Montessori di Rumah – Bagian Satu – Salah Kaprah dan Persiapan

Akhir bulan Juli kemarin, aku gabung di grup Facebook Montessori for Mommies yang dibuat oleh Sony Vasandani dari Sunshine Teachers Training. Kata Sony, ini grup terbuka, jadi feel free yaa kalo mau gabung.

Nah, tanggal 1 Agustus, Sony ngadain Facebook Live yang temanya Specific Montessori Activities to Implement at Home. Durasinya lumayan panjang, hampir satu setengah jam. Biar nggak bosen, isi dari live session ini aku buat jadi tiga bagian, dan postingan ini adalah bagian yang pertama.

First thing first, aku mau bahas motifku dulu, kenapa aku pengen ikut live session-nya. Alasan pertama: ya why not? Kenapa enggak? Ilmu itu investasi yang jangka waktunya limitless, bisa untuk selamanya. Apalagi ini free kann. 😝

Alasan kedua: ya karena aku suka banget sama metode Montessori. Tapiii aku selalu merasa overwhelmed tiap kali liat postingan para ibu hebat di Instagram (internet, generally) yang menampilkan kegiatan-kegiatan Montessori anaknya. Gelagapan di tengah banjir informasi.

For a beginner like me, seeing many of those posts was like looking at scattered puzzle pieces. Aktivitas X menarik banget, tapi tujuannya apa sih? Adakah hubungan antara aktivitas X dan Y? Adakah urutan-urutan tertentu? Apakah aktivitas/aturan XYZ ini wajib, atau boleh di-skip? Apa sih tujuan dasar kita ngelakuin aktivitas-aktivitas ini?

Kayak misalnya nih, akhir-akhir ini aku sering banget lihat temen-temen yang bikin Pojok Montessori alias area khusus untuk anak buat berkegiatan Montessori. Mainan-mainan dan material yang digunakan anak diletakkan di area ini. Jadi kalau mau belajar/beraktivitas Montessorial ya harus di situ, nggak boleh pindah-pindah. Tujuannya agar anak bisa mengenal konsep teritori dan belajar buat konsisten (CMIIW).

Ini bagus banget, but I couldn’t help thinking: kalau rumahnya kecil dan bener-bener nggak ada ruang lebih buat bikin Pojok Montessori gimana? Berarti nggak bisa aplikasiin Montessori di rumah?

Aku nggak kunjung dapet jawaban yang pasti… sampai akhirnya aku dengerin penjelasan Sony. Berikut kutipan lengkapnya.

When we’re implementing Montessori, it doesn’t have to be a place where you are setting up the shelves and everything, it’s the whole home environment.
Montessori at home means we’re taking the whole house. We are not using a corner of the house: this is your area, this is were you have to work, no. It cannot be like that. It has to be the whole house for the child.

Kemudian Sony mulai jelasin satu persatu kondisi ideal seperti apa yang bisa kita usahakan untuk tiap-tiap ruangan di dalam rumah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Montessori, mulai dari teras depan sampai ke toilet. And it all started to make more sense to me.

Aku juga mulai browsing lagi soal Pojok Montessori ini. Kira-kira apa ya yang bikin dua info ini bisa saling kontradiktif? Satunya bilang Pojok Montessori itu penting, satunya lagi bilang enggak.

Ternyata, nama lain dari Pojok Montessori ini adalah The Montessori Work Mat (selanjutnya disebut TMWM). TMWM ini memiliki ukuran ideal tertentu dan dari yang aku baca, TMWM ini biasanya disediakan oleh guru untuk murid-murid di dalam kelas. Kalo di kelas, pasti ada lebih dari tiga anak ya paling nggak. Nah, biar anak-anak nggak saling ‘ngerecokin’ satu sama lain, maka dibuatlah TMWM ini, biar anak tahu batas teritori masing-masing. Make sense  banget yaa.

