15 Tahun Sokola dan Tawa Alma yang Menggema

 

Sokola Rimba, yang baru saja diubah namanya menjadi Sokola Institute, didirikan oleh Butet Manurung sejak tahun 2003 pertama kali di pedalaman hutan Jambi. Selama 15 tahun terakhir, Sokola Institute telah memberikan pendidikan alternatif kepada sekitar 10 ribu orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Jambi Aceh, Pariaman, Cianjur, Dukuh, Klaten, Merapi, Bantul, Makassar, Sumbercandi Jember, Wailaso, Bulukumba, Halmera, Asmat dan Sumba (gatra.com).

Nah, tanggal 20 September kemarin, aku dapet info dari temen komunitas bahwa Sokola Institute bakal bikin perayaan #15TahunSokola.

Kalian liat kan bakal ada siapa aja di #15TahunSokola? Oh man, ini sih aku wajib ikut! Hahaha. Apalagi acaranya selesai sekitar jam 6 sore, bisa langsung dijemput pak suami.

Lompat ke hari-H, aku udah siap-siap dari pagi, bawa bekal segala macem biar Alma nggak cranky. Aku sempet kuatir sih, Alma bisa anteng nggak ya di Goethehaus nanti? Tanggal 23 September kemarin Alma beranjak tiga tahun dan kita belum pernah sekalipun ngajakin dia ke bioskop. Alasannya apalagi kalau bukan karena takut dia bikin kerusuhan dan bikin pengunjung lain nggak nyaman. 🙁

But in the end, I still decided to go. Misal nanti dia beneran cranky, aku tinggal angkat kaki aja kan~

Kita nyampe Goethe Institut sekitar jam setengah tigaan dan ternyata registrasi baru dibuka setengah jam kemudian. Lumayan, jadi bisa ngajakin Alma liat-liat foto yang dipajang di sepanjang lorong masuk.

Larva kumbang sagu FTW.

Setelah puas baca-baca dan foto-foto, kita makan sebentar. Jam tiga kita registrasi. Kalo liat daftar namanya, ternyata banyak juga homeschooler yang hadir, cuma aku nggak kenal (krik). Di meja registrasi, kita bisa dapetin souvenir dengan memberikan donasi seikhlasnya. Karena souvenirnya gelang lucuk yang mana Alma pasti suka, akhirnya kita ambil satu (setelah sebelumnya Alma masukin uang donasi ke kotak yang mirip kaleng kerupuk mini 😆).

Kawaii desu ne!

Karena udah mulai banyak yang antre di depan pintu ruang pertunjukan, akhirnya kita ikutan melipir ke situ. Lumayan, dapet spot sebelah pintu persis. Setelah menunggu beberapa lama, pintu pun dibuka! Wahhh, it was quite chaotic. 😂 Alhamdulillah, aku sama Alma dapet duduk di depan dan paling pinggir (sesuai sama ekspektasiku, biar kalo Alma bosen bisa turun dan mondar-mandir di tangga tanpa ganggu yang lain).

Acara yang dipandu sama Vena Annisa ini berjalan dengan sukses. Ada belasan wajah familiar yang tampil sebagai narator. Narator-narator ini bergantian membacakan narasi tentang kehidupan anak rimba (yang luar biasa dan jarang orang tahu) sambil diiringi petikan gitar akustik. Sungguh syahdu sekali!

Narator favoritku: Maudy Koesnaedi dan Handry Satriago. Indikatornya, waktu mereka baca narasi, Alma serius banget menghayati dari awal sampe akhir. 😍

Selain pembacaan narasi, ada juga penampilan dari Tulus dan Ananda Sukarlan. Tulus nyanyi, Ananda Sukarlan menampilkan Rapsodia Nusantara No. 14.

Nah, Rapsodia Nusantara ini kan suka ada jeda-jeda gitu kan yah di tengah-tengah. Di salah satu jeda, Alma ketawa kenceng banget! Seisi ruang pertunjukan sampe ketawa dan ngeliat ke arah Alma duduk. Ananda Sukarlan juga keliatan kaget-kaget-geli gitu (maaf ya om 🤣). Yang bikin epic karena timing-nya pas banget. Mana nuansa musiknya cheerful-cheerful gimana gitu kan, jadi lucu aja tiba-tiba ada suara anak kecil ketawa. 😆 Suara Alma ketawa bisa ditonton di video di bawah ini.

It was definitely an unforgettable moment. Waktu kita pulang pun ada beberapa orang yang liat Alma dan bilang, “Eh, kamu yang ketawa tadi ya? Pas banget loh timing-nya, hahaha!”

Well, selain ketawanya Alma, ada satu hal lain yang paling aku inget dari seluruh rangkaian acara, yaitu waktu Handry Satriago memberikan sambutan di akhir acara. Ada beberapa kalimat yang buatku sangat relatable.

Kenapa saya terlibat di sini? Menurut saya simpel sekali. Ini adalah keberagaman. Keberagaman adalah manusia. (Yang) saya sering nggak mengerti (dari) orang perusahaan itu: (tendensi untuk) menyeragamkan semuanya. Itu membuat kita menjadi tidak manusiawi. Sebuah proses keberagaman pendidikan adalah hal yang manusiawi.

Pengendum tidak perlu menjadi manusia modern, orang-orang di rimba tidak perlu menjadi manusia modern. Mereka telah hidup dengan cara mereka selama beratus tahun, dan nyatanya mereka baik-baik saja.

P.S.: Pengendum Tampung adalah salah seorang dari Suku Anak Dalam yang juga merupakan murid ‘senior’ Sokola Rimba.

Ya, sebagai seorang praktisi homeschooling yang notabene kaum minoritas, I really get the idea of what he’s been talking about. Menyitir Charlotte Mason, pendidikan itu bukanlah sistem, pendidikan itu metode. Tidak masuk ke dalam sistem sekolah yang sudah ada bertahun-tahun, bukan berarti seseorang menjadi tidak terdidik.

Kemudian baper, eaaa. 😂

Anywayss, buat yang nggak bisa dateng ke event 15 Tahun Sokola ini, kalian bisa lihat video-videonya di playlist-ku yaa (klik ikon di pojok kiri atas).

Mohon abaikan suara-suara balita yang suka tiba-tiba muncul. Abaikan juga kalau tiba-tiba penampakan video jadi random atau berputar 180 derajat. Yang penting audionya jelas, ya toh? #mencaripembenaran 🤣

Kayaknya itu aja sih. Sekian liputan random dari emaknya Alma. Thank you for reading and see you next post!

2 comments
  1. Wiehhhh, bintang tamunya keren-keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *