Task 5: Tidying Festival – Clothes

Ini adalah bagian kedua (sekaligus terakhir) dari Festival Berbenah dalam kategori Clothes alias Pakaian.

Kalau di postingan pertama saya banyak memperlihatkan hasil lipatan baju ala KonMari, maka di postingan kedua ini saya akan membahas mengenai storage alias tempat penyimpanannya.

Sesungguhnya, tempat penyimpanan baju ala KonMari yang paling ideal adalah yang berupa drawer/laci, seperti yang ditunjukkan ilustrasi di bawah ini.

Tempat penyimpanan ideal kedua adalah dengan menggunakan kabinet dimana baju disimpan dengan cara digantung. Agar kabinet bisa lebih spark joy, maka selain diurutkan berdasarkan warna (seperti saat disimpan dalam laci), baju juga bisa diurutkan dari yang paling panjang ke yang paling pendek.

Tapi laci memang lebih preferable karena bisa memuat jauh lebih banyak baju.

Lalu, bagaimana kalau kita terlanjur membeli lemari model konvensional?

Masalah yang umumnya timbul dari lemari konvensional adalah jarak antarsekat yang terlalu tinggi. Opsi solusi yang pertama adalah dengan mengganti lemari konvensional dengan kabinet/laci.

Masalahnya, belum tentu kita memiliki budget yang memadai dalam waktu dekat untuk melakukan ini. Seperti saya contohnya. 😆

Untungnya, kita punya opsi yang kedua, yaitu dengan menambahkan sekat-sekat tambahan yang disisipkan di antara dua sekat yang terlalu tinggi tadi, seperti ini.

Setelah mengecek di Tokopedia, ternyata harga tiap sekat lumayan juga. Terlebih lagi, saya tidak hanya membutuhkan 1-2 buah sekat saja, melainkan sedikitnya 10 buah sekat seperti ini (lemari di rumah ada dua dan tiap lemari memiliki 5 buah kolom yang bisa disisipi sekat tambahan).

Akhirnya, saya pun menggunakan opsi ketiga, yaitu menambahkan beberapa kontainer di tiap-tiap kolom lemari. Begini penampakan lemari pakaian saya saat ini.

Abaikan tulisan di tiap kotak yang masih acakadut, hahaha. Dan kenapa pakai bahasa Inggris? Pertama, biar lebih pendek (coba tulis Socks & Panties vs Kaos Kaki & Celana Dalam, pilih mana? 😂). Kedua, karena bagi saya, tulisan berbahasa Inggris itu sangat spark joy. 😎

Back to topic, kekurangan dari model penyimpanan seperti ini adalah kontainer jadi saling ditumpuk satu sama lain. Kontainer yang berada di tumpukan paling bawah jadi agak sulit untuk diakses (kontainer yang ada di atasnya harus diambil terlebih dulu).

Kekurangan ini sebetulnya bisa diakali dengan cara mengisi kontainer paling bawah dengan pakaian yang paling jarang digunakan. Kalau saya, kontainer paling bawah saya isi dengan kumpulan mukena dan sajadah cadangan dan baju-baju atasan yang saya pakai di waktu-waktu tertentu saja.

FYI, saat saya mengirimkan foto lemari saya ini di grup kelas, ada yang mengira kalau kotak-kotak yang saya pakai adalah kotak SKUBB dari IKEA.

Padahal bukan.

Awalnya memang saya sempat browsing katalog IKEA (karena biasanya barang-barang basic di IKEA harganya bisa murah sekali). Saya pun menemukan box set SKUBB ini. Harganya 99.000 berisi 6 kotak dengan ukuran yang berbeda-beda.

Cukup menggiurkan, but this box set does not solve my problem. Kenapa?

Pertama, bisa dilihat di foto lemari saya di atas, dalam satu lemari saja saya membutuhkan 24 kotak baju tambahan. Jadi saya akan membutuhkan paling tidak 6 buah box set SKUBB untuk satu lemari. Lemari di rumah kami ada dua. Hmm, not so cheap anymore, eh?

Kedua, ini alasan yang membuat saya mencoret kotak SKUBB dari daftar, karena ukuran kotaknya yang tidak seragam. Kalau ukuran kotak tidak seragam, bila dijajarkan side-by-side pasti kurang enak dilihat. It’s really a big no-no for me.

Setelah saya mengukur panjang, lebar, dan tinggi tiap-tiap kolom lemari, saya menyimpulkan bahwa kontainer seukuran kotak sepatulah yang paling pas ditaruh di dalam situ. Akhirnya saya mencoba browsing di Tokopedia dan menemukan banyak sekali pilihan kotak sepatu.

Akhirnya, saya memilih kotak sepatu yang berbahan Duplex 250 GSM dan berwarna putih ini. Yay! Bahagia sekali rasanya saat saya menemukan kotak ini. Harga perhelainya pun hanya 4000 rupiah saja. Meskipun sebetulnya bahannya kurang tebal ya, jadi rasanya kurang kokoh (sebetulnya ada kotak lain yang lebih kokoh, tapi bahannya kardus berwarna coklat, saya tidak terlalu suka). Kalau ditumpuk vertikal, pasti cepat penyok. Kekurangan ini saya siasati dengan cara menyelipkan tutup kotak sepatu di antara dua kotak yang ditumpuk, seperti ini.

Fungsinya adalah untuk meminimalisasi tekanan pada kardus yang ada di tumpukan bawah. Tiap helai tutup kotak berfungsi memperlebar luas permukaan sisi atas kotak yang ada di bawah (kotak yang di bawah jadi memiliki ‘atap’), sehingga beban yang berasal dari kotak di atasnya bisa terdistribusi dengan lebih merata.

Manfaat lain yang saya temukan adalah kotak-kotak yang di bawah jadi bisa ditarik menyerupai laci. Jadi saya tidak perlu mengambil kotak yang paling atas jika ingin mengambil kotak baju yang berada di bawah.

Now that’s what I call happiness. 😛

Bagaimana rasanya setelah mengatur lemari menjadi seperti ini? Surprisingly, lemari saya jadi lebih tahan rapi dalam waktu yang sangat lama. Padahal saya termasuk orang yang cukup berantakan. Pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, tiap selesai merapikan tumpukan baju di lemari, dalam waktu beberapa hari pasti akan berubah berantakan lagi. Tapi kali ini tidak. Padahal sudah lebih dari seminggu yang lalu sejak saya menata ulang lemari. This is pretty much an achievement for a messy person like me. 😍

Sebetulnya ada alasannya sih kenapa bisa begitu. Kalau baju dilipat dan ditumpuk secara vertikal, bila kita mengambil/menarik baju yang ada di bawah, pasti sangat berpotensi untuk membuat tumpukan baju menjadi berantakan karena baju yang berada di atas/di bawahnya ikut tertarik.

Namun, jika baju dilipat sampai bisa berdiri sendiri untuk kemudian dijajarkan secara horizontal (seperti metode KonMari), risiko tersebut jadi bisa diminimalisasi, seperti baju saya dan anak saya setelah ditata ulang ini.

Awww, I really can’t take my eyes off of them. So much spark! So much joy!

I cannot wait to do the next category! 💜

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *