Tentang Sekolah dan Alasan Kami Memilih Homeschooling

Halo, halo, halo!

Wuah, lama juga ya aku nggak posting blog. Nah, biar nggak jamuran, aku mau update lagi nih. Kali ini temanya berkisar di dunia pendidikan.

FYI, sejak beberapa bulan yang lalu, dengan berbagai pertimbangan, aku dan Abi memutuskan buat nggak menyekolahkan Alma ke sekolah formal. Dengan kata lain, kami pengen nerapin homeschooling.

Yesss, I know. Alma sekarang masih 2 tahun. Tapi kami sadar betul kalau keputusan kami ini bukan keputusan yang gampang. Simply karena kami nggak cuma hidup bertiga doang. Keputusan yang kami ambil, apalagi keputusan sebesar ini, pasti bakal ngaruh juga ke keluarga besar, teman-teman, sampai tetangga. Bakal ada banyak banget tantangan yang harus kita hadapi nantinya, terutama waktu Alma udah masuk usia sekolah nanti, yaitu sekitar 5-6 tahun. Pasti bakal ada baaanyak sekali pertanyaan, saran, kritikan (baik yang membangun maupun yang enggak) yang diarahkan ke kami berdua. And trust me, it is not gonna be easy.

Itulah kenapa, kami harus siap-siap mulai dari sekarang. Sekarang Alma udah 2 tahun. Berarti kami cuma punya waktu 4 tahun buat kuatin mental dan rencanain semua yang kami perlu buat dampingin Alma. Harus banyak-banyak belajar dari keluarga-keluarga yang lebih dulu nerapin homeschooling.

Tapi bagaimanapun reaksi yang kami terima nanti, insya Allah kami nggak bakal goyah. Ya karena kami emang udah mantap banget sama pilihan kami ini.

Aku udah beberapa kali posting tentang homeschooling, tapi di Instagram. Bakal aku post ulang ke sini kayaknya sih. Mana tau kan bisa bermanfaat, hehe.

Nah, buat postingan yang ini, aku secara khusus mau kasih tau alasan kenapa aku dan Abi bisa pilih homeschooling. Awalnya aku bingung harus mau mulai dari mana. Tapi ndilalah, kemarin ada yang sharing video ini di grup Telegram. Abis nonton, wow, I really cannot agree more! This is what I have been looking for! Wajib banget di-share.

Ini videonya:

Kalo mau lebih jelas, jangan lupa turn on caption ya, biar jadi ada subtitle-nya gitu, hehehe.

Daaaan, kebetulan aku tadi pagi, ENTAH KENAPA AKU JUGA NGGAK PAHAM, tiba-tiba jadi terobsesi buat terjemahin narasi video ini. Bangun tidur langsung jebret buka laptop. Bertekad buat nyelesaiin terjemahan sebelum anak bayik bangun. Udah kayak penerjemah yang lagi dikejar deadline. Padahal ya nggak dikejar apa-apa. Iseng doang. :)))

Yesss, I know. I completely realize the fact that I’m a weirdo.

So, yeah. Buat yang kepingin baca versi bahasa Indonesianya, silakan cek tulisan di bawah ya. Maaf kalo ada anak Sastra Inggris yang baca trus jadi mangkel karena ada yang salah-salah. Namanya juga emak-emak. Nggak nyambung? Biarin.


Enam Permasalahan dalam Sistem Sekolah

Ada sebuah pendapat yang tengah berkembang saat ini, yaitu bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang salah?

Kita mengirim anak-anak kita ke sekolah untuk mempersiapkan mereka agar mampu menghadapi dunia nyata yang terus berubah dengan sangat, sangat cepat ini. Ironisnya, sekolah yang ada sekarang ini masih belum banyak berubah dari sejak ratusan tahun yang lalu.

Faktanya, para pemikir besar dunia setuju bahwa sistem pendidikan sekarang ini dirancang pada Era Industri, tujuan utamanya adalah untuk memproduksi pekerja-pekerja pabrik. Dan mentalitas produksi massal dan kontrol massa ala Era Industri ini masih mengalir deras di sekolah-sekolah.

Nilai-nilai di Era Industri

Kita mendidik anak-anak dalam kelompok-kelompok dan mengendalikan hidup mereka dengan cara membunyikan bel. Sepanjang hari, murid-murid tidak melakukan apapun selain mengikuti perintah-perintah.

Ayo duduk, keluarkan bukunya, buka halaman 40, kerjakan soal nomor tiga, berhenti bicara.

Di sekolah, kamu dihargai karena kamu melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan. Ini adalah nilai-nilai di Era Industri yang pada saat itu teramat penting  bagi para pekerja pabrik. Kesuksesan mereka bergantung pada kemampuan mereka dalam mengikuti instruksi-instruksi dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan.

Namun, di era globalisasi ini, seberapa jauh kamu bisa bertahan hanya dengan mengikuti instruksi?

Dunia modern menghargai orang-orang yang kreatif, yang dapat mengomunikasikan ide-ide dengan baik, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. Meskipun demikian, anak-anak kita tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut di dalam sistem yang didasarkan pada nilai-nilai di Era Industri ini.

Kurangnya Kemandirian dan Kontrol Diri

Di sekolah, anak-anak sangat kurang dalam hal kemandirian dan kontrol diri. Setiap menit dalam hidup seorang anak senantiasa dikontrol oleh sistem. Akan tetapi di masa kini, apabila kamu melakukan suatu pekerjaan penting, maka kamu lah yang harus mengatur waktumu sendiri untuk melakukan pekerjaan itu. Kamu membuat keputusanmu sendiri sehubungan dengan apa-apa saja yang harus dilakukan dan kapan kamu akan melakukannya.

Nyatanya, kehidupan di sekolah terlihat sangat berbeda. Sistem mengirimkan pesan yang berbahaya kepada anak-anak: bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri. Mereka hanya perlu mengikuti apapun yang sudah ditetapkan, alih-alih bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan memanfaatkan sebaik dan sepositif mungkin hidup yang telah diberikan kepada mereka.

Para ahli percaya bahwa kemandirian adalah hal yang teramat penting bagi anak-anak. Tidak heran jika anak-anak kita merasa bosan dan tidak termotivasi oleh sekolah.

Bisakah kalian membayangkan bagaimana rasanya jika kalian selalu diberitahu apa yang harus dilakukan di tiap menit hidup kalian?

Pembelajaran yang Tidak Autentik

Sebagian besar proses belajar yang terjadi di sekolah pada hari ini adalah proses belajar yang tidak autentik karena sekolah mengandalkan proses mengingat dan menghafal. Sistem sekolah mendefinisikan serangkaian pengetahuan di mana seluruh siswa harus mempelajarinya. Kemudian, setiap beberapa bulan sekali, kita mengukur seberapa jauh anak-anak menguasainya dengan mengadakan ujian-ujian. Kita bisa tahu bahwa proses belajar semacam ini tidak autentik karena sebagian besar materi yang diingat siswa akan hilang di hari setelah ujian diadakan.

Proses belajar bisa jauh lebih dalam dan lebih autentik dari itu. Proses belajar bisa lebih dari hanya sekadar mengingat dan menghafal. Namun nyatanya, hanya dua hal itu saja yang selama ini kita ukur, dan nilai ujian menjadi satu-satunya hal yang kita hargai.

Hal ini tentu menciptakan budaya yang tidak sehat bagi para siswa, orang tua, dan guru. Anak-anak tiada henti mengikuti pelajaran selama berjam-jam, bangun semalaman demi menghafal fakta-fakta yang tidak begitu berguna yang akan segera mereka lupakan.

Tidak Ada Ruang untuk Minat

Kita memiliki sistem yang begitu terstandardisasi, di mana setiap anak harus mempelajari hal yang sama, di waktu yang sama, dengan cara yang sama satu sama lain. Metode ini tidak menghargai fakta mendasar bahwa kita adalah manusia, bahwa setiap orang itu unik dan berbeda dengan cara kita masing-masing. Kita semua memiliki minat yang berbeda. Dan kunci pemenuhan dalam hidup adalah dengan menemukan passion kita.

Akan tetapi, sudahkah sekolah membantu anak-anak kita menemukan dan mengembangkan minat mereka? Sepertinya tidak ada ruang lagi di dalam sistem pendidikan saat ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup seorang anak: aku pandai melakukan apa? Apa yang ingin aku lakukan dalam hidup? Bagaimana aku bisa menempatkan diri di dunia ini? Sistem pendidikan kita nampaknya tidak begitu peduli.

Ada begitu banyak orang-orang yang sangat berbakat yang gagal di dalam sistem pendidikan tradisional. Untungnya, mereka bisa mengatasi kegagalan mereka.

Tapi tidak semua orang bisa.

Kita tidak tahu sudah ada berapa banyak bakat, berapa banyak potensi yang telah hilang, tidak diakui oleh sistem yang ada saat ini.

Perbedaan dalam Cara Belajar

Masing-masing dari kita juga berbeda dalam hal bagaimana cara kita belajar, berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk mempelajari sesuatu, dan alat serta sumber-sumber belajar macam apa yang terbaik bagi kita. Akan tetapi, sistem yang ada saat ini tidak memiliki ruang untuk perbedaan-perbedaan itu. Oleh karena itu, kalau kamu sedikit lambat dalam mempelajari sesuatu, maka kamu dianggap gagal, padahal yang sebenarnya kamu butuhkan hanyalah sedikit waktu lebih untuk menyusul ketertinggalan itu.

Metode Ceramah

Di dalam sistem yang ada saat ini, anak-anak ‘diceramahi’ dalam waktu lebih dari lima jam perhari. Namun sebetulnya ada beberapa masalah besar yang berkaitan dengan metode ceramah ini. Sal Khan dari Khan Academy menyebut metode ceramah sebagai “sebuah pengalaman yang tidak berperikemanusiaan, 30 anak dengan jari telunjuk di bibir, tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan satu sama lain”.

Selain itu, di tiap-tiap kelas, murid berada dalam tahap pemahaman yang berbeda-beda. Apapun yang dilakukan oleh guru, pasti akan ada siswa yang merasa bosan karena dia sudah lebih dulu memahami materi, dan sebaliknya, ada anak yang kebingungan karena ketinggalan materi.

Dengan adanya Internet dan media digital, anak-anak sekarang jadi bisa mengakses seluruh informasi yang ada di duniai hanya dengan ujung jari mereka. Teknologi telah memungkinkan siapapun untuk mempelajari apapun, namun karena khawatir kehilangan kendali, sistem kurang mendukung penggunaan sumber-sumber belajar yang luar biasa ini.

Sistem pendidikan yang terbentuk di Era Industri ini sudah ketinggalan zaman dan tidak efektif. Jika kita ingin mempersiapkan anak-anak kita untuk menyambut dunia modern, jika kita ingin kegiatan belajar menjadi efektif dan menyenangkan, maka tidak perlu diragukan lagi: kita perlu melakukan perubahan-perubahan mendasar pada sistem pendidikan kita.


Aku ulangin kalimat terakhir di paragraf terakhir ya:

Jika kita ingin kegiatan belajar menjadi efektif dan menyenangkan, maka tidak perlu diragukan lagi: kita perlu melakukan perubahan-perubahan mendasar pada sistem pendidikan kita.

Jadi udah jelas ya, solusinya adalah dengan melakukan perubahan mendasar di sistem pendidikan. Iya, ini bukan hal yang nggak mungkin. Tapi kita pasti paham kalau untuk melakukan ini pasti sama sekali nggak mudah dan dibutuhkan waktu sampai puluhan tahun, worst case, sampai ratusan tahun.

Keburu Alma punya cicit dong ah.

Bukannya pesimis, aku cuma berpikir realistis.

Nah, karena solusi di atas cukup susah diwujudkan, itulah kenapa aku, Abi dan ribuan bahkan jutaan keluarga lain memutuskan buat merealisasikan solusi yang kedua: kami keluar dari sistem yang ada. Kami memilih buat bertanggung jawab langsung terhadap pendidikan anak-anak.

Lagipula, who knows our children better than us? That will make us the best teacher and partner they can ever have.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang positif, beriman kepada Tuhan, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama ya.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *