Balada Memilih Metode Homeschooling

Sejak pertama kali mengenal homeschooling satu setengah tahun yang lalu, saya sudah lumayan banyak terpapar berbagai macam metode dalam homeschooling; mulai dari metode Montessori, Charlotte Mason, Waldorf, klasik, eklektik, unschooling dan seterusnya.

Setelah melepaskan mindset hasil produk sekolahan, saya bagaikan burung yang dilepas dari sangkar. Saya mulai banyak membaca referensi terkait homeschooling dan pendidikan/psikologi anak usia dini, mengikuti webinar homeschooling, berjejaring di grup-grup homeschooling di Telegram dan Whatsapp, mengikuti kulwap-kulwap dan seminar-seminar offline, sampai akhirnya saya bergabung di salah satu komunitas HS yang rutin melakukan kegiatan setiap minggunya.

Dari situ, saya jadi bisa melihat langsung teman-teman yang menerapkan bermacam-macam metode HS, tidak cuma dari tulisan. Ada tiga metode yang saya lihat paling banyak dipakai: metode Charlotte Mason, Montessori, eklektik dan unschooling.

Keempat metode ini sama-sama baik, baik sekali malah. Namun saya tidak ingin grasa-grusu menerapkan metode-metode ini hanya karena mereka baik. Saya bisa saja langsung menerapkan metode-metode ini di rumah karena toh, materi-materi dan contoh-contoh penerapannya banyak bertebaran di internet. Alat-alat dan buku-buku yang dianjurkan oleh metode-metode ini pun bisa didapatkan dengan mudah. Namun, saya selalu merasa ada yang mengganjal. Saya tidak ingin mengaplikasikan sesuatu yang saya tidak tahu persis seluk-beluknya, cuma sekadar tahu permukaannya. Saya ingin mempelajari sejarah dan filosofi di balik tiap-tiap metode tersebut. Ibarat mencari pasangan hidup, penampilan fisik saja tidak cukup. Saya harus mengetahui betul pola pikir dan kepribadian calon pasangan hidup saya. Saya juga ingin tahu keterkaitan antarmetode, apa yang membuat mereka sama dan apa yang membuat mereka berbeda satu sama lain.

Sayangnya, saya agak telat mencari tahu. Saya sekarang sudah menjadi IRT yang memiliki balita. Hasrat saya untuk membaca buku dibatasi dengan kenyataan: saya tidak punya waktu sebanyak yang saya inginkan untuk membaca buku, tidak seperti waktu masih single dulu. Saya baru punya satu ebook The Montessori Method yang ditulis oleh Maria Montessori sendiri dan untuk bisa membaca buku ini dengan tenang pun rasanya masih sulit mencari celah waktunya. Sejauh ini, saya baru selesai membaca bagian Introduction-nya saja 🙈 (tapi jangan salah, meskipun baru bagian Introduction, isinya sudah penuh dengan pencerahan).

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya dicolek oleh seorang teman di Facebook, memberi tahu postingan Mba Arum yang menawarkan kesempatan untuk belajar tentang filosofi CM secara rutin dan offline (thanks, Mba Brit!). Salah satu syarat untuk bergabung adalah saya harus terlebih dulu membaca buku Cinta yang Berpikir (CyB). Sejujurnya, itu pertama kalinya saya mengetahui tentang buku CyB. Karena saya belum punya tapi tidak sabaran ingin segera membaca, saya pun meminjam buku CyB teman saya ini (sambil memesan buku CyB di Shopee juga) dan alhamdulillah boleh. 🤭

Lembar demi lembar buku CyB ini saya baca dan hayati betul. Sebelumnya saya hanya tahu sepintas saja tentang metode CM, salah satunya tentang living books. Setelah membaca sepuluh bab pertama (bagian I), saya jadi tergoda untuk membaca bagian III terlebih dulu sebelum membaca bagian II (untungnya kata Mba Ellen Kristi, selain bagian I, membaca bab-bab lainnya boleh melompat-lompat).

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menumpuk di kepala sedikit demi sedikit menemukan jawaban yang tepat sasaran. Mba Ellen bertutur melalui tulisan dengan sangat menarik, jelas dan runtut. Rasanya sungguh melegakan sekali, bagaikan bertemu mata air di tengah padang pasir.

Perbedaan-perbedaan mendasar di antara metode-metode pendidikan yang disebutkan di bagian III tak menyurutkan saya untuk tetap merasa kagum dengan tokoh-tokoh pencetusnya yang begitu visioner. Bagaimana teori-teori yang mereka kemukakan di awal abad ke-20 bisa sangat sesuai dengan teori-teori psikologi/pendidikan anak di abad ke-21 ini (terutama teori-teori Charlotte Mason) padahal mereka hidup di era yang penuh keterbatasan? Saya masih terkagum-kagum sendiri kalau mengingat ini.

Setelah menimbang-nimbang lagi, saya memutuskan untuk memakai metode eklektik (campuran, sesuai kebutuhan anak). Saya akan tetap menerapkan beberapa prinsip Montessorian untuk memperkaya aktivitas jasmani anak saya (meskipun tidak saklek-saklek amat, saya sesuaikan dengan situasi dan kebutuhan anak, seringkali terjadi secara spontan). Perihal proporsi otoritas orang tua dalam mendidik anak dan juga pemberian asupan yang penuh nutrisi bagi jiwa dan pikiran anak, tidak ada yang bisa menandingi cara-cara Charlotte Mason (menurut saya). Jadi, saya akan sangat senang jika saya punya kesempatan untuk mempelajari model pendidikan kedua tokoh ini jauh lebih dalam lagi. Khusus metode CM, sejak dulu saya merasa saya pasti akan memiliki banyak kecocokan dengan metode ini. Saya dan suami suka membaca. Sejak Alma bayi, saya selalu membacakan buku cerita untuknya setiap hari. Qadarullah, Alma ternyata anak yang sangat suka bercerita, she’s been always a chatterbox. Apapun yang dia lihat, dia akan dengan senang hati bercerita tentangnya.

Saya selalu merasa beruntung karena bisa menerapkan homeschooling. Karena homeschooling juga, saya jadi bisa mengenal banyak orang-orang hebat yang menginspirasi.

I’ve been always a curious person, and now that I’ve decided to be a homeschooler, I have many more reasons to feed this curiousity~ 😆

3 comments
  1. Di mana bisa dapetin bukunya?

    1. Halo, Novian. Coba kunjungi halaman ini ya: http://cmindonesia.com/cinta-yang-berpikir-edisi-revisi/

      Atau kalau ingin cepat, coba cek Tokopedia atau Shopee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *