Montessori di Rumah – Bagian Dua – Aktivitas di Setiap Ruangan

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya.

Setelah selesai men-declutter seisi rumah, sekarang kita berlanjut ke detail aktivitas yang bisa kita persiapkan untuk anak di tiap-tiap ruangan di dalam rumah.

Catatan: apapun yang kita persiapkan dan lakukan (mulai dari aktivitas decluttering sampai dengan men-setting setiap ruangan di dalam rumah) harus diingat bahwa semua itu sejatinya meruncing pada satu tujuan pokok: to bring in a sense of independence for the child (agar anak bisa mandiri) and also to boost self-confidence (meningkatkan rasa percaya diri). Jadi kalau mau melakukan sesuatu untuk anak, ingat dua pedoman itu aja.

OK. Langsung cekidot ya.


Ruang Tidur

Untuk ruang tidur, yang paling perlu untuk ditekankan adalah bahwa sesuai fungsinya, ruang tidur dipergunakan hanya untuk tidur dan beristirahat. Oleh karena itu, sebisa mungkin ruangan ini bersih dari benda-benda yang bisa merusak fungsi ruang tidur dan yang bisa mendistraksi anak dari tujuan awal saat ia masuk ke ruangan ini, yaitu untuk tidur. Out of sight, out of mind.

Contoh benda yang bisa mendistraksi adalah mainan. Jangan pernah menaruh mainan di dalam kamar tidur. Saat ayah/ibu mengajak anak tidur dan anak melihat ada mainan di dekatnya, kemungkinan besar perhatiannya akan terpecah. Anak akan berpikir, kalau ayah/ibu menaruh mainan di sini, berarti aku boleh memakainya kapanpun aku berada di sini. Akibatnya, akan menjadi lebih sulit bagi orangtua untuk mengondisikan anak untuk bersiap-siap tidur. Kalau begini, yang lelah juga ujung-ujungnya orangtua kan?

Terkecuali bendanya diperlukan untuk bedtime routine (buku misalnya), itu boleh ya.

Oiya, untuk tempat tidurnya, akan lebih baik jika anak tidak memakai ranjang, cukup kasur/matrasnya saja. Tujuannya agar sejak bayi (terutama saat bayi mulai bisa merangkak), anak bisa dengan mandiri naik-turun tempat tidur dengan aman tanpa bantuan orang dewasa.

Selain itu, biasanya ruang tidur juga merangkap menjadi tempat anak berhias dan berganti baju. Terkait ini, sebaiknya anak disediakan cermin dan lemari rendah yang bisa dicapai anak. Di sini, kita bisa membiarkan anak memilih baju sendiri, mengajari anak cara memakai baju, menyisir rambut, dan lain sebagainya.

Overall, benda-benda yang ada di dalam ruang tidur sejatinya cukup tiga ini: kasur, lemari/rak baju dan cermin.

Kamar Mandi

Biarkan anak mandi dan buang air sendiri, kalaupun perlu bantuan, berikan seperlunya saja. Ini akan mudah dilakukan, asalkan orangtua membekali diri dengan stok sabar yang berlimpah.

Kalau anak dimandikan ayah/ibu, waktu yang diperlukan kira-kira 10 menit. Kalau anak mandi sendiri, sadarilah bahwa anak akan membutuhkan waktu lebih lama, bisa sampai 30 menit sendiri, dan ini tidak apa-apa. Once they enjoy the activity, they will surely master it sooner or later. Jika akhirnya anak bisa melakukannya sendiri, self-esteem anak nantinya akan terbangun dengan baik.

Patience, this has always been the hardest part, but it’s also the key to everything. Sabar adalah koentji. Yuk, tantang diri kita biar bisa senantiasa bersabar saat membersamai Si Kecil! 😉

Dapur dan Ruang Makan

Di ruangan ini, sebisa mungkin buatlah agar anak bisa mengakses sendiri peralatan dan bahan makanan yang mereka butuhkan (piring, gelas, sendok, dispenser air, masakan, roti, saos, kecap, dll) dan letakkan benda-benda berbahaya (kompor, pisau, dll) jauh dari jangkauan anak. Ini untuk meminimalisasi ucapan-ucapan berbentuk larangan, “Aduh, jangan pegang pisaunya! Kompornya jangan diputar-putar”, dan sejenisnya. Lagi-lagi, out of sight, out of mind. Kalau ada meja makan, pikirkan cara agar anak bisa naik ke kursinya sendiri, dan seterusnya.

Di dapur, anak juga bisa diajak memasak bersama. Cobakan dan berikan aktivitas yang sekiranya paling disukai anak. Alma misalnya, dia paling suka mengupas bawang putih. Berapapun bawang putih yang dia terima, dia pasti dengan semangat mengupas satu persatu.

Kalau anak belum pernah melakukan aktivitas tertentu, bagaimana caranya agar anak mau dilibatkan? Begini kata Sony.

This is the trick: you start it, the child will finish it. And at a point, they will be able to do it all by themselves since they’ve seen it for so many times.

Misalnya kita ingin agar anak bisa mengupas pisang sendiri. Beri contoh saat menarik kulit pisang dari atas ke bawah sekali atau dua kali, lalu biarkan anak mencoba sendiri sambil terus dimotivasi. Jangan cuma sekali, ajak anak mengupas pisang setiap ada kesempatan yang pas, insyaAllah hasilnya nanti bisa terlihat. Ini juga berlaku untuk aktivitas-aktivitas lain di dalam rumah: mandi, memakai sepatu, mengelap tumpahan air, memakai baju, meletakkan piring kotor ke wastafel, dan seterusnya.

Teras Rumah

Di sini, kita bisa mengajari anak untuk melepaskan kaos kaki dan sepatu sendiri. Biarkan anak mencoba meskipun memerlukan waktu lama. Jangan pernah memburu-buru atau menyuruh anak menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Let them take their time.

Anak juga suka sekali mengulang-ulang kegiatan yang mereka sukai. Asal tidak merugikan, biarkan saja. Itu salah satu cara mereka belajar. 😉

Ruang tengah

Di ruangan inilah biasanya anak-anak bermain. Kuncinya: gunakan apa yang ada. Kalau tidak memungkinkan, tidak perlu menambah rak baru untuk meletakkan buku, mainan dan material Montessori, apalagi kalau anak masih balita. FYI, di bawah satu tahun, 4-5 mainan/material dan 2-3 buku saja sudah lebih dari cukup kok.

Fokuslah hanya pada benda yang penting dan diperlukan. Semakin sedikit benda di dalam rumah, semakin mudah hidup kita. Kalau kita menyimpan terlalu banyak barang, rumah jadi gampang berantakan. Ujung-ujungnya, kita jadi sibuk beberes, jadi banyak waktu terbuang. Belum lagi kalau benda yang harus dibereskan ada banyak, kita cenderung lebih suka beberes sendiri agar cepat selesai, anak jadi tidak diikutsertakan, anak jadi tidak bisa belajar mandiri.


Done! Lumayan banyak juga yaa PR-nya. Yang penting harus tetep semangat dong~ Kalo kata Sony begini nih.

When you are setting up the environment, always remember that YOU are the mother. YOU are in charge. This is YOUR child. YOU have the AUTHORITY to do what your child likes and wants (as long as it’s positive). And please realize that even as a mother, you can go wrong, you make mistakes, because you love your child, you are learning and trying.

Jadi inget satu quote: the only true failure is when you stop trying. Bukan kesempurnaan yang membuat kita menjadi ayah/ibu yang baik, melainkan kegigihan kita untuk terus belajar.

That’s it for today! Masih ada satu postingan lanjutan lagi ya, abis itu selesai. Next, bahasannya tentang freedoms dalam Montessori dan natural consequences.

See you!

2 comments
  1. Salam kenal mom, terimakasih banyakkk, tulisannya sangat bermanfaat untuk saya yang masih nol besar soal montessori. Ga sengaja nemu blog ini pas lagi cari tentang alas kerja/ work mat di ig. Banyak bertebaran dokumentasi soal montessori, tapi saya blm menemukan yang menjelaskan bagaimana sih sebenarnya intisari dan konsep keseluruhan dari metode tersebut seperti di postingan ini. Menunggu part 3!

    1. Hai hai, salam kenal juga Momm. Thank you yah buat apresiasinyaa 😘 Semoga part 3 bisa publish besok nih. 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *