Cara Saya dalam Membatasi Pemakaian Gadget dan Paparan Screen Time pada Alma

Hola, hola! It’s been awhile!

Duh, sebenernya aku punya banyak banget cerita buat ditulis di sini, tapi apa daya aku lagi sering banget mager, huhuhu.

But I certainly won’t be this time! Soalnya bisa dibilang, cerita yang akan aku tuliskan kali ini merupakan sebuah milestone yang akhirnya berhasil aku lewati setelah sekian lama. Apa itu?

Yaaa, keliatan lah yaaa dari judul. Pake sok suruh netijen nebak-nebak segala, ah. 🙄🤣

Jadi, buat yang belum tahu, sejak menikah sampai Alma umur dua setengah tahun, aku dan suami sama sekali nggak pasang TV demi biar perkembangan Alma bisa berlangsung secara optimal. Nah, sejak balik ke rumah di Cisauk ini, muncullah sebuah masalah: sinyal di rumah jelek banget! Biar aku dan suami bisa tetap waras, kita pun bergegas untuk pasang WiFi. Di kompleks perumahan kami, provider yang proses pemasangannya paling cepet adalah IndiHome. Jadilah kita pakai itu.

Nah, waktu liat-liat paket-paketnya, kita jadi pengen sekalian pasang TV kabel. Kebetulan waktu nikah dulu kita dapet kado TV dari temen-temen kantor suami, yaudah kan daripada mubazir. Lagipula, Alma juga udah lancar ngomongnya (MOLAIKKK MEMBELA DIRI 😂). Jebret, keesokan harinya, TV beserta WiFi pun sudah terpasang rapi di ruang tengah.

Di sinilah cobaan-cobaan (yang sebelumnya belum pernah terjadi) dimulai.

Sejak TV dipasang; aku, suami dan Alma punya tontonan favorit masing-masing. Yang jelas, entah kenapa kita nggak doyan nonton channel TV lokal. Bukannya sok iyes, tapi kita beneran udah pernah nyoba nonton salah satu acara TV di channel lokal dan kemudian kita langsung kapok, ogah nonton di situ lagi. Hartaku yang paling berharga, Alma, nggak akan aku biarkan nonton acara-acara tv yang mayoritas nggak berfaedah itu. 🙅

Terus? Kita nontonnya apa? Aku pribadi, cuma dua channel ini: NatGeo dan NatGeoWild. Kalo marathon nonton TV on demand NatGeo selesai, lanjut ke NatGeoWild. Gituuu terus persis orang main pingpong. Selain itu, kadang-kadang aku juga nonton film dan drama di iFlix kalo pas ada yang bagus (maklum, iFlix kan nggak sekeren Netflix, hiks).

Kalo suami, karena dia kerja berangkat pagi pulang malem, otomatis jadi jarang pake TV. Jadi ya kalo ada waktu pun, dia akan nonton apa yang aku tonton.

Nahhh, yang paling penting dibahas akhirnya datang juga. Kalo Alma nonton apa? Jawabannya ada tiga: Go Diego Go, Dora the Explorer dan channel nursery rhymes di YouTube (macem Cocomelon, Dave and Ava, LooLoo Kids, gitu-gitu deh). Iya, kita bisa nonton YouTube di TV.

Kebayang dong, apa yang akan terjadi kalo ada anak yang sebelumnya nggak pernah nonton TV tau-tau disodorin TV dengan konten yang super menarik? Yes, dia bakal nonton terus tanpa tau jeda waktu. Kalo nggak di-stop, ya nggak bakal berenti.

Dampak buruk apa yang paling aku rasa berat selama Alma aku izinin nonton TV? Alma jadi susah fokus dan gampang stres. Pas dibacain buku, Alma jadi nggak seantusias dulu (ini yang bikin aku paling sedih sih). Mau makan, minta sambil nonton (yang mana ini bikin sesi makan jadi super-duper lamaaaaa banget). Mau mandi, minta nego selesaiin satu episode Dora dulu. Kalo dilarang baik-baik, dia nangis bagai orang patah hati. Umiknya pun jadi sering kesel sendiri.

Udah tau ada masalah, aku nggak mungkin berdiam diri dong. Aku pun mencoba beberapa jalan keluar. Biar lebih singkat, aku ceritain tiga solusi yang paling sering aku pakai (tapi kemudian gagal), ya.

Pertama, batasin waktu nonton Alma pakai timer. Aku bilang ke Alma, “Dek, kalo hapenya Umik bunyi, berarti Alma nonton TV-nya selesai, ya.” Ta-daaa, fail. Setelah bunyi timer pecah, Alma merengek-rengek minta nonton lagi. Aku sebenernya bisa aja tetep tegas menolak, tapi aku merasa kalo aku melakukan itu, berarti aku ibu yang munafik. Aku aja masih suka nonton marathon TV series di NatGeo, masa Alma nggak boleh? Karena itulah, metode yang ini selalu berakhir gagal.

Kedua, aku coba lebih banyak ajakin Alma baca buku. Ini juga banyakan gagalnya. Kenapa? Pertama, karena selama buku masih bersaing sama TV, jelas TV-lah yang bakal menang. Mau segigih apapun aku ajak dia baca buku, ini nggak akan bisa membuat Alma lebih bertanggung jawab dengan durasi screen-time-nya. Ya gimana, masa benda yang dipakai sebagai pengganti nggak lebih menarik dari benda yang ingin diganti? Kedua, karena aku manusia biasa yang bisa lelah. Ngajakin anak yang lagi nggak fokus buat baca buku itu sama sekali nggak gampang, Sodara-Sodara! Butuh energi luar biasa besar biar aku bisa tetap stay calm tapi tetap tegas waktu mendampingi Alma di saat-saat seperti itu.

Ketiga, selain baca buku, aku mulai sering ajakin Alma main di luar. Nggak perlu jauh-jauh, cukup di sekitaran rumah aja. Dan seriusan, di antara dua cara sebelumnya, cara inilah yang menurutku agak terasa efeknya. Mungkin karena balita itu energinya besar ya, jadi butuh rutin disalurkan melalui aktivitas-aktivitas fisik. Cumaaa, tetep aja, cara ini juga belum bisa 100% menyelesaikan masalah.

Di tengah kegundahan ini, hari Sabtu tanggal 24 November kemarin, aku ikut workshop pendidikan karakter “Habit of Obedience and the Way of Will” yang dipimpin langsung oleh Mba Ellen Kristi, pendiri Charlotte Mason Indonesia. Iya, aku lagi serius mendalami filosofi pendidikan Charlotte Mason (CM). Sejak baca buku Cinta yang Berpikir, aku langsung jatuh cinta sama CM. 😍 Beneran jadi aha-moment-ku, “THIS is what I have been looking for!

Ada banyak banget pencerahan-pencerahan baru yang aku dapetin dari workshop, salah satunya yang paling lekat menempel di kepalaku adalah bahwa orang tua yang selama ini berperan sebagai pemegang otoritas di rumah, ternyata ‘hanyalah’ perpanjangan tangan dari otoritas-otoritas yang jauh lebih tinggi. (Si)apa saja otoritas-otoritas yang lebih tinggi itu? Diantaranya Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma.

Dengan prinsip ini, batasan-batasan orang tua dalam mengasuh anak menjadi jelas: orang tua tidak akan menjadi permisif, tidak juga otoriter, karena kita sudah punya acuan yang ajeg (berupa aturan-aturan dari Tuhan, hukum alam, undang-undang dan norma-norma itu tadi). Jika apa yang dilakukan anak sudah sesuai dengan acuan, ya alhamdulillah. Sebaliknya, jika anak berperilaku tidak sesuai acuan, ya kita wajib meluruskan (dengan cara-cara yang sesuai, tentunya).

Sekarang kita udah tahu (si)apa aja otoritas-otoritas yang lebih tinggi dari kita yang patut kita jadikan sebagai acuan dalam membuat aturan-aturan di rumah. Nah, tugas kita (sebagai orang tua) adalah merumuskan aturan-aturan dan menegakkan aturan-aturan yang sudah dirumuskan tersebut. Kuncinya, orang tua harus mampu membedakan mana saja hal-hal prinsip dan tidak prinsip yang biasa terjadi di rumah, dan ini bisa beda-beda untuk setiap keluarga.

Misalnya, ada keluarga yang menganggap mandi itu sebagai hal prinsip, ada juga yang enggak. Karena perbedaan ini, perlakuan yang diberikan ke anak yang nggak mau mandi akan jadi berbeda di dua keluarga ini. Di keluarga yang pertama, karena mandi itu prinsip, ya anak harus mandi. Anak nangis-nangis bin tantrum? Ya kita validasi dulu emosinya, sambil tetap si anak kita angkat ke kamar mandi. Kalau yang menganggap mandi tidak prinsip? Yaudah, nggak ada masalah kalau anak nggak mau mandi.

Oiya, perlu diingat, aturan-aturan yang dibuat ini wajib dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga, tanpa kecuali. Pinter-pinter orang tua aja bikin aturan biar bisa tepat sasaran tanpa merugikan sebagian anggota keluarga.

Nah, dari sinilah aku mulai tersadar dan menemukan missing link yang selama ini aku cari-cari. Kenapa aku selalu gagal menerapkan solusi atas permasalahanku terkait screen-time Alma? Ya karena aku belum merumuskan aturan yang jelas dan kalaupun aturan sudah kubuat, aku hanya menerapkannya untuk Alma! I was too cowardly to willingly do the exact same thing as her!

Sepulang dari workshop, aku langsung tahu aturan seperti apa yang harus kami terapkan di rumah terkait screen-time ini. Aturannya pun sangat sederhana.

Dalam sehari, setiap orang di rumah ini hanya memiliki SATU sesi menonton TV, tidak lebih dan tidak kurang.

Udah. Itu aja.

Untuk Alma, satu sesi ini berarti satu episode Dora atau Diego. Kalau yang ditonton ada di YouTube, berarti durasinya hanya 30 menit, sama seperti durasi satu episode Dora dan Diego.

Untuk aku dan suami, satu sesi ini berarti satu episode acara TV di NatGeo atau NatGeoWild atau iFlix.

Asal dikomunikasikan dengan baik dan diterapkan dengan konsisten, besar kemungkinan aturan ini akan berjalan dengan sukses. Alhamdulillah, itulah yang terjadi selama tiga hari ini. Amazingly, Alma patuh tanpa ada penolakan yang berarti! No wonder, karena dia juga melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya juga konsisten mematuhi aturan ini.

Herannya, aku juga nggak sedikitpun merasakan kehilangan, lho! Biasa aja gitu. Kirain aku bakalan yang, “Yah, padahal aku pengen banget nih nonton Primal Survivor, tapi nggak bisa, huhuhu.” Ternyata enggak.

It was truly our victory together!

Ya mungkin tanpa kita sadari, otak kita juga merasa lebih nyaman begini ya. Lebih damai aja gitu rasanya. Apalagi sekarang kita rutin main outdoor, jadi sering kena sinar matahari pagi dan liat yang ijo-ijo (secara harfiah, yaa 🤣). Our mind has been much more peaceful ever since.

P.S.: Kalo hape gimana? Fortunately, we have sorted this out as well. Alma boleh pakai hape, tapi hanya untuk lihat bagian foto-foto dan video aja. Aku juga boleh pakai hape; tapi cuma buat pakai kamera dan ngetik aja. 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *