Yang Saya Rasakan Setelah Perkuliahan Level 1 Bunda Sayang Usai

Sejak sebelum memiliki anak, saya dikenal sebagai orang yang ‘mudah bergaul’ dengan anak kecil. Anak kecil biasanya suka berinteraksi dengan saya. Entah kenapa ini bisa terjadi, tapi saya punya satu teori: karena saya ini sangat child-like. Bukan childish ya, tapi child-like. Dua istilah ini memiliki dua arti yang sangat berbeda (walau kadang saya bisa childish juga sih, sering malah, hahaha 😢).

Childish merupakan kata sifat yang lebih mengarah pada sifat kekanak-kanakan, tidak dewasa dan konyol. Jika dipakai untuk orang dewasa maka kata ini mengandung arti negatif yang tidak seharusnya orang dewasa bersikap seperti itu.

Sedangkan child-like mempunyai arti memiliki sifat atau sikap yang baik seperti anak-anak, seperti kepolosannya dan kejujurannya, atau bisa juga perilakunya secara fisik. Jika child-like ditujukan untuk orang dewasa berarti mempunyai arti positif untuk orang tersebut.

Mungkin karena saya anak bungsu, saya jadi agak kekanak-kanakan. Saya bisa berbicara dan membuat ekspresi wajah yang exaggerated sehingga membuat anak-anak tertarik (misal ekspresi kaget, bingung, senang dll). Saya juga suka memanjat, melompat dan berputar-putar. Saya suka mengisengi anak kecil. Terkadang, saya juga bisa memahami pola pikir anak-anak yang tentunya sangat berbeda dengan orang dewasa.

Dulu, saya pikir jika saya memiliki anak, pasti tidak akan terlalu susah. Toh anak orang biasanya suka sama saya, apalagi anak sendiri.

Ternyata itu semua tidak terbukti benar. 😂

Saya baru menyadari, mengapa interaksi-interaksi saya dengan anak kecil dulu terasa smooth adalah karena saya berinteraksi dengan mereka hanya dalam sekali waktu dan dalam rentang waktu yang relatif tidak lama (tidak sampai seharian misalnya). Saya belum pernah merasakan hidup berdampingan dengan anak kecil selama 24 jam dalam sehari secara terus-menerus.

Saat memiliki anak betulan, semua berbeda 180 derajat. Tekanan sebagai orang tua itu bagi saya, no joke. Baru juga melahirkan, anak masih bayi, Emaknya sudah kena baby blues. Anak sudah makin besar, sudah mulai masuk usia toddler, berarti tantangan baru lagi. Ingin rasanya bisa selalu berwajah senang, tenang dan ceria sepanjang hari di depan anak, tapi saya paham betul bahwa saya tidak bisa mencoba menjadi sempurna setiap saat. Trying to be perfect every single time will kill you, sooner or later.

Ya, saya masih memiliki komponen ‘child-like’ yang saya sebutkan di awal tadi. Komponen ini juga masih sering membantu saya saat sedang membersamai anak. Sayangnya, komponen ini hanyalah komponen kecil. Ibarat mesin cuci, ini cuma bagian tutupnya saja.

Saya beruntung saya hidup di era di mana informasi bisa didapatkan dengan mudah, termasuk informasi mengenai ilmu parenting dan psikologi anak. Saya terus membaca dan saya terus belajar (terutama tentang teori positive parenting). Salah satu bagian dalam positive parenting yang paling bermanfaat bagi saya: bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan anak. Sejak Alma mulai bisa diajak berkomunikasi dua arah, saya senantiasa berusaha untuk menerapkan ini.

Gong dari (yang saya sebut) komunikasi efektif yang sudah lebih dulu saya pelajari adalah ketika saya menerima materi Bunsay Level Pertama: Komunikasi Produktif. Melihat materi yang disusun dengan begitu rapi, saya langsung merasa excited. Seolah-olah ini adalah summary dari apa yang sudah saya pelajari sebelum-sebelum ini.

Untuk tantangan level satu ini, saya tidak merasa terbebani sama sekali karena ya, memang inilah yang sejak dulu saya usahakan untuk lakukan setiap hari. Overall, tantangan level satu ini berjalan dengan sangat alami. Bedanya, saya harus mendokumentasikannya dengan rutin selama 10-15 hari, itu saja.

Sesungguhnya, tantangan yang sebenar-benarnya itu bukanlah saat saya harus menyetor narasi, melainkan saat saya harus menghadapi diri sendiri di titik-titik terendah saya (misalnya saat sedang ada masalah, saat kondisi mental saya memburuk, dsb). Jadi menurut saya, ini bukan hanya tantangan 10 hari. Ini adalah tantangan seumur hidup selama saya berstatus sebagai orang tua.

Yang saya sukai dari program Bunsay ini adalah, program Bunsay membuat kita menganggap serius peran kita sebagai orang tua, that we must take parenting very, very seriously. Bisa melahirkan anak, belum tentu bisa menjadi orang tua yang baik. Program Bunsay, melalui materi dan tantangannya, menjadi sebuah alarm/wake-up-call: wahai para (Ayah dan) Ibu, ilmu parenting bukan hanya untuk dipelajari, tapi juga harus dipraktikkan dengan sungguh-sungguh!

Itulah kenapa saya lebih suka mem-posting tantangan 10 hari saya di media sosial. Saya sangat berharap, orang lain yang membaca tulisan saya jadi bisa ikut kecipratan ilmu-ilmu yang saya dapat dari perkuliahan Bunda Sayang. Inti dari semua ini apa sih? Menurut saya jawabannya adalah perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Jadi saya sudah berkomitmen untuk menjalani perkuliahan ini bukan hanya untuk saya dan suami, tapi juga untuk para orang tua lain di luar sana.

Sumber: https://www.kampunginggris.id/penggunaan-childish-childlike/amp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *