Tanya Jawab Kulwapp by @SensoryZone: Pentingnya Sensory Play untuk Anak Usia Dini oleh Zahra Zahira

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelum ini. Gak pake lama, langsung hajar aja, ya.

(((Hajar)))


#1

Ketika anak terus bergerak dan tidak mau diam maka kita perlu melakukan stimulasi gerakan, keseimbangan dan melatih kesadaran tubuhnya.

Apa yang dimaksud dengan kesadaran tubuh? Bagaimanakah melatih kesadaran tubuh anak dan apa saja contoh kegiatannya? Terima kasih.

♀ Septian virgiani – Depok

♀ Ayu – Jakarta

Jawaban:

Hai, Mba Septian.

Body awareness adalah kesadaran internal tubuh akan ruang yang ada di sekitarnya. Anak dapat mengetahui kanan dan kiri, dapat mengetahui jarak dan batas-batas tubuh. Contohnya, saat anak bayi baru bisa merangkak, ia akan cenderung merangkak kemana-mana dan bisa membentur benda di sekelilingnya karena belum memiliki kesadaran internal tubuh yang baik. Saat anak merangkak, lalu membentur benda tertentu, akan memperkaya pengalaman bagi anak. Misal, dengan begitu keesokan harinya ia akan lebih berhati-hati saat merangkak.

Saat bermain, biasanya banyak orangtua yang belum-belum banyak berkata, “Awas nanti jatuh!”, “Aduh jangan naik-naik nanti jatuh.” Saya pribadi, apabila anak terjatuh, membuat ia akan belajar bahwa keesokan harinya ia akan lebih aware terhadap ruang gerak tubuhnya.

Bayangkan, jika orangtua banyak melarang bergerak dengan dalih tidak aman untuknya, lalu kapan ia belajar melatih body awareness-nya? ☹ Biarkan saja ia bergerak, bermain, terjatuh, lalu bangkit kembali, agar keesokan harinya ia dapat lebih berhati-hati.

Contoh kegiatan untuk melatih body awareness bisa dengan mempraktikkan kegiatan Practical Life di Montessori. Kegiatan sederhana seperti membawa nampan berisi gelas adalah salah satu bentuk melatih body awareness. Di sekolah saya, beberapa kali anak-anak menjatuhkan gelas saat membawa nampan. Yang menarik, keesokan harinya ia akan berjalan dengan sangat hati-hati untuk tidak menjatuhkan gelas kembali. Tandanya ia sedang belajar meningkatkan kesadaran internal tubuh terhadap benda di sekitarnya.

 


#2

Assalamualaikum, Ms. Zahra. Anak saya berusia 16 bulan dan setelah ikut Tes Stifin anak saya tipe kinestetik. Saya mengalami kesulitan untuk membuatnya tertarik dan fokus melakukan aktivitas Montessori. Bagaimana cara agar anak tertarik dengan permainan sensori? Dan dari manakah kita bisa mendapatkan ide permainan sensori? Terima kasih.

♀ Siti Rahmawati – Malang

♀ Mamluatur – Madiun

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mba Siti dan Mba Mumluatur.

Seharusnya lingkungan Montessori (jika disiapkan dengan benar) justru sangat baik untuk anak yang suka belajar dengan bergerak dan bekerja, karena lingkungan Montessori justru memberi anak ruang untuk memilih kegiatan yang ia sukai dan bergerak bolak-balik untuk mengambil dan menaruh kembali.

Terkadang dalam melakukan kegiatan Montessori di rumah, kebanyakan orangtua hanya berfokus pada aktivitas yang harus dilakukan anak: ia harus duduk dan mengerjakan aktivitas tersebut. Padahal, sebetulnya Montessori tidak sekaku itu. Apabila anak menyukai belajar dengan bergerak justru kita bisa meminta ia mecocokkan warna dengan bergerak: menaruh warna merah di ujung kanan lalu warna merah lainnya di bagian kiri ruangan. Setelah ia mengambil kedua warna, baru nantinya dicocokkan di atas alas kerja.

Ide permainan sensori banyak sekali di internet. Jangan lupa, saat mencari permainan sensori jangan sampai terkecoh dengan ide-ide yang bagus di internet, perlu disesuaikan dengan karakteristik anak kita.

 


#3

Assalamualaikum, kegiatan keseimbangan notabene banyak gerak:
anak saya sering melakukan ini di sofa, meja, dan lainnya. Apabila dilihat dari sisi positifnya, sensori anak saya berkembang. Namun secara “adab” mungkin kurang. Apa perlu ruangan “khusus” untuk melakukan kegiatan vestibular seperti ini bila ditinjau dari segi adab?

♀ Yola, Bekasi

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh, Mba Yola.

Salah satu filosofi Montessori adalah Freedom with Limits, yaitu kebebasan yang bertanggung jawab. Anak-anak boleh melakukan apa yang ia suka tetapi ada batasnya, disinilah adab dijalankan.

Contohnya, apabila ia ingin bergerak diatas sofa, berarti ada kebutuhan untuk menyalurkan energinya melalui melompat. Anak boleh diberitahu, “Oke, kamu ingin melompat? Kita melompat di luar rumah, yuk. Tidak diatas sofa, ya!”

Disini kita mengakomodir kebutuhan anak untuk bergerak, disisi lain ia tetap melompat tetapi tidak di sofa.

 


#4

Miss, saya memiliki anak laki-laki berusia 21 bulan, terkadang masih suka terjatuh (jatuh karena diri sendiri, tersenggol orang lain atau menabrak sesuatu yang ada di dekatnya). Saya sadar stimulasi untuk melatih indra vestibular dan proprioception kurang ia terima, karena saya pikir keduanya bisa dipenuhi dengan aktivitas fisik di luar rumah. Adakah kegiatan Montessori yang dapat dilakukan di rumah untuk melatih kedua indera tersebut? Terima kasih.

♀ Riesni – Jakarta

Jawaban:

Hai, Mba Riesni.

Kegiatan Montessori yang sangat baik untuk melatih body awareness dan kontrol tubuh adalah berbagai kegiatan Practical Life, seperti berjalan di atas garis, berjalan di atas garis dengan membawa benda, mengangkat kursi, atau bolak-balik mengambil dan menaruh benda. Hal lain yang perlu diperhatikan juga memberikan aktivitas untuk melatih motorik halus dan konsentrasinya, seperti memindahkan, menuang, menjepit dengan penjepit baju, menggunting dan meronce.

 


#5

Adakah tingkatan/tahapan dalam sensory play? Misalkan, anak yang berbeda umur harus memiliki model Sensory Play yang berbeda pula? Anak saya berusia 28 bulan, jarang bermain sensori (kegiatan kami sehari-hari sebagian besar membaca buku, outdoor, dan bermain bebas sesuai keinginan anak). Jika ingin memulai rutinitas Sensory Play saya harus memulainya darimana, ya? Sebaiknya dilakukan berapa kali dalam seminggu? Terima kasih.

♀ Yossie – Solo

Jawaban:

Sensory Play sendiri masuk dalam kurikulum Sensorial di Montessori. Sebetulnya tidak harus melakukan kegiatan tertentu dalam usia tertentu dalam Sensory Play. Kita sebagai orangtua lah yang banyak-banyak mengenalkan kegiatan ini. Contohnya, usia kurang dari 12 bulan, kita bisa memberinya stimulasi permainan membedakan tekstur dua benda. Saat anak lebih besar, bisa memberikan lebih banyak benda. Disesuaikan aktivitas dengan tingkat umurnya.

Sensory play jangan dijadikan aktivitas yang baku, ia bisa dilakukan setiap hari. Akan lebih baik, tentunya membuat jadwal hari ini fokus pada kegiatan apa.

Bisa juga saat bepergian, minta anak mencium bunga yang ia lihat di sekitarnya, minta ia menjelaskan suara apa yang ia dengar ataupun minta ia menjelaskan hal-hal menarik yang ia lihat. Hal ini sekaligus menstimulasi olfactory, vision dan auditory.


#6 (TAMBAHAN)

Anak saya berusia 2 tahun 2 bulan. Belum bisa bicara jelas, hanya 4-5 kata yang bisa diucapkan dengan jelas. Tetapi, dia mengerti perintah dan mengerti pembicaraan orang lain. Kegiatan seperti apa yang bisa membantu kemampuan dan keinginan anak untuk bicara dan yang kiranya cocok dalam tahap anak belum mampu bicara lancar. Apakah ada tips menangani speech delay? Terima kasih.

Jawaban:

Contoh permainan apa saja banyak idenya di internet mba. Seperti yang saya jawab di pertanyaan nomor tiga.

Biasanya, kalau menjawab pertanyaan tentang language delay, perlu dikaji dulu, Mba. Selama ini aktivitasnya di rumah seperti apa, banyak berinteraksi dengan siapa (orang dewasa atau anak-anak seumurannya). Saat berinteraksi dengan orang dewasa, bagaimana mereka memperlakukan anak tersebut.

Jika kesemua sudah dilakukan dan anak jarang bersentuhan dengan screen, berarti perlu dikonsultasikan dengan psikolog, apakah butuh bantuan terapis atau tidak.

Bisa dibantu dengan aktivitas Sensory Play tadi. Salah satu murid saya selalu bersentuhan dengan screen, saat saya ajak bermain pasir dia teriak dan jijik, karena belum banyak distimulasi indera taktilnya.


#7 (TAMBAHAN)

Deahafida – Bandung

Adakah kata “terlambat diberikan” untuk pemberian Sensory Play pada anak?

Anak saya usia 32 bulan. Misalnya, saya memberikan kegiatan yang menurut buku diberikan untuk anak usia 2 tahun. Terlambatkah?

Atau adakah kata “terlalu cepat diberikan”? Anak kedua saya berumur 9 bulan tapi saya sudah memberikan kegiatan untuk anak usia 1 tahun. Terlalu dinikah?

Apa ada dampak negatifnya? Terima kasih Miss Zahra.

Jawaban:

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Mba. Tidak masalah bila anak diberikan aktivitas untuk umur yang lebih besar, asalkan jika dilihat tetap sesuai dengan milestone perkembangannya.


PENUTUP

Alhamdulillah, diskusi kita sudah di penghujung waktu.

Pengingat untuk semua. Sebelum memikirkan aktivitas apa untuk anak, observasi dulu anak, kesukaan dan ketertarikannya, baru menentukan aktivitas yang kita berikan.

Saat memberikan stimulasi Sensory Play, seringlah katakan, “Allah yang menciptakan mata kita, sehingga kita bisa melihat benda ini.” Libatkan Allah dalam segala aktivitas dengan anak, untuk menanamkan iman di dalam hatinya.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *