter ke rumah. Dia tau kalo aku beli di Tante tetangga. Jadilah waktu Alma protes minta susu yang pink gambar singa, aku bilang gini sambil pasang wajah sedih,

Maaf ya, Dek. Umik tadi beli susunya di Tante yang tadi. Eh, sama Tante, Umik dikasih yang biru, yang gambar sapi. Ngga papa ya Dek? Jadi, kalo Alma sekarang mau minum susu, Alma minum yang ini ya. Umik udah beli banyak banget nih, kasian kalo susu birunya ngga diminum.

Eh dia nggak protes lagi dong. Alhamdulillahhhh hepi banget akutuuuuh. 🤣

Tapi bisa ditebak, Alma nggak suka, jadi susunya diminum cuma dikiiiit banget. Sebelum tidur pun Alma minum air putih doang.

Besokannya, bangun tidur Alma masih nyariin susu. Aku sodorin susu yang plain. Alih-alih diminum dikit kaya semalem, kali ini dia bener-bener nolak. Sampe seharian pun dia nggak minta susu. Sebagai gantinya, porsi makan Alma jadi lebih banyak dari biasanya.

Saudara sekalian, inilah definisi kebahagiaan yang HQQ. So much win! Hahahahaha. #kemudianistighfar

Masya Allah yaa, kenapa coba nggak dari kemarin-kemarin aku kepikiran pake cara ini. 😪 Sekarang aku tinggal berusaha buat menyediakan makanan sehat yang bervariasi buat Alma.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, nggak papa tuh Alma jadi nggak minum susu? Jawabannya: nggak papa. Malah menurutku, lebih baik begitu, asalkan asupan makanan padatnya cukup dan seimbang.

Buat yang belum tahu, prinsip 4 sehat 5 sempurna itu sudah usang ya, Bapak dan Ibu sekalian. Yang berlaku sekarang adalah PGS, alias pedoman gizi seimbang. Apa, kenapa dan bagaimananya silakan baca di sini, di sini, di sini dan di sini biar lebih jelas. Aku nggak punya kapasitas buat menjelaskan secara detil.

Yak. Ini udah panjang banget tulisannya. See you next post, yaa. Masih ada PR satu tulisan lagi nih. Please wait! 😘

Rekrutmen Kepengurusan IP Tangsel: Interview

Hari Minggu pagi kemarin, tahapan keempat rekrutmen pengurus IP Tangsel diadain di Taman Bintaro Jaya Xchange Mall. Tahapan keempat ini dalam bentuk interview alias wawancara.

Dari wawancara ini, aku nangkepnya, para calon pengurus diharapkan memiliki ketahanan diri yang kuat dan bisa mengatur waktu dengan baik. Aku nanya, memangnya sebelum-sebelumnya ada pengurus yang berhenti di tengah jalan? Ternyata ada.

Yang awalnya aku mulai agak santai, sekarang jadi dag-dig-dug lagi. Aku bakal beneran bisa nggak ya?

Terutama perihal time management. Aku bener-bener masih yang learning by doing. Siap-siap jam tidur bakal berkurang. Expecting less.

Kalo udah kaya gini, aku musti inget-inget lagi motivasiku gabung jadi pengurus itu apa. Apalagi jadi pengurus itu nggak dibayar, it’s a volunteer work. Meskipun nggak dibayar, aku yakin aku bakal menerima ‘bayaran-bayaran’ lain yang nggak kalah berharga yang nggak bisa aku dapetin di tempat lain.

Berkumpul bersama para wanita hebat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, saling memberi dan menerima ilmu, belajar bersama, bertumbuh bersama, berjejaring dan memperluas lingkar pertemanan. This is the best (social) environment I could ever have. ❤️

I have received so many good things from IP Tangsel, so I guess, this is my way of paying back to this community. 😘

Task 2 Chukyuu – Konmari Habits – Books

Untuk task kali ini, saya membuat list kebiasaan apa saja terkait kategori Buku yang harus konsisten saya lakukan dalam rentang waktu tujuh hari berturut-turut, untuk kemudian dilakukan seterusnya. Berikut list kebiasaan yang saya buat.

  1. Membersihkan rak buku setiap pagi
  2. Tiap selesai membaca buku, buku dikembalikan ke lokasi semula
  3. Membaca buku setiap hari (minimal 10 lembar)
  4. Langsung merapikan rak buku saat rak buku terlihat kurang rapi
  5. Mengajak anak untuk bersama-sama melakukan keempat list di atas

 

Tentang Hobi Menulis

Halo, halo, halooo! I’m back again!

Cih. Gayanya kayak ada yang nungguin aja. #kemudiancengengesan 🤣

Ehm. Jadi, di postingan kali ini aku mau nulis tentang salah satu kulwap (kuliah Whatsapp) yang beberapa hari yang lalu diadakan oleh Kejar (Kelas Belajar) Menulis Tangsel.

Mau OOT dikit ya. Jadi aku kan (alhamdulillah) udah jadi salah satu peserta di Kelas Bunda Sayang IIP Batch 4 nih. Kalau Kelas Bunsay di IIP itu diibaratkan sebagai KBM di sekolah, maka Kelas Belajar ini bisa diibaratkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Di IP Tangsel, maksimal peserta bisa ambil dua Kejar sekaligus. Setelah timbang sana timbang sini, akhirnya aku mutusin buat ikut Kejar IT dan Kejar Menulis.

Back to topic. Kulwapnya kemarin, obviously, bahasannya nggak jauh-jauh dari aktivitas menulis.

Nah, langsung keliatan deh ya narasumbernya siapa.

Apa? Kalian nggak tahu siapa itu Indari Mastuti?

Ehm. Sama. 😭

Teh Indariiiii maafkanlah fans barumu yang masih cemen, cupu dan kurang gaul ini. 😭 Padahal Teh Indari ini masya Allahhh keren banget, inspiratif banget. Beliau berkecimpung di dunia tulis-menulis itu sama sekali nggak sebentar lho, udah 20 tahun! Iya, beliau udah senior banget.

Satu hal yang bikin aku bengong. Di tengah kesibukan yang luar biasa, beliau yang sudah ‘berbuntut dua’ ini masih sempet tidur siang dua jam dan kalo malem tidurnya jam 19.30. Dan itu hukumnya wajib. Karena agenda beliau padat, manajemen waktu beliau pun jadi sangat ketat.

CRYYYYYYYYYY. I don’t even dare to dream about such miracle. How can she do that? 😭

Terlebih lagi, kata beliau di kulwap kemarin (yang aku inget banget), dua hal yang harus kita lakukan agar mimpi jadi penulis bisa terwujud adalah:

PERCAYA DIRI DAN KONSISTEN MENULIS SETIAP HARI.

Ah, omdo kali nih Teh Indari. Masa iya beliau bisa tiap hari nulis?

The answer is… BIG YES! Nggak tanggung-tanggung, target beliau setiap hari minimal menulis satu ebook di luar deadline tulisan yang lain.

Ebook, loh. Bukan caption Instagram, bukan pula artikel. Ebook.

Sempat juga ada temen yang nanya, yang mana aku yakin pertanyaannya mewakili pertanyaan banyak sekali orang. Pertanyaannya kira-kira begini: bagaimana kalau dalam sehari, seringkali kita kehabisan waktu untuk menulis?

Namanya juga emak-emak, ya. Adaaa aja yang harus dikerjain dan diselesaiin.

Berikut ini jawaban yang ditulis Teh Indari.

Tidak ada yang namanya kehabisan waktu selain TIDAK MENGALOKASIKAN WAKTU untuk melakukan PRIORITAS mana yang harus DITULIS. Seperti halnya (kita disibukkan dengan) pekerjaan IRT  dan tak punya waktu (untuk) menulis. (Sebenarnya) bukan tak ada, tapi (kita yang) tak bisa mengalokasikan waktu.

Mak jleb yaaa. Kalo emang serius pengen jadi penulis, harusnya bisa serius juga menyisihkan waktu (secara sadar) untuk menulis.

Aku bayanginnya gini. Misal, kita bercita-cita punya rumah yang rapi. Tapi kita sibuk banget sampe nggak sempat buat beberes rumah. Akhirnya rumahnya nggak kunjung rapi. Ujung-ujungnya kepikiran, karena rumah selalu aja nggak pernah rapi. Kalo dipikir-pikir lagi, kepikirannya ini lumayan ‘aneh’ yaa. Kita sebenernya udah tau alasan kenapa rumah nggak pernah rapi, tapi kita berlindung di balik rutinitas dan kesibukan sehari-hari.

We just keep making excuses again and again, each and every day.

Jadi inget satu kutipan yang aku baca tepat sebelum aku bikin postingan ini.

Don’t make excuses. Make things happen. Make changes. Then make history. – Doug Hall

Yum yum! Aku sendiri sejauh ini masih nyaman nulis nonfiksi, itu pun di blog. Nonfiksinya pun biasanya berdasarkan apa yang aku alami dalam kehidupan sehari-hari. Tapi paling nggak, aku ngerasa enjoy. Aku merasa lebih baik setelah aku menulis. Untuk sementara, buatku itu sih yang terpenting.

Trus? Mau coba bikin target kayak Teh Indari nggak? Oh, ya tentu. Cumaaa, karena aku anaknya gampang labil plus anak masih balita juga, jadi aku bikin targetnya yang realistis dulu.

Dalam seminggu, minimal aku harus bisa dua kali bikin postingan baru di blog. Kemungkinan besar aku bakal nulis di malam hari, waktu Alma udah tidur.

WAHHHH. This is no joke. Targetnya aku tulis di sini, bisa dibaca orang banyak, jadi kalo aku mangkir pasti rasanya nggak enak banget yaaa. 🤣

Bismillah aja deh. Berusaha buat jadi pengamat yang lebih baik, berusaha biar bisa lebih curious lagi, biar bisa bikin postingan baru tiap tiga hari sekali. 😂

See you all very soon, hopefully!

P.S.: Profil Teh Indari bisa dilihat di sini, di sini dan di sini.