Nah, I guess, peraturan semacam itu ternyata nggak saklek-saklek amat, nggak harus dilakuin, tergantung konteks. Kalau konteksnya Montessori di rumah, bukan di kelas, berarti udah beda lagi dong ya (again, CMIIW).

Kalau di rumah ada lebih dari satu anak gimana? Berarti bisa nih TMWM dipake? This question suddenly popped inside my head, hahaha. Beklah, kayanya aku harus tanya ke Sony dulu nih. 😆


Mulai dari sini, bahasannya fokus ke Montessori di Rumah yaa.

Ada dua hal yang harus dilakukan sebelum kita, para orangtua, mulai mengaplikasikan Montessori di rumah.

1. Declutter

Siapa yang tahu seni berbenah KonMari? Ini persisss kaya gitu. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan lingkungan rumah (setting up the environment). Rumah seperti apa yang ideal untuk anak? Jawabannya kira-kira: rumah yang aman di mana anak bisa bebas bergerak dan menjelajah rumah serta bebas mengakses benda-benda yang mereka perlukan secara mandiri, plus, yang tidak mendistraksi anak.

Sebagai orangtua, apalagi orangtua newbie, bawaannya pasti pengen beliin banyak hal buat anak. Baju, mainan, perlengkapan gears, boneka dan lain sebagainya. Sayangnya, anak di bawah 6 tahun nggak memerlukan benda sebanyak itu. Buku? Dua aja cukup, maksimal tiga. Boneka? Palingan yang suka emaknya aja ini sih. Mainan? Ehm, anak biasanya lebih tertarik sama kardus pembungkusnya sih, haha.

Nah, kalo barang-barang itu udah numpuk, yang ada malah tercipta distraksi-distraksi yang tidak perlu bagi Si Anak. Menstimulasi perkembangan anak enggak, bikin anak nggak konsen iya.

Ini juga berlaku buat apparatus Montessori ya. Percuma beli apparatus mahal-mahal kalo nggak tahu gimana cara pengaplikasian yang bener, apalagi kalo ujung-ujungnya cuma dipajang di rak.

Detil tentang bagaimana menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori aku tulis di postingan selanjutnya ya.

Why declutter? Too much things can be very distracting. The less things you have in the house, the better it is for you and your child.

We love our children so much we want to give them everything. The best thing we can do is that we are learning how to do better and to give them our time: without any technology. – Sony Vasandani

2. Observe

Sebagai orangtua, kita harus mulai belajar mengamati anak. Anak kita lagi tertarik sama apa? Kebiasaannya terkait ini dan ini kaya gimana? Materi/aktivitas yang dia udah dan belum bisa apa aja?

Gunanya buat apa? Agar kita tahu apa yang dibutuhkan dan disukai anak (nggak cuma asal nyodorin aktivitas pilihan kita, orangtuanya, padahal anak belum tentu tertarik/suka) dan biar kita tahu cara-cara seperti apa yang bisa membuat anak belajar dengan nyaman dan optimal.

Misalnya, Si Bocil lagi suka coba-coba pake sepatu sendiri. Kita amatin, oh, ternyata dia udah bisa pake sepatu model slip on sendiri. Berarti kita bisa mulai kenalin ke sepatu yang pake velcro. Gimana biar Si Bocil ngerti cara pakenya? Oh, dicontohin. Gimana caranya biar anak cepet nangkep? Oh, waktu ngasih contoh, anaknya dipangku, biar anak bisa ngeliat dari sudut yang sebenarnya kaya waktu dia lagi make sepatu. Udah bisa lepas-pasang velcro? Coba dikasih sepatu bertali. Dan seterusnya.


That’s it. Di dua postingan selanjutnya, aku bakal nulis detil tentang proses menyiapkan setiap ruangan di rumah agar sesuai sama prinsip Montessori dan juga tentang natural consequences and freedom in Montessori ya (berdasarkan materi yang disampaikan Sony).

See you all! Hopefully very soon~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *