Perkembangan Bahasa pada Balita

yak. setelah kelar baca dokumen plus video berjudul Toddler’s Talk punya Cochlear, i decided to rewrite it with my own language. sebelumnya, perlu digarisbawahi bahwa Cochlear sebenernya bahas lengkap banget tentang perkembangan bahasa anak umur 0-48 bulan, tapi di sini aku bakal nulis perkembangan bahasa di rentang usia 16-30 bulan aja (sesuai umur Alma, jadi lebih relevan buat aku).

 

kemarin-kemarin aku pernah share tentang pengalaman seorang ibu yang anaknya divonis speech delay. awalnya, si ibu dan suaminya sempat denial, ‘ah kaya gini sih masih normal, wajar, nanti juga bisa ngomong, ada waktunya lah’, padahal in-the-end enggak. akhirnya si anak butuh diterapi di klinik tumbuh kembang.

 

pengalaman si ibu ini sempet bikin aku takut juga lho. there is a saying: ‘we often fear of things we cannot see’. bener banget lah ini. batas-batasnya apa sih sampai seorang anak bisa divonis speech delay? aku nggak tahu dan ketidaktahuan inilah yang bikin nggak nyaman. kita jadi nggak tahu apa yang harus dilakukan biar semua bisa berjalan normal.

 

that is why, i want to write this post. tulisan ini berisi semua tentang perkembangan bahasa toddlers: mereka harusnya mulai bisa apa, apa yang harus dilakukan orang tua/pengasuh, dan hal-hal yang perlu dihindari. meskipun isinya memang bukan tentang indikator anak yang punya speech delay, but i think the risk will be minimum (hopefully) if we can make some efforts to do the things i write in this post.

 

mari dimulai.

 

di usia 16-30 bulan, kemampuan anak dalam memahami kata-kata (bahasa reseptif) dan kemampuan dalam mengutarakan ide/gagasan dalam bentuk kata-kata (bahasa ekspresif) berkembang sangat pesat. kemampuan mendengar mereka juga semakin berkembang. bagian ini nih yang penting banget: MENDENGAR.

 

seorang anak nggak akan bisa bicara kalo dia nggak bisa mendengar dengan baik.

 

gimana caranya biar bisa mendengar dengan baik? nanti aku bakal jembrengin metode-metodenya. nah lho, metode? iyaaa ada metodenya. jadi biar anak bisa fokus mendengarkan, kita jangan sampe asal kasih sumber suara ke anak. sumber suara terbaik untuk anak adalah suara kita, orang tuanya, atau siapapun yang sehari-hari ngasuh si anak (nenek, kakek, dst). kenapa? karena dengan menggunakan suara kita sendiri, kita jadi bisa atur output suara kita pengennya kaya gimana: mulai dari intonasi, kecepatan, timing, dan lain sebagainya, dengan tujuan kata-kata yang kita ucapkan bisa mudah diserap oleh anak. pasti akan beda deh hasilnya kalo sehari-hari kita suapin anak pake, misal, tv/gadget tanpa pendampingan yang memadai. kenapa? karena output suara dari tv/gadget itu amat sangat bervariasi, it can overwhelm your child’s mind, especially those under 2 years old. otak mereka belum bisa memilah mana yang mereka bisa tangkep mana yang engga. analoginya, kaya bayi yang baru bisa makan puree tapi udah dicekokin nasi tim, pasti dilepeh lah itu nasinya. ujung-ujungnya nasi nggak masuk perut, walhasil nggak ada makanan yang diserap tubuh. sama juga kaya tadi, ujung-ujungnya jadi ngga ada kosakata yang nyangkut di kepala. mana anak jadi susah fokus pula. pengen ngomong tapi bingung mau ngomong apa, jadinya babbling doang. kemungkinan terburuk jadi kena speech delay, atau bahkan autisme.

 

ngomong-ngomong soal babbling, ada satu istilah yang lebih scientific buat ini: jargoning. anak usia 16-30 bulan harusnya sudah berhenti jargoning. apa itu jargoning? jargoning adalah serentetan suara berisi huruf vokal dan konsonan yang tidak memiliki arti. perlu digarisbawahi ya ini: tidak memiliki arti. jargoning perlu dibedakan dengan suara-suara (yang seringkali kurang jelas) yang dikeluarkan toddlers ketika mereka mencoba mengucapkan kata tertentu. misal nih kaya Alma, dia suka bilang ‘ama’ dan ‘yaya’ yang sepintas kaya babbling doang, padahal dia sebenarnya lagi berusaha buat bilang ‘sama’ dan ‘mayang’. nah, yang kaya gini (thankfully) bukan jargoning karena meskipun hasil suara yang dikeluarkan kurang jelas (tapi pasti tetep ada bedanya sih kalo dibandingin sama jargoning biasa), tapi Alma sebenarnya sedang mencoba mengucapkan kata tertentu yang ada artinya. gitu. jadi kalo umur segini si anak masih babbling yang ga ada artinya, orang tua wajib khawatir.

 

selain itu, di usia ini anak juga makin bisa meniru perkataan orang di sekitarnya. jadi mesti yang ati-atiii banget deh. yang di rumah harus jaga biar yang keluar dari mulut ini ucapan yang baik-baik aja. lingkungan sekitar apalagi harus diawasin. they imitate very well! males banget kan kalo tau-tau si anak ngomong kata-kata kotor padahal kita ga ngerasa ngajarin.

 

oooookay. that was long enough. sekarang lanjut bahas metode yang bisa diterapkan ke anak biar perkembangan bahasanya bisa maksimal. ada beberapa metode, jadi aku bahas satu-satu ya. oiya akan sangat mungkin kalau ternyata banyak di antara kita yang sebenernya udah ngelakuin metode-metode ini, cuma kita ngga tahu istilahnya aja. kalo iya, anggep aja ini jadi semacam emphasis for those things you have already done dan biar apa yang kita lakuin jadi lebih terstruktur.

 

pertama, penekanan akustik (acoustic highlighting), yaitu dengan memberikan penekanan pada kata tertentu dengan cara mengubah kecepatan bicara, mengubah intonasi, menyanyikan, membisikkan, atau mengulang-ulang. misal kita pengen ngajarin anak ngomong ‘gajah’. ulang-ulang aja itu kata ‘gajah‘ TAPI ngulanginnya natural aja ya. jangan tau-tau ngomong ‘gajahgajahgajahgajahgajahgajahgajahgajahgajah’ di depan mukanya si anak juga sih. hahaha. ngulanginnya bisa waktu ngajak anak ke kebun binatang, baca buku yang ada gambar gajahnya, ngegambar gajah di tembok (lol) bareng, main sama boneka gajah, dsb. kenapa? karena dengan begini belajar ngomong ‘gajah’-nya akan lebih meaningful karena dia menikmati proses belajarnya. jangan lupa pengucapan kata ‘gajah‘-nya juga dibedain, bisa dari intonasinya, bisa pake nyanyian, dst.

 

kedua, vocalising on demand. ini aku ga tau bahasa indonesianya apa. hahaha. vocalising on demand ini adalah ketika kita mengucapkan satu kata lalu KITA TUNGGU sampai anak mengucapkan kata yang sama, setelah itu baru kita tekankan lagi dengan kembali mengucapkan kata tersebut DENGAN PENGUCAPAN YANG BENAR (kan sering tuh gara-gara lucu kita jadi sering ikut-ikutan nyebut suatu objek pake bahasa bayi. please avoid doing this yaa). jadi inti vocalising on demand itu waktu kita nunggu si anak ikut ngucapin kata yang sama ya. misal waktu lagi main boneka gajah (iya biarin lah gajah melulu), trus kita bilang, ‘halo, GAJAH, GAAA-JAH’. tunggu sampe si anak ikutan bilang ‘gajah‘. ketika akhirnya si anak ngomong, misal ngomong ‘AJAH’, kita tekankan sekali lagi ke anak dengan pengucapan yang benar dengan bilang ‘GAJAH’ lagi. kalo memungkinkan, lakukan ini secara berulang-ulang tiap ada kesempatan yang pas.

 

ketiga, ekspansi, yaitu ketika kita mengulangi kata yang diucapkan oleh anak SAMBIL membetulkan suku/struktur katanya. dalam bahasan vocalising on demand di atas juga sebenernya udah ada ekspansi di situ, yaitu waktu kita benerin kata ‘AJAH’ yang diucapin si anak jadi ‘GAJAH’. contoh lain: misalnya si anak liat gajah yang lagi duduk (sarung kaliii), terus si anak ngomong ‘duduk’, kita bisa ulangin dengan bilang ‘iya, gajahnya duduk ya‘. jadi kita tambahin kata ‘gajah’ di situ biar kalimatnya jadi efektif.

 

keempat, ekstensi/ekspansi plus. sesuai namanya ya ekspansi plus, jadi ini ekpansi TAPI sambil kita tambahin informasi (dalam bentuk kalimat) baru. misal, lagi-lagi ada gajah duduk, terus si anak ngomong ‘duduk‘, kita bisa ulangin dengan bilang ‘iya, gajahnya duduk ya. wahh duduknya di atas ember!’

 

jadi gitu. makin dewasa anak, frekuensi ekspansi dan ekstensi bahasa harusnya makin diperbanyak dan dibuat semakin kompleks. semakin banyak kosakata diperkenalkan ke anak, semakin bagus.

selain metode di atas,ada baiknya kita perhatiin juga beberapa hal ini:

 

karena anak masih belajar mendengarkan, kita sebaiknya menciptakan lingkungan yang tenang buat anak. makin sedikit distraction, makin bagus. idealnya malah ngga ada distraction sama sekali.

 

waktu terbaik dalam pembelajaran bahasa adalah ketika si anak menunjukkan ketertarikan. makanya jangan kenal lelah ya buat ngubah setiap sesi bermain jadi pengalaman dalam belajar bahasa. misal waktu mainan berbaterai mati, jadikan momen ini buat belajar kata ‘baterai‘. lebih bagus lagi kalau sambil kita ajarin konsep sebab-akibat dan problem-solving. oh, kalo baterai abis, mainannya jadi mati, ngga nyala. gimana ya biar nyala? oh kita harus ganti baterainya. ayo kita ambil baterai baru yuk~ hayo coba cari di mana baterainya~ yuk dipasang~ dan seterusnya dan seterusnya.

 

membaca buku bersama juga bagus banget lho. by sharing a book, kita bisa kembangkan kemampuan percakapan dan komunikasi anak. anak pasti bakal ketemu banyak kosakata baru, belajar baca bergantian, dan seterusnya. ikatan emosional antara anak dan orang tua pun jadi makin erat.

 

khusus momen membaca buku ini ada banyak tips juga (tapi bisa diaplikasiin selain waktu baca buku juga sih, misalnya pas lagi ngamatin lingkungan di sekitar halaman rumah). ini beberapa tipsnya:

 

hindari menanyakan anak pertanyaan, ‘apa ini?’ ‘itu apa?’ atau pertanyaan-pertanyaan serupa yang jawabannya hanya terdiri dari satu kata. kenapa? karena pertanyaan model tertutup begini ngga bisa mengembangkan kemampuan bahasa dan berpikir anak. jadi akan lebih baik kalau kita pakai pertanyaan-pertanyaan open-ended yang memerlukan beberapa kemungkinan jawaban yang lebih luas dan tidak terbatas. misalnya,‘wah ini gajahnya mau ke mana ya?’ ‘menurut kamu gajahnya lagi ngapain nih?’ dst. kalau anak belum bisa jawab, ajak pihak ketiga (kakak, sepupu, ayah, dll) gabung biar anak bisa dengar variasi jawaban dan sambil belajar gimana cara jawab pertanyaan juga. dengan begini, kita sambil memperkenalkan dasar kemampuan berpikir kritis ke anak juga.

 

berikan komentar. misalnya kita bilang, ‘ini kayaknya gajahnya bingung deh mau ambil buah yang mana’. ekspektasinya, anak bakal ikutan komen balik.

 

jadilah lebay. iya seriusss, hahaha. banyak-banyak bilang,‘mmm’, ‘wahhh’, ‘aduuh’, ‘yayy’ biar anaknya jadi ikut semangat ikutan komentar. selain itu awali kalimat dengan kata ‘dik coba lihat blablabla’ atau ‘coba kasih tau umi dong blablabla’. fungsinya sama: buat memancing anak agar mau mengekspresikan ide dalam bentuk kata-kata, yang nantinya bisa kita lanjutkan dengan ekspansi atau bahkan ekstensi bahasa.

THE END.

yayyyyyy akhirnya kelar jugaaaaa. woohoohoohoooo~ lumayan lah sekalian ngajak otak kerja agak lebih keras dikit biar gak tumpul. hahaha.

last but not least, here is a quote by Indira Naidoo:

listening is the key to talking. your role as parents is critical. it takes commitment and consistent input, but the outcome will be rewarding.

happy parenting, Parents!

 

resources:

http://www.cochlear.com/wps/wcm/connect/shared-library/downloads/global-downloads/support/rehabilitation-resources-listen-learn-and-talk-toddlers-talk-chapter-2

2 comments
  1. mbak anakku umur 13 bulan baru bisa bilang abah sama dadah sama ama yang jelas artinya. kata lainnya masih belum jelas maksudnya apa. kira-kira bakal speech delay nggak ya?

    1. Halo, Bun. Berarti anaknya udah sering ngomong kata tertentu ya meskipun pengucapannya belum jelas? Insya Allah wajar itu Bun. 😊

      Kalau ingin lebih jelas, coba lihat tabel perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial bayi 13-15 bulan di sini Bun: http://umik.joserizal.my.id/2017/03/31/integrated-scales-of-development-by-cochlear-part-2-end/

      Semoga membantu, yaa

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *